Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Menantu untuk Ibu bagian 21


__ADS_3

Rindu tidak hanya muncul karena jarak yang terpisah. Tapi juga karena keinginan yang tidak terwujud.


🌼🌼🌼


Kehidupan rumah tangga Safira dan Tyo berjalan dengan mulus. Mereka saling menghargai dan mendukung. Menempati rumah sendiri membuat Safira leluasa mengatur dekorasi rumah mereka. Semua pekerjaan rumah ia lakukan sendiri. Tyo protektif pada sang istri, ia tak ingin Safira terlalu sibuk di toko bakery miliknya.


"Kamu nggak perlu ada di sana sepanjang waktu meski sekarang jarak tak sejauh saat di desa."


"Sarapan dulu." Ia memberikan segelas coklat hangat.


Safira melengkungkan bibir, lalu mengucapkan terima kasih.


"Enak?"


"Enak banget!"


"Serius? Tapi masih kalah dengan sandwich buatanmu," balas Tyo tertawa kecil.


"Nggak, Mas. Serius ini enak! Mas mau berangkat sekarang?"


Tyo mengangguk, ia menjelaskan ada klien dari luar kota yang akan bertemu pagi ini di kantor.


"Oh iya, Sayang. Sore sepulang kantor nanti aku mampir ke rumah ibu sebentar ya. Ibu bilang ada hal penting."


Wanita itu mengangguk tersenyum. Satu sandwich isi daging dan keju telah masuk ke mulutnya. Saat ia hendak bangkit mengantar sang suami tiba-tiba saja Safira merasa berkunang-kunang, membuat ia hampir terjatuh. Sigap Tyo menahannya. Wajah pria itu tampak khawatir.


"Kamu kenapa, Sayang?"


Ia tak menjawab, segera melepaskan tangan suaminya bergegas menuju wastafel. Di sana Safira memuntahkan semua isi perut. Tyo mencoba memijit lembut tengkuk istrinya. Wajah itu seputih kapas.


"Kamu kenapa, Sayang? Kemarin kamu kerjakan sendiri semua itu?"


Safira bergeming. Ia masih memegang perutnya yang seolah di aduk-aduk. Kemarin ia dan beberapa pekerja tokonya, mengerjakan pesanan untuk pesta pernikahan salah satu pejabat di kotanya.


Tak ingin ada kesalahan, ia sendiri yang turun tangan menyelesaikan kue setinggi dua meter itu. Wanita itu paham jika Tyo tidak suka ia kelelahan. Keinginan pria itu agar dirinya bisa fokus pada program kehamilan yang mereka rancang.


"Aku telepon dokter ya."


Safira menggeleng cepat mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Kamu yakin?"


"Iya, Mas. Mas berangkat aja."


"Oke, aku berangkat ya. Telepon aku kapan pun kamu perlu. Jangan pikirkan aku sedang rapat atau apa, oke?"


Wanita itu mengangguk. Setelah kembali ke ranjang, Tyo mengecup kening Safira kemudian melangkah pergi.


***


Sepanjang hari Tyo tak berhenti mengkhawatirkan kondisi sang istri. Setiap jam ia selalu mencari tahu kabar Safira, meski wanita itu telah meyakinkan sang suami bahwa ia hanya masuk angin saja. Sore menjelang, bergegas pria itu meninggalkan kantor, sesuai janjinya pada Bu Santi, ia akan mampir ke sana.


Tyo tiba hampir bersamaan dengan Alva. Adik laki-lakinya itu sudah memutuskan untuk bekerja di kantor yang ada di luar kota, meski sang ayah sempat menahan, tapi Alva tetap pada keinginannya.


"Al!"


"Kak, apa kabar?" Ia menyambut jabat tangan sang kakak. Matanya seolah mencari seseorang yang biasa ada bersama Tyo.


"Sendiri, Kak?"


Pria berkacamata itu mengangguk menjelaskan bahwa sang istri sedang tidak fit.


