Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Anak kecil


__ADS_3

Joya baru


sampai di rumah Ny. Besar saat alarm di ponselnya berbunyi. Ia berjalan cepat


masuk ke dalam rumah dan meletakkan tasnya di atas meja makan. Joya mengambil


ponselnya dan melihat pengingat untuk ulang tahun Boy besok.


Joya : “Oh, mas


Boy ulang tahun. Kasi kado apa ya?”


Sedang


memikirkan kado yang tepat untuk Boy, Joya teringat pesta ulang tahun Boy tahun


lalu. Boy pergi begitu saja setelah acara tiup lilin selesai. Mereka bahkan


belum memotong kuenya tapi Boy meninggalkan acara tanpa menoleh lagi. Padahal


Joya sudah menyiapkan kado untuk Boy.


Joya : “Eh,


kado itu dimana ya?”


Joya ingat


kalau kado itu ia taruh di dalam lemari kamarnya. Berarti masih ada di sana


karena Joya belum sempat membongkar lemari itu.


Joya :


“Sebenarnya dia marah kenapa ya waktu itu? Apa aku membuat kesalahan? Eh, apa


hubungannya juga sama aku, kan kami belum pacaran.”


Joya yang


ngdumel sendiri di meja makan menarik perhatian Ny. Besar yang baru keluar dari


kamar.


Ny. Besar :


“Joya, sudah pulang? Dimana Boy?”


Joya : “Ibu...”


Joya mencium tangan ibu mertuanya.


Joya : “Joya


pulang sendiri, bu. Kasian mas Boy kalau harus jemput, kan masih sibuk kerja.”


Ny. Besar : “Oh


gitu. Kamu kenapa ngomong sendiri, kelihatan bingung juga. Kenapa?”


Joya : “Ibu


duduk dulu ya. Ibu ingat gak waktu ulang tahun mas Boy tahun lalu. Joya


penasaran kenapa habis tiup lilin, mas Boy langsung pergi gitu aja.”


Ny. Besar :


“Masa kamu gak tahu?”


Joya


menggeleng, ia kembali mengingat dan menggeleng lagi.


Joya : “Joya


beneran gak tahu, bu.”


Ny. Besar :


“Boy kesal waktu itu.”


Joya : “Kesal


kenapa, bu? Sepertinya waktu itu pestanya berjalan sangat baik dan lancar.”


Ny. Besar :


“Boy kesal karena waktu dia tiup lilin, kamu  gak ada di dekatnya.”


Joya : “Hah?!”


Joya mencoba


mengingat lagi dimana dia saat itu dan matanya terbelalak.


Joya : “Iya,


bu. Joya ingat waktu itu Joya sibuk di dapur. Tapi masa karena itu, bu?”


Ny. Besar :


“Itu jawaban Boy waktu ibu tanya. Dia ingin melihatmu waktu dia tiup lilin. Eh,


kamunya malah sibuk.”


Joya : “Masa


gitu aja ngambek sih, bu. Mas Boy kayak anak kecil.”


Ny. Besar :


“Dan anak kecil itu sedang berlari ke sini.”


Boy muncul dari


pintu depan, ia berjalan cepat dan langsung memeluk Joya sebelum Joya sempat


berbalik.


Joya : “Hii...


mas Boy! Ngagetin aja.”


Boy : “Aku capek,


mandiin.” Rengek Boy dengan manja.


Joya melotot


mendengar permintaan Boy.


Joya : “Mas gak


malu, ngomong gitu di depan ibu?”

__ADS_1


Boy : “Kenapa


malu? Kamu kan istriku. Sudah tugasmu mengurusku.”


Joya : “Mas kan


bisa mandi sendiri. Aku masih ingin ngobrol sama ibu.”


Boy : “Mulai


ngeyel ya.”


Boy menarik


tangan Joya agar berdiri dan memanggulnya di bahunya.


Joya : “Ibu!!”


Joya meronta


mencoba mencari bantuan dari ibu mertuanya tapi Ny. Besar cuma dadah-dadah


melihat Boy memanggul Joya seperti memanggul anak kecil.


Boy cukup kuat


memanggul Joya sampai ke lantai 2 tanpa ngos-ngosan. Joya memeluk erat leher


Boy agar ia tidak jatuh.


Joya : “Mas..!


Turunin aku. Ntar jatuh!!”


Boy : “Tadi aku


udah minta baik-baik ya. Salahmu sendiri gak mau denger kata suami.”


Joya : “Ampun,


mas. Gak lagi. Turunin dong.”


Boy ingin


menurunkan Joya tapi melihat bokong Joya disamping pipinya, Boy tidak tahan


ingin menyentuhnya. Ia masuk ke dalam kamar mereka dengan cepat dan menutup


pintunya.


