Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Yakin bukan mantan?


__ADS_3

Boy tersenyum


manis dan mencium bibir Joya lagi. Ponsel Boy berdering lagi, Boy melepaskan


ciumannya dan mengambil ponsel itu. Melinda calling. Boy mengangkatnya dan


bicara hanya sebentar, sebelum menutup telpon itu.


Boy : “Ayo,


sayang.”


Joya : “Kita


mau kemana?”


Boy : “Melinda


mau ketemu aku sekarang. Kamu mau ikut?”


Joya : “Iya,


mau. Tapi...”


Joya menunduk


melihat penampilannya. Tanda merah yang diberikan Boy masih terlihat jelas di


kaki dan lengannya. Joya merangkul lengannya menunduk malu. Boy menggenggam


tangannya dengan keras. Ia sangat menyesal sudah melakukan itu pada Joya, ia


berpikir cepat dan menelpon Carol.


Boy : “Carol,


tolong belikan pakaian tertutup untuk istriku.”


Carol : “Baik,


tuan.”


Boy : “Apa kau


mengerti maksudku?”


Carol : “Saya


mengerti, tuan.”


Boy menutup


telpon dan menatap Joya yang masih menunduk.


Boy : “Maafkan


aku, sayangku. Kau terlalu manis sampai aku tidak tahan ingin menjilatmu terus.”


Wajah Joya merah


merona mendengar kata-kata mesum Boy. Boy menangkap jemari Joya dan mulai


bermain dengan jemari istrinya itu sampai pintu diketuk seseorang. Boy menatap


Joya yang sibuk mengatur nafasnya yang berantakan.


Boy : “Masuk.”


Carol masuk


membawa paper bag. Joya sudah ingin beranjak dari atas pangkuan Boy, tapi Boy


tidak melepaskan pelukannya dari pinggang Joya. Carol tersenyum malu melihat


kemesraan keduanya. Ia meletakkan paper bag diatas meja kerja Boy dan mengambil


dokumen yang ditunjuk Boy.


Sebelum keluar,


Carol bertanya pada Joya apa dirinya perlu bantuan untuk berpakaian? Karena


desain pakaian yang dipilihnya tadi cukup rumit. Carol mengatakan hanya itu


yang bisa ia temukan dan sepertinya akan sangat cocok untuk Joya.


Boy meminta


Carol menunjukkan saja bagaimana seharusnya pakaian itu dikenakan. Carol


mengeluarkan sebuah dress panjang berwarna biru muda dari dalam paper bag itu


dan menunjukkan pada kedua orang di depannya bagaimana seharusnya pakaian itu

__ADS_1


dipakai. Boy mengangguk mengerti, Carol berpamitan keluar dari dalam ruang


kerja Boy.


Boy : “Ayo,


ganti bajumu, sayang.”


Joya : “Aku


sendiri aja, mas.”


Boy : “Aku gak


akan ngapa-ngapain. Aku bantu biar cepat ya.”


Joya hanya bisa


mengangguk menuruti suaminya itu. Boy menuntun Joya masuk ke ruang istirahat,


melepaskan pakaian Joya dan hanya bengong menatap tubuh istrinya itu. Boy


menunjuk semua bekas gigitannya, mulai menghitung. 1,2,3,4...10,...20,...30...


Joya menutup sisa yang belum dihitung Boy.


Joya : “Mas,


ngapain dihitung sich?”


Boy : “Aku cuma


penasaran berapa banyak bekasnya.”


Joya : “Cepat


ambilin baju yang tadi, jangan dihitung mas. Malu.”


Boy terkekeh


geli, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengambil paper bag. Ternyata


membantu Joya memakai baju itu lebih lama daripada melepaskannya. Tapi ketika baju


itu sudah melekat dengan sempurna di tubuh Joya, Carol memang tidak salah


pilih. Joya terlihat bersinar memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh Joya itu.


Joya merapikan


Joya : “Ayo,


kita pergi mas.”


Boy menggandeng


tangan Joya keluar dari ruang kerjanya. Ia mengetuk jendela ruang kerja Rian


dan mengatakan kalau ia akan pergi bertemu Melinda. Rian menawarkan untuk


mengantar, tapi Boy bilang akan memakai sopir saja.


