
Akhirnya Annisa mau juga di ajak pulang karena kepalanya sakit kebanyakan nangis. Sepertinya butuh istirahat dan juga butuh pelukan bundanya.
Tapi baru saja Annisa menutup tabir penutup ruangan Darren, tiba-tiba salah satu monitor yang ada di dekat Darren berbunyi. Sontak Annisa dan juga Anto menoleh.
"Yah, kak Darren!" tunjuk Annisa dengan tubuh bergetar.
Suster dan dokter jaga langsung masuk ke ruangan Darren.
"Bapak sama mbaknya silahkan tunggu di luar, ya," titah suster.
Anto lalu mengajak paksa Annisa keluar dari sana. Karena dia berkeras tidak mau keluar. Tangisnya kembali pecah. Anto sibuk menghiburnya dengan memberikan pelukan.
Sampai di luar, David dan Lisa kaget melihat Annisa yang menangis sampai tergugu.
"Ada apa? Ada apa dengan anakku?" Lisa ikut menangis saat melihat Annisa.
"Apa ada yang bernama Annisa? Dari keluarga pasien Darren? " tanya suster dari depan pintu ruang ICU.
"Annisa? Aku, sus!" jawab Annisa yang langsung mendekati suster. Lisa, David dan Anto pun ikut mendekat.
"Silahkan masuk, mbak!" titah suster pada Annisa. Tanpa berkata apa-apa lagi, Annisa langsung saja masuk.
"Sus, saya mamanya. Saya juga ingin masuk," pinta Lisa dengan wajah memohon.
"Sabar ya, bu. Gantian saja. Karena kondisi pasien masih lemah," jelas suster.
"Tapi kenapa putri saya di panggil, sus? Apa pasien sudah sadar?" tanya Anto.
"Oh, iya. Pasien belum sepenuhnya sadar tapi pasien menyebut-nyebut nama Annisa jadi dokter meminta mbak Annisanya masuk," jelas suster lantas kembali masuk.
Annisa melihat Darren yang baru saja di tangani oleh dokter.
"Mbak Annisa, ya?" sapa dokter.
"I-iya, dok," sahut Annisa.
"Silakan tunggu pasien disini ya, mungkin sebentar lagi pasien akan terbangun," ucap dokter.
"Jadi pasien sudah sadar ya, dok?" tanya Annisa.
"Tadi sudah sadar. Sekarang dia hanya tertidur saja," jelas dokter lagi.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya, dok," ucap Annisa penuh syukur.
Dia langsung duduk di samping Darren, menggenggam tangannya erat sambil berbisik.
"Kan Darren. Aku di sini untuk kakak."
Annisa lalu membisikkan doa-doa yang dia bisa, sembari mengusap rambut Darren. Lima menit sepuluh menit, Darren masih belum juga terbangun. Annisa lalu mencium punggung tangan Darren dan air matanya menetes mengenai tangan Darren.
Annisa mulai merasakan jari-jemari Darren bergerak perlahan. Annisa pun memandangi jari-jari itu yang makin sering bergerak.
"Suster!" Annisa memanggil suster. Suster pun segera menghampirinya.
"Ada apa ya, mbak?" tanya suster.
"Sus, tangannya bergerak-gerak," jelas Annisa.
"Alhamdulillah, itu tandanya pasien merespon. Mbak tunggu saja sebentar lagi dia pasti akan bangun" jelas suster.
"Baik, sus. Terima kasih," ucap Annisa.
Annisa pun kembali membisikkan doa-doa di telinga Dareen.
"Hhhh," tiba-tiba Annisa mendengar suara Darren menggumam.
"Kak," panggil Annisa pelan.
Darren mengerjap-ngerjapkan matanya. Annisa menyunggingkan senyum sembari terus menatap ke arah Darren.
"Kak. . ."
"Hhmm, Nis," gumam Darren lagi kali ini lebih jelas.
"Kakak!" Annisa reflek memeluk Darren. Airmatanya tumpah.
"Nis. . . uhuk uhuukk!" Darren terbatuk-batuk.
Annisa melepaskan pelukannya, "Kakak kenapa?" tanya Annisa cemas.
"Gugup di peluk kamu," jawab Darren.
__ADS_1
Wajah Annisa memerah, lalu dia menundukkan kepalanya.
"Hhmm."
"Nis, kakak di mana ini?" tanya Darren bingung.
"Kakak sedang di rumah sakit," jelas Annisa.
"Rumah sakit? Kenapa? Uhhh, kaki kakak sakit banget," keluh Darren.
"Sabar ya, kak."
"Hhmm, kakak di tabrak orang, ya. Kakak baru inget."
"Hhmm, aku malah nggak tahu, kak. Tahu-tahu aku di ajak ayah ke rumah sakit dan ternyata kakak di rawat di ruang ICU."
"ICU?" Darren terlihat kaget.
"I-iya, kak. Tadi suster bilang kakak nggak sadar selama dua hari."
"Apa?" Darren makin kaget.
"Kakak sabar, ya. Kakak pasti sembuh," ucap Annisa.
"Ta-tapi kaki kakak, Nis. Sakit banget!" keluh Darren dengan dahi berkerut.
"Aku panggilkan suster ya, kak?" tanya Annisa bingung campur khawatir.
"I-iya, Nis!" sahut Darren.
Annisa gegas memanggil suster jaga, "Sus, bisa tolong?" tanya Annisa gugup.
