
Joya baru
sampai di rumah Ny. Besar saat alarm di ponselnya berbunyi. Ia berjalan cepat
masuk ke dalam rumah dan meletakkan tasnya di atas meja makan. Joya mengambil
ponselnya dan melihat pengingat untuk ulang tahun Boy besok.
Joya : “Oh, mas
Boy ulang tahun. Kasi kado apa ya?”
Sedang
memikirkan kado yang tepat untuk Boy, Joya teringat pesta ulang tahun Boy tahun
lalu. Boy pergi begitu saja setelah acara tiup lilin selesai. Mereka bahkan
belum memotong kuenya tapi Boy meninggalkan acara tanpa menoleh lagi. Padahal
Joya sudah menyiapkan kado untuk Boy.
Joya : “Eh,
kado itu dimana ya?”
Joya ingat
kalau kado itu ia taruh di dalam lemari kamarnya. Berarti masih ada di sana
karena Joya belum sempat membongkar lemari itu.
Joya :
“Sebenarnya dia marah kenapa ya waktu itu? Apa aku membuat kesalahan? Eh, apa
hubungannya juga sama aku, kan kami belum pacaran.”
Joya yang
ngdumel sendiri di meja makan menarik perhatian Ny. Besar yang baru keluar dari
kamar.
Ny. Besar :
“Joya, sudah pulang? Dimana Boy?”
Joya : “Ibu...”
Joya mencium tangan ibu mertuanya.
Joya : “Joya
pulang sendiri, bu. Kasian mas Boy kalau harus jemput, kan masih sibuk kerja.”
Ny. Besar : “Oh
gitu. Kamu kenapa ngomong sendiri, kelihatan bingung juga. Kenapa?”
Joya : “Ibu
duduk dulu ya. Ibu ingat gak waktu ulang tahun mas Boy tahun lalu. Joya
penasaran kenapa habis tiup lilin, mas Boy langsung pergi gitu aja.”
Ny. Besar :
“Masa kamu gak tahu?”
Joya
menggeleng, ia kembali mengingat dan menggeleng lagi.
Joya : “Joya
beneran gak tahu, bu.”
Ny. Besar :
“Boy kesal waktu itu.”
Joya : “Kesal
kenapa, bu? Sepertinya waktu itu pestanya berjalan sangat baik dan lancar.”
Ny. Besar :
“Boy kesal karena waktu dia tiup lilin, kamu gak ada di dekatnya.”
Joya : “Hah?!”
Joya mencoba
mengingat lagi dimana dia saat itu dan matanya terbelalak.
Joya : “Iya,
bu. Joya ingat waktu itu Joya sibuk di dapur. Tapi masa karena itu, bu?”
Ny. Besar :
“Itu jawaban Boy waktu ibu tanya. Dia ingin melihatmu waktu dia tiup lilin. Eh,
kamunya malah sibuk.”
Joya : “Masa
gitu aja ngambek sih, bu. Mas Boy kayak anak kecil.”
Ny. Besar :
“Dan anak kecil itu sedang berlari ke sini.”
Boy muncul dari
pintu depan, ia berjalan cepat dan langsung memeluk Joya sebelum Joya sempat
berbalik.
Joya : “Hii...
mas Boy! Ngagetin aja.”
Boy : “Aku capek,
mandiin.” Rengek Boy dengan manja.
Joya melotot
mendengar permintaan Boy.
Joya : “Mas gak
malu, ngomong gitu di depan ibu?”
__ADS_1
Boy : “Kenapa
malu? Kamu kan istriku. Sudah tugasmu mengurusku.”
Joya : “Mas kan
bisa mandi sendiri. Aku masih ingin ngobrol sama ibu.”
Boy : “Mulai
ngeyel ya.”
Boy menarik
tangan Joya agar berdiri dan memanggulnya di bahunya.
Joya : “Ibu!!”
Joya meronta
mencoba mencari bantuan dari ibu mertuanya tapi Ny. Besar cuma dadah-dadah
melihat Boy memanggul Joya seperti memanggul anak kecil.
Boy cukup kuat
memanggul Joya sampai ke lantai 2 tanpa ngos-ngosan. Joya memeluk erat leher
Boy agar ia tidak jatuh.
Joya : “Mas..!
Turunin aku. Ntar jatuh!!”
Boy : “Tadi aku
udah minta baik-baik ya. Salahmu sendiri gak mau denger kata suami.”
Joya : “Ampun,
mas. Gak lagi. Turunin dong.”
Boy ingin
menurunkan Joya tapi melihat bokong Joya disamping pipinya, Boy tidak tahan
ingin menyentuhnya. Ia masuk ke dalam kamar mereka dengan cepat dan menutup
pintunya.
