
Melihat papi Kanaya yang marah, semua orang yang ada di sana terlihat tegang, termasuk Andre.
"Jadi tujuan kamu menikahi putri saya hanya untuk membuatnya menderita, begitu?" tanya papi Kanaya.
"Jangan marah-marah terus, pa. Kita bicarakan ini baik-baik, ya!" bujuk mami Kanaya.
"Bagaimana saya tidak marah, mi? Kamu lihat menantumu ini? Menikah bahkan baru hitungan hari, tapi dia sudah ingin membuat putri kesayangan kita menderita dengan menjadikannya seorang pembantu!"
"Papi bukan seperti itu maksud saya!" ucap Andre pelan.
"Saya tidak akan membiarkan kamu membuat hidup putri saya jadi sengsara!" ucap papi Kanaya dengan tegas.
"Saya tidak pernah berniat untuk membuat istri saya ini sengsara, pi. Sejak awal saya sudah beritahu Kanaya kalau saya ini tidak memiliki apa-apa."
"Seharusnya kamu waktu itu menerima saja tawaran saya. Nikahi Kanaya lalu ceraikan dia. Tapi kamu malah sok mempertahankan pernikahan kalian selamanya."
"Saya akan berusaha membahagiakan Kanaya tapi untuk sementara ini, hanya itu yang bisa saya berikan."
"Tapi saya tidak rela putri saya kamu jadikan pembantu!" ucapnya.
"Saya tidak pernah berniat menjadikan istri saya sendiri seorang pembantu. Dia hanya mengurus rumahnya sendiri untuk kepentingan kami sendiri bukan mempekerjakannya di rumah orang lain. Itupun saya pasti akan membantunya!"
"Apa kamu pikir itu ada bedanya? Pokoknya sebelum kamu mampu memberikan rumah yang mewah untuk putri saya dan juga beberapa orang pembantu rumah tangga, saya tidak akan Izinkan Kanaya pergi dari rumah ini!" ucap papi Kanaya tegas lantas segera berlalu dari sana.
Wajah Kanaya terlihat sedih. Dia hanya menunduk saja tanpa berani menatap siapapun yang ada di sana termasuk suaminya sendiri. Tanpa Andre sadari istrinya itu diam-diam menangis.
Tak lama setelah papi Kanaya pergi, kakak Kanaya yang bernama Kalla pun pergi meninggalkan mereka. Kini hanya tinggal mereka bertiga saja.
Mami Kanaya lalu mendekati mereka. "Andre, maafin papi kalian, ya. Dia hanya tidak ingin melihat putrinya menderita."
"Kanaya bahagia, mi. Aku bener-bener bahagia menikah sama mas Andre!" ucap Kanaya penuh keyakinan.
"Mami tahu, sayang!" ucap mami Kanaya lembut.
"Terimakasih, mi!"
"Untuk sementara ini kalian tinggal saja dulu di sini sambil kamu mengumpulkan uang untuk membeli sebuah rumah." Mami Kanaya mencoba memberikan saran.
"Tapi saya ingin mencoba mandiri bersama istri saya, mi. Saya ingin memulai segalanya dari nol bersama istri saya tanpa bantuan dari pihak manapun termasuk dari keluarga!" jelas Andre.
"Iya, mami mengerti. Tapi untuk saat ini cobalah kalian menuruti dulu keinginan papi kalian. Selama kalian sini, kalian kan bisa mengumpulkan uang dengan cepat pasti bisa untuk modal membeli sebuah rumah. Kalau kalian mengontrak kan ada dana yang dikeluarkan setiap tahunnya. Jadi lebih baik uangnya itu di tabung supaya kalian bisa secepatnya memiliki rumah sendiri."
"Saya pikir-pikir dulu, mi!" ucap Andre.
"Kalau begitu sekarang kalian Istirahatlah!" ucap mami Kanaya.
"Mi, tolong bantu aku bilang sama papi kalau aku nggak masalah walau hanya tinggal di rumah kontrakan. Aku juga nggak masalah kalau harus membereskan rumah. Mas Andre akan membantuku juga, mi. Mas Andre tidak mungkin membiarkan aku mengerjakan semuanya sendirian!" jelas Kanaya
"Iya sayang, mami mengerti. Mami akan mencoba bicara sama papi kamu, ya. Sekarang lebih baik kalian istirahat saja di kamar. Jangan terlalu banyak pikiran. Nikmati saja masa-masa pengantin baru kalian, ya. Dan jangan lupa segera berikan mami cucu!" ucap mami Kanaya lantas meninggalkan mereka berdua saja di ruang keluarga.
