
Keesokan paginya, Aliya terbangun karena mendengar suara Aldo sedang menelpon seseorang. Awalnya Aliya sempat curiga, tapi alarm di ponselnya menunjukkan hari ini ulang tahun mamanya Aldo.
Aliya beringsut bangun, masuk ke kamar mandi untuk merapikan penampilannya, sebelum mendekati Aldo yang sedang v-call.
Aldo : “Aliya masih tidur, mah. Dia sedang datang bulan.”
Aliya : “Halo, mah.” Aliya muncul di belakang Aldo, membuat Aldo menoleh padanya, ia menarik Aliya agar duduk di depannya.
Mama Aldo : “Pagi, sayang. Bagaimana kabarmu?”
Aliya : “Aliya baik, mah. Selamat ulang tahun ya mah. Semoga selalu sehat, panjang umur, dan bahagia selalu.”
Mama Aldo : “Terima kasih, sayang.”
Aldo : “Mah, bisa gak persiapan pernikahan kami dipercepat?”
Aliya menoleh menatap Aldo yang sudah menatapnya dengan tatapan memohon.
Mama Aldo : “Kalian serius? Tapi kata Aliya mau nunggu baby Arya umur setahun dulu.”
Aldo : “2 bulan lagi, mah. Tolong carikan tanggal yang bagus.”
Mama Aldo : “Aliya beneran mau?”
Aliya : “…”
Mama Aldo terlihat ragu-ragu sekaligus senang mendengar keputusan anaknya, tapi calon menantunya cuma diam saja. Aldo ikutan tegang menunggu jawaban Aliya,
Mama Aldo : “Aliya sayang, pernikahan kalian mau dipercepat?”
Aliya : “Iya, mah. Kalau bisa dalam waktu sebulan saja dan jangan terlalu banyak tamu undangan. Bisa kan mah?”
Aldo : “Makasih, sayang.” Mama Aldo tersipu malu melihat Aldo mencium Aliya di depannya.
Mama Aldo : “Aih, kalian ini. Mama akan bilang sama papamu, dia pasti senang sekali. Nanti mama hubungi lagi untuk tanggal dan ritualnya ya.”
Sambungan v-call terputus, Aldo meletakkan ponselnya diatas meja dan memeluk Aliya.
Aldo : “Maaf ya, Al. Aku mengambil keputusan sepihak, setelah menikah nanti kalau kamu masih nunda punya bayi, aku gak masalah. Bahkan kalau kamar kita terpisah juga, aku juga gak masalah.”
Aliya : “Kamu gak mau punya bayi?”
Aldo : “Aku mau, Al. Dua anak yang manis, satu mirip aku, satunya mirip kamu.”
Aliya : “Buat apa kita menundanya, kau harus berusaha keras untuk membuatnya, sayang.”
Aldo : “Apa kau serius? Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
__ADS_1
Aliya : “Aku rasa Deril akan berusaha lebih keras mencarikan aku asisten kalau aku sudah hamil nanti. Saat ini dia terlalu menikmati bermesraan dengan mb Mila. Selalu aku yang harus mengerjakan pekerjaannya. Untung saja bayarannya lumayan bagus.”
Aldo : “Apa Mila belum hamil?”
Aliya : “Aku rasa belum, mb Mila tidak mengatakan apa-apa.”
Aldo : “Aku akan berusaha keras membuatmu segera hamil, sayang.”
Aliya tersenyum manis, ia memeluk tangan Aldo yang terlihat sangat bahagia.
🌴🌴🌴🌴🌴
Sementara itu terjadi kehebohan di kantor Boy yang menerima kabar kalau Aliya mau dinikahkan dalam waktu sebulan. Tapi ia sedikit bingung dengan permintaan Aliya yang ingin tamu undangannya sedikit, sedangkan relasi mereka lumayan banyak. Boy menelpon papa Aldo untuk menanyakan hal itu,
Papa Aldo : Hai, Boy. Ada apa?”
Boy : “Lex, Aliya ingin menikah dengan sedikit undangan. Bagaimana menurutmu?”
Papa Aldo : “Buat saja undangan terpisah, mulainya menyusun daftarnya.”
Boy : “Relasi kita lumayan banyak, Lex. Kalau mereka tidak diundang, mau ditaruh dimana wajahku ini.”
Papa Aldo : “Kita harus mengalah, Boy. Aliya inginnya seperti itu, daripada kita cemas terus-menerus karena mereka sudah tinggal bersama sebelum menikah.”
Boy : “Kau benar juga. Lalu bagaimana aku mengatur ini?”
