
Keesokan
harinya di kantornya, Joya tampak sedang menyelesaikan pekerjaan saat Rio
datang membawa laporan untuk disimpan Joya.
Rio : “Joya,
ini laporannya. Tolong di cek dulu fotocopynya. Sampai halaman 34.”
Joya melakukan
apa yang diminta Rio dengan cepat.
Joya : “Sudah
lengkap. Makasih, Rio.”
Rio : “Ok.”
Rio hampir
berbalik pergi, tapi ia berbalik lagi menghadap Joya. Joya menatap Rio yang
tampak ragu ingin bicara sesuatu.
Joya : “Ada apa
lagi?”
Rio : “Bisa aku
minta tolong?”
Joya : “Apa?”
Rio : “Aku...
aku mau...”
Rio sedikit
menundukkan kepalanya agar tidak ada yang bisa mendengar mereka. Joya hampir
mundur saat ia mendengar kata-kata Rio selanjutnya.
Rio : “Aku mau
melamar Meta.”
Joya : “Apa?
Itu bagus sekali. Kapan?”
Rio : “Nanti
sore habis pulang kantor. Bisa minta tolong tahan dia?”
Joya : “Apa
alasannya?”
Rio : “Bilang
saja kau lembur dan perlu ditemani. Aku akan bilang kalau aku harus pulang
cepat karena... nanti aku pikirkan alasanku.”
Joya :
“Tapi...”
Rio : “Tidak
apa-apa kalau kau sibuk. Aku akan minta teman yang lain untuk menahan Meta.”
Joya :
“Maksudku, aku bisa membantumu. Tapi aku kabarin suamiku dulu.”
Rio : “Ya, kalau
gitu, aku balik ke ruangan dulu ya.”
Joya : “Ok.”
Joya baru ingin
mengabari Boy kalau ia akan terlambat pulang dan mungkin Boy bisa menjemputnya,
ketika manager operasional memanggilnya untuk ikut meeting. Joya tidak sengaja
mengirim sebagian chat pada Boy yang hanya berisi kalau dia akan terlambat
pulang dari kantor.
Joya terlalu
sibuk meeting dan melanjutkan pekerjaannya setelah itu. Tadi ia sempat bertemu
Meta dan memintanya menemaninya lembur.
Meta : “Kamu
lembur? Tumben. Apa kau sedang bertengkar dengan tuan Boy?”
Joya : “Tidak,
sebenarnya pekerjaanku agak menumpuk dan aku perlu sedikit waktu lagi. Hanya
sebentar, temani aku ya.”
Meta : “Okey,
Rio juga bilang akan pulang cepat. Katanya ada urusan penting. Aku akan temani
kamu sampai selesai.”
Joya tersenyum mengingat
pembicaraannya tadi dengan Meta. Ia sungguh lupa mengecek ponselnya lagi
setelah itu.
*****
Sementara Boy
yang baru melihat ponselnya, mengkerutkan kening membaca chat dari Joya.
Boy : “Kenapa
dia harus pulang terlambat? Joya tidak pernah lembur. Kenapa sekarang harus
lembur? Rian!”
Rian : “Ya,
tuan.”
Boy : “Aku mau
__ADS_1
pulang on time. Kita jemput Joya. Jam berapa meeting berikutnya?”
Rian : “10
menit lagi, tuan.”
Boy : “Cepat
selesaikan. Kenapa Joya gak balas chat-ku sich?”
Rian
bersiap-siap mendengarkan kemarahan Boy, meeting kali ini pasti sangat
menegangkan. Benar saja, sebagian besar peserta meeting kena omelan Boy. Mereka
kebanyakan menunduk, tidak berani menatap Boy.
Sampai meeting
beruntun usai jam 5 sore, Boy berjalan tergesa bersama Rian untuk pulang sambil
menjemput Joya. Sekali lagi Boy mendengus ketika chat-nya belum dibalas Joya.
Boy segera menekan tanda telepon dan terdengar nada sibuk dari ponsel Joya.
Boy : “Sekarang
gak bisa dihubungi, dia lagi ngobrol sama siapa sich?”
Rian : “Mungkin
Ny. Joya sedang menelpon Ny. Besar, tuan.”
Boy : “Ach,
mungkin kau benar. Lebih cepat lagi.”
Rian : “Baik,
tuan.”
*****
Sementara itu,
Joya tidak menyadari ketika ponselnya berdengung ketika Boy menelponnya tadi.
Ia terlalu sibuk mengalihkan perhatian Meta dengan menunjukkan kalau dia masih
sibuk dengan pekerjaannya. Dan yang lebih parahnya lagi, ponselnya tiba-tiba
mati karena kehabisan baterai.
Sampai jam 6
sore, Joya mulai mengemasi barang-barangnya,
Meta : “Sudah
selesai pekerjaanmu?”
Joya : “Sudah,
tinggal menunggu jawaban dari pak manager saja. Dia juga sudah pulang duluan.
