
Andre
Andre melajukan kendaraannya perlahan.
"Bagaimana kalau kita ke rumah saya dulu?" tanya Andre.
Kanaya menoleh, "Hhmm?"
"Saya ingin mengenalkan kamu terlebih dahulu pada keluarga saya."
"Ta-tapi? Bagaimana kalau keluarga dokter nggak suka sama aku?"
"In Sya Allah suka!"
"Apa keluarga dokter baik?"
"In Sya Allah, mereka baik."
"Hhmm, aku nurut saja sama dokter!"
Andre tersenyum, lantas melajukan mobil ke arah rumahnya.
Sampai di rumah, Andre memarkirkan mobilnya di depan teras.
"Turun, yuk!" ajak Andre.
"Hhmm, aku-aku takut!"
"Kenapa? Kelurgaku vegetarian, kok. Jadi nggak bakal makan kamu!"
"Tapi, dok?"
"Jadi nggak mau nikah sama saya, hmm? Kalau nggak jadi ya sudah saya antar kamu pulang."
"I-iya, jadi!" jawab Kanaya cepat.
"Hhmm, ya sudah ayo. Nanti saya berubah pikiran, jangan nangis loh!"
Wajah Kanaya memerah lantas segera turun dari mobil mengikuti Andre.
Tok tok
"Assalammu'alaikum!"
Ceklek.
"Wa'alaikumsalam," sahut dari dalam, "Andre?" ucap nenek.
Andre lantas mencium punggung tangan neneknya dan Kanaya mengikuti apa yang Andre lakukan.
"Siapa, mas Andre?" tanya nenek.
"Hhmm, kenalin nek. Kanaya, temanku,"
"Kanaya," ucap Kanaya seraya mengulurkan tangannya.
"Kanaya. Ayo masuk!" ajak nenek.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.
"Ayah sama bunda mana, nek?"
"Mereka ada di dalam kamar."
"Kamu duduk dulu, ya. Saya panggil orangtua saya dulu!" pamit Andre.
Kanaya menarik tangan Andre, "Hhmm, dok. Aku. . . takut," ucap Kaniya gugup.
"Orangtua saya baik. Tenang saja!" ucap Andre seraya mengusap pucuk kepala Kanaya membuat wanita muda itu tersenyum malu.
Andre kemudian ke kamar ayah bundanya yang terletak di sebelah kamarnya. Lantas mengetuk kamarnya.
"Assalammu'alaikum, ayah, bunda!"
"Wa'alaikumsalam. Dre? Sudah pulang?" tanya bundanya.
"Iya, bun. Ayah mana? Aku mau mengenalkan seseorang."
"Mengenalkan siapa?" tanya ayahnya.
Mereka lalu ke ruang tamu menemui Kanaya.
"Kenalin, bun, yah. Namanya Kanaya."
Kanaya berdiri lalu mengulurkan tangannya, "Saya Kanaya, om, tante!" ucap Kanaya.
"Kanaya. Ayo duduk."
Mereka lalu duduk saling berhadapan.
"Hhmm, bun, yah. Aku rencananya mau menikah dengan Kanaya!" jelas Andre.
"Menikah?" tanya ayah bundanya kaget.
"Iya. Mungkin dalam beberapa hari lagi!"
"Apa!" mereka makin kaget.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru? Ada apa?" ayahnya bertanya dengan nada tinggi.
"Hhmm, yah sebenarnya Kanaya akan menikah dengan orang lain dalam beberapa hari ini tapi di batalkan. Jadi aku yang akan melanjutkan rencana pernikahanya."
"Kenapa bisa begitu? Menikah itu butuh persiapan. Kamu nggak melakukan. . ."
"In Sya Allah, aku tetaplah anak ayah yang seperti ayah harapkan."
"Kenapa kamu menggantikan orang lain itu?"
Andre terlihat bingung bagaimana menjelaskannya. Akhinya Andre menceritakan kejadian dari awal mereka bertemu hingga dia memutuskan untuk menikah dengan Kanaya.