"Oh iya, mbak. Sebentar, ya!" sahut suster.
Annisa gegas kembali duduk di sebelah Darren. "Aku sudah panggilkan suster, kak," ucap Annisa.
"Terimakasih," sahut Darren lemah.
Tak lama kemudian suster datang.
"Ada yang bisa di bantu?" tanya suster.
"Sus, kenapa kaki aku sakit banget, ya. Pahaku juga," keluh Darren.
"Apa?" Darren dan Annisa sama-sama kaget.
"Tapi jangan khawatir. Setelah kejadian, masnya langsung di operasi. Mungkin nyerinya kerena belum sembuh benar luka dalamnya," jelas suster.
"Tapi aku masih bisa berjalan kan, sus?" tanya Darren cemas dan takut. Apa jadinya kalau sampai tidak bisa jalan lagi. Bisa hancur masa depanku. Darren membatin.
"In Sya Allah bisa. Nanti kalau sudah benar-benar sembuh, mas bisa di terapi. Di rumah sakit ini ada tempat terapi. Mas bisa konsultasi ke dokter rehab medik terlebih dahulu," jelas suster lagi.
"Baiklah sus, terimakasih," ucap Darren pelan.
Bagaimana aku bisa bekerja kalau begini. Aku juga sudah harus kuliah tidak lama lagi. Aahh, hidupku sudah hancur. Darren membatin. Wajahnya terlihat putus asa. Darren lalu menoleh ke arah Annisa.
"Kakak mungkin nggak bisa jalan."
"Siapa bilang, kak? Tadi suster bilang kan In Sya Allah bisa dan kakak nanti harus di terapi."
"Hhmm."
"Nanti kalau kakak terapinya setelah aku pulang sekolah, aku temani, ya!"
"Kamu? Kamu nggak malu?"
"Kenapa malu?"
"Hhmm, Nis. Apa. . ." Darren tidak meneruskan ucapannya.
"Apa, kak?"
"Apa kamu. Ah nggak apa-apa."
"Kak, kakak mau ngomong apa?"
"Kamu nggak pulang?" tanya Darren. Aduh, kok aku tanyain itu, sih. Darren kesal sendiri.
"Kakak nggak suka ya aku di sini?" tanya Annisa sedih. Matanya berkaca-kaca. Ternyata kak Darren nggak suka aku di sini. Annisa membatin.
"Hhmm, mungkin kamu sudah nggak mau lagi di sini sama kakak. Kakak mungkin nggak bisa jalan lagi!"
__ADS_1
"Kenapa kakak bicara seperti itu?" tanya Annisa yang mulai terisak. "Aku dari tadi nungguin kakak tapi kakak malah usir aku."
"Kakak nggak usir kamu. Nggak, Nis!"
"Lalu kenapa bicara seperti itu?" Annisa menghapus air matanya.
"Kakak takut kamu. . ."
"Takut apa, kak?"
"Kakak sayang kamu, Nis. Kakak nggak mau kamu susah karena kakak."
"Kakak bicara apa, sih? Aku juga sayang kakak!"
"Kamu?"
"Aku berapa hari nungguin kabar dari kakak. Aku-aku kangen banget sama kakak!" Annisa menundukkan kepala sembari mengusap air matanya
"Kakak juga kangen!" ucap Darren.
Annisa mendongakkan kepalanya.
"Kangen banget!" imbuhnya.
"Hhhmm," Annisa menggigit bibirnya. Wajahnya memerah.
Darren mengusap air mata Annisa kemudian mengusap bibir ranum itu. Makin seperti kepiting rebus saja wajah Annisa di buatnya.
"Kenapa bibirnya di gigit? Kamu godain kakak, ya?"
"Iihh," Annisa memalingkan wajahnya. Jantungnya berdetak tidak beraturan.
"Nah, kakak lebih suka lihat kamu malu-malu gitu daripada nangis."
"Hhmm, kakak."
"Kakak takut kamu nggak mau lagi dekat sama kakak!"
"Hhmm, ke-kenapa kakak mikir gitu?"
"Karena kondisi kakak sekarang. Sudah nggak bisa apa-apa lagi!"
"Kakak harus semangat. Apa aku nggak bisa jadi penyemangat kakak?"
"Kakak akan semangat kalau kamu selalu di samping kakak!"
"Hhmm, tapi aku kan harus sekolah. Kita juga rumahnya berjauhan."
"Di samping kakak saat kakak dalam suka maupun duka. Nggak akan berpaling dari kakak!"
"Kakak. Aku sayang kakak!"
"Kakak sayang kamu lebih daripada kakak menyayangi diri kakak sendiri!"
"Hhmm, kakak." Annisa tersenyum malu.
Darren tiba-tiba hendak duduk tapi dia kesulitan hingga Annisa reflek membantunya kembali berbaring.
"Kak, berbaring saja," ucap Annisa.
Pandangan mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat hingga mereka dapat saling merasakan hembusan nafas masing-masing. Jantung Annisa makin berdetak kencang begitupun Darren.
Darren mengusap wajah cantik yang makin bersemu itu.
"Kakak. . ." ucap Annisa dengan suara bergetar.
Darren mengangkat sedikit kepalanya hingga bibir mereka bertemu. Annisa memejamkan matanya. Membiarkan saja Darren mengambil ciuaman pertamanya.
"Darren, Annisa?"
Mata Annisa dan Darren membulat sempurna. Mereka reflek menoleh.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
18,3