Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Melayani suami


__ADS_3

Rian mencium


kening Niken setelah melewati momen panas di kamar mereka. Niken menutup


wajahnya dengan selimut, ia sangat malu dengan tindakannya yang sangat berani


menggoda suaminya tadi.


Niken : “Rian,


ambilin bathrobe dong.”


Rian : “Biarin


aja gini. Kan ada selimut.”


Rian tersenyum


melihat Niken menyembunyikan wajahnya.


Rian : “Niken,


jawab jujur.”


Niken : “Apa?”


Rian : “Sini,


buka selimutnya dulu. Aku mau nanya, siapa yang ngajarin kamu kayak tadi?”


Niken : “Itu...”


Rian : “Hayo,


siapa?” Rian sudah tahu kalau Joya yang mengajari Niken, tapi ia ingin


pengakuan dari Niken sendiri.


Niken : “Joya


yang ngasi tahu caranya.”


Rian : “Nyonya


Joya? Dia yang ngajarin kayak tadi?”


Niken : “Dengan


sedikit improvisasi...”


Rian mengusap


rambut Niken yang berantakan, ia mencium tubuh Niken yang wangi mangir dan


meraba kulit mulusnya.


Rian : “Hmm...


Harum banget. Aku suka banget kalau kamu kayak tadi. Mau merawat tubuhmu dan


melayaniku.”


Niken : “Aku...


Kamu jangan ngomong gitu.”


Rian : “Kenapa?


Kamu gak mau?”


Niken : “Aku


mau kok melayani kamu, tapi kasi aku mandi dulu sama ganti baju.”


Rian : “Kenapa


gitu?”


Niken : “Iya,


kan badanku bau, datang dari kantor, habis masak. Keringetan.”


Rian : “Oh,


gitu. Kirain karena kamu capek.”


Niken :


“Rian...”


Rian : “Hmm?”


Niken : “Kamu


panggil lagi dech orang yang biasa bersihin rumah sama nyuci baju. Biar dia aja


yang ngurus itu. Jadi aku cuma masak sama...”


Rian : “Kenapa


berhenti? Lanjutin masak sama apa?”


Niken mencubit


perut Rian, menggelitiki tubuh suaminya itu. Rian yang mulai kewalahan,


menjepit tubuh Niken dengan kaki dan menahan tangannya. Niken tertawa senang


melihat wajah Rian yang memerah menahan geli.


Rian : “Aku


seneng banget liat kamu gini. Lebih santai. Gak serius terus-terusan.”


Niken : “Iya,


aku juga suka. Ternyata lebih menyenangkan bisa luluran, berendam air hangat,


dan bercinta... ups.”


Rian : “Apa?”


Rian menatap


Niken yang tersenyum malu-malu, mereka menghabiskan malam itu dengan mengobrol


tentang apa yang mereka rasakan dan inginkan satu sama lain. Dan tentu saja


menutup malam dengan sedikit permainan panas lagi.


*****


Sementara itu


di rumah Ny. Besar, tepatnya di kamar Joya dan Boy. Joya baru selesai mandi


ketika ia ingin memakai pakaiannya dan lupa membawanya masuk ke dalam kamar


mandi.


Dengan tubuh


berbalut handuk mini, Joya keluar dari kamar mandi. Ia tertegun melihat Boy


duduk di samping pakaian gantinya.


Joya : “Mas,


mau mandi?”


Boy : “Iya,


tapi nanti. Cepat bilang, tadi Niken bilang apa?”


Joya : “Itu,


masalah rumah tangga aja, mas.”


Boy : “Ceritakan


detail, semakin detail, semakin cepat kamu boleh pakai baju.”


Joya : “Apa?


Tapi?”


Boy : “Ya,


udah. Kamu gak boleh pake baju.”

__ADS_1


Joya : “Yah...,


mas jangan gitu dong. Iya, aku ceritain.”


Joya duduk di


samping Boy, ia mulai bercerita tentang apa yang ia bicarakan dengan Niken tadi


siang. Baru cerita sampai Niken menceritakan tentang masalah rumah tangganya,


Boy mengulurkan pakaian dalam Joya.


Boy : “Cepat


pakai.”


Boy menatap


intens tubuh Joya, membolak-balik tubuh istrinya,


Joya : “Mas


ngapain sich? Aku pusing nich.”


Boy :


“Memastikan ada lecet gak?”


Joya :


“Memangnya aku anak kecil bisa gampang jatuh dan terluka?”


Boy : “Kau


istriku dan kau tadi keluar makan siang dengan orang lain. Aku cuma cek aja.”


Joya : “Bilang


aja mau pegang-pegang. Mas modus ich.”


Joya


menggelengkan kepalanya, ia sudah selesai memakai pakaian dalamnya, ketika Joya


ingin menutup tubuhnya dengan handuk lagi, Boy melemparkan handuk itu ke


pinggir lemari.


Joya : “Mas!


Balikin handukku.”


Boy : “Biarin


gitu. Cepetan ceritanya masih gantung tuch.”


Joya :


“Sendirinya yang interupsi tadi, masih sewot sendiri.” Joya ngedumel dalam


hatinya.


Boy : “Aku


memang ganteng, Joya. Jangan diliatin aja. Boleh kok dicium.”


Joya : “Iya,


aku lanjutin ceritanya.”


Joya


melanjutkan bercerita sampai Niken mengantarnya kembali ke kantor. Boy


menyerahkan sisa pakaian Joya dan membiarkan istrinya itu berpakaian.


Boy : “Bagus


juga kalau kamu sering ngobrol sama mbak Putri. Jadi lebih pinter.”


Joya :


“Emangnya aku kurang pinter, mas?”


