
Pulang dari rumah sakit, Andre kembali bolos kuliah. Dia buru-buru pulang ke rumahnya.
"Bun, nanti bawa apa saja ke rumah Kanaya?" tanya Andre.
"Kita bawa buah sama kue saja dulu, ya. Seserahannya kita bawa pas acara akad nikah saja. Bunda belum sempat beli"
"Iya, bun. Aku terserah bunda saja. Maaf ya bun, aku ngerepotin," jawab Andre.
"Bunda nggak ngerasa di repotin sama kamu, nak!" ucap bundanya lembut.
Andre tersenyum, "Semoga nanti istriku bisa sebaik bunda!"
"Semoga istri kamu nanti bisa lebih baik daripada bunda!"
"Assalammu'alaikum," ucap Alya dari luar.
"Wa'alaikumsalam," sahut Andre dan bundanya hampir berbarengan.
"Mas, sudah pulang, ya? Kirain masih di rumah sakit," ucap Alya dengan wajah di tekuk.
"Iya, dek. Kenapa?"
"Hhmm, tadi mau minta jemput takut mas sibuk."
"Hhmm, maaf ya dek. Lain kali kalau mau pulang, mas bilang sama kamu!"
"Hhmm. Bunda sedang apa?"
"Ini, bunda sedang bikin kue untuk di bawa ke rumah calonnya mas Andre," jawab bundanya.
"Hhmm, mas tahu-tahu sudah mau nikah saja."
"Iya, lebih baik begitu daripada pacaran dulu. Menghindari dosa juga, kan."
"Hhmm, i-iya, mas," jawab Alya gugup.
Dia kembali teringat saat dosennya Kevin menciumnya saat itu. Tidak pacaran saja dia berani seperti itu. Walau hanya sedetik tapi tetap membekas di hati Alya. Ada penyesalan juga kenapa itu bisa terjadi. Harusnya itu juga untuk suaminya kelak. Wajahnya jadi terlihat sedih.
"Kamu kenapa murung begitu, hhmm? Mau di nikahkan juga sama ayah?" goda Andre.
"Iihh apaan. Tak lama lagi aku lulus kuliah. Aku mau melanjutkan kuliah lagi boleh kan bunda?"
"Boleh donk, sayang. Tuntutlah ilmu selama dan sebanyak yang kamu mau. Bunda akan selalu mendukung kalian!"
"Hhmm, terimakasih, bunda!" ucap Alya kemudian merangkul bundanya dari belakang.
***
Setelah selesai sholat isya berjamaah di rumah. Dengan membawa beberapa macam buah tangan, mereka pergi ke rumah Kanaya. Nenek dan Alya tidak ikut serta karena kondisi nenek yang kurang sehat jadi Alya yang menemani di rumah.
"Kak Kanaya itu cantik, ya. Mas Andre tahu saja pilih istri yang cantik!" celetuk Alina.
"Bukan masalah cantiknya kok, dek! Adek-adek mas juga tak kalah cantiknya!" sahut Andre.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Kanaya.
"Waahh, rumahnya besar dan mewah banget!" gumam Alina.
"Iya ya, Lin!" sahut Annisa berbisik di telinga Alina.
"Assalammu'alaikum," ucap mereka hampir berbarengan.
Tak lama kemudian pintu terbuka, "Wa'alaikumsalam," seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu.
"Silahkan masuk!" ajaknya.
"Terimakasin!" ucap Andre.
Mereka berlima kemudian masuk ke dalam rumah. Rumah terlihat sepi.
"Silahkan duduk. Saya akan panggilkan tuan dan nyonya dulu!" ucapnya.
"Terimakasih!" ucap Andre.
Mereka berlima lantas duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Tak lama setelah asisten rumah tangga Kanaya masuk, muncullah dua orang pasangan paruh baya berserta laki-laki muda yang hampir seusia Andre. Di belakangnya, berdiri Kanaya dengan mengenakan gaun yang menambah keanggunan dan kecantikannya. Dia terlihat lebih dewasa. Andre pun terpesona melihatnya. Tak menyangka gadis manja yang dia kenal beberapa hari ini bisa berubah seperti itu.
Mereka lantas berkenalan.
__ADS_1
"Saya Jhohan. Papinya Kanaya. Yang ini istri saya, Kalisa. Putra pertama saya Kalla." ucap papinya Kanaya mengenalkan satu persatu anggota keluarganya.
"Saya Anto, ayahnya dokter Andre. Ini bundanya Andre. Nah, yang ini si bungsu yang kembar, Alina dan Annisa! Ada juga putri kedua saya tapi sekarang ada di rumah menemani neneknya yang sedang tidak enak badan!" jelas Anto seraya menunjuk satu-persatu anggota keluarga.
Mereka saling berjabat tangan.
"Jadi dokter Andre ini putra pertamanya ya, pak?" tanya papinya Kanaya.
"Iya, pak. Dan anak laki-laki satu-satunya," jawab Anto.
"Hhmm, iya,"
"Begini pak Jhohan, tujuan saya datang adalah untuk melamar putri bapak yang bernama Kanaya untuk putra saya Andre. Saya juga minta maaf karena dadakan!" jelas Anto.
"Iya. Putra bapak pasti sudah cerita masalah sebenarnya kenapa pertemuan kita malam ini sangat mendadak. Ini juga atas kemauan putra dan putri kita!" jelas Jhohan.
"Iya, pak. Walau terkesan mendadak, semoga pernikahan mereka bisa langgeng!" ucap Anto.
"Ehhmm. . .!" Jhohan melirik ke arah Andre.
"Mengenai pernikahannya, sampai hari ini persiapannya sudah hampir seratus persen!" jelas Kalisa.
