Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Menolong teman


__ADS_3

Keesokan


harinya di kantornya, Joya tampak sedang menyelesaikan pekerjaan saat Rio


datang membawa laporan untuk disimpan Joya.


Rio : “Joya,


ini laporannya. Tolong di cek dulu fotocopynya. Sampai halaman 34.”


Joya melakukan


apa yang diminta Rio dengan cepat.


Joya : “Sudah


lengkap. Makasih, Rio.”


Rio : “Ok.”


Rio hampir


berbalik pergi, tapi ia berbalik lagi menghadap Joya. Joya menatap Rio yang


tampak ragu ingin bicara sesuatu.


Joya : “Ada apa


lagi?”


Rio : “Bisa aku


minta tolong?”


Joya : “Apa?”


Rio : “Aku...


aku mau...”


Rio sedikit


menundukkan kepalanya agar tidak ada yang bisa mendengar mereka. Joya hampir


mundur saat ia mendengar kata-kata Rio selanjutnya.


Rio : “Aku mau


melamar Meta.”


Joya : “Apa?


Itu bagus sekali. Kapan?”


Rio : “Nanti


sore habis pulang kantor. Bisa minta tolong tahan dia?”


Joya : “Apa


alasannya?”


Rio : “Bilang


saja kau lembur dan perlu ditemani. Aku akan bilang kalau aku harus pulang


cepat karena... nanti aku pikirkan alasanku.”


Joya :


“Tapi...”


Rio : “Tidak


apa-apa kalau kau sibuk. Aku akan minta teman yang lain untuk menahan Meta.”


Joya :


“Maksudku, aku bisa membantumu. Tapi aku kabarin suamiku dulu.”


Rio : “Ya, kalau


gitu, aku balik ke ruangan dulu ya.”


Joya : “Ok.”


Joya baru ingin


mengabari Boy kalau ia akan terlambat pulang dan mungkin Boy bisa menjemputnya,


ketika manager operasional memanggilnya untuk ikut meeting. Joya tidak sengaja


mengirim sebagian chat pada Boy yang hanya berisi kalau dia akan terlambat


pulang dari kantor.


Joya terlalu


sibuk meeting dan melanjutkan pekerjaannya setelah itu. Tadi ia sempat bertemu


Meta dan memintanya menemaninya lembur.


Meta : “Kamu


lembur? Tumben. Apa kau sedang bertengkar dengan tuan Boy?”


Joya : “Tidak,


sebenarnya pekerjaanku agak menumpuk dan aku perlu sedikit waktu lagi. Hanya


sebentar, temani aku ya.”


Meta : “Okey,


Rio juga bilang akan pulang cepat. Katanya ada urusan penting. Aku akan temani


kamu sampai selesai.”


Joya tersenyum mengingat


pembicaraannya tadi dengan Meta. Ia sungguh lupa mengecek ponselnya lagi


setelah itu.


*****


Sementara Boy


yang baru melihat ponselnya, mengkerutkan kening membaca chat dari Joya.


Boy : “Kenapa


dia harus pulang terlambat? Joya tidak pernah lembur. Kenapa sekarang harus


lembur? Rian!”


Rian : “Ya,


tuan.”


Boy : “Aku mau

__ADS_1


pulang on time. Kita jemput Joya. Jam berapa meeting berikutnya?”


Rian : “10


menit lagi, tuan.”


Boy : “Cepat


selesaikan. Kenapa Joya gak balas chat-ku sich?”


Rian


bersiap-siap mendengarkan kemarahan Boy, meeting kali ini pasti sangat


menegangkan. Benar saja, sebagian besar peserta meeting kena omelan Boy. Mereka


kebanyakan menunduk, tidak berani menatap Boy.


Sampai meeting


beruntun usai jam 5 sore, Boy berjalan tergesa bersama Rian untuk pulang sambil


menjemput Joya. Sekali lagi Boy mendengus ketika chat-nya belum dibalas Joya.


Boy segera menekan tanda telepon dan terdengar nada sibuk dari ponsel Joya.


Boy : “Sekarang


gak bisa dihubungi, dia lagi ngobrol sama siapa sich?”


Rian : “Mungkin


Ny. Joya sedang menelpon Ny. Besar, tuan.”


Boy : “Ach,


mungkin kau benar. Lebih cepat lagi.”


Rian : “Baik,


tuan.”


*****


Sementara itu,


Joya tidak menyadari ketika ponselnya berdengung ketika Boy menelponnya tadi.


Ia terlalu sibuk mengalihkan perhatian Meta dengan menunjukkan kalau dia masih


sibuk dengan pekerjaannya. Dan yang lebih parahnya lagi, ponselnya tiba-tiba


mati karena kehabisan baterai.


Sampai jam 6


sore, Joya mulai mengemasi barang-barangnya,


Meta : “Sudah


selesai pekerjaanmu?”


Joya : “Sudah,


tinggal menunggu jawaban dari pak manager saja. Dia juga sudah pulang duluan.


