Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Dia istriku


__ADS_3

Boy berjalan


menuju ruangan pemasaran bersama Rian dan Joya. Setelah puas bermanja-manja


dengan istrinya, Boy akhirnya mau diajak Rian ke ruangan itu. Beberapa staf


wanita tampak terkesima melihat kedatangan Boy yang langsung duduk di kursi kosong


yang disediakan Rian.


Sementara Joya


tetap berdiri bersama Rian, padahal tangan Boy sudah gatal ingin menarik Joya


ke atas pangkuannya.


Boy : “Laporkan


perkembangannya.”


Penanggung


jawab bagian pemasaran maju dan memberikan penjelasan pada Boy. Boy melihat


seluruh rancangan desain yang baru selesai setengah. Joya terus memperhatikan


desain itu, sedikit banyak ia mengerti masalah yang sedang dihadapi bagian


pemasaran ini.


Joya bekerja


sebagai sekretaris bagian operasional, ia terbiasa mengikuti meeting yang


membahas masalah yang sama. Dalam sekejap, Joya tahu ada yang salah dengan


desain itu.


Joya : “Kak


Rian, desainnya ada yang aneh.” Bisik Joya pada Rian, yang tentu saja di dengar


Boy.


Rian : “Aneh


gimana?”


Joya : “Kalau


perhitungannya benar, seharusnya gambarnya gak seperti itu.”


Rian : “Apa kau


yakin?”


Kening Boy


berkedut, kenapa juga istrinya itu bisik-bisik dengan pria lain di belakangnya.


Dengan cepat Boy berbalik dan menatap Joya.


Joya : “Ada


apa?”


Boy : “Sudah


cukup bisik-bisiknya. Ada yang mau kau sampaikan?”


Rian : “Bilang


aja.”


Joya : “Tapi


ini masih dugaan. Aku gak mau ikut campur urusan perusahaan mas Boy.”


Boy semakin


emosi melihat interaksi Rian dan Joya. Apa dirinya dianggap patung disini?


Boy : “Cepat


bilang!”


Bagian


pemasaran langsung senyap, tidak ada yang berani bersuara. Bahkan mereka semua


berhenti mengetik. Joya menarik nafasnya, dengan cepat ia memberitahu ada yang


aneh dengan desain yang dipegang Boy.


Boy : “Dimana


salahnya?”


Joya : “Bukan


salah sepenuhnya. Kalau angka disini sesuai dengan perhitungan, gambarnya tidak


akan jadi seperti ini, tapi lebih tinggi lagi. Ini bukan desain menara, kan?”


Boy : “Coba


hitung, harusnya berapa?”


Joya celingukan


mencari kalkulator yang langsung muncul di hadapannya, diberikan Rian. Joya


menghitung dengan cepat, ia menggunakan rumus matematika sederhana dan hasilnya


selisih 2 angka.


Boy : “Coba


masukkan angka ini.”


Boy


memerintahkan penanggung jawab untuk memasukkan angka yang didapat Joya dan


muncul gambar yang sesuai. Suara kekaguman mulai bermunculan memuji Joya yang


pintar dan teliti.


Penanggung


jawab : “’Sepertinya Joya bisa membantu kita disini, tuan Boy.”


Boy : “Apa?!


Dia istriku! Bukan pembantumu!” batin Boy galak.


Ia kembali menahan


dirinya karena melihat Joya mulai meliriknya dengan galak.


Boy : “Melotot


lagi. Kenapa sich dia galak sekali?!” batin Boy mulai ciut.


Penanggung

__ADS_1


jawab memberikan kursi pada Joya yang langsung duduk di dekat salah satu staf


wanita yang sedang melanjutkan desain yang tadi di revisi Joya. Beberapa staf


laki-laki juga mendekati Joya, mencoba menarik perhatiannya yang ditanggapi


Joya dengan senyuman tipis.


Staf 1 : “Joya,


sudah makan siang?”


Joya : “Sudah,


kak.”


Staf 2 : “Joya,


kamu kerja dimana? Uda punya pacar?”


Rian melirik


reaksi Boy ketika mendengar pertanyaan menjurus itu. Wajah Boy semakin


menggelap menahan kekesalan.


Rian : “Sepertinya


hari ini akan ada yang kena mutasi ke kota A.” Batin Rian sambil bersiap


menelpon manager HRD.


Joya : “Saya


lagi cuti, kak. Gak punya pacar juga.”


Staf 2 : “Wah,


udah cantik, pinter, single lagi.”


Joya melirik


Boy yang tampak sangat kesal, wajahnya cemberut dengan tangan menyilang didadanya.


Sedangkan Rian beneran sudah menelpon manager HRD untuk bersiap membuat surat


mutasi.


Joya : “Aku gak


bohong kan? Aku sudah punya suami.” Batin Joya sambil kembali menatap layar


laptop.


Staf 2 : “Kalau


gitu boleh dong kalau kita makan sama-sama ntar sore. Gak ada yang marah kan?”