Saat melewati


meja Carol, wanita itu sudah berdiri sedikit membungkuk ke hadapan Joya dan


Boy. Joya mengucapkan terima kasih atas pilihan bajunya yang sangat cantik pada


Carol. Carol mengucapkan terima kasih kembali sambil tersenyum ramah.


Keduanya


bergandengan tangan menuju lift yang sudah terbuka. Boy tak melepaskan tangan


Joya sedetikpun. Mereka mengumbar kemesraan bahkan setelah keluar dari lift. Para


staf yang melihat mereka spontan membungkuk. Keduanya menebarkan senyum


kebahagiaan pada semua orang.


*****


Setelah sampai


di cafe tempat mereka janjian dengan Melinda, Boy mengajak Joya masuk ke


dalamnya. Boy mengedarkan pandangan ke seluruh cafe. Joya mengeratkan


pelukannya pada lengan Boy saat ia melihat wanita cantik dan seksi, melambaikan


tangan ke arah mereka. Joya melihat penampilan wanita itu jauh dari apa yang


diceritakan Boy sebelumnya.

__ADS_1


Boy menyapa


Melinda saat mereka sudah semakin dekat. Wanita itu hampir bergerak mau cipika-cipiki


dengan Boy tapi terhenti melihat wajah Joya yang cemberut. Entah apa yang dipikirkan


wanita itu saat dirinya justru tetap bergerak mencium pipi Boy.


Boy meringis


merasakan remasan tangan Joya di lengannya. Joya sengaja menggunakan kukunya


agar Boy paham dia sakit hati melihat adegan itu.


Boy mengusap


tangan Joya dan menuntunnya duduk di depan Melinda. Joya tidak mau melepaskan tangan


Boy dan bertingkah menggemaskan menurut Boy.


Boy : “Sayang,


kalau kau terus menempel gini, jangan salahkan aku menciummu disini.” Bisik Boy


dengan sensual.


Joya spontan


melepaskan tangannya dari lengan Boy. Melinda mendengar itu dan mulai iseng. Ia


menggapai tangan Boy diatas meja, sambil mengerling genit ke arahnya. Boy tidak


menepis tangan Melinda. Tentu saja itu membuat Joya mulai kesal pada Boy.


Joya duduk tegak


agak menjauh dari Boy dengan wajah cemberut. Melinda semakin girang melihat


reaksi Joya. Saat Boy ingin mengenalkan Joya sebagai istrinya, Melinda sudah


lebih dulu menyambarnya.


Melinda : “Kenapa


sekretarismu ini? Dia sakit?”


Joya menatap


Melinda gak suka dengan kata-kata Melinda barusan.


Melinda : “Kenapa


kamu melotot? Gak sopan sekali.”


Boy sudah ingin


membungkam mulut Melinda tapi teman SMA-nya itu semakin bersemangat menggoda


Joya.


Joya : “Saya


istrinya mas Boy!” ketus Joya dengan posesif.


Joya kembali


merangkul lengan Boy dengan erat. Melinda ngakak di hadapan Boy dan Joya. Ia


bahkan tidak peduli ketika pengunjung cafe menoleh menatap mereka bertiga. Mungkin


merasa ilfeel melihat cara Melinda ketawa ngakak.


Boy akhirnya ikut ketawa melihat Melinda memegangi perutnya.


Boy : “Jangan kebanyakan ketawa, ntar anak lo ngira emaknya uda gila.”


Melinda : “Sialan lo!” ketus Melinda tiba-tiba sambil mengetok kepala Boy.


Melinda


mengelus-elus perutnya yang tampak membuncit. Boy mengelus kepalanya yang


sedikit sakit, ia tersenyum menatap Joya yang kebingungan. Apa-apaan reaksi


mesra mereka berdua ini? Yakin gitu mereka gak pernah ada hubungan spesial. Yakin bukan mantan? Joya merasa seperti...


*****


Sepertinya ada


yang belum vote nich. Jangan lupa vote & like, kk.


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2