Ayo, kita pulang.”


Meta : “Kamu


pulang naik apa?”


Joya : “Ojol


Meta : “Tuan


Boy gak jemput?”


Joya : “Oh,


iya. Tadi aku ada chat mas Boy. Sebentar.”


Joya mengambil


ponselnya di dalam tas dan mengeluh ponselnya kehabisan baterai. Mereka sudah


sampai di depan lobby kantor dan berdiri disana. Saat Joya dan Meta sedang


kebingungan karena ponsel Joya mati, tiba-tiba Rio datang dari arah parkiran


sambil membawa buket bunga mawar merah dan cincin.


Rio langsung


berlutut di depan Meta. Meta bengong melihat Rio berlutut di depannya. Joya


sedikit menjauh dari mereka, memposisikan dirinya agar tidak mengganggu moment


romantis itu. Joya masih bingung bagaimana menghubungi Boy sekarang karena


ponselnya sudah mati.


*****


Boy menggeram


di dalam mobil yang parkir di tempat parkir kantor Joya. Mereka sudah sampai 5


menit sebelum Rio berjalan menghampiri Joya yang tampak berdiri di lobby


kantor.


Oh, sepertinya


akan terjadi salah paham disini


Boy : “Kurang


ajar! Masih belum kapok juga! Beraninya dia ngasi bunga pada Joya!”


Rian : “Tuan,


tolong sabar sebentar. Kita tunggu sebentar lagi.”


Rian berusaha


menahan Boy agar tidak keluar sekarang. Ia tidak ingin tuannya itu mendapat


malu kalau memergoki sesuatu yang belum tentu benar. Tapi bukannya situasi


tambah membaik, kejadian berikutnya malah semakin parah.


Boy semakin


berang saat melihat Joya menerima bunga yang disodorkan Rio dengan wajah


tersenyum bahagia.


Boy : “Kau


lihat itu! Joya menerima bunga dari laki-laki kurang aja itu!”

__ADS_1


Rian : “Tuan...”


Boy : “Itu


alasannya telponnya tidak bisa dihubungi. Joya mau bersama laki-laki itu!”


Rian : “Tapi


tuan...”


Boy : “Kau mau


bela dia apalagi?!! Cepat panggil Joya kesini!”


Saking


marahnya, Boy memukul pintu mobil dengan sangat keras. Rian segera keluar dari


dalam mobil, ia berlari secepat mungkin menghampiri Joya dan memanggilnya.


Sekilas Rian melihat Meta dan Rio berpelukan.


Joya : “Kak


Rian?”


Rian : “Ny.


Joya, cepat masuk ke mobil. Tuan Boy sudah menunggu.”


Joya : “Mas Boy


dimana?”


Rian : “Silakan


ikut saya.”


Joya hampir


membawa bunga ditangannya, tapi Rio dengan cepat mengambil bunga itu.


Rio : “Makasih,


Joya.”


Joya : “Iya,


sama-sama. Aku pulang duluan ya.”


Boy semakin


marah, melihat Joya melambaikan tangannya pada Rio. Ia kembali menendang pintu


mobil dengan keras.


Rian membuka


pintu dan Joya masuk ke dalam, ia tersenyum manis pada Boy setelah duduk di


samping suaminya itu.


Joya : “Mas...”


Joya ingin


mencium tangan Boy, tapi suaminya itu malah mencengkeram lengannya.


Boy : “Sudah


puas kamu! Hah!”


Joya : “Apa...?


Aku...”


Boy : “Kau mau


mempermainkan aku ya? Katakan, sudah berapa kali kau terima bunga dari


laki-laki brengsek itu!”


Joya : “Bunga


apa?”


Boy : “Kau mau


bermain denganku, akan kulayani permainanmu! Rian, cepat jalan!”


Rian : “Tuan,


tadi...”


Boy : “Jalan!”


Joya sangat


takut melihat ekspresi wajah Boy yang tampak mengerikan dan menggelap. Lidahnya


terasa kelu, jantungnya berdebar kencang. Ia melirik keluar jendela, mereka


berjalan ke arah sebaliknya. Sepertinya Rian mengarahkan mobil kembali ke


apartment Boy.


Boy semakin


keras mencengkeram lengan Joya,


Joya : “Sa...


sakit, mas. Lepasin.”


Boy : “Kau


bahkan tidak mau aku sentuh. Bagian mana lagi yang tidak boleh kusentuh?!”


Joya : “Bu...


bukan gitu. Aduch!!”


Rian meremas


kemudi dengan keras, ia ingin menolong Joya, tapi Boy sedang sangat marah saat


ini. Dan ia takut kalau sampai Boy memukul Joya kalau ia mengatakan sepatah


kata lagi.


*****


Boy kalau


sedang cemburu, sangat mengerikan ya. Dia bisa bersikap kasar pada Joya. Padahal


Joya sudah menunggunya selama 3 tahun.


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2