
Boy berjalan
menuju ruangan pemasaran bersama Rian dan Joya. Setelah puas bermanja-manja
dengan istrinya, Boy akhirnya mau diajak Rian ke ruangan itu. Beberapa staf
wanita tampak terkesima melihat kedatangan Boy yang langsung duduk di kursi kosong
yang disediakan Rian.
Sementara Joya
tetap berdiri bersama Rian, padahal tangan Boy sudah gatal ingin menarik Joya
ke atas pangkuannya.
Boy : “Laporkan
perkembangannya.”
Penanggung
jawab bagian pemasaran maju dan memberikan penjelasan pada Boy. Boy melihat
seluruh rancangan desain yang baru selesai setengah. Joya terus memperhatikan
desain itu, sedikit banyak ia mengerti masalah yang sedang dihadapi bagian
pemasaran ini.
Joya bekerja
sebagai sekretaris bagian operasional, ia terbiasa mengikuti meeting yang
membahas masalah yang sama. Dalam sekejap, Joya tahu ada yang salah dengan
desain itu.
Joya : “Kak
Rian, desainnya ada yang aneh.” Bisik Joya pada Rian, yang tentu saja di dengar
Boy.
Rian : “Aneh
gimana?”
Joya : “Kalau
perhitungannya benar, seharusnya gambarnya gak seperti itu.”
Rian : “Apa kau
yakin?”
Kening Boy
berkedut, kenapa juga istrinya itu bisik-bisik dengan pria lain di belakangnya.
Dengan cepat Boy berbalik dan menatap Joya.
Joya : “Ada
apa?”
Boy : “Sudah
cukup bisik-bisiknya. Ada yang mau kau sampaikan?”
Rian : “Bilang
aja.”
Joya : “Tapi
ini masih dugaan. Aku gak mau ikut campur urusan perusahaan mas Boy.”
Boy semakin
emosi melihat interaksi Rian dan Joya. Apa dirinya dianggap patung disini?
Boy : “Cepat
bilang!”
Bagian
pemasaran langsung senyap, tidak ada yang berani bersuara. Bahkan mereka semua
berhenti mengetik. Joya menarik nafasnya, dengan cepat ia memberitahu ada yang
aneh dengan desain yang dipegang Boy.
Boy : “Dimana
salahnya?”
Joya : “Bukan
salah sepenuhnya. Kalau angka disini sesuai dengan perhitungan, gambarnya tidak
akan jadi seperti ini, tapi lebih tinggi lagi. Ini bukan desain menara, kan?”
Boy : “Coba
hitung, harusnya berapa?”
Joya celingukan
mencari kalkulator yang langsung muncul di hadapannya, diberikan Rian. Joya
menghitung dengan cepat, ia menggunakan rumus matematika sederhana dan hasilnya
selisih 2 angka.
Boy : “Coba
masukkan angka ini.”
Boy
memerintahkan penanggung jawab untuk memasukkan angka yang didapat Joya dan
muncul gambar yang sesuai. Suara kekaguman mulai bermunculan memuji Joya yang
pintar dan teliti.
Penanggung
jawab : “’Sepertinya Joya bisa membantu kita disini, tuan Boy.”
Boy : “Apa?!
Dia istriku! Bukan pembantumu!” batin Boy galak.
Ia kembali menahan
dirinya karena melihat Joya mulai meliriknya dengan galak.
Boy : “Melotot
lagi. Kenapa sich dia galak sekali?!” batin Boy mulai ciut.
Penanggung
__ADS_1
jawab memberikan kursi pada Joya yang langsung duduk di dekat salah satu staf
wanita yang sedang melanjutkan desain yang tadi di revisi Joya. Beberapa staf
laki-laki juga mendekati Joya, mencoba menarik perhatiannya yang ditanggapi
Joya dengan senyuman tipis.
Staf 1 : “Joya,
sudah makan siang?”
Joya : “Sudah,
kak.”
Staf 2 : “Joya,
kamu kerja dimana? Uda punya pacar?”
Rian melirik
reaksi Boy ketika mendengar pertanyaan menjurus itu. Wajah Boy semakin
menggelap menahan kekesalan.
Rian : “Sepertinya
hari ini akan ada yang kena mutasi ke kota A.” Batin Rian sambil bersiap
menelpon manager HRD.
Joya : “Saya
lagi cuti, kak. Gak punya pacar juga.”
Staf 2 : “Wah,
udah cantik, pinter, single lagi.”
Joya melirik
Boy yang tampak sangat kesal, wajahnya cemberut dengan tangan menyilang didadanya.
Sedangkan Rian beneran sudah menelpon manager HRD untuk bersiap membuat surat
mutasi.
Joya : “Aku gak
bohong kan? Aku sudah punya suami.” Batin Joya sambil kembali menatap layar
laptop.
Staf 2 : “Kalau
gitu boleh dong kalau kita makan sama-sama ntar sore. Gak ada yang marah kan?”
