
Aku tetap berusaha menahan Alya supaya tidak ikut dengan ibunya.
"Lisa! Kamu jangan lupa hak asuh Alya ada di tanganku!"
"Tapi kamu juga jangan lupa kalau aku tetap boleh bertemu dengan anakku!"
"Iya, hanya bertemu tapi bukan membawanya bersamamu!" tegasku.
"Terserah! Buktinya Alya mau, kok!"
Aku menarik nafasku kasar, "Alya, kamu kan harus sekolah, nak!" ucapku, semoga putriku mau membatalkan keinginannya untuk ikut dengan ibunya.
Alya langsung menoleh ke arahku, dia kembali bingung.
"Ibu bisa antar kamu sekolah kok!" sahut Lisa seraya mengusap bahu Alya lalu melirik sinis ke arahku.
"Tapi aku ada tugas sekolah besok, bu. Belum aku kerjakan!" ucap Alya kemudian yang membuatku berharap kalau putriku itu tidak jadi ikut dengan ibunya.
"Besok nggak usah sekolah dulu! Sesekali nggak usah sekolah kan boleh," hasut Lisa.
"Apa-apaan kamu, mengajari anak nggak bener!" ucapku emosi.
"Nanti aku di marah sama bu guru, bu. Aku bjsa di hukum berdiri di depan kelas. Aku nggak mau!"
"Kamu pura-pura saja sakit. Sesekali saja ya, nak?" Lisa memasang wajah memohon saat menatap Alya sementara dia sinis saat menatapku.
"Nggak boleh bohong, bu! Kapan-kapan saja aku ke rumah ibu!" ucap Alya kemudian. Huuhh, aku sedikit lega.
"Hhmm," Lisa berdiri lalu menatapku sengit. "Ok ,aku nggak jadi ajak Alya tapi bisa kan aku bicara berdua saja sama anakku? Kamu nggak perlu mengawasiku terus!" ucapnya ketus.
Hhh, aku menarik nafas lega, "Baiklah, silahkan kalian bicara tapi di sini saja!" titahku kemudian. Aku lalu menoleh ke arah putriku, "Alya tahu kan peraturan di sekolah? Dan jangan pernah belajar berbohong!" ucapku lalu melirik tajam ke arah Lisa.
Aku segera kembali masuk ke rumah. Aku biarkan saja anak dan ibu itu bicara berdua. Saat aku masuk, hanya ada Andre dan ibuku di ruang tamu. Santi dimana? Batinku.
"Bunda kamu mana, mas?" tanyaku pada Andre.
"Bunda ada di kamar nenek, yah!" sahutnya.
Aku gegas masuk ke kamar ibuku. Aku lihat istriku sedang berbaring membelakangi pintu. Aku lalu duduk di sampingnya. Aku usah lembut bahunya.
"Yank, kamu tidur?" tanyaku.
Dia menoleh, "Mas?" sahutnya kaget.
Aku kaget melihat wajahnya yang sedikit basah dan matanya pun sedikit merah, "Yank, kamu nangis?" tanyaku penasaran.
Dia lalu mengusap wajahnya, "Hhmm, ng-nggak kok, mas!" jawabnya lirih. Suaranya sedikit serak.
"Hhmm, kamu jangan ambil hati ucapan Lisa, ya. Ucapannya nggak berarti apa-apa buat mas."
"Alya, mas?"
"Alya maupun Andre nggak pernah anggap kamu ibu yang jahat, kan?"
"Iya, mas. Maksud aku, apa Alya jadi ikut ibunya?"
Aku menggeleng, "Nggak kok, Alya kan harus sekolah. Bagaimana bisa dia ikut ibunya."
"Hhmm."
"Sudah jangan kamu pikirkan. Kamu hanya harus memikirkan yang ada di sini saja!" ucapku seraya mengusap lembut perutnya.
__ADS_1
"Hhmm, aku juga tetap memikirkan Alya dan Andre, mas. Mereka juga anak-anakku, kan?"
"Tentu saja, sayang! Hanya kamu tidak perlu terlalu mencemaskan mereka. Mereka sudah besar. Yang penting mereka baik-baik saja. Kamu adalah ibu yang baik buat mereka. Mereka beruntung memiliki bunda seperti kamu!"
Istriku tersenyum, "Aku tidak sebaik itu kok, mas!"
"Kamu selalu merendah, yank!"
"Hhmm, mas yang terlalu memuji aku."
"Memang begitu kok!" tegasku lalu mencium dahinya penuh kasih sayang.
Tak lama kemudian aku mendengar teriakan Alya di dalam rumah. Apa gadis itu sudah selesai bicara dengan ibunya? Tapi sepertinya ibunya memamg sudah pulang.
Aku lalu mengajak istriku keluar, "yuk kita keluar!" ajakku kepada istriku.
Kami lalu keluar dari kamar ibu. Aku lihat di luar sudah tidak ada lagi Lisa. Alya sedang duduk bersama neneknya.
"Ayah,kapan-kapan aku boleh kan main ke rumah ibu?" tanya putriku
"Tentu saja boleh tapi kamu tidak boleh menginap di sana, ya. Kamu kan harus sekolah!" jelasku.
"Iya, yah!" jawabnya kemudian.
Menjelang sore kami semua pulang.
