
Rian mencium
kening Niken setelah melewati momen panas di kamar mereka. Niken menutup
wajahnya dengan selimut, ia sangat malu dengan tindakannya yang sangat berani
menggoda suaminya tadi.
Niken : “Rian,
ambilin bathrobe dong.”
Rian : “Biarin
aja gini. Kan ada selimut.”
Rian tersenyum
melihat Niken menyembunyikan wajahnya.
Rian : “Niken,
jawab jujur.”
Niken : “Apa?”
Rian : “Sini,
buka selimutnya dulu. Aku mau nanya, siapa yang ngajarin kamu kayak tadi?”
Niken : “Itu...”
Rian : “Hayo,
siapa?” Rian sudah tahu kalau Joya yang mengajari Niken, tapi ia ingin
pengakuan dari Niken sendiri.
Niken : “Joya
yang ngasi tahu caranya.”
Rian : “Nyonya
Joya? Dia yang ngajarin kayak tadi?”
Niken : “Dengan
sedikit improvisasi...”
Rian mengusap
rambut Niken yang berantakan, ia mencium tubuh Niken yang wangi mangir dan
meraba kulit mulusnya.
Rian : “Hmm...
Harum banget. Aku suka banget kalau kamu kayak tadi. Mau merawat tubuhmu dan
melayaniku.”
Niken : “Aku...
Kamu jangan ngomong gitu.”
Rian : “Kenapa?
Kamu gak mau?”
Niken : “Aku
mau kok melayani kamu, tapi kasi aku mandi dulu sama ganti baju.”
Rian : “Kenapa
gitu?”
Niken : “Iya,
kan badanku bau, datang dari kantor, habis masak. Keringetan.”
Rian : “Oh,
gitu. Kirain karena kamu capek.”
Niken :
“Rian...”
Rian : “Hmm?”
Niken : “Kamu
panggil lagi dech orang yang biasa bersihin rumah sama nyuci baju. Biar dia aja
yang ngurus itu. Jadi aku cuma masak sama...”
Rian : “Kenapa
berhenti? Lanjutin masak sama apa?”
Niken mencubit
perut Rian, menggelitiki tubuh suaminya itu. Rian yang mulai kewalahan,
menjepit tubuh Niken dengan kaki dan menahan tangannya. Niken tertawa senang
melihat wajah Rian yang memerah menahan geli.
Rian : “Aku
seneng banget liat kamu gini. Lebih santai. Gak serius terus-terusan.”
Niken : “Iya,
aku juga suka. Ternyata lebih menyenangkan bisa luluran, berendam air hangat,
dan bercinta... ups.”
Rian : “Apa?”
Rian menatap
Niken yang tersenyum malu-malu, mereka menghabiskan malam itu dengan mengobrol
tentang apa yang mereka rasakan dan inginkan satu sama lain. Dan tentu saja
menutup malam dengan sedikit permainan panas lagi.
*****
Sementara itu
di rumah Ny. Besar, tepatnya di kamar Joya dan Boy. Joya baru selesai mandi
ketika ia ingin memakai pakaiannya dan lupa membawanya masuk ke dalam kamar
mandi.
Dengan tubuh
berbalut handuk mini, Joya keluar dari kamar mandi. Ia tertegun melihat Boy
duduk di samping pakaian gantinya.
Joya : “Mas,
mau mandi?”
Boy : “Iya,
tapi nanti. Cepat bilang, tadi Niken bilang apa?”
Joya : “Itu,
masalah rumah tangga aja, mas.”
Boy : “Ceritakan
detail, semakin detail, semakin cepat kamu boleh pakai baju.”
Joya : “Apa?
Tapi?”
Boy : “Ya,
udah. Kamu gak boleh pake baju.”
__ADS_1
Joya : “Yah...,
mas jangan gitu dong. Iya, aku ceritain.”
Joya duduk di
samping Boy, ia mulai bercerita tentang apa yang ia bicarakan dengan Niken tadi
siang. Baru cerita sampai Niken menceritakan tentang masalah rumah tangganya,
Boy mengulurkan pakaian dalam Joya.
Boy : “Cepat
pakai.”
