Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 43


__ADS_3

Menjelang malam setelah kami semua selesai menyantap makan malam, kami berkumpul di ruang tengah sambil nonton TV.


"Andre sama Alya jangan panggil tante lagi ya. Panggil mama atau bunda!" titah ibuku.


"Aku mau panggil bunda saja kan kalau ibu sudah punya!" celetuk Alya.


"Kalau aku nurut sama adek saja deh!" sahut Andre.


"Oh iya tadi sebelum kita ke sini ada ibu datang sama adik bayinya. Aku ingin ajak ibu tapi dilarang sama mas Andre," jelas Alya sambil melirik ke arah kakaknya.


Santi langsung menoleh ke arahku. Raut wajahnya terlihat berubah muram dari yang tadi tersenyum bahagia mendengar kedua anakku memanggilnya Bunda.


"Kita istirahat yuk,sudah malam ini! Nenek sudah sangat mengantuk!" ajak ibuku.


"Ya sudah kita tidur yuk!" sahutku.


"Andre sama Alya mau tidur di mana?" tanya ibu.


"Aku mau tidur di kamar yang tadi di tunjuk sama bunda!" jawab Andre.


"Aku mau tidur sama nenek saja!" sahut Alya.


"Tapi nenek kan tidur sama tante dan adek Lani,nak. Nanti tempat tidurnya nggak muat!" jelasku.


"Nggak apa-apa. Tempat tidurnya cukup besar,kok!" ucap ibu.


"Ya sudah terserah kalian saja!" sahutku.


Kami semua lalu menuju kamar masing-masing. Istriku sudah lebih dahulu naik ke kamarnya. Aku ingin ke dapur lebih dahulu untuk membuatkannya segelas susu hangat.


Setelah selesai,aku membawa susu hangatnya ke kamar. Aku lihat istriku sudah berbaring di tempat tidur sambil mengotak-atik handphonenya.


"Assalammu'alaikum!" ucapku.


Dia lalu menoleh, "Wa'alaikumsalam!" sahutnya lalu duduk bersandar di ujung tempat tidur.


Aku lalu duduk di sisi tempat tidur di sampingnya, "Kamu minum susu dulu,ya!" titahku seraya menyodorkan gelas susu ke hadapannya.


"Terimakasih,mas!" ucapnya lalu meminum susunya hingga setengah gelas.


"Kok nggak di habiskan?" tanyaku.


Dia lalu menggeleng, "Sudah cukup,mas!" tolaknya.


Aku lalu mengambil lagi gelas susu dari tangannya lalu meminumnya hingga tandas. Aku letakkan gelasnya di meja di dekat sofa.


Aku lalu mendekatinya lagi.


"Wudhu,yuk!" ajakku.


Dia terlihat ragu tapi akhirnya mau menurutiku ke kamar mandi. Setelah wudhu,kami lalu sholat berjamaah. Tak lupa aku berdoa semoga pernikahanku kali ini akan berakhir bahagia sampai maut memisahkan. Dan semoga kami segera di percaya untuk memiliki momongan.

__ADS_1


Istriku lalu mencium punggung tanganku takzim dan aku balas dengan mencium dahinya lembut seraya berdoa.


Setelah itu,aku langsung menggendongnya dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Tak lupa aku membaca doa sebelum melaksanakan tugasku sebagai suami.


Saat aku hendak mendekatkan wajah kami berdua,tiba-tiba istriku itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Aku mengernyitkan dahiku.


"Kenapa?" tanyaku heran melihat sikapnya.


"Hhmm,aku. . ." dia menggantung ucapannya.


"Kamu belum siap? Atau?" aku benar-benar bingung.


Bukankah tadi siang aku sudah bilang kalau nanti malam dan dia menanggapiku dengan tersenyum malu. Tapi kenapa sekarang sikapnya berbeda.


"Aku nggak mau mas melakukannya denganku tapi pikiran mas bukan padaku," ucapnya lirih.


"Maksudnya?" aku makin tidak mengerti.


"Mas pasti mengerti maksudku," jawabnya.


Hhh,aku menarik nafasku berat lalu merubah posisi duduk. "Kenapa kamu berpikir seperti itu?" jelas aku tersinggung dengannya. Aku bukanlah laki-laki seperti itu. Tentu saja yang ada di dalam hati dan pikiranku saat ingin melakukannya adalah istriku sendiri! Tidak mungkin aku mengingat wanita lain yang haram bagiku.


