
Pukul sembilan lebih rombongan kami baru sampai di depan masjid di dekat rumah mbak Santi yang akan kami pakai untuk acara akad nikah. Hanya ada beberapa motor yang parkir di dalam pagar.
Mbak Santi memang hanya mengundang sedikit saja tamu untuk menjadi saksi pernikahan kami.
"Mas,sudah ditungguin dari tadi sama mbak Santi sama penghulunya juga!" jelas mang Toto,penjaga rumah mbak Santi.
"Iya mang," sahutku lalu buru-buru masuk ke dalam masjid.
"Assalamualaikum!" ucapku.
"Wa'alaikumsalam!" sahut semua tamu yang hadir.
"Pak,sudah di tungguin!" ucap salah satu karyawan minimarket.
Aku mengangguk lalu tersenyum, "Iya!" jawabku.
Aku lihat sudah ada belasan orang di sana. Aku menyisir ruangan,tidak ada calon istriku di sana, Ke mana dia? batinku.
"Ini dia calon pengantinnya. Hampir saja saya pergi. Pukul sepuluh nanti saya ada acara di tempat lain,mas," jelas pak penghulu.
"Hhm,iya maafkan saya,pak!" ucapku lalu segera duduk di depan penghulu.
Prosesi akad nikahpun di mulai dengan wali nikah yang di sediakan oleh KUA setempat. Alhamdulillah aku pun mengucapkan lapaz akad dengan lancar sekali tarikan nafas.
"Sah?" tanyanya.
"Sah. . .!" sahut semua orang yang ada di sana.
Setelah itu,Santi datang di temani salah satu karyawan wanita yang bekerja di minimarketnya. Wanita itu tampil dengan sangat cantik dan anggun. Dia juga mengenakan hijab. Benar-benar sangat cantik. Tidak terlihat jika usianya yang hampir kepala empat. Aku menatap wanita yang baru saja resmi menjadi istriku itu dengan takjub.
Dia duduk di sebelahku lalu mencium punggung tanganku takzim. Kami semua berdoa setelah itu aku dan Santi menanda tangani buku nikah.
Setelah selesai,kami berdua menyalami bapak penghulu dan semua yang hadir.
"Selamat ya,To!" bisik Budi,sahabatku.
Aku tersenyum, "Terimakasih. Semoga kamu segera menyusul!" sahutku.
Setelah itu kami segera menuju rumah Santi,istriku. Di sana,sudah ada beberapa orang yang memang sudah menunggu. Santi memesan catering untuk jamuan makan.
Tak ada pelaminan. Kami semua duduk di lantai beralaskan karpet lembut. Kedua anakku tampak bahagia,pun ibu dan adikku. Kami lalu berfoto-foto sebentar.
Dua jam kemudian semua tamu sudah pulang tinggal kami sekeluarga saja yang masih asik ngobrol di ruang keluarga.
"Ibu sama Aminah menginap di sini ya?" pinta Santi.
__ADS_1
Ibu lalu menoleh ke arahku. Aku tersenyum lalu mengangguk.
"Baiklah,malam ini ibu dan Aminah akan menginap di sini!" sahut ibu.
Istriku itu langsung tersenyum membuat dia makin terlihat cantik. Hari ini dia memang terlihat makin cantik. Entah karena make up atau karena hatinya yang sedang berbahagia. Rasanya damai melihat senyumannya itu.
"Aku ke kamar dulu,ya. Mau ganti pakaian ini rasanya gerah!" pamitnya kemudian.
"Anto,kamu bantu istrimu sana!" titah ibu membuat wajah istriku itu merona malu.
"Hhmm,aku bisa sendiri kok,bu!" tolaknya.
"Ayo!" ajakku tanpa peduli penolakannya.
Dengan masih malu-malu dia naik ke lantai atas menuju kamarnya. Aku baru tahu lantai atas rumah istriku ini walau lebih kecil dari lantai bawah tapi terlihat mewah dengan dua kamar.
Dia lalu membuka pintu kamarnya," Silahkan masuk,mas!" ajaknya.
