Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Sekretaris Carol


__ADS_3

Keduanya


mempererat pelukan mereka sambil mengkhayalkan liburan mereka di Bali nanti.


Setelah kondisi


Joya lebih baik, mereka pindah ke ruang kerja Boy. Joya duduk di sofa dengan


selimut menutupi kakinya. Sementara Boy duduk di kursi kerjanya. Ada beberapa


dokumen yang menumpuk disana dan note dari Rian untuk segera ditanda tangani.


Joya memperhatikan


Boy bekerja sambil bersandar di sofa. Ia menatap wajah serius Boy yang sibuk


membaca dokumen perusahaannya. Boy bukan tidak terganggu dengan cara pandang


Joya yang begitu intens menatapnya. Tapi mau bagaimana lagi karena pekerjaannya


harus segera di selesaikan.


Sesekali Carol


masuk ke dalam ruang kerja untuk mengambil dokumen yang sudah selesai dan


menyerahkan dokumen yang perlu di cek Boy. Joya iseng menghitung berapa kali


Carol bolak-balik ke dalam ruang kerja itu.


Ia juga


memperhatikan penampilan Carol yang lebih sopan dan tertutup daripada Lia.


Setiap kali Joya bertemu Lia, sekretaris itu pasti memakai blus tanpa lengan


dan rok ketat terkadang juga mini. Apa memang sejak awal, Lia berniat menggoda


Boy.


Tapi Carol


sangat berbeda, ia berpakaian kerja standar yang tidak ketat, tapi menutup


tubuhnya dengan sempurna. Riasan yang dipakainya juga tidak setebal Lia.


Sepertinya hanya memakai eyeshadow, bedak, dan lipstik.


Saat


berinteraksi dengan Boy, Carol juga menjaga jaraknya. Ia berdiri tidak terlalu


dekat dan tidak terlalu jauh dari Boy. Cukup untuknya menunjukkan angka-angka


yang ditanya Boy, dan juga membantu membalik dokumen yang akan ditandatangani


Boy.


Carol


mendongakkan kepalanya menatap Joya yang masih menatapnya, ia tersenyum dan


berjalan mendekati Joya,


Carol : “Ny.


perlu sesuatu? Mau cemilan?”


Joya : “Ach...


cemilan? Ada jus alpukat?”


Carol : “Baik,


Ny. Hanya itu?”


Joya : “Ya,


hanya itu.”


Carol


membungkuk sebelum keluar dari ruang kerja Boy. Hanya 10 menit ia keluar, Carol


masuk lagi sambil membawa segelas jus alpukat. Ia menghidangkannya di meja di


depan Joya dan mempersilakan Joya minum. Kemudian keluar dan tidak masuk lagi.


Sampai Boy


memanggilnya untuk mengambil semua dokumen yang sudah Boy tanda tangani. Carol


masuk, langsung menghitung jumlah dokumen itu dan berpamitan keluar lagi. Boy

__ADS_1


tersenyum menatap Joya, ia merenggangkan bahunya yang kaku.


Joya : “Pekerjaanmu


banyak, mas?”


Boy : “Ya,


beginilah setiap hari kalau gak meeting, ya tanda tangan.”


Joya : “Sekarang


sudah selesai?”


Boy : “Udah.


Udah jam pulang juga. Kita tunggu lobby sepi, baru turun ya.”


Joya


mengangguk, dengan sisa perbuatan Boy pada tubuhnya tadi, tentu saja akan


mengundang perhatian banyak orang. Sepertinya Boy ingin menjaga Joya agar tidak


jadi bahan gunjingan staf kantornya.


Boy berjalan


mendekati Joya, duduk di samping istrinya itu. Lengan Boy otomatis merangkul


pundak Joya.


Boy : “Katakan


sesuatu... Aku boleh nanya?”


Joya : “Apa,


mas?”


Boy : “Sejak


kapan kau mencintaiku?”


Joya mencoba


mengingatnya, sejak pertama kali mereka bertemu di depan rumah Ny. Besar, jantung


Joya sempat berdebar saat itu. Tapi ia mengira kalau dirinya hanya kaget saat


Boy : “Kenapa


diam?”


Joya : “Aku


masih coba mengingatnya, mas. Saat kita pertama ketemu?”


Boy : “Kenapa


kamu kayak gak yakin gitu?”


Joya : “Kalo


mas?”


Boy : “Waktu


pertama makan spageti buatanmu.”


Joya : “Cepet


banget jawabnya.”


Boy : “Hei, aku


gak ragu dengan rasa cintaku padamu. Kamu tuch yang ragu.”


Joya memeluk


leher Boy, menempelkan bibirnya ke leher suaminya itu. Bulu kuduk Boy langsung


berdiri merasakan kecupan nakal Joya pada lehernya. Hanya kecupan kecil tapi


bisa membangkitkan benda kecil di bawah sana.


Boy tidak


berani bergerak, ia takut terprovokasi oleh tindakan nakal Joya yang entah


sengaja atau tidak dilakukannya itu. Melihat Boy tidak ada reaksi, Joya


mendongak menatap wajah Boy. Boy menelan salivanya melihat wajah manis Joya

__ADS_1


menatapnya dengan tatapan menggoda.


Boy : “Aku mau


nanya lagi.”


Joya : “Tanya


apa, mas?”


Boy berusaha


mengalihkan perhatian Joya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti apa ciuman


mereka ada ciuman pertama Joya yang dijawab dengan anggukan sambil tangan Joya


bermain di kancing kemeja Boy.


Pertanyaan


lainnya tentang kapan Joya memotong rambutnya setelah penolakan Joya waktu itu


dan Joya menjawab saat mulai diterima kerja, ia memotong rambutnya agar tidak


ribet mengurusnya di pagi hari.


Joya bertanya


pada Boy apa Joya harus memanjangkan rambutnya lagi atau Boy suka penampilannya


sekarang. Boy tidak langsung menjawab, pasalnya tangan Joya sudah masuk ke


balik kemeja Boy dari salah satu kancing yang sudah dibuka Joya.


Halus dan


lembutnya tangan Joya, membuat Boy gagal fokus. Otaknya terasa kosong, saat


tangan Joya menyentuh kulit dada Boy dan otot perutnya yang keras. Joya


bertanya sekali lagi, kali ini bibirnya menempel lagi di leher Boy.


Nafas Boy mulai


ngos-ngosan, ia menjawab lebih suka penampilan Joya sekarang. Terlihat lebih


dewasa dan cantik. Joya tersentak saat Boy mengucapkan kata seksi dengan suara


serak. Ia menegakkan tubuhnya dan melihat dengan jelas kalau Boy jadi bergairah


karena ulahnya.


Boy berjalan


cepat ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan cepat. Suara air dari shower


memancar deras terdengar sangat jelas oleh Joya. Ia mengambil jus alpukat di


atas meja dan meminumnya sedikit.


Perhatian Joya


teralihkan ketika ponsel Boy bersuara diatas meja. Ia menyingkirkan selimut


yang menutupi kakinya, berjalan mendekati meja kerja Boy dan mengambil


ponselnya. Joya membaca ‘Melinda calling’, Joya menimbang untuk mengangkat


telpon itu atau membiarkannya saja.


Terdorong rasa


penasaran, Joya mengangkat telpon itu.


Joya : “Halo?”


Melinda : “Halo,


Boy ada? Kamu siapa? Sekretarisnya? Bilang sama Boy, aku telpon ya. Perlu


bicara penting.”


Tut, tut,


tut...


*****


Bunyi kereta


api tut, tut, tut, siapa yang mau vote lagi...


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2