Dia hanya diam saja. Mungkin masih berpikir kalau aku memang seperti apa yang dia pikirkan.


Ada rasa kecewa di hatiku. Hasratku tiba-tiba hilang entah kemana. Aku lalu berdiri hendak meninggalkannya tapi tiba-tiba dia bicara.


Aku kaget mendengar ucapannya. Aku lalu menoleh ke arahnya.


"Kenapa berpikir seperti itu? Mas pikir itu nggak penting jadi nggak bilang sama kamu. Dia menahan Alya makanya kami terlambat. Mas sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi dengannya selain karena dia adalah ibu dari Andre dan Alya!" tegasku.


Aku benar-benar tak habis pikir kenapa dia bisa mempunyai pikiran seperti itu. Saat ini yang ada di hatiku tentu saja dia.


"Hhmm,ta-tapi. . .?"


"Sudahlah,mas nggak akan memaksa kamu!" tegasku lalu pergi ke sofa yang ada di kamar,menghempaskan tubuhku kasar.


Aku pejamkan mataku seraya memijat-mijat dahiku karena aku merasakan kepalaku sangat pusing. Aku merasakan kecewa. Benar-benar kecewa. Ternyata istriku sama sekali belum percaya sepenuhnya padaku.


"Aaaggrr!" aku menarik rambutku kasar.


Tiba-tiba aku merasakan tanganku ada yang menyentuh. Reflek aku membuka mataku. Santi. Untuk apa dia mendekatiku? Bukankah dia tadi sudah menolakku? Bukankah dia tidak percaya padaku?


Aku diam saja tanpa mau bergerak sedikitpun.


"Mas. . ."


Hhh,aku hanya menarik nafas panjang.


"Maafin aku. Aku-aku cemburu,mas!"

__ADS_1


Aku mengernyitkan dahiku. Cemburu? Atas dasar apa?


"Mas,jangan tidur di sini!" pintanya dengan wajah memohon.


"Kembalilah ke tempat tidur kamu. Mas di sini saja! Bukankah kamu nggak percaya sama mas!"


"Maafin aku,mas. Aku percaya sama mas!"


"Hhhh,terimakasih! Mas di sini saja!" tolakku.


Dia lalu menarik tanganku, "Mas,ini malam pertama kita," ucapnya lirih dengan wajah memerah.


"Bukannya tadi kamu menolak!"


"Maafin aku,mas!"


"Mas ngantuk!" ucapku bohong. Aku tetap pura-pura memejamkan mataku.


"Aku-aku belum ngantuk."


"Sudah malam! Tidur sana!" titahku.


"Mas,jangan buat aku berdosa malam ini! Tolong maafkan aku,mas!" ucapnya memohon.


Aku membuka mataku, "Hhh,sudah mas maafkan!"


"Hhmm,mas. Aku-aku mau. . ." ucapnya lirih dengan wajah menunduk malu. Aku bisa melihat wajah putihnya yang sudah seperti kepiting rebus.


"Hasrat mas sudah hilang!"


"Ja-jadi?" tanyanya dengan suara bergetar seperti hendak menangis.


"Kamu harus bisa membuat hasrat mas kembali!" tegasku lagi.


"Ba-bagaimana?" tanyanya bingung.


Aku mengedikkan bahuku. Jujur aku geli melihat tingkah istriku itu. Dia begitu kebingungan. Aku tahu dia pasti mengerti hanya saja dia merasa malu jika harus bersikap untuk mengembalikan hasratku.


Dia lalu mendekat,makin mendekat hingga hembusan nafas kami berdua saling beradu. Dia lalu menciumku sekilas. Aku tetap bersikap dingin tanpa mau membalasnya.


"Mas. . ."


Aahh,aku harus bisa menahan diri. Sekarang aku menginginkan dia yang memulai. Dia kembali menciumku sedikit lebih lama daripada yang pertama. Jantungku mulai berpacu. Akupun bisa mendengar suara degub jantungnya di dadaku yang terdengar tidak beraturan. Dia kembali menciumku,lama. Mungkin sebentar lagi pertahananku akan benar-benar roboh. Tapi aku tetap menginginkan dia yang berperan penting di malam pengantin kami. Itu hukumannya karena tadi sudah menolakku. Aku tersenyum dalam hati.


.


.


.


.

__ADS_1


09


__ADS_2