
Kanaya sudah pulang lebih dulu bersama Andre karena memang waktunya Andre pulang kerja. Kini Alya hanya berdua saja di mobil.
"Mas bahagia banget, sayang. Jagain dia baik-baik, ya," ucap Kevin yang tidak lepas menggenggam jemari istrinya sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
Alya hanya tersenyum.
"Sayang, kamu juga bahagia, kan?" tanya Kevin dengan dahi berkerut, heran melihat istrinya yang tampak biasa saja dengan kabar kehamilannya. Kabar bahagia yang di nanti-nantikan oleh Kevin.
"Aku bahagia kok, mas," sahut Alya.
"Mas akan berikan kamu hadiah. Kamu mau apa, hmm?" tanya Kevin mesra.
"Aku nggak ingin apa-apa, mas!" jawab Alya.
"Sayang, bilang saja. Jika mas mampu, mas akan berikan!"
Mas pasti mampu hanya saja mas nggak akan mau memberikannya. Alya membatin.
"Aku benar-benar nggak ingin apa-apa, mas."
"Hhmm, kalau gitu, mas akan pilihkan sendiri hadiah untuk kamu!" ucap Kevin seraya mencium punggung tangan tangan istrinya mesra.
Kevin melajukan mobilnya bukan ke arah rumah. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan ruko. Ternyata itu adalah toko perhiasan.
Kevin turun lebih dahulu lalu membukakan pintu mobil untuk Alya.
"Yuk, sayang. Hati-hati jalannya!" titah Kevin sembari merangkul mesra istrinya.
Kevin mengajak Alya masuk ke dalam toko.
"Kamu mau apa, sayang? Kalung, gelang, cincin?" tanya Kevin.
Alya menarik nafas panjang. Dia bukanlah wanita penggemar perhiasan. Jadi dia bingung mau pilih apa.
"Mas saja yang pilihkan buat aku," jawab Alya.
"Hhmm, baiklah sayang."
Kevin lalu memilihkan Alya sebuah kalung bertahtakan berlian. Alya sampai kaget saat mengetahui harganya yang mencapai ratusan juta. Jauh lebih mahal dari mas kawin yang di berikan Kevin saat pernikahan mereka.
Kevin langsung memakaikan kalung itu.
"Kamu suka, sayang?"
Alya tersenyum, "Iya, mas. Terimakasih," sahut Kanaya.
Kevin mencium dahi Alya setelah selesai memakaikan kalung. Wajah Alya memerah karena malu di lihat oleh karyawan toko dan juga pembeli lain.
"Sudah yuk, mas!" ajak Alya buru-buru ingin pergi dari sana. Walaupun suami sendiri, Alya tetaplah malu.
Mereka pun segera pergi dari sana.
"Kamu ingin makan apa, sayang?" tanya Kevin saat mereka sudah di dalam mobil.
"Aku ingin makan di rumah saja, mas," tolak Alya halus.
Dia hanya ingin sampai di rumah.
Sampai di rumah, Kevin sudah tidak sabar memberitahukan tentang kabar kehamilan Alya.
"Wah, selamat ya, mbak. Kompak nih sama mbak Kanaya," ucap Alina seraya memeluk Alya.
Kanaya dan Annisa pun tidak ketinggalan memberikan ucapan dan juga pelukan. Nenek dan bundanya yang sedang di kamar pun ikut keluar untuk memberikan pelukan dan juga ucapan selamat pada Alya.
"Alhamdulillah, selamat ya, sayang. Di jaga baik-baik cucu bunda!"
"Iya, bunda."
"Selamat ya, sayang. Jaga kesehatan. Ayah langsung dapet dua cucu sekaligus ini," ucap Anto dengan senyum semringah.
"Aku dapet keponakan langsung dua," Annisa menimpali.
"Coba kalau Annisa sekarang nikah sama kak Darren, aku bisa dapet keponakan langsung tiga!" seloroh Alina.
"Iihh, Alin!" protes Annisa.
"Tapi mau, kan?" goda Alina.