"Kalian baru kenal beberapa hari saja?"
"Hmm, In Sya Allah aku percaya sama Kanaya, yah!"
"Hhh, ayah hanya nggak ingin kamu menyesal, nak!"
"Restui dan doakan aku, yah."
"Hhh, ya sudah terserah kamu!"
Anto sebagai ayahnya terlihat bingung. Bagaimana anak laki-laki satu-satunya memutuskan menikah hanya karena alasan seperti itu. Rasanya tidak masuk akal. Menikahi wanita yang baru beberapa hari dia kenal.
"Terimakasih, ayah, bunda! Setelah ini aku mau ke rumah Kanaya!" ucap Andre merasa lega.
"Kamu mau melamar?" tanya bundanya.
"Belum, bun. Aku hanya ingin bertemu untuk kenalan dulu."
"Jadi orangtuanya belum tahu?" tanya ayahnya.
"Hmm, belum, yah!"
"Hampir mahgrib, kamu sudah mandi belum? Maghrib di rumah dulu!"
"Iya, yah."
"Ya sudah, ayah sama bunda masuk dulu. Kanaya, kita tinggal dulu!"
Mereka lalu kembali masuk ke dalam.
Andre menoleh ke arah Kanaya, "Orangtua saya nggak gigit, kan?"
Kanaya tersenyum malu, "Tapi apa mereka nggak marah?"
"Nggak, kok. Cuma kaget saja. Oh iya, saya tinggal mandi dulu, ya!" pamit Andre.
"Iya, dok."
Tak lama kemudian, Andre keluar sudah dengan berganti pakaian. Azan maghrib sudah berkumandang.
"Sholat dulu, yuk!" ajak Andre.
Mereka lantas masuk ke ruang keluarga. Di sana semua keluarga sudah siap untuk sholat maghrib berjamaah.
Setelah selesai sholat maghrib, Kanaya di ajak makan malam bersama. Setelah makan malam, Andre berpamitan untuk pergi ke rumah Kanaya.
Di dalam mobil Andre.
"Bagaimana? Keluarga saya baik, kan?"
"Iya, dok. Saya hanya cemas saja."
"Kamu kan sudah pernah bertemu calon mertuamu dulu. Kenapa masih cemas?"
"Kan sama papi mami jadi aku hanya diam saja."
"Hhmm. . ."
Tak lama kemudian, mobil yang Andre tumpangi tiba di halaman luas yang di depan rumah Kanaya. Rumah besar dengan pohon-pohon yang tinggi di sisi kanan bangunan.
Andre memarkirkan mobilnya tak jauh dari pagar. Andre turun lalu membukakan pintu untuk Kanaya. Kemudian Andre membuka bagasi mobilnya untuk mengambil tas koper milik Kanaya lalu mendorongnya sampai ke depan teras.
Kanaya kemudian mengetuk pintu rumahnya. Tak lama kemudian seseorang membukakan pintu. Asisten rumah tangga yang pernah menemui Andre Untuk mengantarkan surat dari Kanaya waktu itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Andre dan Kanaya.
"Wa'alaikumsalam," sahut si asisten rumah tangga.
Dia terlihat kaget, "Non Kanaya?" serunya.
"Non Kanaya nggak jadi ke luar negeri?" tanyanya bingung.
"Iya, mbok. Aku nggak jadi ke luar negeri. Dan sepertinya, aku akan melanjutkan pernikahan ku!" ucap Kanaya dengan wajah berbinar.
"Maksudnya non Kanaya jadi menikah dengan pak Rangga?" tanyanya.
"Bukan kok. Aku mau menikah sama dokter Andre!" jelas Kanaya.
"Menikah sama dokter Andre?"
"Iya mbok. Aku akan menikah sama dokter Andre!" jawab Kanaya lagi.
Kanaya lalu menggandeng lengan Andre, mengajaknya masuk ke rumah.
