Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 166


__ADS_3

Pulang sekolah, sembari menunggu jemputan ayahnya, Annisa dan Alina menunggu di taman bertiga dengan Darren. Mereka makin akrab. Alina pun sudah tidak kaku lagi ikut ngobrol bersama.


"Kak Darren benar-benar sudah sehat? Sudah fit badannya?" tanya Annisa perhatian.


"In Sya Allah, kakak sudah fit! Obatnya juga masih ada sampai besok saja."


"Alhamdulillah!"


"Jadi kak Darren kerja di minimarket lagi hari ini?" tanya Alina.


"Hhmm, masih boleh nggak, ya?" tanya Darren ragu.


"Tentu saja boleh. Ayah kita kan baik! Iya kan, Lin?"


"Pasti, donk! Ayah terhebat!" ucap Alina


"Terkeren!" sahut Annisa.


"Nanti aku mau cari suami yang seperti ayah!" ucap Alina.


"Aku juga!" sahut Annisa.


"Hhmm. . ." wajah Darren terlihat muram.


"Ehhm, kak. Aku. . ." Annisa jadi salah tingkah.


"Eh Nis, itu mobil ayah!" tunjuk Alina.


"I-iya."


"Kak, duluan!" pamit Alina.


"Kak Darren?" Annisa menatap Darren yang masih menunduk sembari kakinya memainkan bebatuan.


"Pulanglah, ayah kamu sudah jemput!" titah Darren dengan suara lirih.


"Kakak nggak jadi ngomong sama ayah soal kerja lagi di minimarket?" tanya Annisa.


"Hhmm," Darren terlihat ragu.


"Ayo, kak!" ajak Annisa setengah memaksa.


Darren mendongakkan kepalanya. Mau tidak mau akhirnya Darren mengikuti langkah kaki Annisa menuju dimana mobil ayahnya terparkir. Dia masih sangat membutuhkan pekerjaan.


"Ayah, kak Darren mau bicara, bisa?" tanya Annisa setelah sampai di dekat ayahnya.


"Darren mau bicara apa?"


Annisa lalu meminta Darren mendekati ayahnya. Anto membuka pintu mobilnya lalu turun menghampiri Darren.


"Pak Anto," sapa Darren ramah.


"Kamu sudah sehat?" tanya Anto.


"I-iya, pak!" jawab Darren sambil menundukkan kepalanya.


"Alhamdulillah. Jangan capek-capek dulu!" ucap Anto.


Darren mendongakkan kepalanya, "Hhmm, aku-aku masih boleh bekerja di minimarket bapak?" tanya Darren ragu.


Anto mengernyitkan dahinya, "Kamu benar-benar sudah sehat dan fit?"


Darren menunduk. Entah dia merasa rendah diri di hadapan keluarga mantan mamanya. Apalagi harus berhadapan langsung dengan mantan suami mamanya yang dulu di khianati mama dan papanya.


Walau Annisa sikapnya tidak berubah tapi dia merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Hhmm, baiklah. Kamu boleh kerja tapi kalau merasa capek, langsung saja istirahat, jangan di paksakan. Saya tidak mau kamu sakit lagi!" jelas Anto.


Aku nggak mau nanti di salahkan oleh orangtua kamu, Darren. Tapi kalau menolak kamu kerja, aku juga nggak tega. Batin Anto.


"Te-terimakasih, pak!" ucap Darren seraya menakupkan kedua tangannya di depan dada.


"Hhmm, sama-sama. Mau bareng ke minimarket?" tawar Anto.


"Hhmm, terimakasih. Tapi aku bawa sepeda, pak."


"Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan!" ucap Anto.


"Iya, pak. Bapak juga hati-hati."


"Baiklah, kita jalan dulu!" pamit Anto lantas naik ke mobilnya.


"Kak Darren, kita pulang dulu. Kakak hati-hati di jalan, ya!" pamit Annisa seraya melambaikan tangannya.


Darren mengangguk seraya membalas lambaian tangan Annisa. Setelah mobil gadis itu melaju, Darren gegas naik ke sepedanya dan mengayuh sepedanya pelan ke arah minimarket.


Sampai di minimarket, Darren memarkirkan sepedanya di dekat pintu gudang. Dia merasa ragu-ragu untuk masuk.


"Darren?" sapa Rudi.


"Pak Rudi. . ." sahut Darren sambil tersenyum.


"Kenapa hanya berdiri di pintu? Mau nagih hutang, ya?" guraunya.


Darren menggaruk-garuk kepalanya seraya tersenyum, "Hhmm, aku. . ."


"Sana! Kerjaan sedang banyak, kamu malah berdiri saja di sini!" titah Rudi.


