
"Kamu kasi dia nomer telepon dan alamat desa kamu?"
"Iya, Mas Deva ingin tahu suasana di sana," papar gadis itu.
Lelaki di balik kemudi itu mengangguk-angguk dan menggumam sesuatu yang Safira tidak tahu.
Mobil meluncur menuju desa Safira. Kembali suasana hening. Sesekali Alva melirik gadis di sebelahnya kemudian kembali fokus mengemudi.
"Kamu tidur deh, nanti kalau sudah sampai aku bangunin," saran Alva saat melihat Safira menyandarkan kepala di kursi. Gadis itu mengangguk memejamkan mata.
***
Aroma khas pedesaan menyambut indra penciuman Alva. Sejauh mata memandang persawahan menghijau bak permadani yang digelar.
Meski matahari berada tepat di atas kepala, tetapi suasana sejuk tetap menyelimuti. Pria itu memang hampir tidak pernah mengunjungi sang eyang saat beliau masih hidup.
Alasan malas dan jorok mendengar kata desa, menjadikan dirinya hanya bisa dihitung dengan jari pergi ke tempat ini. Pria itu terlihat sangat menikmati. Diliriknya Safira yang masih terpejam, ia menggumam,"heran banget sama nih cewek kalau sudah tidur ... nyenyak banget."
Melewati beberapa kelokan, tak lama kemudian mereka tiba di sebuah rumah besar berarsitektur joglo. Rumah itu terlihat mencolok, berbeda dengan rumah-rumah yang lainnya. Halaman luas dengan kolam ikan yang cukup besar serta pohon mangga juga belimbing seolah menyambut kedatangan mereka. Masing-masing dari pohon itu berbuah.
Dua orang tergopoh keluar mendekati mereka. Keduanya adalah pasangan suami istri yang sengaja dipekerjakan Bu Santi untuk menunggu rumah tersebut.
"Selamat siang, Mas Alva," sapa pria paruh baya dengan wajah ramah. Alva menganggukan kepala tersenyum.
"Safira, bangun. Sudah sampe, nih!" Ia melihat ke samping. Ternyata gadis itu sudah tidak ada. Ia telah asik bercengkrama dengan istri sang bapak yang menyapanya. Lelaki itu tersenyum menyadari bahwa gadis itu telah berada di 'dunianya'.
Alva turun dari mobil mengikuti langkah lelaki di depannya.
"Silakan, Mas. Ini kan ya rumahnya Mas Alva juga. Oh iya, tadi istri saya sudah memasak makan siang. Apa Mas Alva mau makan siang sekarang?" tawarnya.
"Eum ...."
"Mas Alva kapan balik ke kota? Ini Mas Deva telepon. Dia bilang sebentar lagi sampai." Safira datang dengan wajah berbinar.
Alva terdiam, ia memalingkan wajah ke gadis itu. Wajahnya berubah dingin.
"Aku pulang sekarang!" Ia beringsut cepat lalu berpamitan pada pasangan suami istri di samping Safira, lalu pergi.
"Mas Al! Tunggu, Mas Al!" Safira mengikuti Alva dengan setengah berlari. Gadis itu heran melihat sikap pria itu. Namun, usahanya sia-sia, Alva terus berjalan hingga masuk mobil seolah tak mendengar panggilan Safira.
"Mas Al! Tolong buka jendela sebentar!" Gadis itu mengetuk kaca jendela mobil.
"Apa lagi? Kan udah sampai. Aku mau balik." Ia membuka sedikit kaca jendela.
"Bukan begitu, Mas. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Tapi Mas 'kan baru sampai, apa nggak makan dulu?" lirihnya dengan mata tak hendak membalas tatapan Alva. Pria itu menggeleng, ia kembali menutup kaca jendela kemudian ia meluncur meninggalkan Safira yang masih mematung.
Mobil Alva menghilang dari pandangan saat bahunya ditepuk pelan oleh seseorang. Mata Safira membulat dengan bibir melebar saat menoleh.
"Mas Deva?" serunya tak percaya.
__ADS_1
Pria itu mengangguk tersenyum.
"Kenapa? Kaget?" Ia bertanya seraya menurunkan ransel di punggung.
"Mas sendirian?"
"Emang mau kamu aku sama siapa? Orang satu komplek?" selorohnya tertawa. Safira ikut tertawa mendengar ucapan pria itu.
"Kita makan dulu, Mas. Ayo masuk!" ajaknya disambut anggukan.
***
Wajah semringah Safira saat menyebut nama Deva menari di pelupuk. Pria itu tak mengerti kenapa tiba-tiba ia merasa dongkol melihat kedekatan gadis itu dengan pria lain. Entah itu Tyo sang kakak, atau Deva temannya.
Pria itu tersentak ketika ia hampir saja menabrak seekor kucing yang tengah menyeberang.
"Shit!"
Ia menepi lalu memukul kemudi berkali-kali seolah meluapkan kekesalan. Alva meraup udara dalam-dalam, kemudian membuang kasar. Pria itu menyandarkan kepalanya, setelah mematikan mesin mobil. Bayang senyum Safira berganti dengan kilas wajah Luna kekasihnya.
"Sial! Ada apa denganku?" gumamnya memejamkan mata. Terbayang wajah sang ibu yang menginginkan dirinya menikah dengan gadis itu, sedang ia sama sekali tidak menginginkannya.