__ADS_1
Andre mengusap wajahnya kasar. Dia terlihat sedikit frustasi namun mencoba untuk dapat menguasai emosinya. Susah juga mempunyai istri anak orang kaya," batin Andre.
Kanaya tiba-tiba menyentuh tangan dan bahu Andre hingga suaminya itu menoleh.
"Mas, maafin papi, ya!" ucapkan Kanaya lirih.
"Iya, sayang. Kamu nggak usah sedih begitu ya!" ucap Andre.
Kanaya lalu bersandar di bahu Andre, "Mas, kita ke kamar saja yuk!" ajak Kanaya.
"Bukannya malam ini kita masih akan menginap di rumah bunda?" tanya Andre.
"Untuk malam ini saja ya, mas!" pinta Kanaya dengan wajah memohon.
"Baiklah malam ini kita menginap di sini tapi besok kita menginap lagi di rumah bunda, ya" ucap Andre.
"Iya, mas. Besok kita menginap lagi di rumah Bunda."
Andre masih enggan beranjak dari sana. Dia terlihat masih memikirkan sesuatu.
"Mas, ayo dong!" ajak Kanaya.
Andre masih saja diam, sibuk berpikir.
"Mas, nanti aku kasih mas double, deh!" bujuk Kanaya hingga membuat suaminya itu menoleh.
"Mau ya, mas?" bujuk Kanaya lagi.
Kanaya tersenyum malu sembari menganggukkan kepala.
Andre lantas bangkit berdiri diikuti oleh Kanaya.
Mereka lalu naik ke atas menuju kamar Kanaya. Sampai dikamar, Kanaya langsung memeluk suaminya dengan mesra. Kanaya ingin meredakan emosi suaminya itu dengan menggodanya.
"Mas ingin aku pakai pakaian itu lagi nggak?" tanya Kanaya dengan malu-malu.
"Pakaian yang bagaimana?" tanya Andre pura-pura tidak mengerti.
"Itu mas, yang aku pakai waktu itu!" jelas Kanaya tapi Andre masih pura-pura tidak mengerti.
"Yang mana mas lupa!"
"Iiihh, mas ini. Masa lupa sih!" ucap Kanaya kesal.
"Katanya mau kasih mas double kok pakai pakaian segala?" tanya Andre.
"Iiihh, mas ini!"
Melihat Kanaya yang sedang malu-malu, Andre lantas mencium pipi istrinya berkali-kali.
__ADS_1
Kanaya terlihat tersenyum. Sepertinya dia sudah siap untuk memberikan kebahagiaan pada suaminya malam ini. Baru saja Kanaya hendak mencium bibir suaminya, tiba-tiba tubuhnya di angkat oleh suaminya.
"Mas!" teriak Kanaya Kaget.
"Isya dulu, sayang!"
Setelah selesai sholat isya, Kanaya membereskan alat sholat lalu menyimpannya kembali. Setelah itu, dia menyusul suaminya yang sedang duduk di sisi tempat tidur.
"Mana, pakaian yang mau kamu pakai itu, hmm?" tanya Andre lembut seraya merangkul istrinya mesra.
Kanaya menoleh, "Hhmm, aku pikir mas nggak suka aku pakai itu. . ."
"Tentu saja mas suka, sayang. Suka banget!"
"Aku pakai ya, mas?" tanya Kanaya.
"Hhmm!"
Kanaya bangkit berdiri menuju almari pakaiannya. Dia lalu mengambil pakaian yang di maksud oleh suaminya. Setelah itu, Kanaya hendak ke kamar mandi.
"Sayang, mau kemana?"
"Hhmm, a-aku mau ganti ke kamar mandi, mas!" jawab Kanaya malu-malu.
"Hhmm. . ."
Tidak sampai lima menit, Kanaya keluar dengan memakai pakaian seksinya.
Dengan langkah ragu, dia berjalan mendekati suaminya yang tengah memandang ke arahnya. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Walau ini bukan yang pertama dia memakai pakaian itu di hadapan suaminya, tetap saja rasa malu menghinggapinya.
Setelah makin dekat tak sampai satu meter dari suaminya duduk, Kanaya menghentikan langkah kakinya. Wajahnya makin merona merah saat mata mereka saling memandang dengan jarak yang cukup dekat.
Kanaya memejamkan matanya karena rasa malu yang makin mendera.
Tiba-tiba tubuhnya terasa melayang. Kanaya reflek membuka matanya. Suaminya tengah membopongnya dengan mata yang terus saja menatapnya. Mereka saling memandang dengan tatapan penuh cinta.
"Double, ya!" bisik Andre mesra.
"Hhmm!" Kanaya mengangguk malu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
21