Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 84


__ADS_3

Aku langsung masuk ke kantor lalu duduk di sofa. Aku sungguh lelah menghadapi wanita itu. Kenapa dia masih juga tidak mengerti, semua yang terjadi adalah kesalahan dia sendiri. Entah sampai kapan dia akan meneror ku terus. Aku sudah benar-benar malas berdebat dengannya. Dia takkan pernah mau mengerti dan tidak akan pernah mau sadar diri.


Daripada aku pusing memikirkan masalah ini, lebih baik aku mengerjakan pekerjaan ku saja. Memajukan usaha minimarket istriku jauh lebih penting daripada memikirkan mantan istriku itu.


Jika aku bisa memajukan minimarket istriku,aku bisa membuktikan kalau aku bukan suami yang hanya bisa bergantung pada uang istri. Yang hidup menumpang sama istri. Tapi aku juga bisa berguna sebagai seorang suami.


Tak lama kemudian karyawan mulai berdatangan. Aku samar-samar mendengar suara mbak Melly dan Rudi. Sepertinya mereka datang bersamaan. Ada hubungan mereka berdua sebenarnya.


Aahh, lebih baik aku tidak usah mencampuri urusan mereka selama Rudi tidak berbuat aneh-aneh terhadap mbak Melly. Biarkan saja mereka berdua saling mengenal satu sama lain. Dan semoga saja mbak Melly bisa menemukan kebahagiaannya.


Jika memang Rudi sosok calon suami yang baik untuknya. Semoga saja hubungan mereka bisa berlanjut. Iseng aku melihat CCTV dari segala sudut minimarket. Dari teras, gudang, sampai pinggir jalan. Sampai aku melihat kembali mbak Melly dan Rudi.


Sepertinya Rudi benar-benar menyukai mbak Melly tapi wanita itu sepertinya belum mau membuka hati. Sedangkan Rudi terlihat seperti terlalu memaksakan diri. Hhh, semoga Rudi tidak sampai nekad dan mau bersabar.


Setelah itu aku kembali dengan kesibukanku. Aku membuat catatan barang keluar masuk ke pembukuan di komputer.


Alhamdulillah aku makin pandai mengerjakan pekerjaan yang biasa di kerjakan istriku dulu. Semua berkat dia yang selalu sabar mengajariku. Hingga aku sudah tidak pernah lagi bingung karena ada selisih hitungan. Penghasilan toko dari awal aku mau kerja sampai hari ini hampir 100% mengalami peningkatan. Aku sangat bersyukur sekali.


Setelah pekerjaan selesai, aku berniat jalan-jalan ke sekitar minimarket. Aku ingin mencari informasi tentang rumah di belakang minimarket yang sempat di ceritakan oleh istriku. Siapa tahu aku bisa membeli rumah itu untuk memperluas minimarket.


Karena minimarket istriku ini di pinggir jalan, jadi hanya ada sedikit sekali rumah sisanya adalah ruko-ruko, perkantoran dan rumah makan.


Aku iseng bertanya kepada bapak pemilik rumah makan yang setengah duduk santai di depan ruko nya.


"Permisi,pak. Lagi santai, ya?" sapaku ramah.


"Oh iya. Kamu suaminya mbak Santi, ya?" tanya si bapak.


"Iya, pak. Kita baru menikah beberapa bulan yang lalu. Nama saya Anto," jawabku sembari memperkenalkan diri.


"Oh dengan mas Anto, ya. Kalau nama saya Daniel.


Kami lalu saling berjabat tangan.


"Bagaimana usaha minimarketnya, mas Anto?Saya perhatikan sepertinya makin maju saja sejak di kelola oleh mas Anto!" puji pak Daniel.


"Alhamdulillah, pak!" sahutku.


"Sepertinya perlu diperluas minimarketnya ya, mas. Kan sekarang makin ramai pembeli."


"Iya, pak. Sebenarnya saya ingin memperluas area minimarket tapi sayangnya sudah tidak ada tanah kosong lagi sedangkan kalau mengambil area parkir takutnya tidak cukup."


"Oh jadi mas butuh lahan untuk memperluas minimarket?" tanya pak Daniel.

__ADS_1


"Iya, pak. Tapi ya itu masalahnya. Kiri kanan tidak ada lagi tanah kosong," jelasku.


"Kalau mas Anto mau, di belakang ruko saya ini ada rumah kosong yang pemiliknya sudah pindah kerja keluar kota. Kalau mas Anto mau membelinya, saya akan memberikan nomor kontak pemiliknya dan mas Anto bisa tanyakan langsung."


"Oh letak rumah itu di belakang ruko bapak ya bukan di belakang minimarket saya?" tanyaku.


