Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 163


__ADS_3

Sampai di rumah Kanaya, Andre langsung menuju ke kamarnya sementara Kanaya masih berdiri di ruang keluarga.


"Pi, maksud papi apa ngenalin aku sama keluarga om Danny? Sama putranya?" tanya Kanaya kesal.


"Loh, kita hanya makan malam bisnis sekaligus bersama keluarga. Apa salahnya?" jawab papinya santai sembari mengambil remote tv lalu duduk dengan kaki di atas meja.


"Bukan masalah itu, pi. Papi pasti ngerti kan, maksudku? Mana si Rama lihatin aku terus. Aku kan nggak enak sama mas Andre, pi!" jelas Kanaya makin kesal.


"Kamu nggak enak sama si Andre tapi kamu masa bodoh sama rekan papi!"


"Iya karena mas Andre itu suami aku, pi!"


"Kanaya, jangan jadi istri yang takut sama suami!"


"Aku bukan takut tapi aku menjaga perasaan suami aku. Aku mau jadi istri yang baik seperti mami. Papi seneng kan dengan sikap mami selama ini dan aku juga ingin mencontoh mami!"


"Tidak semua hal harus kamu contoh dari mami kami, mengerti!"


"Aku tahu mana yang baik mana yang nggak, pi!"


"Hhh, kamu itu masih kecil, Kanaya! Tahu apa kamu?"


"Kecil papi bilang? Tapi papi buru-buru mau menikahkan aku! Untung saja dia berulah. Aku bersyukur nggak jadi menikah dengan pilihan papi!"


"Kanaya! Kamu makin berani bicara sama papi!"


"Aku nggak berani, pi! Aku hanya nggak suka papi kenalin aku sama laki-laki lain. Aku ini sudah punya suami! Permisi!"


Kanaya gegas menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sampai di kamar, di lihatnya Andre sedang tidur.


"Kok mas sudah tidur, sih?" gumam Kanaya.


Kanaya mendekati suaminya yang sedang tidur membelakanginya.


"Mas?" Kanaya menyentuh lembut bahu suaminya.


"Hhhmm, tidurlah. Mas ngantuk," sahut Andre lirih.


"Ngantuk? Hhmm, mas kita belum sholat isya, kan!"


"Mas sudah baru saja!"


"Apa? Kok nggak tunggu aku, mas?" tanya Kanaya kaget. Tidak biasanya suaminya itu sholat sendirian di rumah tanpa mengajaknya.


"Hhmm, mas ngantuk jadi sholat duluan. Mas pikir kamu masih lama di bawah."


"Hhh, mas marah, ya?"


"Sholatlah lalu tidur!" titah Andre.


Kanaya langsung ke kamar mandi, mengganti pakaiannya lalu bersuci.


Setelah selesai sholat dan berdoa, Kanaya masih enggan untuk menyusul suaminya tidur. Dia masih dengan posisi sujudnya mengadu pada sang pemberi kehidupan.


"Mas Andre pasti marah. Nggak biasanya dia bersikap begini," gumam Kanaya.


Dia terus saja kepikiran kejadian di restoran tadi dan sikap suaminya sekarang. Airmatanya mengalir tanpa bisa dia cegah. Bagaimana kalau mas Andre marah besar? Dia benar-benar berubah. Beberapa menit kemudian, Kanaya tertidur masih dengan mengenakan alat sholatnya.


Andre yang menyadari istrinya tidak ada di sampingnya lantas terbangun. Dia menoleh ke kanan kiri mencari keberadaan istrinya.


"Kanaya, kenapa dia tidur di sana?" gumamnya dengan dahi berkerut setelah mendapati sosok istrinya yang tidur masih dengan memakai alat sholat.


Andre bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri istrinya. Pelan-pelan dia angkat tubuh itu. Tiba-tiba Kanaya menggeliat lalu membuka matanya kaget merasa tubuhnya seperti melayang.


"Mas. . ." ucapnya lirih.


Sisa airmata masih menempel di pipinya. Andre menatap mesra istrinya.


"Kenapa tidur di sana, hhmm?"


"Ehmm, mas marah. . ."

__ADS_1


Andre tersenyum, "Kenapa mas harus marah, hhmm?"


"Mas marah. . ."


Andre membaringkan istrinya di atas tempat tidur. Masih menatapnya mesra.


Andre lalu menggeleng, "Mas nggak marah, sayang!"


"Mas marah. . ."


"Sayang. . .?"


Mata Kanaya berkaca-kaca, "Kenapa sholat nggak tunggu aku? Kenapa tidur duluan?"


Hhh, Andre menarik nafas panjang, "Mas ngantuk!"


Kanaya menggelengkan kepala, "Mas tiba-tiba berubah!" ucapnya dengan suara bergetar.


"Berubah jadi apa, hmm? Lihat, mas masih sama, kan? Nggak ada yang berubah!"


Kanaya memalingkan wajahnya. Bulir bening mengalir begitu saja.


"Kenapa kamu menangis?"