"Hhmm, kalau untuk seserahan dan yang lain, kita baru bisa saat acara akad nikahnya, bu. Ya karena dadakan. Kita juga hanya mampu memberikan sesuai kemampuan kita!" jelas Santi.
"Oh, kalau itu tidak masalah bu Santi. Kita mengerti kok!" sahut Kalisa.
Mereka lantas membahas tentang konsep pernikahan yang sudah di rancang lama itu. Ternyata keluarga Kanaya akan menggelar resepsi mewah di sebuah hotel berbintang dan mengundang banyak tamu. Keluarga Andre hanya mendengarkan saja tanpa bisa memberikan pendapat karena memang semua persiapan hampir rampung.
"Baiklah, kami setuju saja!" ucap Anto seraya melirik istrinya
"Kalau begitu, kita makan malam dulu, yuk. Kita sudah siapkan!" ajak Kalisa.
"Wah, merepotkan saja, bu!" sahut Santi.
"Nggak masalah, kok! Mari!" ajaknya lagi.
Mereka kemudian pergi ke ruang makan. Hidangan sudah siap dengan aneka menu masakan mewah.
"Ayo, silahkan di nikmati. Anggap saja rumah sendiri!" ucap Kalisa ramah dan hangat, sangat berbeda dengan papinya Kalisa yang jarang tersenyum.
"Terimakasih, bu!" sahut Santi.
Acara makan malam pun selesai. Mereka kembali ke ruang tamu. Mengobrol ringan. Kalisa dan Santi tampak asik ngobrol berdua.
"Dokter Andre, bisa bicara berdua?" tanya Kalla, kakaknya Kalisa.
"Oh, bisa!" sahut Andre.
"Mau kemana, kak?" tanya Kanaya menatap ke arah kakaknya. Dia terlihat kurang suka.
"Tenang saja. Hanya nyobrol sebentar di teras, kok!" jawab Kalla.
Mereka pun pergi ke luar. Andre hanya diam menunggu apa yang hendak di bicarakan oleh kakaknya Kanaya itu.
"Benarkah kalian baru saling mengenal beberapa hari ini?" tanya Kalla.
"Hhmm, iya benar. Saya bertemu Kanaya saat di restoran," jawab Andre.
"Jadi dokter yang membawa adik saya ke rumah sakit?"
"Iya."
"Kenapa dokter mau menggantikan pengantin prianya yang sudah kabur itu?" tanya Kalla pelan namun terlihat menahan marah.
"Hmm, awalnya Kanaya yang meminta."
"Oohh, jadi adik saya sudah menawarkan diri pada dokter, begitu?"
"Hanya untuk menggantikan saat acara saja!"
"Hhhmm, jadi setelah itu cerai. Begitu?"
"Iya!"
"Lalu kenapa sekarang berubah? Apa karena sudah tahu tentang siapa Kanaya sebenarnya?"
"Saya tidak mengenal pernikahan yang Kanaya dan papinya inginkan. Saya hanya mengenal pernikahan seperti yang kebanyakan orang-orang inginkan. Sekali seumur hidup."
"Saya pun berpikiran seperti itu, dok. Tapi apa dokter yakin hanya akan menikah sekali seumur hidup?" tanya Kalla dengan suara seperti mengejek.
__ADS_1
"In Sya Allah!" tegas Andre.
"Semoga ucapan dokter bisa di pegang!"
"Siapapun pasti menginginkan pernikahan satu kali seumur hidup!"
"Tapi yang saya dengar, ayah dokter telah menikah sebanyak dua kali, bukan?"
Andre kaget. Darimana kakak Kanaya mengetahui masalah itu?
"Hhmm, itu memang benar. Ayah menikah lagi setelah beberapa bulan berpisah dari ibu saya. Saat itu ayah masih muda, baru tiga puluh tahun. Jadi menurut saya wajar jika ayah kembali menikah!" jelas Andre. Dia tidak ingin ayah kebanggaannya itu di nilah buruk oleh orang lain.
"Hhmm, begitu."
"Iya! Dan beliau seorang ayah yang sangat bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Sangat mencintai keluarganya!"
"Hhmm, bagus. Semoga Kanaya tidak salah menjatuhkan pilihannya!" ucapnya lantas pergi meninggalkan Andre sendirian di teras.
"Hhh, semoga akupun tidak salah menerima Kanaya sebagai istriku," gumam Andre.
"Dokter?"
Andre menoleh lantas tersenyum.
"Hhmm, maaf jika kak Kalla bicara macam-macam sama dokter!"
"Nggak masalah. Semua orang bebas mengutarakan pendapatnya!"
"Dokter nggak marah, kan?"
"Kenapa harus marah?"
"Hhmm, dok. Terimakasih!"
"Terimakasih untuk apa?"
"Terimakasih sudah datang malam ini!"
"Hhmm!"
"Aku-aku cantik nggak?"
"Hhmm? Sama seperti biasa."
"Hhmm," wajah Kanaya terlihat sedih.
"Sudah malam ini. Mungkin keluargaku mau pulang."
"Belum malam kok, dok!"
"Kamu istirahatlah, jangan begadang!"
"Hhh, baiklah! Besok, boleh kan aku ke rumah sakit?"
"Konsultasi lagi?"
"Hhmm, makan siang sama dokter!"
"Empat hari lagi kita menikah. Sebaiknya kamu nggak kemana-mana dulu!"
"Hhmm, iya."
"Jangan cemberut begitu. Jelek!"
Kanaya lantas memaksakan tersenyum.
"Hhmm, ayo masuk!" ajak Andre.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Ternyata keluarganya memang sudah hendak pulang.
.
.
.
.
Maaf jika masih ada typo. Terimakasih sudah membaca 😊🙏
__ADS_1