Boy : “Kalau para undangan berpikir Aliya sudah hamil, bagaimana?”
Papa Aldo : “Aku rasa Aldo belum menyentuh Aliya, aku yakin Aliya masih perawan. Kau tahu sendiri ritual pernikahan untuk gadis yang masih perawan akan membuat wajahnya tampak berbeda. Lagipula, apa pedulimu? Ini urusan anak-anak kita. Kalau Aliya hamil, aku lebih cepat dapat cucu lagi. Hehe…”
Boy : “Bagaimana dengan Andra? Apa istrinya sudah melahirkan?”
Papa Aldo : “Aku rasa sebentar lagi, sebelum pernikahan Aliya dan Aldo.”
Boy : “Ok, besok malam jadi ketemu kan?”
Papa Aldo : “Iya, aku akan datang agar kita bisa membicarakan persiapan pernikahan mereka.”
Boy memutuskan sambungan telponnya dan bersandar di kursi kerjanya. Ia ingin menghubungi Aliya, tapi takut putrinya akan memundurkan lagi rencana pernikahannya.
🌼🌼🌼🌼🌼
Persiapan pernikahan Aliya dan Aldo hampir mencapai 50% dalam beberapa hari saja. Boy dan papa Aldo membagi undangan menjadi 2 sesi pada saat akad nikah di pagi hari dan resepsi di sore hari. Aliya bahkan masih nego untuk mengurangi jumlah tamu undangan lagi pada hari itu, sehingga Boy terpaksa memindahkan beberapa tamu undangan ke acara siraman.
Alasan Aliya membatasi tamu undangan adalah untuk memperbanyak waktu mereka dengan keluarga terutama
yang belum dikenal Aliya. Sudah hampir 6 tahun ia tinggal di LN dan jarang pulang ke Indonesia. Aliya merasa asing dengan keluarga besar mereka dan ingin menjadikan pernikahannya penuh momen kebahagiaan bersama keluarga.
__ADS_1
Aldo yang mengerti akan hal itu hanya setuju saja, ia sudah mengatakan kalau mereka akan membuat pesta sederhana di LN setelah kembali dari pernikahan mereka. Pesta kebun yang akan dihadiri sahabat dan rekan kerja mereka di LN.
🌺🌺🌺🌺🌺
Hari itu, 2 minggu sebelum acara pernikahan mereka, Aliya dan Aldo kembali ke Indonesia. Mereka harus fitting baju pengantin dan melakukan sesi foto pra-wedding. Tiba di bandara, hari sudah gelap. Aldo membawa Aliya ke apartment mereka.
Ketika mereka membuka pintu apartment, deretan pakaian untuk foto pra-wedding dan beberapa kotak perlengkapan sudah siap disana. Konsep pra-wedding sudah mereka pilih dan kebanyakan akan dilakukan di kamar apartment mereka dan di parkir bawah.
Aliya merebahkan tubuhnya di sofa, ia lelah sekali karena perjalanan yang cukup panjang. Aldo meletakkan koper mereka di dalam kamar.
Aldo : “Al, kamu mau makan? Aku lapar nich.”
Aliya : “Iya, aku mau mandi dulu.”
Aldo : “Aku pesenin yang biasa ya.”
Aliya : “He eh.”
Aliya masuk ke kamar mandi, dan menikmati rendaman air hangat. Aldo ikut masuk ke kamar mandi tak lama kemudian,
Aliya : “Loh, kok cepet? Makanannya uda dateng?”
Aldo : “Waktu aku telpon ke bawah, ada yang datang. Mamamu menitipkan makan malam untuk kita, ada makanan kesukaanmu juga, soto ayam dan perkedel jagung.”
Aliya : “Pas banget pengen makan itu. Trus, mama bawa apa lagi?”
Aldo : “Rendang daging buat aku.. Hehe..”
Aliya : “Aku juga mau… Mama curang ih.”
Aldo : “Iya, kita berbagi. Cepetan mandi, sini aku sabunin.”
Mereka melakukan ritual mandi bareng (tolong yang pikirannya kotor, ini cuma mandi bareng gak ada yang lain ya) dan segera keluar dari kamar mandi.
Setelah menikmati makan malam yang sangat nikmat, Aliya mencuci Tupperware dan piring di dapur, sementara Aldo menyeduh susu hangat untuk mereka.
Kini mereka menikmati minuman hangat sambil duduk di sofa, menikmati kebersamaan mereka yang indah. Disertai beberapa kali kecupan mesra, dan kata-kata rayuan yang romantis.
🍀🍀🍀🍀🍀
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------
__ADS_1