
Andre terus saja melajukan kendaraannya. Sedangkan Kanaya masih terisak.
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik!"
"Bicara apa lagi? Yang jelas kamu nggak mau bantu aku, kan. Jadi lebih baik kamu turunkan aku di sini. Kita memang orang asing!"
"Hhh, bantuan yang kamu minta itu nggak masuk akal? Kamu nggak tahu dosanya mempermainkan pernikahan?"
"Iya sudah. Intinya kamu nggak mau. Percuma ngomong juga."
"Hhh, bagaimana kalau pernikahan kamu di undur?"
"Buat apa? Nggak ada bedanya di undur apa nggak!"
"Aku mau tanya. Tolong kamu jawab jujur."
"Tanya apa?"
"Apa kamu sudah hamil? Sampai kamu memaksa untuk menikah?"
"Apa? Kamu nuduh aku hamil?"
"Eehh, saya tanya bukan nuduh!"
"Kalau aku hamil, aku akan paksa dia buat nikahin aku. Tapi aku nggak hamil. Justru dia yang menghamili orang lain. Makanya dia nggak jadi nikahi aku karena harus menikahi orang itu!"
"Hhhmm, bersyukurlah kamu nggak jadi nikah sama dia!"
"Tapi aku malu, tahuuu!"
"Hhh, malunya hanya sebentar, kok. Sekarang lebih baik kamu pulang dulu. Kamu pikir dulu baik-baik keinginan aneh kamu itu. Saya juga nggak bisa asal ambil keputusan. Tapi ingat, jangan pernah melakukan tindakan bodoh!"
"Turunkan aku di sini!"
"Di mana rumah kamu?" tanya Andre lalu menghentikan laju kendaraannya.
"Di sana!" tunjuk Kanaya ke sebuah rumah besar yang tak jauh dari sana.
Kanaya lalu turun dari mobil, "Terimakasih," ucapnya sebelum turun dari mobil.
Andre memperhatikan wanita itu yang mulai hilang di balik pagar. Ternyata rumahnya nggak terlalu jauh dari rumah sakit.
"Hhh, semoga saja dia bisa menerima kenyataan dan nggak berbuat nekat. Moga dia melupakan saranku waktu itu." gumam Andre.
***
Andre baru saja sampai ke rumah sakit pagi-pagi sekali padahal jam kerjanya baru pukul tujuh sekarang belumlah pukul enam tapi dia sudah sampai.
"Dre! Kamu ingat wanita yang coba bundir waktu itu?" tanya Wahyu tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Ada di ruang observasi!" jelas Wahyu.
Deg. Ruang observasi. "Hah, kenapa dia di situ?" tanya Andre kaget. Firasatnya mulai tidak enak.
"Dia di temukan tidak sadarkan diri di kamarnya dengan mulut penuh busa!"
"Ah, yang bener kamu!" tanya Andre makin kaget. Jantungnya terasa berdebar-debar.
"Iya, asisten rumah tangganya yang menemukan dia saat hendak menaruh pakaian bersih. Perkiraan kita sih sudah satu jam tapi dia cm menelan dikit saja pilnya, sisanya berserakan di lantai!"
"Kamu? Kamu nggak bohong, kan?" Andre mulai panik dan cemas.
"Yah, nggak percaya. Sana lihat saja di ruang observasi. Dia masih tidur mungkin. Semalam sadar sebentar!"
Gegas Andre pergi ke ruang observasi. Di depan pintu, dia melihat wanita muda yang semalam di antar pulang olehnya sedang terbaring lemah. Seorang wanita paru baya sedang duduk di sebelahnya sembari memegang tangannya.
"Permisi," ucap Andre pelan.
Wanita paruh baya itu menoleh, "Dokter?"
"Boleh saya masuk, bu?" tanya Andre.
"Oh silahkan masuk, dokter," sahut ibu itu ramah.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Andre.
Andre lalu mendekati Kanaya. Dia mulai memeriksa wanita itu. Ada selang infus dan oksigen yang menempel di tubuhnya.
"Bagaimana kondisinya sekarang, dok?"
"Hhmm, dia mulai stabil kok, bu. Jangan di tinggal, mungkin sebentar lagi dia bangun!" jelas Andre.
Andre merasa lega melihat kondisi Kanaya yang sudah melewati masa kritisnya. Saat Andre hendak berbalik, tiba-tiba dia merasa ada yang memegang tangannya.
"Kenapa kamu tolongin aku? Biarkan saja aku mati," ucapnya lirih.
Andre reflek menoleh, "Kamu sudah bangun?"
"Kenapa kamu nolongin aku lagi?" tanya Kanaya dengan suara lemah. Raut wajahnya terlihat putus asa.
Dahi Andre berkerut. Loh, bukan aku yang nolongin kamu. Batin Andre.
"Kamu sudah bangun?" tanya wanita paruh baya itu.
"Aku mau mati saja!"
"Jangan bicara seperti itu. Nggak baik!"
"Saya tinggal dulu ya, bu!" pamit Andre lalu gegas keluar dari ruang observasi.
Saat masih di dekat pintu, tak sengaja Andre mendengar percakapan dari ruang Kanaya di rawat.