Mendengar ucapan Rudi, sontak membuat Darren bersemangat dan merasa masih di terima bekerja di sana. Gegas Darren masuk ke gudang dan bekerja seperti biasa.


"I-iya, pak!" sahut Darren.


Nggak biasanya pak Rudi ngomong seperti itu. Biasanya dia sangat menyukai cara kerjaku yang bersemangat. Apa pak Rudi tahu kalau aku habis sakit, ya. Batin Darren.


Tak lama kemudian, Rudi masuk memberikan nasi bungkus untuk Darren.


"Belum makan siang, kan? Nih, makan dulu!" titah Rudi.


"Hhmm, pak. Tapi aku nggak nitip. Aku juga belum laper!" tolak Darren karena dia tahu harga nasi bungkus yang di berikan oleh Rudi, uang di dompetnya tidaklah cukup. Rencananya dia hanya akan makan siang dengan membeli gorengan saja.


"Ya nggak perlu kamu nitip! Itu titipan pak Anto, kok. Bukan saya yang beli!" jelas Rudi.


"Pak Anto yang beliin?" tanya Darren kaget.


"Hhmm, makan sana. Pekerjaannya di tinggal dulu nggak apa-apa!"


"I-iya, pak!" sahut Darren lantas membuka bungkusan nasi yang di berikan oleh Rudi tadi. Ada sayur plus lauk ayam goreng di dalamnya. Darren menelan salivanya. Tiba-tiba perutnya merasa lapar.


"Ayo jangan cuma di lihatin saja. Nggak suka, ya?"


Darren menoleh, "Eh, i-iya, pak!" sahut Darren lantas segera menyantap makanannya sampai tandas. Dia lalu mengambil air minum yang memang sudah di sediakan untuk karyawan yang ada di gudang.


"Alhamdulillah," gumamnya seraya mengusap perutnya yang kenyang.


Setelah beristirahat beberapa menit, Darren kembali dengan kesibukannya seperti biasa. Saat sedang menyusun barang-barang di etalase, tiba-tiba ada yang menyapanya.


"Darren? Kamu Darren, kan?" seorang gadis berdiri di samping Darren.


Darren yang kaget langsung berdiri.


"Kamu?"

__ADS_1


"Jadi beneran kamu Darren!" serunya dengan mata berbinar.


"I-iya!" jawab Darren gugup. Dia terlihat tidak senang bertemu dengan gadis itu.


"Pantes kok aku nggak pernah lihat kamu lagi sepulang sekolah. Rupanya kamu kerja di sini."


Hhh, Darren menarik nafasnya berat. Dia menoleh ke kiri kanan.


"Bisa minta tolong?" tanya Darren pelan supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Bisa donk!"


"Hhh, tolong rahasiakan dari siapapun kalau aku kerja di sini! Dan anggap saja kita nggak saling kenal, ya?" pinta Darren dengan wajah memohon.


Dia tidak ingin siapapun tahu kalau dia kerja di minimarket.


"Hhmm, tergantung!" sahut gadis itu dengan tingkah genit.


Dahi Darren berkerut, "Tergantung apa?"


Tiba-tiba gadis itu membisikkan sesuatu di telinga Darren. Darren seketika membulatkan matanya lalu menatap tajam ke arah gadis itu.


"Tapi nggak bisa gitu!" tolak Darren.


"Nggak mau ya sudah. Aku nggak janji loh, jaga rahasia kamu ini!" ancamnya membuat Darren kesal.


Hhh, Darren menarik nafas lalu membuangnya kasar, "Ok!"


"Nah gitu, donk! Berapa nomor handphone kamu?"


"Hhh, kamu tahu kan kalau aku nggak punya handphone!"


"Hhmm, ok. Aku ada handphone nganggur nih tapi bukan smartphone, sih. Nggak apa-apa ya, setidaknya kita bisa saling kontak!"


"Terserah kamu saja!" sahut Darren malas.


Gadis itu merogoh tasnya lalu memberikan handphone biasa pada Darren. Darren terpaksa menerimanya.


"Terimakasih, ya!" ucap gadis itu dengan senyum semringah.


Darren hendak meninggalkan gadis itu tapi tangannya di tahan.


"Ada apa lagi? Kamu lihat aku sedang kerja! Kamu mau aku di pecat dan aku nggak akan terima tawaran kamu tadi!" ancam Darren.


Gadis itu melepaskan pegangan tangannya, "Oke-oke, jangan marah, donk!"


Darren buru-buru pergi dari hadapan gadis itu dengan menahan kesal.


.


.


.


.


.


.


.


.


20

__ADS_1


__ADS_2