Joya : “Ada
dong, kak.”
Staf 2 : “Loh,
katanya gak punya pacar. Siapa yang marah?”
Joya : “Pacar
gak punya tapi suami yang marah, kak.”
Staf 2 : “Kamu
uda nikah??!!”
Joya : “Iya,
kak.”
disana, auto fokus melihat cincin yang melingkar di jari manis Joya.
Staf 2 : “Suami
kamu kerja dimana?”
Joya : “Kakak
nich, ayo lanjut kerjain desainnya. Biar gak lembur sampai pagi. Ntar kecapean,
sakit loh.”
Joya berusaha
bersikap sopan tanpa menyinggung orang-orang disana. Penanggung jawab proyek
segera meminta stafnya untuk kembali ke posisi masing-masing.
Rian kembali
melirik Boy yang sudah tersenyum lebar, pemandangan indah itu tentu saja tidak
di sia-siakan staf wanita disana. Mereka mengambil foto selfie secara diam-diam
dengan latar belakang Boy yang tampan.
Joya
merenggangkan tubuhnya, ia melihat sekeliling staf yang tampak kelelahan. Ia
bangkit dari duduknya dan mulai bicara,
Joya : “Ada
yang mau kopi?”
Mendengar kata
kopi, semua syaraf pendengar langsung aktif diikuti syarat bicara. Hampir semua
staf bilang mau dengan semangat. Joya tersenyum, ia melirik Boy yang mulai
cemberut lagi.
Boy : “Joya,
suruh OB yang buat.”
Joya : “Saya
saja, tuan. Tuan juga mau?”
Boy : “Ya.
Rian, bantu Joya.”
Rian : “Saya,
tuan?”
Boy : “Memangnya
siapa lagi? Aku?”
Rian mengikuti
Joya menuju pantry. Joya benar-benar membuat kopi untuk mereka semua. Khusus
__ADS_1
untuk Boy, ia membawanya sendiri.
Joya : “Silakan,
tuan.”
Boy : “Sudah 3
kali. Jangan sampai jadi keempat kali ya.”
Joya : “Apanya,
tuan?”
Boy : “Hehe...
malam ini aku harus dapat jatah ya.”
Joya : “Iya,
tuan. Mau berapa kali?”
Boy : “Kamu
nantang nich?”
Rian menatap
Boy yang sumringah mendengar bisikan Joya. Suasana hati bosnya itu benar-benar
naik turun hanya gara-gara Joya. Rian masih membawakan kopi ke semua staf
pemasaran yang ada di ruangan itu. Mereka mengucapkan terima kasih dan memuji
kopi buatan Joya.
Situasi yang
hangat tiba-tiba menjadi sunyi kembali karena mereka mulai fokus melihat
interaksi Joya dan Boy. Beberapa kali Boy tersenyum saat Joya tertawa di
depannya. Lebih kaget lagi saat Boy meraih tangan Joya dan menggenggamnya.
Memainkan jemari Joya yang terus tersenyum pada Boy.
Staf 1 : “Pak
Rian... Pak...”
Rian : “Ya? Ada
apa?”
Staf 1 : “Itu,
tuan Boy akrab sekali dengan Joya. Mereka ada hubungan apa?”
Rian : “Bukannya
kamu sudah tahu, Joya tinggal di rumah Nyonya Besar?”
Staf 1 : “Iya,
tapi harus ya mereka seakrab itu?”
Rian : “Cepat
kembali kerja. Hubungan mereka itu urusan mereka. Kalian gak usah kepo lagi.”
Gumaman kecewa,
mulai mendengung di ruangan pemasaran. Joya kembali duduk di tempatnya semua,
kali ini desain yang ada mulai tahap pewarnaan.
*****
Jam 6 sore,
pekerjaan mereka hampir selesai. Joya ingin bangkit dari kursi tapi kakinya
kesemutan. Boy yang melihat Joya memegangi kakinya, spontan berdiri dan
menggendong Joya.
Joya : “Maas...”
Mendengar
panggilan Joya untuk Boy membuat semua orang di ruangan itu menoleh menatap
mereka berdua. Boy menatap Joya penuh arti,
Boy : “Aku
harus bilang sekarang, atau mereka akan semakin salah paham.”
Joya : “Terserah
mas saja.” Kata Joya dengan manis.
Boy : “Rian,
kemari.”
Rian : “Ya,
tuan.”
Boy membisikkan
sesuatu pada Rian,
Rian : “Perhatian
semua. Saya perlu menyampaikan sesuatu, perkenalkan tuan Boy dan istrinya,
nyonya Joya.”
Semua : “Haah!!”
Staf yang tadi
sempat menggoda Joya langsung pucat mendengar pengumuman dari Rian.
🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih
sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa
like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel
author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren
Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak..
🌴🌴🌴🌴🌴
__ADS_1