Joya merinding


saat tangan Boy menyusuri pahanya. Ia mendelik saat bagian lain juga mulai


disentuh Boy.


Joya : “Mas,


jangan. Turunin aku. Nanti kita jatuh, mas.”


Boy : “Tunggu


bentar.”


Boy duduk di


atas ranjang. Ia menarik-narik rok Joya agar terlepas.


Joya : “Mas...!


Jangan dilepas.”


jatuh diatas tubuh Boy. Ia meringis menahan sakit di hidungnya yang terbentur


kepala Boy.


Joya :


“Aduch...”


Boy : “Maaf,


Joya. Hidungmu gak pa-pa kan?”


Boy melihat


ujung hidung Joya yang memerah. Joya masih meringis saat Boy membalik tubuh


mereka dengan cepat. Saat Boy ingin mencumbu Joya, seseorang mengetuk pintu


kamar mereka.


Joya : “Mas,


ada yang ngetuk pintu.”


Boy : “Kamu


yang buka, siapa sich, ganggu aja.”


Joya bangun dan


berjalan ke pintu kamar sambil merapikan penampilannya. Ny. Putri tampak di


depan pintu yang dibuka Joya.


Ny. Putri :


“Hai, Joya. Hidungmu kenapa?”


Joya : “Nggak


sengaja kebentur mas Boy, mbak. Ada apa?”


Ny. Putri :


“Kebentur gimana? Kamu dipukul Boy?”


Joya : “Bukan,


mbak. Cuma terlalu semangat...”


Ny. Putri


hampir melabrak Boy kalau Joya tidak mengatakan itu dengan malu-malu. Terpaksa


Joya mengatakan hal seperti itu atau orang lain akan mengira kalau Boy sudah


memukul Joya.


Ny. Putri :


“Aduch, pengantin baru, pelan-pelan dong. Joya, bantuin mbak buat tugas anakku


dong. Soalnya isi tugas menjahit harus difoto lagi.”

__ADS_1


Joya : “Oh, ya


mbak. Ayo.”


Joya hampir


keluar dari kamar saat Boy memanggilnya.


Boy : “Joya,


kamu mau kemana?”


Joya : “Aku mau


bantu mbak Putri dulu ya, mas. Mas bisa kan mandi duluan.”


Boy : “Tapi...”


Ny. Putri :


“Boy, pinjem Joya bentar aja. Pelit banget kamu nich. Ntar malem kan bisa


dilanjut lagi. Dasar manten baru.”


Joya tersenyum


manis pada Boy yang gak mau Joya pergi dari kamar. Wajahnya cemberut dan


menggelap karena kesal. Joya yang melihat itu, memberi isyarat agar Ny. Putri


mendekat,


Joya : “Mbak


Putri, ke kamar anak-anak aja dulu ya. Saya mau kasi mas Boy sesuatu dulu biar


gak ngambek.”


Ny. Putri :


“Ok, mbak tunggu ya. Jangan lama-lama.”


Joya : “Iya,


mbak.”


Joya menutup


pintu kamar lagi dan berjalan mendekati Boy.


Joya : “Mas...


Jangan cemberut dong. Sini dech.”


Boy : “Ntar


kamu pergi, gak mau!”


Joya mendengus


dalam hati, ternyata gini kelakuan manja suaminya. Setelah menikah dia baru


tahu kelakuan Boy yang sebenarnya seperti anak kecil yang suka ngambek kalau


keinginannya tidak dituruti.


Joya berputar


otak, ia mengingat apa yang bisa membuat Boy luluh dan tersenyum lebar.


Tiba-tiba Joya menangis,


Joya : “Hiks,


hiks...”


Boy : “Joya?


Sayang? Kamu nangis?”


Boy mendekati


Joya yang menunduk sambil membelakanginya.


Boy : “Jangan


nangis dong, aku minta maaf. Kamu boleh bantu mbak Putri, tapi jangan lama-lama


ya.”


Joya :


“Beneran?”


Boy sangat


terkejut melihat Joya pura-pura menangis agar diijinkan keluar dari


kamar.Wajahnya yang tadi terlihat khawatir jadi cemberut lagi. Boy berbalik


dengan kesal, duduk di tepi ranjang sambil menarik dasinya.


Joya mendekati


Boy dan merangkul lengannya.


Joya : “Maas...”


Boy : “Hmm...”


Joya mendekati


Boy dan dengan cepat mencium pipinya.


Joya : “Mas,


aku bantu mbak Putri dulu ya.”


Boy menarik


tangan Joya yang hampir keluar dari kamar.


Boy : “Kalo mau


cium jangan dipipi aja, tapi disini...”


Boy mencium


Joya sampai Joya memukul lengannya, ia hampir kehabisan nafas. Dengan cepat


Joya keluar dari kamar, membiarkan Boy tertawaa senang.


*****


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2