Boy : “Masih


Joya melihat


lirikan mata Boy ke atas ranjang mereka, dengan cepat Joya mencubit perut Boy.


Boy : “Aduch!


Sakit nich.”


Joya : “Mas


mesum.”


Joya bangkit


dari duduknya, Boy menahan tangan Joya,


Boy : “Kamu mau


kemana?”


Joya : “Mau


turun, mas. Laper. Katanya tadi mau mandi dulu.”


Boy : “Aku


makan dulu dech.”


Seperti


teringat sesuatu, Joya menahan Boy,


Joya : “Eh, mas


mandi dulu dech. Aku tunggu.”


Boy : “Kenapa


tiba-tiba berubah pikiran?”


Joya : “Hehe...


nanti ibu liat mas belum mandi waktu makan malam, kan gak boleh makan sebelum


mandi.”


Boy : “Kalo


gitu, mandiin dong biar cepet.”


Joya tidak bisa


mengelak lagi saat Boy menarik tangannya masuk ke dalam kamar mandi.


*****


Usai makan


malam, Joya masuk ke kamar Ny. Besar karena semua menantu dan anak perempuan


Ny. Besar dipanggil menghadap Ny. Besar. Joya masuk terakhir dan melihat kursi


kosong di samping Ny. Besar.


Ny. Besar :


“Joya sini.”


Setelah Joya


duduk, Ny. Lastri mengambil setumpuk kotak perhiasan dari dalam lemari Ny.


Besar dan meletakkannya berderetan di atas tempat tidur Ny. Besar. Joya hanya


diam menunggu kenapa dia dipanggil kesana.


Ny. Besar :


“Seperti yang kalian tahu, setiap sebulan sekali ibu akan berikan 6 barang


untuk kalian, masing-masing 1 barang dengan jenis dan harga yang sama. Joya mungkin


baru tahu tentang kebiasaan ibu ini.”

__ADS_1


Joya


manggut-manggut masih nyimak.


Ny. Besar :


“Nah, sekarang giliran siapa?”


Ny. Lastri :


“Harusnya Lastri, bu. Tapi karena sudah ada Joya, gimana kalau kita kasi Joya


yang milih duluan?”


Joya : “Saya?


Saya belakangan saja.”


Ny. Putri :


“Joya saja giliran pertamanya. Cepat pilih.”


Joya :


“Tapi...”


Ny. Besar :


“Joya, ayo pilih mau yang mana.”


Joya : “Baik,


bu.”


Joya berdiri


dan mendekati tempat tidur, ia memilih perhiasan yang paling sederhana dengan


batu mutiara dan kembali duduk di tempat semula. Ny. Besar tersenyum melihat


pilihan Joya, Ny. Lastri juga ikut bangun dan memilih, demikian seterusnya


sesuai dengan urutan dari tua ke muda.


Ny. Besar :


“Sudah semua? Ada yang belum puas dengan pilihannya? Mau ditukar?”


Ny. Lastri :


“Joya, kamu gak mau tukar? Perhiasan itu terlalu sederhana.”


Joya : “Nggak


usah, mb. Ini sudah cukup. Atau mb mau tukar?”


Ny. Lastri :


“Gak, Joya.”


Ny. Besar :


“Kalau sudah gak ada yang tukar-tukaran, kalian boleh istirahat. Joya, ambilin


ibu air minum ya.”


Joya : “Baik,


bu.”


Satu persatu


anak dan menantu Ny. Besar memeluk dan mencium tangan Ny. Besar sambil


mengucapkan terima kasih dan berjalan keluar kamar. Joya meletakkan kotak


perhiasan yang tadi dipegangnya diatas nakas tempat tidur Ny. Besar dan pergi


ke dapur untuk mengambil teko air minum.


Joya meletakkan


teko air di atas nakas dan memberikan segelas air untuk Ny. Besar.


Joya : “Bu,


perhiasan ini biar disini saja ya.”


Ny. Besar : “Anak


nakal. Ibu sudah kasi, kamu bawa ke kamarmu. Simpan disana, kan ada brankas.”


Joya : “Iya,


dech bu.”


Joya berlutut


di samping Ny. Besar dan menaruh kepalanya di pangkuan Ny. Besar.


Ny. Besar : “Kenapa


masih disini? Kamu gak nemenin Boy?”


Joya : “Mau


disini dulu, bu. Kalau ke kamar sekarang, mas Boy gak bisa diem.”


Ny. Besar : “Memangnya


kamu diapain?”


Joya : “Itu...Mas


Boy...”


Baru saja Joya


ingin mengatakan apa yang dilakukan Boy, suaminya itu sudah muncul dari balik


pintu kamar Ny. Besar dan menyuruhnya tidur.


Boy : “Joya,


ayo tidur.”


Joya : “Tuch


kan, bu.”


Boy : “Apa


sich?”


Ny. Besar : “Boy,


pelan-pelan ya... Kasian Joya kecapean. Sehari sekali gitu loh.”


Joya bengong


menatap Ny. Besar yang ngomong nyeplos tanpa ekspresi. Kenapa ibu mertuanya


bisa tahu apa yang dikeluhkan Joya? Dan kenapa juga ibu ngomong begitu?


Boy : “Tuch,


ibu aja nyuruh sehari sekali. Ayo, kita ke kamar.”


Joya pasrah


ditarik Boy menuju kamar mereka, meninggalkan Ny. Besar dan kotak perhiasan


miliknya tergeletak diatas nakas.


Ny. Besar : “Gini


dah susahnya punya menantu gak suka pakai perhiasan.”


Ny. Besar


memasukkan kotak itu ke rak di bawah nakas dan beranjak tidur.


*****


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2