
Boy tersenyum
manis dan mencium bibir Joya lagi. Ponsel Boy berdering lagi, Boy melepaskan
ciumannya dan mengambil ponsel itu. Melinda calling. Boy mengangkatnya dan
bicara hanya sebentar, sebelum menutup telpon itu.
Boy : “Ayo,
sayang.”
Joya : “Kita
mau kemana?”
Boy : “Melinda
mau ketemu aku sekarang. Kamu mau ikut?”
Joya : “Iya,
mau. Tapi...”
Joya menunduk
melihat penampilannya. Tanda merah yang diberikan Boy masih terlihat jelas di
kaki dan lengannya. Joya merangkul lengannya menunduk malu. Boy menggenggam
tangannya dengan keras. Ia sangat menyesal sudah melakukan itu pada Joya, ia
berpikir cepat dan menelpon Carol.
Boy : “Carol,
tolong belikan pakaian tertutup untuk istriku.”
Carol : “Baik,
tuan.”
Boy : “Apa kau
mengerti maksudku?”
Carol : “Saya
mengerti, tuan.”
Boy menutup
telpon dan menatap Joya yang masih menunduk.
Boy : “Maafkan
aku, sayangku. Kau terlalu manis sampai aku tidak tahan ingin menjilatmu terus.”
Wajah Joya merah
merona mendengar kata-kata mesum Boy. Boy menangkap jemari Joya dan mulai
bermain dengan jemari istrinya itu sampai pintu diketuk seseorang. Boy menatap
Joya yang sibuk mengatur nafasnya yang berantakan.
Boy : “Masuk.”
Carol masuk
membawa paper bag. Joya sudah ingin beranjak dari atas pangkuan Boy, tapi Boy
tidak melepaskan pelukannya dari pinggang Joya. Carol tersenyum malu melihat
kemesraan keduanya. Ia meletakkan paper bag diatas meja kerja Boy dan mengambil
dokumen yang ditunjuk Boy.
Sebelum keluar,
Carol bertanya pada Joya apa dirinya perlu bantuan untuk berpakaian? Karena
desain pakaian yang dipilihnya tadi cukup rumit. Carol mengatakan hanya itu
yang bisa ia temukan dan sepertinya akan sangat cocok untuk Joya.
Boy meminta
Carol menunjukkan saja bagaimana seharusnya pakaian itu dikenakan. Carol
mengeluarkan sebuah dress panjang berwarna biru muda dari dalam paper bag itu
dan menunjukkan pada kedua orang di depannya bagaimana seharusnya pakaian itu
__ADS_1
dipakai. Boy mengangguk mengerti, Carol berpamitan keluar dari dalam ruang
kerja Boy.
Boy : “Ayo,
ganti bajumu, sayang.”
Joya : “Aku
sendiri aja, mas.”
Boy : “Aku gak
akan ngapa-ngapain. Aku bantu biar cepat ya.”
Joya hanya bisa
mengangguk menuruti suaminya itu. Boy menuntun Joya masuk ke ruang istirahat,
melepaskan pakaian Joya dan hanya bengong menatap tubuh istrinya itu. Boy
menunjuk semua bekas gigitannya, mulai menghitung. 1,2,3,4...10,...20,...30...
Joya menutup sisa yang belum dihitung Boy.
Joya : “Mas,
ngapain dihitung sich?”
Boy : “Aku cuma
penasaran berapa banyak bekasnya.”
Joya : “Cepat
ambilin baju yang tadi, jangan dihitung mas. Malu.”
Boy terkekeh
geli, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengambil paper bag. Ternyata
membantu Joya memakai baju itu lebih lama daripada melepaskannya. Tapi ketika baju
itu sudah melekat dengan sempurna di tubuh Joya, Carol memang tidak salah
pilih. Joya terlihat bersinar memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh Joya itu.
Joya merapikan
Joya : “Ayo,
kita pergi mas.”
Boy menggandeng
tangan Joya keluar dari ruang kerjanya. Ia mengetuk jendela ruang kerja Rian
dan mengatakan kalau ia akan pergi bertemu Melinda. Rian menawarkan untuk
mengantar, tapi Boy bilang akan memakai sopir saja.
