
Kanaya baru saja keluar dari kamar mandi saat suaminya baru saja selesai menunaikan sholat isya.
Dengan langkah malu-malu dia masuk ke kamar. Pandangan matanya sesekali melirik kearah suaminya yang sedang berdoa. Kanaya gegas menuju ke tempat tidur. Dia selimuti tubuhnya dengan selimut tebal dari ujung kaki sampai ke leher.
Andre sudah selesai dengan doanya dan gegas menyusul Kanaya naik ke atas tempat tidur.
"Kamu kenapa pakai selimut seperti itu? Dingin ya?" tanya Andre.
Kanaya menggelengkan kepalanya, "Enggak kok, mas. Biasa aja!" jawabnya.
"Oh ya sudah!" ucap Andre.
"Mas sudah mau tidur, ya?" tanya Kanaya.
"Iya, sayang. Mas capek banget hari ini. Kamu juga cepet-cepet tidur, ya!"
"Hhmm."
"Kamu kok tidurnya jauh banget sih? Nggak mau ya tidur deket-deket sama mas?" tanya Andre.
Kanaya lalu menggeser tubuhnya sedikit ke tengah. Andre pun menggeser tubuhnya. Kini mereka sudah tidak berjarak lagi. Andre lalu melingkarkan tanganya di bahu Kanaya hingga wajah istrinya itu terbenam di dada bidangnya.
Kanaya terlihat gelisah jantungnya pun berdetak tidak beraturan sampai-sampai dia tidak berani menatap wajah suaminya yang sudah tidak berjarak lagi. Dia pun bisa merasakan detak jantung suaminya yang sama kencangnya.
Mereka sama-sama diam asik dengan pikiran masing-masing. Makin lama Kanaya makin gelisah dan tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Andre heran melihat tingkah istrinya itu yang tidak bisa diam.
Kanaya mendongakkan kepalanya hingga mata mereka bertemu, "Aku nggak bisa tidur, mas!" jawab Kanaya lirih.
"Hhmm, mas juga sulit tidur!" balas Andre. Bagaimana juga bisa tidur dengan posisi seperti ini. Sama-sama baru pertama kali tidur dalam satu kamar dan satu tempat tidur dengan lawan jenis. Apalagi Kanaya yang mengenakan pakaian tidur seperti itu. Rasanya dia menyesal sudah meminta istrinya memakai pakaian itu.
Andre hendak duduk. Dia pun melepaskan pelukannya.
"Mas tidur di sofa saja, ya," ucap Andre.
Mata Kanaya membulat, "Tidur di sofa? Ke-kenapa,mas? Mas nggak suka tidur di sini sama aku?" tanya Kanaya lirih. Suaranya terdengar kecewa dan sedih.
"Bukan begitu sayang! Hhh, mas. Kepala mas pusing!" ucapnya bohong.
"Pusing? Sini aku pijat, ya?"
"Hhh, ya sudah mas tidur sama kamu tapi jangan banyak gerak, ya!"
"Hhmm, maaf mas. Kalau aku bikin mas jadi susah tidur," ucapnya lirih.
"Bukan begitu. Mungkin karena ini yang pertama jadi mas sedikit. . . Hhh, tidur sekarang saja, yuk!"
Andre kembali mengambil posisi tidur seperti tadi. Dia tidak ingin membuat istrinya bersedih.
Maaf, sayang. Andai kamu tahu susahnya mas menahan diri. Batin Andre yang langsung memejamkan matanya.
Tiba-tiba Andre terbangun saat mendengar suara adzan subuh. Dia mengerjap-ngerjabkan matanya merasa asing melihat sekelilingnya apalagi saat melihat ada sosok wanita yang berada satu selimut dengannya. Aahh Kanaya. Batinnya.
__ADS_1
Perlahan Andre melepaskan pelukannya lalu duduk di sisi tempat tidur. Andre meregangkan otot-otot tubuhnya sejenak. Setelah itu dia berjalan ke kamar mandi. Andre mengguyur seluruh tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Andre lalu memakai pakaiannya yang masih berada dalam tas koper. Dia melihatnya istrinya masih tertidur lelap. Andre lalu menunaikan salat subuh. Setelah selesai sholat subuh, dia kembali duduk di sisi tempat tidur. Ingin membangunkan istrinya tapi dia tidak tega. Lagipula istrinya juga sedang tidak sholat jadi dia biarkan saja istrinya itu bangun siang.