Aku lalu masuk mengikutinya dari belakang. Kamarnya sangat luas. Mungkin luasnya lebih dua kali lipat dari luas kamar kosku. Dia membuka lemari pakaiannya yang cukup besar lalu mengambil satu stel pakaiannya.
Dia menoleh ke arahku ,wajahnya terlihat bingung. "Kenapa?" tanyaku lalu mendekatinya.
"Hhmm,aku . . . ," dia menggantung ucapannya.
"Sini mas bantu!" tawarku. Dia lalu menunduk malu.
"Pakaiannya mau dibantu juga?" tanyaku kemudian.
"A-apa?" tanyanya kaget lalu menoleh ke arahku.
Pandangan kami bertemu. Beberapa detik kemudian aku mendekatkan wajah ku dengan wajahnya.
Dia lalu memejamkan matanya. Aku tersenyum lalu mencium bibirnya sekilas kemudian berbisik lembut di telinganya, "Nanti malam ya!"
Dia membuka matanya lalu tersenyum malu setelah itu kembali membelakangiku, "Resletingnya mas bukain,ya?" tanyaku yang diberikan anggukan olehnya.
Aku membuka sedikit resletingnya yang ada di belakang. Aku hendak membantu membuka pakaiannya tapi aku urungkan.
"Mas boleh ke kamar mandi?" tnyaku kemudian.
"Iya mas silakan!" jawabnya.
Aku lalu segera ke kamar mandi. Lima menit kemudian aku keluar dia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tadi dia ambil di lemari.
Dia Lalu menoleh ke arahku, "Mas,pakaiannya nggak diganti?" tanyanya.
__ADS_1
"Oh iya,pakaian mas masih ada di mobil," sahutku.
"Mas bawa saja ke sini,nanti biar aku yang susun di lemari."
"Iya,mas ambil dulu!" ucapku lalu hendak keluar kamar.
"Aku juga mau turun,mas!"
Kami lalu turun bersama. Di bawah,ibu dan Aminah masih asik mengobrol sedangkan anak-anak entah di mana mereka bertiga.
"Anak-anak mana,bu?" tanyaku.
"Anak-anak main di luar dari tadi!" jawab ibu.
"Ibu kalau mau istirahat,kamarnya sudah di siapkan,bu," ucap istriku.
"Iya,nak. Ibu masih ingin ngobrol," sahut ibu.
Aku lalu keluar menuju mobil untuk mengambil pakaianku dan juga anak-anak di bantu mang Toto membawanya ke lantai atas. Santi mengikutiku dari belakang.
"Mas,pakaian anak-anak taruh di kamar ini saja!" jelasnya seraya menunjuk kamar yang ada di sebelah kamarnya.
"Ini kamar untuk anak-anak?" tanyaku.
"Iya,mas. Nggak apa-apa kan anak-anak kamarnya satu? Kalau mau pisah,kamar yang kosong hanya ada di lantai bawah."
"Nggak apa-apa,anak-anak masih kecil. Alya juga belum berani tidur sendirian," sahutku.
"Iya,mas. Besok kita beli lagi dua tempat tidur yang kecil untuk anak-anak!"
"Iya,sayang!" ucapku mesra.
Dia kembali tersipu. Sungguh aku merasa seperti pengantin remaja saja saat ini. Jika aku tidak ingat ada ibu,adik dan anak-anakku,mungkin detik ini juga aku ingin melakukannya. Aku harus segera mendinginkan otakku. Ucapku dalam hati.
"Ya sudah,mas mau mandi dulu!" pamitku lalu pergi ke kamar mandi. Kebetulan sebentar lagi akan masuk waktunya sholat dzuhur.
Kamar mandi yang mewah seperti di kamar hotel. Entah mimpi apa aku bisa tinggal di rumah semewah ini. Tapi aku tetap sadar diri. Aku dan anak-anakku hanya menumpang tinggal di rumah ini. Aku tidak ingin anak-anakku sampai lupa diri. Aku juga akan berusaha menjadi suami yang baik untuk istriku. Aku tidak ingin gagal lagi. Semoga ini pernikahanku yang terakhir dan semoga akan ada tangisan bayi di dalam pernikahan keduaku ini. Aamiin. . .
.
.
.
.
__ADS_1
.
09