"Alin!" Annisa kesal lalu mencubiti kembarannya gemas.
Semua orang tertawa bahagia.
__ADS_1
***
Satu minggu kemudian, Kevin mendapatkan kabar jika pelaku tabrak lari Darren sudah tertangkap. Dia di minta untuk datang ke kantor polisi.
"Kamu serius?" tanya Andre.
Kevin mengangguk, "Kalau mau ikut, ayo!" ajak Kevin.
Karena sedang libur bekerja, Andre pun mau saja ikut dengan Kevin. Dengan mengendarai mobil milik Kevin, mereka langsung bertolak ke kantor polisi.
Sampai di kantor polisi, mereka di arahkan ke polisi yang menangani kasus tabrak lari Darren. Mereka berbincang-bincang sejenak kemudian Andre dan Kevin di ajak menemui pelaku.
Seorang laki-laki yang berusia hampir sama dengan Kevin dan Andre. Wajahnya terlihat babak belur karena di hajar polisi saat hendak melarikan diri.
"Jadi kamu yang sudah menabrak adik saya? Salahnya apa, hehh?" tanya Andre geram.
Dia hanya tersenyum menyeringai tanpa rasa takut sedikitpun.
"Tak ada penyesalan apalagi permintaan maaf, maka saya jamin hukuman yang akan kamu terima tidak main-main. Saya akan membuat kamu menerima hukuman berat!" ancam Andre.
"Kamu hubungi om kamu yang pengacara itu, Dre?"
"Pasti! Ayo, aku muak lihat mukanya. Bisa-bisa habis dia saat ini di tanganku!" Kevin terlibat sangat emosi.
Mereka lalu menjauh dari orang itu kembali menemui polisi yang menangani kasusnya.
"Berkasnya hanya menunggu saja akan segera di limpahkan ke pengadilan," jelas polisi.
"Baiklah, pak. Kami menunggu kabar baik selanjutnya. Kita permisi dulu.Terimakasih," pamit Kevin dan Andre.
"Sayang sekali hanya karena cemburu buta, harus tinggal di hotel prodeo," ucap Kevin.
"Begitulah kalau orang yang tidak bisa berpikir jernih. Dasar bodoh sekali!" sahut Andre.
"Biar tahu rasa dia berurusan dengan siapa!" ucap Kevin geram.
Mereka kembali ke rumah.
***
Tak terasa Darren sudah satu bulan kuliah. Kakinya pun makin banyak kemajuan karena selain berlatih dengan terapis, terkadang di rumah pun dia belajar berjalan tanpa menggunakan tongkat. Jika sudah merasa lelah, mamanya akan buru-buru menaruh kursi di belakang dia berdiri supaya Darren tidak terjatuh.
"Iya, ma. Tapi kalau terlalu lama berdiri tanpa tongkat, kakiku nyeri," sahut Darren.
"Pelan-pelan saja. Yang penting latihannya rutin!"
"Iya, ma."
Darren lalu beristirahat di teras sembari melihat orang-orang yang lewat. Tiba-tiba dia ingat pada Annisa. Sejak dia pulang dari rumah sakit, dia tidak pernah lagi bertemu dangan gadis itu. Seandainya aku punya handphone, aku pasti akan menghubunginya setiap hari. Walau hanya mendengar suaranya saja, itu sudah cukup. Batin Darren.
"Ma."
"Hhmm?"
"Aku kan masih punya uang satu juta lebih. Boleh nggak aku beliin handphone?"
"Mau beli handphone yang harga satu jutaan?"
"Yang berapa saja kok, ma. Asal bisa buat nelpon dan kirim pesan."
"Hhmm, kamu mau menelepon Annisa?"
Wajah Darren seketika memerah. Mama tahu saja, sih. Darren membatin.
"Hhmm, kenapa dia nggak pernah datang lagi ya, ma?"
"Ya masa dia yang datangin kamu, nak? Dia kan perempuan. Anak gadis tidak boleh terlihat mengejar-ngejar laki-laki walau pun suka!"
