
Deril membopong Mila kembali ke kamar, ia mendudukkan Mila di atas ranjangnya yang sudah bersih dan rapi dan duduk menghadap padanya.
Deril : “Sayang, aku mau cerita tentang sesuatu yang penting. Tentang masa lalu aku. Aku tidak tahu apa setelah ini kamu masih terima aku apa tidak, tapi aku ingin memulai hubungan ini tanpa kebohongan.”
Deril mulai menceritakan tentang Viona dengan sangat tenang, perasaannya sudah terampuni dan bebannya juga sudah terangkat. Deril sudah siap menjalani kehidupan barunya dengan Mila.
Beberapa kali Deril mengusap pipi Mila yang sudah menangis mendengar tragedi yang pernah menimpa hidup Deril. Ia menggenggam tangan Deril dengan erat.
Deril : “Aku tidak akan bisa seperti ini kalau Aliya tidak membantuku, La. Jujur, aku sempat mengira kalau aku jatuh cinta padanya. Tapi perasaan itu hanya sebatas rasa terima kasih yang dalam. Aku berhutang padanya.”
Mila : “Apa kau pernah terkena serangan panik lagi?”
Deril : “Sejak pengampunan itu, aku tidak pernah kumat lagi. Meskipun terkadang teringat dengan Viona, aku sudah baik-baik sekarang. Jadi, setelah dengar ceritaku, apa kau masih mau menerimaku?”
Mila : “Apa kau benar-benar mencintaiku?”
Deril : “Aku sangat mencintaimu, saat ini dan selamanya aku hanya ingin menghabiskan hidupku bersamamu dan anak-anak kita.”
Mila : “Apapun masa lalumu, aku terima kamu apa adanya. Apa kau gak bertanya tentang masa laluku?”
Deril : “Memangnya ada yang lain selain Mike?”
Mila : “Gak ada, aku trauma waktu sama Mike. Sampai kau menghilangkan traumaku tadi.”
Deril : “Aku uda bisa bilang sama orang tuaku untuk mempersiapkan pernikahan kita?”
Mila hanya mengangguk, Deril menarik selimut menutupi tubuh Mila dan mengambil ponselnya. Ia berbaring di atas ranjangnya di samping Mila.
Deril : “Halo, pah. Deril bisa menikah minggu depan kan?”
Papa Deril : “…”
Deril : “Ok, pah. Sampai jumpa.”
Deril meletakkan HP-nya di atas nakas, ia memeluk Mila yang masih terpejam,
Deril : “Sayang, buka bajumu…”
Mila : “Ja… jangan lagi…”
Deril menarik selimut menutup kepala mereka, di dalam pergulatan satu persatu pakaian mereka mulai terlempar ke sisi ranjang.
🌺🌺🌺🌺🌺
Aliya melotot melihat isi chat dari Mila yang terkirim sejak jam 7 malam, ia menekan nomor Mila dan mendengar suara Mila yang serak,
Mila : “Halo?”
Aliya : “Mb dimana?”
__ADS_1
Mila : “Aliya? Mb di…”
Mila terdiam melihat Deril tertidur di sampingnya. Sejak menerima lamaran Deril, Deril tidak pernah membiarkan Mila sendirian. Kalau gak Deril yang menginap di apartment Mila, Mila harus menginap di apartment Deril.
Aliya : “Mb lagi sama Deril? Mb beneran mau nikah?”
Mila : “Iy… iya, Al. Kamu datang kan? Apa kamu masih di Indonesia?”
🌿🌿🌿🌿🌿
Pernikahan Mila dan Deril di sepakati akan diadakan di LN dengan konsep seperti pesta
kebun. Mereka tidak mengikuti adat istiadat dari pihak Mila karena mama Mila tidak ingin berlama-lama.
Saat Boy memberi tahu kabar gembira itu, mb Putri langsung menangis histeris. Bukan
karena sedih, tapi karena sangat gembira, dia takut Mila akan jadi perawan tua karena belum juga punya pacar. Saking bahagianya, dia langsung memesan tiket ke LN untuk keluarganya tepat dua hari sebelum hari yang sudah ditentukan.
