
Keduanya
mempererat pelukan mereka sambil mengkhayalkan liburan mereka di Bali nanti.
Setelah kondisi
Joya lebih baik, mereka pindah ke ruang kerja Boy. Joya duduk di sofa dengan
selimut menutupi kakinya. Sementara Boy duduk di kursi kerjanya. Ada beberapa
dokumen yang menumpuk disana dan note dari Rian untuk segera ditanda tangani.
Joya memperhatikan
Boy bekerja sambil bersandar di sofa. Ia menatap wajah serius Boy yang sibuk
membaca dokumen perusahaannya. Boy bukan tidak terganggu dengan cara pandang
Joya yang begitu intens menatapnya. Tapi mau bagaimana lagi karena pekerjaannya
harus segera di selesaikan.
Sesekali Carol
masuk ke dalam ruang kerja untuk mengambil dokumen yang sudah selesai dan
menyerahkan dokumen yang perlu di cek Boy. Joya iseng menghitung berapa kali
Carol bolak-balik ke dalam ruang kerja itu.
Ia juga
memperhatikan penampilan Carol yang lebih sopan dan tertutup daripada Lia.
Setiap kali Joya bertemu Lia, sekretaris itu pasti memakai blus tanpa lengan
dan rok ketat terkadang juga mini. Apa memang sejak awal, Lia berniat menggoda
Boy.
Tapi Carol
sangat berbeda, ia berpakaian kerja standar yang tidak ketat, tapi menutup
tubuhnya dengan sempurna. Riasan yang dipakainya juga tidak setebal Lia.
Sepertinya hanya memakai eyeshadow, bedak, dan lipstik.
Saat
berinteraksi dengan Boy, Carol juga menjaga jaraknya. Ia berdiri tidak terlalu
dekat dan tidak terlalu jauh dari Boy. Cukup untuknya menunjukkan angka-angka
yang ditanya Boy, dan juga membantu membalik dokumen yang akan ditandatangani
Boy.
Carol
mendongakkan kepalanya menatap Joya yang masih menatapnya, ia tersenyum dan
berjalan mendekati Joya,
Carol : “Ny.
perlu sesuatu? Mau cemilan?”
Joya : “Ach...
cemilan? Ada jus alpukat?”
Carol : “Baik,
Ny. Hanya itu?”
Joya : “Ya,
hanya itu.”
Carol
membungkuk sebelum keluar dari ruang kerja Boy. Hanya 10 menit ia keluar, Carol
masuk lagi sambil membawa segelas jus alpukat. Ia menghidangkannya di meja di
depan Joya dan mempersilakan Joya minum. Kemudian keluar dan tidak masuk lagi.
Sampai Boy
memanggilnya untuk mengambil semua dokumen yang sudah Boy tanda tangani. Carol
masuk, langsung menghitung jumlah dokumen itu dan berpamitan keluar lagi. Boy
__ADS_1
tersenyum menatap Joya, ia merenggangkan bahunya yang kaku.
Joya : “Pekerjaanmu
banyak, mas?”
Boy : “Ya,
beginilah setiap hari kalau gak meeting, ya tanda tangan.”
Joya : “Sekarang
sudah selesai?”
Boy : “Udah.
Udah jam pulang juga. Kita tunggu lobby sepi, baru turun ya.”
Joya
mengangguk, dengan sisa perbuatan Boy pada tubuhnya tadi, tentu saja akan
mengundang perhatian banyak orang. Sepertinya Boy ingin menjaga Joya agar tidak
jadi bahan gunjingan staf kantornya.
Boy berjalan
mendekati Joya, duduk di samping istrinya itu. Lengan Boy otomatis merangkul
pundak Joya.
Boy : “Katakan
sesuatu... Aku boleh nanya?”
Joya : “Apa,
mas?”
Boy : “Sejak
kapan kau mencintaiku?”
Joya mencoba
mengingatnya, sejak pertama kali mereka bertemu di depan rumah Ny. Besar, jantung
Joya sempat berdebar saat itu. Tapi ia mengira kalau dirinya hanya kaget saat
Boy : “Kenapa
diam?”
Joya : “Aku
masih coba mengingatnya, mas. Saat kita pertama ketemu?”
Boy : “Kenapa
kamu kayak gak yakin gitu?”
Joya : “Kalo
mas?”
Boy : “Waktu
pertama makan spageti buatanmu.”
Joya : “Cepet
banget jawabnya.”
Boy : “Hei, aku
gak ragu dengan rasa cintaku padamu. Kamu tuch yang ragu.”
Joya memeluk
leher Boy, menempelkan bibirnya ke leher suaminya itu. Bulu kuduk Boy langsung
berdiri merasakan kecupan nakal Joya pada lehernya. Hanya kecupan kecil tapi
bisa membangkitkan benda kecil di bawah sana.
Boy tidak
berani bergerak, ia takut terprovokasi oleh tindakan nakal Joya yang entah
sengaja atau tidak dilakukannya itu. Melihat Boy tidak ada reaksi, Joya
mendongak menatap wajah Boy. Boy menelan salivanya melihat wajah manis Joya
__ADS_1
menatapnya dengan tatapan menggoda.
Boy : “Aku mau
nanya lagi.”
Joya : “Tanya
apa, mas?”
Boy berusaha
mengalihkan perhatian Joya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti apa ciuman
mereka ada ciuman pertama Joya yang dijawab dengan anggukan sambil tangan Joya
bermain di kancing kemeja Boy.
Pertanyaan
lainnya tentang kapan Joya memotong rambutnya setelah penolakan Joya waktu itu
dan Joya menjawab saat mulai diterima kerja, ia memotong rambutnya agar tidak
ribet mengurusnya di pagi hari.
Joya bertanya
pada Boy apa Joya harus memanjangkan rambutnya lagi atau Boy suka penampilannya
sekarang. Boy tidak langsung menjawab, pasalnya tangan Joya sudah masuk ke
balik kemeja Boy dari salah satu kancing yang sudah dibuka Joya.
Halus dan
lembutnya tangan Joya, membuat Boy gagal fokus. Otaknya terasa kosong, saat
tangan Joya menyentuh kulit dada Boy dan otot perutnya yang keras. Joya
bertanya sekali lagi, kali ini bibirnya menempel lagi di leher Boy.
Nafas Boy mulai
ngos-ngosan, ia menjawab lebih suka penampilan Joya sekarang. Terlihat lebih
dewasa dan cantik. Joya tersentak saat Boy mengucapkan kata seksi dengan suara
serak. Ia menegakkan tubuhnya dan melihat dengan jelas kalau Boy jadi bergairah
karena ulahnya.
Boy berjalan
cepat ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan cepat. Suara air dari shower
memancar deras terdengar sangat jelas oleh Joya. Ia mengambil jus alpukat di
atas meja dan meminumnya sedikit.
Perhatian Joya
teralihkan ketika ponsel Boy bersuara diatas meja. Ia menyingkirkan selimut
yang menutupi kakinya, berjalan mendekati meja kerja Boy dan mengambil
ponselnya. Joya membaca ‘Melinda calling’, Joya menimbang untuk mengangkat
telpon itu atau membiarkannya saja.
Terdorong rasa
penasaran, Joya mengangkat telpon itu.
Joya : “Halo?”
Melinda : “Halo,
Boy ada? Kamu siapa? Sekretarisnya? Bilang sama Boy, aku telpon ya. Perlu
bicara penting.”
Tut, tut,
tut...
*****
Bunyi kereta
api tut, tut, tut, siapa yang mau vote lagi...
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.