Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 141


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Alya terus menoleh ke luar jendela. Jantungnya berdebar-debar setiap kali berdekatan dengan dosennya itu apalagi sampai berduaan begini. Rasanya dia ingin cepat sampai ke rumah.


Entah kenapa rasanya berbeda saat bersamanya. Menggodanya menjadi hal yang menyenangkan. Batin Kevin.


"Sudah makan?" tanya Kevin.


"Hmm, belum, pak!"


"Bagus. Kamu temani saya makan!"


"Haahh? Apa, pak?" tanya Alya kaget.


"Kamu nggak denger, hhmm?"


Hhh, Alya menarik nafasnya berat. Kenapa pak Kevin senengnya maksa, sih. Gerutu Alya dalam hati.


"Iya, pak!" jawabnya malas sementara Kevin tersenyum menyeringai.


Mereka sampai di depan sebuah restoran mewah. Sebelum Kevin membukakan pintu mobil untuknya, Alya buru-buru turun.


Mereka lantas masuk ke restoran itu. Kevin memilih tempat duduk di dekat jendela.


"Kamu mau makan apa?" tanya Kevin.


"Samain saja sama bapak!" jawab Alya malas tanpa mau menoleh ke arah dosennya itu.


"Kamu nggak ikhlas menemani saya makan, heehh?"


Alya mendongakkan kepalanya, "Hmm, ikhlas kok, pak!" jawab Alya buru-buru sebelum dosennya itu berubah jadi dosen killer.


"Hhmm, jadi kamu mau makan apa?"


Hhh, Alya menarik nafasnya berat, "Aku pesan steak saja, pak!" jawab Alya.


"Hhmm, minumnya?"


"Jus jeruk saja."


"Ok. Kita pesan steak sama jus jeruk!" ucap Kevin yang langsung memesan makanannya.


Selama menunggu, Alya hanya menunduk saja sembari memainkan jemarinya. Dia tidak bisa menutupi kegugupannya.


"Kamu lebih suka memandangi wajah saya di foto ya daripada langsung, hmm?"


Alya mendongakkan kepalanya. Wajahnya makin memerah saja. Malu banget rasanya gara-gara tadi ketahuan sedang memandangi fotonya padahal kan nggak sengaja. Batin Alya.


"Nah, sekarang kamu bisa puas-puas pandangi wajah saya. Tenang saja, nggak bayar, kok!" goda Kevin.


Pak Kevin kenapa sih dari tadi seneng banget bikin aku malu. Keluh Alya.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Ternyata dosennya itu memesan makanan dan minuman yang sama dengannya.


"Ayo di makan! Biar nggak pusing mikirin saya:" titahnya.


Tanpa menjawab ucapan Kevin, Alya langsung menyantap makanannya.


"Kamu suka?"


"Iya, pak!" jawab Alya.


"Habiskan!"

__ADS_1


Alya mengangguk, "Hhmm!"


Hanya sepuluh menit saja Alya sudah menghabiskan makanannya. Dia lantas menenggak minumannya hingga hampir habis.


Tiba-tiba Kevin menyentuh ujung bibir Alya hingga gadis itu kaget.


"Ada sisa nasi. Kamu sengaja ya supaya saya yang menyekanya?"


"Iiihh, siapa juga yang sengaja?" ucap Alya sebal dengan nada sedikit tinggi. Memangnya aku tahu kalau ada sisa nasi di bibirku. Dasar pak Kevin aneh. Batinnya.


"Hhmm, sudah berani ya bicara tinggi di depan saya!"


Alya menundukkan kepalanya. Duuhh, semoga ini hanya mimpi. Dan semoga aku lekas terbangun.


Kevin terlihat mengambil handphonenya. Lalu handphonenya dia arahkan ke depan Alya. Entah apa yang sedang di lakukan dosennya itu. Alya semakin salah tingkah saja di buatnya.


"Kapan mimpi ini berakhir!" gumamnya.


"Kamu bicara apa, hmm?"


"Ng-nggak apa-apa, pak!" ucap Alya bohong. Dia memain-mainkan saja jemarinya.


"Saya denger loh!" ucap Kevin membuat Alya kaget.


"Hhmm,"


"Ini bukan mimpi! Apa perlu saya buktikan kalau ini nyata, hmm?"


"Ng-nggak, pak!" sahut Alya buru-buru. Memangnya apa yang akan di lakukan pak Kevin. Batin Alya.