"Nggak usah pedulikan aku, mas! Aku nggak tahu rencana papi di restoran tadi. Aku juga kaget. Tapi kenapa mas malah marah sama aku? Kenapa mas jadi mendiamkan aku?" ucap Kanaya sambil tergugu. Di tatapnya lekat-lekat wajah suaminya.


Andre mengusap wajahnya kasar, "Hhh, kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Andre sembari mengulurkan tangan untuk menghapus airmata istrinya.


Kanaya kembali memalingkan wajahnya, "Nggak usah pura-pura, mas!" ucap Kanaya sembari menghapus airmatanya.


Dia hendak turun dari tempat tidur, tapi di cegah oleh Andre yang langsung memeluknya.


"Lepasin!" tolak Kanaya.


"Maaf, sayang!" Andre mencium pucuk kepala istrinya, "Sssttt, sudah nangisnya. Maafin mas, ya!"


"Kenapa mas diemin aku? Kenapa aku yang di salahin?"


"Mas nggak salahin kamu, sungguh!"


"Yang bilang kamu bodoh itu siapa? Mas nggak suka kamu berkata itu!"


Kanaya melepaskan pelukan suaminya lalu menatap sepasang mata teduh itu lekat-lekat.


"Mas memang nggak bilang aku bodoh! Tapi cara dan sikap mas yang mengatakan itu!"


Andre menggelengkan kepalanya, "Nggak, sayang! Jangan berpikir seperti itu! Hhh, mas nggak mendiamkan kamu! Mas hanya sedang pusing!"


"Pusing?"


ร€ndre mendekatkan wajah mereka. Lalu mencium bibir istrinya sekilas, "Jangan pernah lagi bibir ini mengucapkan kata-kata yang nggak. . ."


"Nggak apa?" potong Kanaya.


Andre kembali mencium bibir istrinya. Kali ini lebih dalam dan makin dalam.


"Hhmm, mas!" Kanaya melepaskan ciumannya lalu menarik nafas dalam-dalam.


"Mas mau. . ."bisik Andre mesra.


Wajah Kanaya memerah, "Kirain nggak mau lagi."


"Masa nggak mau lagi, hmm? Punya istri gemesin gini!" Andre menatap penuh hasrat.


"Tadi kenapa diemin aku? Pura-pura ngantuk lalu cepet tidur."


"Hhmm, jadi sedihnya karena nggak di kasih, nih?"


"Iiihh, nggak lah!" wajah Kanaya makin memerah dengan jantung yang mulai berdegup kencang.


Andre kembali mencium bibir dan setiap inci wajah istrinya. Kanaya hanya bisa pasrah dengan jantung yang makin tak beraturan.

__ADS_1


Andre menggumamkan doa. Lalu dengan gerak cepat melepaskan alat sholat yang masih di kenakan istrinya. Dan melepaskan semua kain yang menempel di tubuh istrinya satu-persatu. Dia mulai mencumbu.


Beberapa saat kemudian, Andre memeluk istrinya penuh kasih sayang, "Terimakasih, sayang. Sudah nggak sedih lagi, kan?"


Kanaya hanya diam dan makin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Andre mencium pucuk kepala istrinya dalam-dalam, "Mas sayang kamu! Mas nggak bisa lihat kamu di tatap laki-laki lain dengan hasratnya!"


Kanaya mendongakkan kepalanya, "Mas, aku. . ."


"Besok kita pulang ke rumah bunda!"


Kanaya mengangguk lalu menenggelamkan lagi wajahnya.


Aku harus membuat Kanaya cepat hamil. Aku tahu ada sesuatu yang sedang di rencanakan papi. Aku nggak akan melepas istriku. Aku nggak akan melepas orang yang sudah menjadi milikku.


"Sayang?"


"Ya, mas?"


"Kita menikah hampir satu bulan, kan."


"Hhmm, kenapa, mas?"


"Kamu belum dapet lagi kan?"


Kanaya mengangguk, "Belum, mas. Kan kita setiap hari, hmm. . ."


"Besok kita ke dokter kandungan, ya!"


Kanaya mendongakkan kepalanya, "Ke dokter kandungan? Aku hamil, mas?" tanya Kanaya kaget.


"Kita periksa saja, sayang!" jawab Andre lalu mengusap wajah lembut itu.


Kanaya tersenyum, "Aku-aku pingin hamil, mas."


"Kamu siap kan kalau ternyata kamu hamil, hmm?"


Kanaya mengangguk, "Siap banget!"


Andre mencubit hidung mancung istrinya dengan gemas.


"Hhmm, mas!"


Andre mendekatkan wajah mereka lalu mencium bibir istrinya dalam-dalam.


"Kamu belum ngantuk kan, sayang?"


Kanaya menggeleng pelan.


"Lagi, ya?"


Kanaya mengangguk dengan wajah memerah. Jantung mereka saling berdegup. Irama jantungnya mengiringi nafas mereka yang saling memburu. Hasrat sedang menguasai sepasang suami istri yang belum lama terikat tali pernikahan itu. Andre lalu mengucapkan doa. . .


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™


.


.


.


.

__ADS_1


11


.


__ADS_2