"Kakak nggak bisa lama. Khawatir Safira kenapa-napa." Ucapan Tyo ditanggapi senyum datar.


"Kak. Bisa kita bicara empat mata sebentar?" tanya Alva dengan wajah serius. Tyo mengerutkan kening. Belum sempat ia bertanya, Alva mengajak masuk ke mobil sang kakak.


Sejenak pria itu diam. Mendadak aroma tubuh Safira menyapa indra penciumannya. Kembali kilas memori memenuhi kepalanya. Ada rindu yang tak bisa ia ungkap.

__ADS_1


"Al, mau bicara apa?"


Alva menarik napas dalam-dalam. Jelas terlihat ada kegalauan di wajah pria itu.


"Kak, minggu besok aku bertunangan ... eum, maksud aku ditunangkan." Tyo kembali mengerutkan kening.


"So?"


"So, i don't want it!" sergahnya cepat dengan membuang napas kasar, "kenapa ibu selalu ingin anaknya mengikuti apa yang ia inginkan?"


Hening.


"Kamu tahu siapa perempuan yang akan menjadi tunanganmu?"


Alva mengangguk pelan. Ia mengatakan bahwa gadis itu bernama Gita. Mereka pernah sengaja dipertemukan oleh kedua orang tua, saat di kantor Pak Yuda.


"Kalau kamu nggak setuju, kenapa nggak bilang ke ...."


"Ibu?"


Sang kakak mengangguk. Alva menggeleng lemah.


"Al nggak mau bikin ibu kecewa lagi, Kak!"


"Lalu? Kalau begitu terima saja."


"Al nggak bisa!"


"Kenapa?"


Alva memejamkan mata, kembali kelebat bayang Safira menari di pelupuk. Sambil memijit pelipis, ia kembali menggeleng.


"Al belum bisa membuka hati untuk siapa pun saat ini."


"Al, minggu besok itu bukan hari pernikahan, tapi masih pertunangannya. Akan ada hal yang bakal terjadi di antara rentang itu. Bisa jdi di tengah jalan nanti kamu berubah ...."


"Iya, berubah mencintainya. Mencintai Gita."


"Nggak bisa, Kak! Al baru sadar ternyata Al mencintainya!" tukasnya.


"Mencintainya? Mencintai siapa, Al?"


Tyo menatap menunggu jawaban. Sedangkan Alva merasa salah dan hampir nama Safira keluar dari bibirnya.


"Siapa yang kamu cintai, Al?"


"Bukan siapa-siapa, Kak!"


"Alva?"


"Al cuma nggak ingin menyakiti hati gadis itu. Al nggak bisa."


"Sebaiknya bicarakan itu dengan Gita!"


Alva menoleh mendengar penuturan sang kakak. Tak lama ia mengangguk tersenyum.


***


"Jadi, kita minggu besok ke rumah ibu?" Safira duduk di samping sang suami yang tengah fokus ke laptop. "Diminum dulu, Mas," sambungnya menyodorkan secangkir kopi hitam.


"Terima kasih, Sayang. Iya, besok kita ke rumah ibu. Ingat, kamu jangan kelelahan lagi, nanti sakit seperti kemarin. Mas yang bingung."


Safira mengangguk tersenyum. Lama ia menatap sang suami seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa? Kenapa senyum-senyum gitu?"


"Nggak boleh ya, saya senyum?" rajuknya.

__ADS_1


"Bukan nggak boleh, tapi itu bikin aku nggak bisa konsentrasi," balasnya mencubit hidung sang istri gemas.


"Mas ...."


"Ya, Sayang?"


"Eum ...."


"Apa? Mau minta? Sebentar ya, Mas beresin dulu ini laporan." Tyo mengerling menggoda, membuat rona merah di wajah Safira.


"Ish, genit! Bukan itu, ih!" Ia mencubit lengan kokoh itu.