Getar telepon seluler miliknya membuat Alva menghentikan lamunan.
"Ya, Bu?"
"___"
"Apa? Maksud ibu?"
"___"
Bergegas ia meletakkan telepon di dashboard lalu menyalakan kembali mobil dan meluncur pulang. Ucapan ibunya di telepon membuat gelisah. Sepanjang jalan berulang kali ia membuang napas kasar. Terkadang terdengar ia mengumpat kesal.
Pikiran tentang gadis yang ia tinggal di desa kembali menari. Tak sanggup terus dihantui ia mencoba menghubungi Safira.
"Safira, Deva masih di sana?"
"___"
"Nggak apa-apa. Eum, jaga dirimu!"
Klik, sambungan telepon ia akhiri. Alva menaikkan laju mobilnya, seolah tak sabar bertemu ibu dan mengatakan sesuatu.
***
Menjelang senja Deva dan Safira duduk di beranda rumah. Menatap hamparan hijau padi yang baru di tanam dibawah langit jingga.
"Kamu benar, Safira. Desamu indah, pantas kamu selalu merindukannya." Deva berucap seraya menatap ke arah langit. Safira tersenyum mengangguk.
"Apalagi suasana pagi, saat burung ikut membangunkan kita, aroma segar dan deretan warga desa berangkat ke sawah ... itu juga sangat indah!"
"Seperti dirimu ...." tukas Deva menoleh ke sebelahnya. Wajah gadis itu merona lalu menunduk malu.
__ADS_1
"Mas Deva, ih!" protesnya menutup wajah. Pria di sampingnya itu tertawa melihat Safira malu.
"Safira."
"Ya, Mas?"
"Kamu mencintai Alva?"
Gadis itu terdiam sejenak lalu berkata, "andai saya mencintainya, saya tidak yakin dia bisa mencintai saya. Lagi pula saya sudah bicara ke ibu agar menggagalkan rencana untuk menikahkan kami."
Deva mengangguk mengerti.
"Kamu tidak mencoba untuk membuat dia jatuh cinta?" Kembali pria itu bertanya. Safira menggeleng.
"Bagi saya, cinta itu tidak bisa dipaksa, Mas," jelasnya tersenyum.
Lantunan azan Maghrib terdengar dari surau yang tak jauh dari kediaman almarhumah Eyang Fatima. Oleh Pak Sholeh - penunggu rumah tersebut- Deva diajak sholat berjamaah di sana.
***
Alva baru saja tiba di rumah tepat saat azan menggema. Rasa penat setelah seharian berada di kendaraan membuat ia tampak berantakan meski itu tak mengurangi ketampanan parasnya. Lelaki itu bergegas masuk rumah, langsung menuju kamar.
Tiga puluh menit berlalu, Alva tampak segar turun kemudian bergabung di meja makan. Sudah ada Tyo, ibu juga Pak Yuda tengah menunggunya.
"Kita makan dulu, baru melanjutkan pembicaraan yang tadi," ucap Bu Santi yang di amini semua anggota keluarga.
"Bu, jelaskan apa maksud ucapan ibu di telepon tadi," pinta Alva tidak sabar. Sang ibu baru saja menyelesaikan makan malamnya melirik ke Pak Yuda, suaminya.
"Biar Ayah yang menjelaskan," tuturnya.
Alva menatap ayahnya dengan rasa penasaran.
"Seperti yang kmu dengar di telepon tadi. Kami akhirnya sepakat membatalkan pernikahanmu dengan Safira," jelas Pak Yuda tenang.
Alva membeku mendengar penuturan sang ayah. Meski ia sudah tahu dari telepon tadi, tapi tetap saja merasa ingin mendengar penjelasan yang lebih.
"Bagaimana, Alva? Itu kan yang kamu mau?" Ibunya menatap dengan senyum. Lelaki itu masih diam menatap gelas air putih yang telah kosong di depannya.
"Ta_ tapi kenapa, Bu?
Tyo tersenyum melihat ekspresi sang adik.
"Kenapa? Bukankah kamu yang menginginkan hal ini terjadi? Bukankah Luna adalah kekasihmu?" sambut Bu Santi.
"Kami hanya tidak ingin Safira terluka. Kami sangat menginginkan ia hidup bahagia, karena kami sayang pada gadis itu," lanjut Pak Yuda menatap putranya.
Alva melirik ke Tyo seolah meminta penjelasan. Sang kakak hanya mengangkat bahu menanggapi tatapan adiknya.
"Jadi kamu dan Safira, sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi saat ini. Biarkan Safira memilih jodohnya kelak. Demikian juga kamu, Alva." Ibunya tersenyum menatap sang putra. Wanita itu beranjak dari duduk lalu meninggalkan ruangan.
"Ehm, jadi aku boleh nih, deketin Safira?" kelakar Tyo pada kedua orang tuanya.
"Boleh saja, tinggal dia nanti mau atau tidak," balas Pak Yuda mengikuti langkah sang istri.
__ADS_1
Tyo melirik ke Alva, adiknya itu tampak masih tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Ada berbagai perasaan berkecamuk di kepalanya. Pria itu menepuk bahu Alva lalu ikut meninggalkan sang adik sendiri.