Joya merinding
saat tangan Boy menyusuri pahanya. Ia mendelik saat bagian lain juga mulai
disentuh Boy.
Joya : “Mas,
jangan. Turunin aku. Nanti kita jatuh, mas.”
Boy : “Tunggu
bentar.”
Boy duduk di
atas ranjang. Ia menarik-narik rok Joya agar terlepas.
Joya : “Mas...!
Jangan dilepas.”
jatuh diatas tubuh Boy. Ia meringis menahan sakit di hidungnya yang terbentur
kepala Boy.
Joya :
“Aduch...”
Boy : “Maaf,
Joya. Hidungmu gak pa-pa kan?”
Boy melihat
ujung hidung Joya yang memerah. Joya masih meringis saat Boy membalik tubuh
mereka dengan cepat. Saat Boy ingin mencumbu Joya, seseorang mengetuk pintu
kamar mereka.
Joya : “Mas,
ada yang ngetuk pintu.”
Boy : “Kamu
yang buka, siapa sich, ganggu aja.”
Joya bangun dan
berjalan ke pintu kamar sambil merapikan penampilannya. Ny. Putri tampak di
depan pintu yang dibuka Joya.
Ny. Putri :
“Hai, Joya. Hidungmu kenapa?”
Joya : “Nggak
sengaja kebentur mas Boy, mbak. Ada apa?”
Ny. Putri :
“Kebentur gimana? Kamu dipukul Boy?”
Joya : “Bukan,
mbak. Cuma terlalu semangat...”
Ny. Putri
hampir melabrak Boy kalau Joya tidak mengatakan itu dengan malu-malu. Terpaksa
Joya mengatakan hal seperti itu atau orang lain akan mengira kalau Boy sudah
memukul Joya.
Ny. Putri :
“Aduch, pengantin baru, pelan-pelan dong. Joya, bantuin mbak buat tugas anakku
dong. Soalnya isi tugas menjahit harus difoto lagi.”
__ADS_1
Joya : “Oh, ya
mbak. Ayo.”
Joya hampir
keluar dari kamar saat Boy memanggilnya.
Boy : “Joya,
kamu mau kemana?”
Joya : “Aku mau
bantu mbak Putri dulu ya, mas. Mas bisa kan mandi duluan.”
Boy : “Tapi...”
Ny. Putri :
“Boy, pinjem Joya bentar aja. Pelit banget kamu nich. Ntar malem kan bisa
dilanjut lagi. Dasar manten baru.”
Joya tersenyum
manis pada Boy yang gak mau Joya pergi dari kamar. Wajahnya cemberut dan
menggelap karena kesal. Joya yang melihat itu, memberi isyarat agar Ny. Putri
mendekat,
Joya : “Mbak
Putri, ke kamar anak-anak aja dulu ya. Saya mau kasi mas Boy sesuatu dulu biar
gak ngambek.”
Ny. Putri :
“Ok, mbak tunggu ya. Jangan lama-lama.”
Joya : “Iya,
mbak.”
Joya menutup
pintu kamar lagi dan berjalan mendekati Boy.
Joya : “Mas...
Jangan cemberut dong. Sini dech.”
Boy : “Ntar
kamu pergi, gak mau!”
Joya mendengus
dalam hati, ternyata gini kelakuan manja suaminya. Setelah menikah dia baru
tahu kelakuan Boy yang sebenarnya seperti anak kecil yang suka ngambek kalau
keinginannya tidak dituruti.
Joya berputar
otak, ia mengingat apa yang bisa membuat Boy luluh dan tersenyum lebar.
Tiba-tiba Joya menangis,
Joya : “Hiks,
hiks...”
Boy : “Joya?
Sayang? Kamu nangis?”
Boy mendekati
Joya yang menunduk sambil membelakanginya.
Boy : “Jangan
nangis dong, aku minta maaf. Kamu boleh bantu mbak Putri, tapi jangan lama-lama
ya.”
Joya :
“Beneran?”
Boy sangat
terkejut melihat Joya pura-pura menangis agar diijinkan keluar dari
kamar.Wajahnya yang tadi terlihat khawatir jadi cemberut lagi. Boy berbalik
dengan kesal, duduk di tepi ranjang sambil menarik dasinya.
Joya mendekati
Boy dan merangkul lengannya.
Joya : “Maas...”
Boy : “Hmm...”
Joya mendekati
Boy dan dengan cepat mencium pipinya.
Joya : “Mas,
aku bantu mbak Putri dulu ya.”
Boy menarik
tangan Joya yang hampir keluar dari kamar.
Boy : “Kalo mau
cium jangan dipipi aja, tapi disini...”
Boy mencium
Joya sampai Joya memukul lengannya, ia hampir kehabisan nafas. Dengan cepat
Joya keluar dari kamar, membiarkan Boy tertawaa senang.
*****
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.