"Nggak perlu malu. Mas siap kok, kapan pun!" Tyo bangkit meraih tubuh Safira hendak membawanya ke kamar.


"Mas, tunggu! Dengarkan saya dulu!" pekik nya pelan.


"Kenapa?"


Safira mengedipkan mata memberi isyarat agar Tyo membuka kotak kecil di meja dekat laptopnya. Dengan tatapan penuh tanya ia melakukan permintaan Safira. Pelan ia buka, mata pria itu membulat meraih benda di dalamnya. Wajah Tyo berubah antusias lalu menatap sang istri.


"Ini ... ini artinya kamu, hamil?" Ia menghampiri Safira mengusap perutnya lembut. "Dia ada di sana?" sambungnya lagi seraya mendekap sang istri.


"Ibu akan memiliki cucu," tutur wanita itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Tyo.


"Ini akan jadi berita bahagia kedua setelah pertunangan Alva!" Tyo mengeratkan pelukan dan berkali-kali mencium puncak kepala istrinya.


***


Rambut panjang tergerai, dihias jepit mungil di sisi kanan, gaun panjang berwarna biru langit dengan bunga kecil berwarna lebih gelap, sepatu flat berwarna putih lengkap dengan tas tangan mungil membuat Safira terlihat sangat menarik. Berkali-kali Tyo memuji penampilan sang istri.


"Jangan terus dipuji, Mas. Nanti saya terbang."


"Nggak apa-apa, asal terbang ke hatiku!"


"Ish, gombal terus ini!" Ia menepuk bahu Tyo yang tengah mengemudi. Pria itu hanya tertawa menanggapi.


"Nanti jangan bilang ke siapa pun dulu. Kita biarkan mereka bahagia dengan pertunangan Alva. Nah, setelah itu baru kita share kebahagiaan kita. Bagaimana?"


"Saya ikut apa kata Mas aja!"


Tak lama mereka tiba di rumah Bu Santi. Sudah ada beberapa mobil terparkir di depan. Menurut Tyo, adiknya menolak ide sang ibu untuk mengadakan pesta seperti saat pertunangan waktu itu. Tyo sendiri mendukung apa pun yang diinginkan sang adik, sebab menurutnya Alva sudah jauh lebih dewasa dari sebelumnya.


"Ayo, Sayang."


Dengan menggenggam erat tangan sang istri, Tyo masuk. Di dalam sudah berkumpul keluarga dan beberapa kerabat dari keduanya. Tampak Alva duduk dengan wajah yang jauh dari kata gembira. Keduanya menghampiri Bu Santi dan Pak Yuda, bersalaman kemudian menjabat para tamu di ruangan itu.


"Kami nggak terlambat, 'kan?" Tyo bertanya.


"Nggak, Nak. Calon besan juga baru saja datang," jawab sang ibu tersenyum.


Mereka pun terlibat pembicaraan serius tentang rencana menyatukan Alva dan Gita. Safira tersenyum duduk di samping Tyo. Matanya menangkap gadis berambut pendek dengan gaun berwarna merah jambu tengah duduk menatap lantai. Jelas terlihat pula di wajahnya tak ada bahagia seperti pasangan yang bertunangan pada umumnya.


"Mas, saya ke kamar mandi dulu ya," pamitnya pada Tyo.


"Iya. Ati-ati terpeleset!"


"Mas Tyo, saya bisa jaga diri."


Tyo tersenyum mengangguk. Safira melangkah meninggalkan ruangan menuju ke belakang. Tanpa ia sadari sepasang mata sejak tadi enggan melepas tatapan ke arahnya.


***


Selepas kembali merapikan baju, ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat Alva berdiri di pintu pembatas kamar mandi dan ruangan lain. Tak ingin berprasangka, ia terus melangkah memberanikan diri. Saat hampir melewati pria itu, lengannya dipegang erat oleh Alva.


"Safira, tunggu!"


***

__ADS_1


__ADS_2