Saat melewati
meja Carol, wanita itu sudah berdiri sedikit membungkuk ke hadapan Joya dan
Boy. Joya mengucapkan terima kasih atas pilihan bajunya yang sangat cantik pada
Carol. Carol mengucapkan terima kasih kembali sambil tersenyum ramah.
Keduanya
bergandengan tangan menuju lift yang sudah terbuka. Boy tak melepaskan tangan
Joya sedetikpun. Mereka mengumbar kemesraan bahkan setelah keluar dari lift. Para
staf yang melihat mereka spontan membungkuk. Keduanya menebarkan senyum
kebahagiaan pada semua orang.
*****
Setelah sampai
di cafe tempat mereka janjian dengan Melinda, Boy mengajak Joya masuk ke
dalamnya. Boy mengedarkan pandangan ke seluruh cafe. Joya mengeratkan
pelukannya pada lengan Boy saat ia melihat wanita cantik dan seksi, melambaikan
tangan ke arah mereka. Joya melihat penampilan wanita itu jauh dari apa yang
diceritakan Boy sebelumnya.
__ADS_1
Boy menyapa
Melinda saat mereka sudah semakin dekat. Wanita itu hampir bergerak mau cipika-cipiki
dengan Boy tapi terhenti melihat wajah Joya yang cemberut. Entah apa yang dipikirkan
wanita itu saat dirinya justru tetap bergerak mencium pipi Boy.
Boy meringis
merasakan remasan tangan Joya di lengannya. Joya sengaja menggunakan kukunya
agar Boy paham dia sakit hati melihat adegan itu.
Boy mengusap
tangan Joya dan menuntunnya duduk di depan Melinda. Joya tidak mau melepaskan tangan
Boy dan bertingkah menggemaskan menurut Boy.
Boy : “Sayang,
kalau kau terus menempel gini, jangan salahkan aku menciummu disini.” Bisik Boy
dengan sensual.
Joya spontan
melepaskan tangannya dari lengan Boy. Melinda mendengar itu dan mulai iseng. Ia
menggapai tangan Boy diatas meja, sambil mengerling genit ke arahnya. Boy tidak
menepis tangan Melinda. Tentu saja itu membuat Joya mulai kesal pada Boy.
Joya duduk tegak
agak menjauh dari Boy dengan wajah cemberut. Melinda semakin girang melihat
reaksi Joya. Saat Boy ingin mengenalkan Joya sebagai istrinya, Melinda sudah
lebih dulu menyambarnya.
Melinda : “Kenapa
sekretarismu ini? Dia sakit?”
Joya menatap
Melinda gak suka dengan kata-kata Melinda barusan.
Melinda : “Kenapa
kamu melotot? Gak sopan sekali.”
Boy sudah ingin
membungkam mulut Melinda tapi teman SMA-nya itu semakin bersemangat menggoda
Joya.
Joya : “Saya
istrinya mas Boy!” ketus Joya dengan posesif.
Joya kembali
merangkul lengan Boy dengan erat. Melinda ngakak di hadapan Boy dan Joya. Ia
bahkan tidak peduli ketika pengunjung cafe menoleh menatap mereka bertiga. Mungkin
merasa ilfeel melihat cara Melinda ketawa ngakak.
Boy akhirnya ikut ketawa melihat Melinda memegangi perutnya.
Boy : “Jangan kebanyakan ketawa, ntar anak lo ngira emaknya uda gila.”
Melinda : “Sialan lo!” ketus Melinda tiba-tiba sambil mengetok kepala Boy.
Melinda
mengelus-elus perutnya yang tampak membuncit. Boy mengelus kepalanya yang
sedikit sakit, ia tersenyum menatap Joya yang kebingungan. Apa-apaan reaksi
mesra mereka berdua ini? Yakin gitu mereka gak pernah ada hubungan spesial. Yakin bukan mantan? Joya merasa seperti...
*****
Sepertinya ada
yang belum vote nich. Jangan lupa vote & like, kk.
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.