"Hhmm, aku mau ke rumahnya takut, ma. Malu juga ketemu sama ayahnya."
"Kamu datang baik-baik. Kalau ada ayahnya kamu minta maaf. In Sya Allah di maafkan, kok."
"Iya, aku tau, ma. Tapi malunya itu, loh!"
"Ya sudah kalau malu, diam saja di rumah! Jadi anak laki itu harus berani. Yang penting kita nggak buat salah."
"Tapi aku kan sudah buat salah, ma."
"Makanya mama bilang minta maaf, kan? Apa mau di lamunin saja, Annisanya?" Lisa lalu bangkit berdiri masuk ke rumah meninggalkan Darren di teras sendirian.
"Mama, iiihh!"
__ADS_1
Aku ke rumah Annisa sama siapa? Mama mana mau nganter apalagi papa. Eh iya, kan kak Kevin selalu anter aku pulang. Apa sama kak Kevin saja ya aku ke rumah Annisa. Oh iya bener. Kamu pinter juga, Darren. "Yes, yes!" Darren bersorak senang.
"Kamu kenapa yas yes yas yes gitu? Senyum-senyum sendiri lagi!" tegur papanya yang baru pulang entah dari mana.
"Hmm, papa?" Darren kaget. Wajahnya merah karena malu.
"Masuk sana!" titah David.
Darren pun menurut masuk ke dalam rumahnya.
David menatap putranya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ada-ada saja!" gumamnya lalu duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Darren.
Keesokan harinya saat Lisa hendak mengantar Darren ke kampus, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan mereka yang sedang menunggu angkot.
"Kak Kevin," gumam Darren.
"Kevin?" tanya Lisa tak percaya.
"Mobil kak Kevin, ma."
Lisa dan Darren menatap ke arah mobil. Tiba-tiba kaca mobil terbuka dan benar saja, Kevin.
"Darren. Ayo ikut kakak!" titah Kevin.
"I-iya, kak," sahut Darren lalu menoleh ke arah mamanya, "Ma, aku pergi dulu," pamit Darren lalu mencium punggung tangan mamanya.
"Bu, Darren aku ajak, ya!" ucap Kevin pada Lisa.
"Oh iya, nak Kevin. Terimakasih," ucap Lisa.
Kevin segera melajukan mobilnya ke arah kampus tempat Darren kuliah.
"Darren, susah kakak mau hubungi kamu," ucap Kevin.
"Hhmm, maaf kak. Handphone yang kakak kaish waktu itu hancur saat aku kecelakaan. Papa yang bilang," sesal Darren.
"Nggak apa-apa. Yang terpenting kamu sekarang baik-baik saja. Handphone bisa beli lagi," sahut Kevin.
Iya, tapi handphone kan mahal. Kalau aku beli handphone, aku takut nggak punya simpanan uang lagi buat jaga-jaga. Darren membatin.
Tak lama kemudian mobil pun sampai di area parkir kampus. Darren segera turun. Mereka pun berpisah karena Darren ada mata kuliah setengah jam lagi.
"Kalau jam kamu habis, tunggu di depan ruangan kakak, ya!" titah Kevin.
"Iya, kak."
"Hati-hati!"
Kevin segera menuju ruangannya sedangkan Darren menuju kelasnya.
"Hey, Darren. Kamu siapanya pak Kevin?" tanya seorang temannya sembari merangkul bahunya.
"Pak Kevin?" Darren terlihat bingung. Aku harus jawab apa, ya. Batin Darren.
"Iya. Pak Kevin itu siapanya kamu kok kamu selalu pulang bareng. Tadi malah kamu datang bareng beliau."
"Hhmm," Darren menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kalau aku jujur, takutnya kak Kevin marah. Kalau aku nggak jujur nanti ketahuan. Aku harus jawab apa. Duh, ada-ada saja anak ini ingin tahu saja urusan orang. Batin Darren kesal.
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo. Terimakasih sudah membaca karya recehan author 😊
.
.
.
.
.
.
18
__ADS_1