"Aku mau pulang saja, mbok!" Andre mendengar suara Kanaya dari dalam.
"Kamu belum benar-benar pulih."
"Pokoknya aku mau pulang!"
"Tunggu papi sama mami kamu dulu, ya!"
"Papi sama mami mana peduli sama aku. Bahkan kalau aku mati sekalipun, nggak akan ada yang peduli, mbok!"
"Tapi mbok peduli dan sayang sama non Naya!"
"Hh, cm mbok yang peduli dan sayang aku!"
"Aku-aku nggak jadi nikah sama Reza, mbok!" Naya mulai terisak.
"A-apa non bilang? Kenapa nggak jadi? Bisa marah besar papi non!"
"Hhh, makanya aku mau mati saja, mbok!" ucapnya terisak.
Entah kenapa Andre merasakan dadanya sesak saat mendengar percakapan Kanaya. Jadi wanita separuh baya itu bukan ibunya Kanaya.
Andre lalu pergi dari sana lantas kembali ke ruang IGD. Wahyu sudah siap hendak pulang karena jam kerjanya sudah habis.
Bagaimana? Benar kan wanita itu?" tanya Wahyu.
Andre mengangguk.
"Memangnya kenapa ya dia sampai coba bundir lagi?" tanya Wahyu heran. "Sepertinya dia butuh psikiater deh."
Andre hanya diam saja. Tidak mengerti kenapa wanita itu sampai mengulangi lagi perbuatan bodohnya. Dan yang membuat Andre merasa bersalah karena wanita itu sudah menuruti sarannya.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Wahyu.
"Dia sudah bangun. Lihat nanti kalau dia makin baik, pindahkan saja ke ranap."
"Iya. Eh semalam saat dia baru sadar dan sedang di periksa sama dokter Erik, dia sebut nama kamu, loh. Dia pikir dokter Erik itu kamu!"
"Ah, masa? Salah denger kamu!"
"Dokter Erik yang bilang. Dia panggil dokter Erik dengan nama kamu. 'Dokter Andre'."
"Mungkin dia pikir dokter Erik tu aku. Makanya dia panggil namaku!"
Wahyu mengedikkan bahunya, "Entahlah, mungkin saja. Ya sudah aku mau pulang dulu!" pamit Wahyu kemudian.
Kenapa aku jadi kepikiran dia. "Hhh, aku kerja saja yang fokus!" gumam Andre.
__ADS_1
Menjelang siang, Andre kembali mengecek kondisi Kanaya. Wanita itu sedang makan sambil di suapi oleh ibu paruh baya yang tadi pagi. Jadi orangtuanya belum juga datang.
"Bu, siang ini mbaknya bisa pindah ke ruang ranap biasa, ya!" jelas Andre setelah memeriksa kondisi Kanaya.
"Aku pulang saja," tolak Kanaya.
"Sekarang kondisi mbak belum benar-benar pulih!"
"Biarkan saja!"
"Kalau nanti ada apa-apa, dokter nggak akan tanggung jawab!"
"Iya, aku tahu. Aku akan tanggung jawab sendiri!"
Hhh, Andre menarik nafasnya berat, "Bu, bisa saya bicara sebentar dengan mbak Kanaya?"
"Oh bisa, dok!" jawabnya yang gegas keluar ruangan.
"Mau bicara apa? Kita ini dua orang asing!" ucap Kanaya sembari memalingkan wajahnya.
"Hhh, menginaplah di rumah sakit beberapa hari sampai pulih. Saya janji akan sering menjenguk!"
"Aku nggak mau! Nggak usah pedulikan orang asing ini!"
"Saya nggak suka sama perempuan yang keras kepala!"
"Iya, aku tahu. Memang nggak akan ada yang suka sama aku!" ucapnya sembari mengusap pipinya yang basah.
"Masih kekanak-kanakan begini kok sudah mau menikah?"
"Aku nggak akan menikah. Nggak akan pernah!"
"Hhh, suatu saat kamu pasti akan menemukan jodoh terbaikmu. Kamu harus sabar!"
"Pergilah, dokter Andre. Kita hanyalah pasien dan dokternya. Nggak ikut campur urusanku."
"Hhh, kamu mau kamar ranap biasa atau yang VVIP?"
"Kamar mayat saja!"
Andre tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, "Kamu nggak takut? Serem loh di sana!" goda Andre.
"Lebih serem hidupku!"
Hhh, Andre menarik nafasnya berat, "Saya tinggal dulu, ya. Nanti saya jenguk di kamar ranap kamu! Kamu belum boleh pulang!"
Andre lantar keluar dari ruangan Kanaya.
"Bu, mbak Kanaya silahkan pindah ke ruang ranap biasa," ucap Andre saat bertemu dengan asisten rumah tangga Kanaya.
"Di mana itu, dok?" tanyanya.
"Di lantai lima, kalau mau yang VVIP. Kalau yang biasa ada di lantai tiga! Ibu bisa tanya langsung sama suster!" jelas Andre lagi.
"Baiklah, dok!" sahutnya.
Andre lantas kembali ke IGD.
.
.
.
.
.
.
next
.
.
__ADS_1
.
09