Saat langit mulai menampakkan semburat jingganya, Andre pergi ke balkon. Berdiri di tepinya sambil memandang langit. Dinginnya udara subuh tidak membuatnya ingin kembali masuk ke kamarnya.
Baru kali ini dia berada di hotel mewah. Walau bundanya beberapa kali mengajak mereka berlibur ke luar kota, tapi mereka hanya menginap di hotel biasa. Yang penting nyaman! Itu yang selalu di tekankan ayahnya.
Entah hari ini mereka akan keluar atau tetap di kamar hotel saja mengingat tak satupun yang membawa dompet maupun handphone.
Andre menyugar rambutnya. Tiba-tiba dia ingat ibunya. Ibu yang sudah bertahun-tahun tidak tahu kabarnya. Di mana sekarang pun Andre tidak tahu. Ingin bertanya pada ayahnya dia pikir ayahnya pun tidak akan tahu. Seandainya tahu pun, Andre tidak berani bertanya. Dia tidak ingin luka yang dia dan ayahnya coba sembuhkan beberapa tahun ini kembali menganga.
Tidak ada kebencian untuk ibunya itu. Namun rasa kecewa sulit untuk di lupakan. Aahh, semoga istriku akan selalu setia padaku. Batinnya.
Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Sontak Andre menoleh, "Sayang?"
"Mas, aku cariin. Kirain kemana," ucap Kanaya manja.
"Maaf sayang, mas nggak mau ganggu tidur kamu!"
"Hhmm, mas sudah mandi? Harum banget?" tanya Kanaya seraya mengendus tubuh suaminya.
"Sayang,. .." Andre seakan menolak perlakuan istrinya.
"Kenapa, mas?" tanya Kanaya heran.
"Hari ini kita mau kemana, hhm?" tanya Andre mengalihkan pembicaraan.
"Mas terserah kamu saja!"
"Di hotel saja ya, mas. Sampai mami datang. Perutku juga masih belum enak nih. Masih sedikit kram!"
"Iya, sayang. Terserah kamu saja!"
"Ya sudah aku mau mandi dulu, mas."
"Iya."
Andre lantas duduk di sofa yang ada di balkon sembil menunggu istrinya selesai mandi.
Setengah jam kemudian, Kanaya sudah selesai mandi. Dia lalu duduk di sebelah suaminya.
"Mas, nanti mas tinggal di rumah mami, kan?" tanya Kanaya.
Andre menoleh, dahinya berkerut. "Kenapa kita nggak tinggal berdua saja, sayang?"
"Berdua?"
"Iya. Mas akan cari kontrakan. Ya walau cuma ngontrak tapi yang penting kita belajar mandiri!"
"Hhmm, tapi?"
"Kamu nggak mau hidup susah sama mas, hmm? Mas saat ini selain bekerja di rumah sakit, mas juga tercatat sebagai mahasiswa. Mas bukan dokter yang kaya!"
__ADS_1
"Aku-aku bukan nggak mau, mas. Tapi mami pasti nggak akan ijinkan aku pergi dari rumah."
"Hhmm, nanti mas akan beri pengertian pada mami, ya!" ucap Andre sembari membingkai wajah istrinya dengan kedua tangannya.
"Iya, mas."
"Asalkan kamu mau dan siap mendampingi mas di saat susah dan senang!"
Kanaya mengangguk, "Aku mau, mas. Aku-aku cinta mas!" ucapnya dengan wajah tertunduk malu.
"Mas juga cinta kamu!" balas Andre.
Kanaya mendongakkan kepalanya, "Mas sungguh-sungguh, kan?"
"Apa yang sudah mas lakukan, itu adalah bentuk rasa cinta mas sama kamu!"
Mata Kanaya berkaca-kaca. Dia memandang suaminya dengan rasa bahagia.
"Kenapa nangis? Kamu nggak suka, hmm?"
Kanaya tiba-tiba memeluk Andre. Meluapkan rasa bahagianya. Andre lalu mengusap-usap lembut rambut istrinya.
"Mas, aku laper!"
"Hhmm? Kamu mah makan apa?"
"Sop Daging,mas."
"Mau makan di bawah apa di kamar saja?"
"Di kamar saja, mas. Lebin santai, kan."
"Hhmm, mas pesan dulu, ya!"
"Iya, mas!"
.
.
Maaf masih terdapat banyak typo. 😊😍
.
.
.
.
.
00
__ADS_1