Joya : “Ada


dong, kak.”


Staf 2 : “Loh,


katanya gak punya pacar. Siapa yang marah?”


Joya : “Pacar


gak punya tapi suami yang marah, kak.”


Staf 2 : “Kamu


uda nikah??!!”


Joya : “Iya,


kak.”


disana, auto fokus melihat cincin yang melingkar di jari manis Joya.


Staf 2 : “Suami


kamu kerja dimana?”


Joya : “Kakak


nich, ayo lanjut kerjain desainnya. Biar gak lembur sampai pagi. Ntar kecapean,


sakit loh.”


Joya berusaha


bersikap sopan tanpa menyinggung orang-orang disana. Penanggung jawab proyek


segera meminta stafnya untuk kembali ke posisi masing-masing.


Rian kembali


melirik Boy yang sudah tersenyum lebar, pemandangan indah itu tentu saja tidak


di sia-siakan staf wanita disana. Mereka mengambil foto selfie secara diam-diam


dengan latar belakang Boy yang tampan.


Joya


merenggangkan tubuhnya, ia melihat sekeliling staf yang tampak kelelahan. Ia


bangkit dari duduknya dan mulai bicara,


Joya : “Ada


yang mau kopi?”


Mendengar kata


kopi, semua syaraf pendengar langsung aktif diikuti syarat bicara. Hampir semua


staf bilang mau dengan semangat. Joya tersenyum, ia melirik Boy yang mulai


cemberut lagi.


Boy : “Joya,


suruh OB yang buat.”


Joya : “Saya


saja, tuan. Tuan juga mau?”


Boy : “Ya.


Rian, bantu Joya.”


Rian : “Saya,


tuan?”


Boy : “Memangnya


siapa lagi? Aku?”


Rian mengikuti


Joya menuju pantry. Joya benar-benar membuat kopi untuk mereka semua. Khusus

__ADS_1


untuk Boy, ia membawanya sendiri.


Joya : “Silakan,


tuan.”


Boy : “Sudah 3


kali. Jangan sampai jadi keempat kali ya.”


Joya : “Apanya,


tuan?”


Boy : “Hehe...


malam ini aku harus dapat jatah ya.”


Joya : “Iya,


tuan. Mau berapa kali?”


Boy : “Kamu


nantang nich?”


Rian menatap


Boy yang sumringah mendengar bisikan Joya. Suasana hati bosnya itu benar-benar


naik turun hanya gara-gara Joya. Rian masih membawakan kopi ke semua staf


pemasaran yang ada di ruangan itu. Mereka mengucapkan terima kasih dan memuji


kopi buatan Joya.


Situasi yang


hangat tiba-tiba menjadi sunyi kembali karena mereka mulai fokus melihat


interaksi Joya dan Boy. Beberapa kali Boy tersenyum saat Joya tertawa di


depannya. Lebih kaget lagi saat Boy meraih tangan Joya dan menggenggamnya.


Memainkan jemari Joya yang terus tersenyum pada Boy.


Staf 1 : “Pak


Rian... Pak...”


Rian : “Ya? Ada


apa?”


Staf 1 : “Itu,


tuan Boy akrab sekali dengan Joya. Mereka ada hubungan apa?”


Rian : “Bukannya


kamu sudah tahu, Joya tinggal di rumah Nyonya Besar?”


Staf 1 : “Iya,


tapi harus ya mereka seakrab itu?”


Rian : “Cepat


kembali kerja. Hubungan mereka itu urusan mereka. Kalian gak usah kepo lagi.”


Gumaman kecewa,


mulai mendengung di ruangan pemasaran. Joya kembali duduk di tempatnya semua,


kali ini desain yang ada mulai tahap pewarnaan.


*****


Jam 6 sore,


pekerjaan mereka hampir selesai. Joya ingin bangkit dari kursi tapi kakinya


kesemutan. Boy yang melihat Joya memegangi kakinya, spontan berdiri dan


menggendong Joya.


Joya : “Maas...”


Mendengar


panggilan Joya untuk Boy membuat semua orang di ruangan itu menoleh menatap


mereka berdua. Boy menatap Joya penuh arti,


Boy : “Aku


harus bilang sekarang, atau mereka akan semakin salah paham.”


Joya : “Terserah


mas saja.” Kata Joya dengan manis.


Boy : “Rian,


kemari.”


Rian : “Ya,


tuan.”


Boy membisikkan


sesuatu pada Rian,


Rian : “Perhatian


semua. Saya perlu menyampaikan sesuatu, perkenalkan tuan Boy dan istrinya,


nyonya Joya.”


Semua : “Haah!!”


Staf yang tadi


sempat menggoda Joya langsung pucat mendengar pengumuman dari Rian.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih


sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa


like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel


author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren


Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Makasi banyak..


🌴🌴🌴🌴🌴

__ADS_1


__ADS_2