"Dokter duduk di sini dulu, ya!" ucap Kanaya saat mereka sampai di ruang tamu.
__ADS_1
Andre mengangguk dan segera duduk di sofa yang ada di ruang.
"Aku mau panggil papi sama mami dulu!" pamit Kanaya yang diberi anggukan oleh Andre.
Kanaya lalu masuk ke dalam sedangkan Andre hanya mengamati seisi rumah. Ruang tamunya besar. Mungkin lebih besar dari ruang tamu di rumah bundanya. Memang rumah Kanaya lebih mewah dari rumah bundanya.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, Kanaya muncul bersama mami dan papinya. Kedua orangtua Kanaya kaget saat melihat Andre.
"Bukannya ini dokter yang di rumah sakit itu?" tanya maminya Kanaya.
"Iya, mi!" jawab Kanaya dengan tersenyum bahagia lantas mendekat ke arah Andre.
Andre lalu berdiri dan tersenyum sembari mengulurkan tangannya ke arah kedua orangtua Kanaya.
"Saya Andre, pak, bu," ucap Andre dengan ramah dan sopan.
"Dokter Andre. Silahkan duduk!" titah papinya Kanaya.
Andre kembali duduk di tempatnya semula. Kanaya duduk tak jauh darinya.
"Ada keperluan apa?" tanya papi Kanaya dengan tatapan menyelidik.
"Maaf, pak. Saya bermaksud untuk menikahi Kanaya!" ucap Andre pelan namun tegas.
"Oh, kamu mau menjadi pengantin pengganti untuk putri saya?"
Andre mengangguk, "Iya, pak!"
"Hhmm, Kanaya sudah bilang syaratnya?"
"Maksud bapak?"
"Nikahi putri saya dan setelah acara selesai, kamu boleh menceraikannya! Saya akan memberikan kamu uang dua milyar. Itu bisa kamu pakai untuk melanjutkan study kamu, bukan?"
"Papi!"
"Kanaya, diam!"
"Maaf, pak. Tapi saya hanya ingin menikah satu kali saja seumur hidup!"
"Hhmm, punya apa kamu?" tanyanya lagi.
"Papi?" protes Kanaya lagi.
"Kanaya diam! Biarkan dokter Andre bicara!" titahnya.
Hhh, Andre menarik nafasnya pelan. "Hhmm, saya tidak mempunyai apa-apa, pak!" jawab Andre.
"Jadi apa yang akan kamu berikan pada putri saya?"
"Maaf, pak. Saya hanya bisa memberikannya status sebagai istri sah saya!"
"Apa?"
"Papi?"
"Kanaya!"
"Kanaya lima hari lagi akan menikah! Dan kamu tidak memiliki apa-apa? Gelar doktermu belum tentu bisa memberikan kehidupan yang layak untuk putri saya!"
"Papi, aku. . ."
"Kanaya, masuk ke kamar!" titahnya seraya menunjuk Kanaya.
Andre langsung menoleh ke arah Kanaya. Wanita yang sudah mencuri hatinya itu menatap sendu ke arah papinya. Perlahan, bulir bening mengalir di sudut matanya. Kanaya pun bangkit dari duduknya dan segera berlalu dari sana tanpa menoleh lagi ke arah Andre.
Andre menatap Kanaya dengan tatapan nanar.
"Bagaimana? Apa kamu mau memenuhi permintaan saya? Uang dua milyar tidaklah sedikit!"
Buukk! Tiba-tiba terdengar suara seperti benda terjatuh. Suaranya cukup keras, di depan rumah.
"Itu suara apa, pi?" tanya maminya Kanaya kaget.
Andre lantas keluar rumah di ikuti kedua orang tua Kanaya.
"Kanaya!" teriak maminya.
Andre terlihat syok melihat sesuatu di depannya. Setelah beberapa saat, dia gegas mendekat, "Kanaya? Kanaya, apa yang kamu lakukan?"
.
.
.
.
.
Maaf jika masih ada typo. 🙏
.
.
00
__ADS_1