Ayo, kita pulang.”
Meta : “Kamu
pulang naik apa?”
Joya : “Ojol
Meta : “Tuan
Boy gak jemput?”
Joya : “Oh,
iya. Tadi aku ada chat mas Boy. Sebentar.”
Joya mengambil
ponselnya di dalam tas dan mengeluh ponselnya kehabisan baterai. Mereka sudah
sampai di depan lobby kantor dan berdiri disana. Saat Joya dan Meta sedang
kebingungan karena ponsel Joya mati, tiba-tiba Rio datang dari arah parkiran
sambil membawa buket bunga mawar merah dan cincin.
Rio langsung
berlutut di depan Meta. Meta bengong melihat Rio berlutut di depannya. Joya
sedikit menjauh dari mereka, memposisikan dirinya agar tidak mengganggu moment
romantis itu. Joya masih bingung bagaimana menghubungi Boy sekarang karena
ponselnya sudah mati.
*****
Boy menggeram
di dalam mobil yang parkir di tempat parkir kantor Joya. Mereka sudah sampai 5
menit sebelum Rio berjalan menghampiri Joya yang tampak berdiri di lobby
kantor.
Oh, sepertinya
akan terjadi salah paham disini
Boy : “Kurang
ajar! Masih belum kapok juga! Beraninya dia ngasi bunga pada Joya!”
Rian : “Tuan,
tolong sabar sebentar. Kita tunggu sebentar lagi.”
Rian berusaha
menahan Boy agar tidak keluar sekarang. Ia tidak ingin tuannya itu mendapat
malu kalau memergoki sesuatu yang belum tentu benar. Tapi bukannya situasi
tambah membaik, kejadian berikutnya malah semakin parah.
Boy semakin
berang saat melihat Joya menerima bunga yang disodorkan Rio dengan wajah
tersenyum bahagia.
Boy : “Kau
lihat itu! Joya menerima bunga dari laki-laki kurang aja itu!”
__ADS_1
Rian : “Tuan...”
Boy : “Itu
alasannya telponnya tidak bisa dihubungi. Joya mau bersama laki-laki itu!”
Rian : “Tapi
tuan...”
Boy : “Kau mau
bela dia apalagi?!! Cepat panggil Joya kesini!”
Saking
marahnya, Boy memukul pintu mobil dengan sangat keras. Rian segera keluar dari
dalam mobil, ia berlari secepat mungkin menghampiri Joya dan memanggilnya.
Sekilas Rian melihat Meta dan Rio berpelukan.
Joya : “Kak
Rian?”
Rian : “Ny.
Joya, cepat masuk ke mobil. Tuan Boy sudah menunggu.”
Joya : “Mas Boy
dimana?”
Rian : “Silakan
ikut saya.”
Joya hampir
membawa bunga ditangannya, tapi Rio dengan cepat mengambil bunga itu.
Rio : “Makasih,
Joya.”
Joya : “Iya,
sama-sama. Aku pulang duluan ya.”
Boy semakin
marah, melihat Joya melambaikan tangannya pada Rio. Ia kembali menendang pintu
mobil dengan keras.
Rian membuka
pintu dan Joya masuk ke dalam, ia tersenyum manis pada Boy setelah duduk di
samping suaminya itu.
Joya : “Mas...”
Joya ingin
mencium tangan Boy, tapi suaminya itu malah mencengkeram lengannya.
Boy : “Sudah
puas kamu! Hah!”
Joya : “Apa...?
Aku...”
Boy : “Kau mau
mempermainkan aku ya? Katakan, sudah berapa kali kau terima bunga dari
laki-laki brengsek itu!”
Joya : “Bunga
apa?”
Boy : “Kau mau
bermain denganku, akan kulayani permainanmu! Rian, cepat jalan!”
Rian : “Tuan,
tadi...”
Boy : “Jalan!”
Joya sangat
takut melihat ekspresi wajah Boy yang tampak mengerikan dan menggelap. Lidahnya
terasa kelu, jantungnya berdebar kencang. Ia melirik keluar jendela, mereka
berjalan ke arah sebaliknya. Sepertinya Rian mengarahkan mobil kembali ke
apartment Boy.
Boy semakin
keras mencengkeram lengan Joya,
Joya : “Sa...
sakit, mas. Lepasin.”
Boy : “Kau
bahkan tidak mau aku sentuh. Bagian mana lagi yang tidak boleh kusentuh?!”
Joya : “Bu...
bukan gitu. Aduch!!”
Rian meremas
kemudi dengan keras, ia ingin menolong Joya, tapi Boy sedang sangat marah saat
ini. Dan ia takut kalau sampai Boy memukul Joya kalau ia mengatakan sepatah
kata lagi.
*****
Boy kalau
sedang cemburu, sangat mengerikan ya. Dia bisa bersikap kasar pada Joya. Padahal
Joya sudah menunggunya selama 3 tahun.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.