"Iya di belakang ruko saya dan itu persis di belakang ruang yang mbak Santi jadikan kantor. Karena jalan menuju rumah itu hanya bisa di lalui oleh kendaraan roda dua saja jadi susah laku!" jelas pak Daniel.


"Wah, tidak masalah, pak. Saya rasa istri saya pasti mau."


Kami kemudian bertukar nomor telepon sekaligus Pak Daniel memberikan nomor telepon pemilik rumah. Setelah berbasa-basi ngobrol sebentar aku lalu pamit dan kembali lagi ke minimarket.


Saat aku baru saja selesai sholat, pintu kantor ada yang mengetuk.


"Masuk!" titahku.


Ceklek. Pintu pun terbuka. Mbak Melly muncul di balik pintu.


"Assalamualaikum, pak!" ucapnya.


"Wa'alaikumsalam, ada apa?" tanyaku.


"Ini, pak. Ada sales datang menawarkan barang dan mereka ingin bertemu langsung sama bapak!" jelas mbak Melly.


Mbak Melly segera keluar dari ruanganku. Tak berapa lama dua orang sales laki-laki masuk. Kami lalu memperkenalkan diri. Ternyata kedua sales itu menawarkan produk olahan yang dibekukan.


Setelah bernegosiasi, aku putuskan untuk menerima tawaran mereka. Tapi aku hanya mengambil setengah saja dari yang mereka tawarkan untuk percobaan saja.


Jika memang produk yang mereka tawarkan laku, aku akan order lagi. Kebetulan di gudang ada dua freezer yang tidak terpakai. Lumayan untuk menambah jumlah barang yang dijual di minimarket.


Setelah sholat dhuhur, aku berniat pulang ke rumah karena sudah tidak ada lagi pekerjaan. Mungkin malam aku akan kembali lagi ke minimarket. Aku pun menitipkan minimatket pada karyawan yang bekerja di sift sore.


Saat aku hendak naik ke mobil, aku lihat mbak Melly dan Rudi baru saja keluar bersamaan. Mungkin mereka akan pulang bareng karena memang sift satu sudah waktunya pulang.


Saat secara tak sengaja mataku bertemu dengan mata mbak Melly, wanita itu langsung kaget. Dia menunduk dan tak berani menoleh lagi ke arahku. Apalagi saat Rudi memberikan salah satu helmnya pada mbak Melly, wanita itu terlihat seperti salah tingkah hingga helmnya terjatuh.


"Kamu melamun, ya?" tanya Rudi sembari mengambil kembali helm yang terjatuh.


Mbak Melly menggeleng cepat lantas segera mengambil helm dari tangan Rudi lalu memakainya.


Aku pun langsung naik ke mobil supaya mbak Melly tidak terlihat malu terus. Entah setiap kali mata kami bertemu, aku merasa mbak Melly menyimpan sesuatu yang ingin dia utarakan tapi dia seperti ragu.


Aku hidupkan mesin mobil dan mulai melajukan mobil ke arah rumah. Cuaca terlihat mendung. Semoga tidak hujan. Kasihan mbak Melly kalau kehujanan di jalan.

__ADS_1


Setengah jam aku sampai di rumah langit semakin gelap. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Aku lalu memarkirkan mobil di depan teras rumah. Aku pun bergegas turun lalu mengetuk pintu. Tapi belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata istriku sudah lebih dulu membukakan pintunya.


"Assalammu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikumsalam, mas!" sahutnya seraya mencium punggung tanganku.


"Kamu kok tahu mas sudah pulang, yank?"


"Iya, aku tadi kebetulan dari dapur dan melihat mobil masuk pekarangan, mas!" jelasnya.


"Oh, begitu."


Kami pun segera masuk ke rumah. Aku lalu merangkul pinggangnya mesra.


"Kalian baik'-baik saja kan, yank?" tanyaku seraya mengusap perutnya.


"Alhamdulillah, aku dan kandunganku baik-baik saja, mas."


"Alhamdulillah," sahutku.


"Bagaimana minimarket, mas?" tanya istriku.


"Seperti biasa, minimarket lancar dan semakin ramai. Oh ya mas tadi ketemu sama bapak pemilik ruko di sebelah minimarket. Dia memberitahukan mas kalau di belakang rukonya ada sebuah rumah yang tidak terpakai. Persis di belakang gudang kita. Nanti mas akan menghubungi pemilik rumahnya. Siapa tahu rumah itu mau dijual!" jelasku.


"Wah, kebetulan sekali ya, mas. Semoga saja rumah itu mau dijual jadi kita bisa memperluas minimarket.


"Iya, yank. Semoga saja. Yuk ke kamar, mas mau mandi!" ajakku.


Kami berdua lalu naik tangga menuju kamar atas.


.


.


.


.


.


.


Maaf ada typo 🙏

__ADS_1


__ADS_2