"Kita mampir ke minimarket sebentar untuk mengecek suasana di sana,yank!" jelasku pada istriku yang duduk di sebelahku.
Ternyata minimarket sangatlah ramai,aku buru-buru membantu karyawan sementara anak dan istriku beristirahat di kantor.
"Mas Anto ya namanya?" tanya seorang pembeli. Seorang wanita muda dengan penampilan yang seksi tak ketinggalan perhiasan melengkapi penampilannya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum saja.
"Boleh kenalan,donk? Aku Katrine!" ucap wanita muda itu seraya mengulurkan tangannya.
"Iya,nak. Ada apa? Ada yang mau kamu ambil di sini?"
Putraku melirik sesaat ke wanita muda itu, "Ayah di panggil sama bunda. Ayo!" Andre lalu menarik tanganku. Aku hanya menurut saja. Samar-samar aku mendengar suara "huuuu" di iringi tawa beberapa orang wanita muda.
"Ayah ngapain dekat-dekat sama orang itu?" tanya putraku kesal.
"Ayah nggak dekat-dekat dia kok. Kan dia yang dekati ayah!" sahutku. Aku tidak ingin putraku salah paham lalu mengadu ke bundanya. Bundanya yang sedang sensitif dan cemburuan.
"Hhmm,kalau ada yang dekati ayah ya jangan mau! Kasihan bunda!" tegasnya dengan wajah masam.
Aku hanya tersenyum. Putraku sekarang terlihat sekali kalau peduli dengan ibu sambungnya.
"Siap,bos!" sahutku lalu mengacak-acak rambutnya.
"Ayaahhh!" teriaknya kesal lalu berlari masuk ke kantor.
Aku lalu menyusulnya ke kantor. Aku lihat Santi dan Alya sedang berbaring di tempat tidur sambil mengobrol. Semoga putriku sudah tidak punya lagi keinginan untuk ikut ibunya. Aku akan memperjuangkan putriku supaya tetap bersamaku.
"Kalian mau makan apa malam ini? Minimarket masih ramai,ayah belum bisa pulang."
"Aku makan apa saja deh,yah!" jawab Andre.
"Aku juga terserah ayah saja!" sahut Alya.
"Kalau bunda mau makan apa malam ini?" tanyaku pada istriku yang hanya diam saja sambil terus menatap layar handphonenya.
Aku lalu duduk di sebelahnya. Aku lihat wajahnya murung. Ada apa? Batinku. Aku tidak mungkin menanyakan itu di depan kedua anakku.
__ADS_1
"Mau makan apa malam ini, yank?" tanyaku lagi dengan suara pelan seraya mengusap tangannya.
"Samain saja sama anak-anak, mas!" sahutnya.
Hhmm,ada apa dengan istriku. Kenapa dia tiba-tiba jadi pendiam. Aku lalu pergi mencari makan malam untuk istri dan anak-anakku. Aku membeli sop buntut kesukaan istriku. Sampai di minimarket,kami lalu makan bersama. Setelah makan, kami sholat berjamaah lalu aku kembali lagi ke minimarket.
Pukul delapan malam,minimarket tutup. Kami lalu pulang ke rumah. Sampai di rumah pun istriku tetap diam. Setelah dari kamar mandi,dia langsung berbaring d tempat tidur. Aku lalu menyusulnya.
"Kamu kenapa,yank? Dari tadi diam terus. Marah sama mas, ya?" tanyaku penasaran.
"A-aku nggak marah kok, mas," lirihnya.
"Lalu kenapa diam saja dari minimarket sampai sekarang, hmm? Mas nggak suka ada yang di tutup-tutupi!" tegasku.
Dia menarik nafas pelan, "A-aku nggak suka mas dekat-dekat. . ." dia menggantung ucapannya.
Dahiku berkerut, "Dekat-dekat dengan siapa?"
"Dengan. . . Hhh,aku lihat CCTV minimarket tadi. Untung ada Andre. Kalau nggak?"
"Kalau nggak, apa?"
"Mana aku tahu?" dia lalu membalik badan membelakangiku.
"Dosa membelakangi suami!"
Dia kembali membalik badannya tapi tidak menghadap ke arahku melainkan menatap langit-langit kamar.
"Hhmm,jadi istri mas ini sedang cemburu, yah!"
Dia melirikku sekilas, "Siapa yang cemburu?" tanyanya ketus.
Aku lalu meraihnya dalam pelukan, "Mas hanya cinta kamu! Hanya milik kamu dan anak-anak!" tegasku.
"Hhhh, tapi kalau penampilan mas mengundang terus, bisa-bisa banyak yang datang!"
"Mengundang? Banyak yang datang? Siapa? Maksudnya apa mas enggak ngerti, sayang!"
"Iiihh, pura-pura lagi!" ucapnya kesal.
"Sayang, mas kan sudah bilang kita harus saling terbuka!"
"Mengundang pelakor, mas!" dia makin kesal.
Aku tergelak, "Mas nggak ngundang pelakor, tuh!" ucapku lalu memberikannya ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
"Hhhmm, mas!"
"Mas kangen," bisikku mesra lalu kembali menghujaninya dengan ciuman.
Aku bisa merasakan detak jantungnya yang mulai tak beraturan berpadu dengan detak jantungku. Aku akan membawanya ke surga, mungkin bisa meredakan rasa cemburu yang sedang merajainya saat ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1
23