"Hmm,"


"Hhmm, apa a-aku boleh pulang, pak!" tanya Alya dengan suara bergetar.


Ngobrol apanya? Dari tadi selalu bikin aku malu. Batin Alya.


"Betah kok, pak!" sahut Alya. Huhh, kalau bukan karena nilai, aku mau pulang saja. Semoga pak Kevin nggak sampai macem-macem!


Kenapa dia terlihat gelisah. Apa dia tidak menyukai saat sedang bersamaku. Ataukah dia takut ada yang tidak suka. Aahh, apa jangan-jangan dia sudah punya pacar, ya? Tapi aku belum pernah melihat dia bersama teman laki-lakinya selain teman kuliah.


"Hhmm, kamu sudah punya pacar?"


Deg. Kenapa pak Kevin nanyain itu. Alya meneguk salivanya. Dia malu mengakuinya. Ya, teman-temannya selalu saja memamerkan pacar mereka. Mengatakan kalau dia tidak punya pacar. Tidak ada yang mau menjadikannya pacar karena sikapnya yang kaku dengan lawan jenis.


Padahal itu karena dia memang tidak ingin berpacaran. Mas Andrenya selalu mengingatkannya untuk tidak dekat-dekat dengan lawan jenis.


"Kok diem?"


"Aku, belum punya pacar, pak."


"Hhmm, masa?"


"Memangnya bapak pernah lihat aku sama teman cowok?"


"Mana aku tahu! Masa aku harus membuntuti kamu?"


"Hhmm, pak. . ."


"Apa?"


"Aku-aku mau pulang boleh. Aku capek," ucap Alya lirih.

__ADS_1


"Hhmm, capek menemani saya, hmm?"


"Bu-bukan begitu, pak. Aku kan jarang pulang cepat. Hari ini ingin istirahat mumpung kuliahku dikit. Aku-aku mulai ngantuk."


"Alasan saja, kamu! Sekarang belum juga pukul dua siang, masa sudah ngantuk?"


"Hhmm! Aku beberapa hari ini begadang, pak!" wajah Alya terlihat sedih.


Kevin langsung berdiri setelah menyelipkan beberapa uang merah di bawah gelas minumnya. Dia keluar dari restoran tanpa bicara lagi pada Alya.


Alya yang kaget buru-buru menyusulnya.


"Pak!" panggilnya.


Kevin naik ke mobil lantas menyalakan mesin mobil. Alya lalu membuka pintu mobil di sebelahnya.


"Pak?"


"Naik!" titah Kevin tanpa mau menoleh ke arah Alya.


Alya lalu naik ke mobil. Dia duduk diam dengan pandangan lurus ke depan. Tak lama kemudian, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


Pak Kevin kenapa, sih? Masa ngambek? Batin Alya.


"A-aku minta maaf, pak!" ucap Alya lirih.


Kevin menoleh sesaat lalu kembali fokus mengemudi.


Alya lantas bersandar di sisi jendela mobil sambil melihat jalanan. Padahal hari ini rencananya dia ingin pulang cepat dan tidur sepuasnya. Sudah beberapa hari banyak tugas kuliah hingga dia hanya sedikit mempunyai waktu untuk tidur.


Lama-lama Alya tertidur di mobil. Dengkuran halusnya mulai terdengar di telinga Kevin.


"Dasar tukang tidur!" gumamnya.


Saat di lampu merah, Kevin menatap intens Alya. Dia mengusap perlahan wajah cantik itu.


"Kamu cantik. Lucu. Aku hanya ingin menghabiskan sedikit waktuku denganmu. Aku tahu ini terasa aneh. Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa senyaman ini sama kamu. Sudah bertahun-tahun aku menyendiri. Maaf, kalau aku sudah membuatmu nggak nyaman!" gumam Kevin.


Dia kembali melajukan mobilnya pelan. Sengaja pelan, supaya bisa lebih lama bersama gadis yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya.


Tak terasa mereka pun tiba di depan rumah Alya. Kevin memarkirkan mobilnya tak jauh dari sana. Dia akan menunggu sampai gadis di sampingnya terbangun.


Kevin mengambil handphonenya lalu mengarahkan ke Alya. Entah sudah berapa kali dia mengambil foto mahasiswinya itu. Senyum tersungging di bibirnya.


"Kamu makin lucu saat sedang tidur," gumamnya sembari melihat-lihat hasil fotonya.


.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo bertebaran. Terimaksih sudah membaca. 😊🙏


.


.

__ADS_1


.


20


__ADS_2