Mila sampai harus menjauhkan ponselnya ketika mamanya menelpon marah-marah karena Mila tidak menceritakan tentang Deril.
🌻🌻🌻🌻🌻
Aliya : “Aku sudah kembali ke LN, mb. Kenapa mendadak, mb? Apa kalian…?”
Mila : “Ih, Aliya kepo dech. Al, makasih ya sudah mengundang Deril waktu kamu
tunangan. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan ketemu jodohku.”
Wajah Mila memerah, terlebih saat itu Deril sudah terbangun karena mendengar suara
Mila, menyusupkan tangannya ke dalam piyama tidur Mila,
Deril : “Telpon dari siapa?”
Mila : “Aliya… Al, aku tutup dulu ya. Deril sudah bangun. Besok aku telpon ya, aku mau fitting baju pengantin sama kamu."
Aliya : "Iya, mb. Cepat buatkan aku ponakan ya. Bye."
Aliya menutup ponselnya, ia kembali berbaring di bawah selimutnya di apartment Aldo. Pria itu masih bekerja bahkan sampai jam 10 malam.
Aldo : Kau bicara dengan siapa, Al?" kata Aldo dari seberang tirai yang memisahkan kamar mereka.
Aliya : "Mb Mila akan menikah dengan Deril."
Duk! Suara langkah kaki dengan cepat mendekat dan tirai tersibak. Aldo muncul dari balik tirai itu tapi ia berbalik dengan cepat karena Aliya belum memakai jubah tidurnya.
Aldo : "Al, pakai jubahmu... Aku beneran bisa khilaf sekarang."
Aliya : "Iya udah."
__ADS_1
Aldo mendekati ranjang Aliya dan duduk di dekatnya.
Aldo : "Kau bilang Mila akan menikah dengan Deril? Wow, cepat juga reaksinya.
Aliya : "Sepertinya mereka jatuh cinta dan memutuskan menikah secepatnya."
Aldo : "Memangnya kapan waktunya?"
Aliya : "Tiga hari lagi. Keluargaku akan datang sehari sebelumnya. Besok aku akan menemani mb Mila fitting baju."
Aldo : "Mereka saja bisa menikah setelah beberapa hari kenalan, trus kita kapan?"
Aliya : "Aku sudah memikirkannya, setidaknya tunggu anak Alvin berumur setahun. Aku ingin dia yang membawa cincin pernikahan kita."
Aldo : "Apa tidak bisa lebih cepat lagi?"
Aliya : "Sekarang saja kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu dan mengabaikan aku. Bagaimana kalau kita menikah nanti? Lagipula aku akan sibuk beberapa waktu ke depan. Papa Deril ingin bertemu denganku untuk review ulang kerja sama kami."
Aldo : "Baiklah, aku tidak akan negosiasi lagi. Akh, aku lelah sekali. Peluk aku, sayang."
Aldo membaringkan tubuhnya di samping Aliya dan memeluk tubuhnya. Ia menatap mata Aliya yang sudah menatapnya juga.
Aldo : "Apa aku kurang perhatian padamu? Apa kau kecewa padaku?"
Aliya : "Kenapa kau berpikir begitu?"
Aldo : "Karena aku bisa merasakan kau kesepian saat ini, Al. Kita memang selalu bersama, tapi sepertinya kau punya duniamu sendiri."
Aliya : "Aku hanya memikirkan kehidupan setelah pernikahan akan jadi seperti apa. Punya anak, membesarkan mereka, lalu apa?"
Aldo : "Bagaimana kau akan punya anak kalau kita belum pernah melakukannya?"
Aliya : "Tentu saja setelah menikah, kita bisa melakukannya. Atau kau ingin mencobanya dulu?"
Aldo : "Jangan menggodaku, Al. Kau tidak akan tahu apa yang bisa kulakukan. Dan saat aku memulainya, aku tidak akan berhenti."
Aliya : "Maaf, sayang... Apa kau mau tidur sekarang?"
Aldo menguap lebar, ia mengangguk dan tangannya bergerak mematikan lampu kamar. Aliya menggeser tubuhnya agar Aldo lebih nyaman.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat
ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan
__ADS_1
Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------