Boy menatap
intens tubuh Joya, membolak-balik tubuh istrinya,
Joya : “Mas
ngapain sich? Aku pusing nich.”
Boy :
“Memastikan ada lecet gak?”
Joya :
“Memangnya aku anak kecil bisa gampang jatuh dan terluka?”
Boy : “Kau
istriku dan kau tadi keluar makan siang dengan orang lain. Aku cuma cek aja.”
Joya : “Bilang
aja mau pegang-pegang. Mas modus ich.”
Joya
menggelengkan kepalanya, ia sudah selesai memakai pakaian dalamnya, ketika Joya
ingin menutup tubuhnya dengan handuk lagi, Boy melemparkan handuk itu ke
pinggir lemari.
Joya : “Mas!
Balikin handukku.”
Boy : “Biarin
gitu. Cepetan ceritanya masih gantung tuch.”
Joya :
“Sendirinya yang interupsi tadi, masih sewot sendiri.” Joya ngedumel dalam
hatinya.
Boy : “Aku
memang ganteng, Joya. Jangan diliatin aja. Boleh kok dicium.”
Joya : “Iya,
aku lanjutin ceritanya.”
Joya
melanjutkan bercerita sampai Niken mengantarnya kembali ke kantor. Boy
menyerahkan sisa pakaian Joya dan membiarkan istrinya itu berpakaian.
Boy : “Bagus
juga kalau kamu sering ngobrol sama mbak Putri. Jadi lebih pinter.”
Joya :
“Emangnya aku kurang pinter, mas?”
Boy : “Masih
Joya melihat
lirikan mata Boy ke atas ranjang mereka, dengan cepat Joya mencubit perut Boy.
Boy : “Aduch!
Sakit nich.”
Joya : “Mas
mesum.”
Joya bangkit
dari duduknya, Boy menahan tangan Joya,
Boy : “Kamu mau
kemana?”
Joya : “Mau
turun, mas. Laper. Katanya tadi mau mandi dulu.”
Boy : “Aku
makan dulu dech.”
Seperti
teringat sesuatu, Joya menahan Boy,
Joya : “Eh, mas
mandi dulu dech. Aku tunggu.”
Boy : “Kenapa
tiba-tiba berubah pikiran?”
Joya : “Hehe...
nanti ibu liat mas belum mandi waktu makan malam, kan gak boleh makan sebelum
mandi.”
Boy : “Kalo
gitu, mandiin dong biar cepet.”
Joya tidak bisa
mengelak lagi saat Boy menarik tangannya masuk ke dalam kamar mandi.
*****
Usai makan
malam, Joya masuk ke kamar Ny. Besar karena semua menantu dan anak perempuan
Ny. Besar dipanggil menghadap Ny. Besar. Joya masuk terakhir dan melihat kursi
kosong di samping Ny. Besar.
Ny. Besar :
“Joya sini.”
Setelah Joya
duduk, Ny. Lastri mengambil setumpuk kotak perhiasan dari dalam lemari Ny.
Besar dan meletakkannya berderetan di atas tempat tidur Ny. Besar. Joya hanya
diam menunggu kenapa dia dipanggil kesana.
Ny. Besar :
“Seperti yang kalian tahu, setiap sebulan sekali ibu akan berikan 6 barang
untuk kalian, masing-masing 1 barang dengan jenis dan harga yang sama. Joya mungkin
baru tahu tentang kebiasaan ibu ini.”
__ADS_1
Joya
manggut-manggut masih nyimak.
Ny. Besar :
“Nah, sekarang giliran siapa?”
Ny. Lastri :
“Harusnya Lastri, bu. Tapi karena sudah ada Joya, gimana kalau kita kasi Joya
yang milih duluan?”
Joya : “Saya?
Saya belakangan saja.”
Ny. Putri :
“Joya saja giliran pertamanya. Cepat pilih.”
Joya :
“Tapi...”
Ny. Besar :
“Joya, ayo pilih mau yang mana.”
Joya : “Baik,
bu.”
Joya berdiri
dan mendekati tempat tidur, ia memilih perhiasan yang paling sederhana dengan
batu mutiara dan kembali duduk di tempat semula. Ny. Besar tersenyum melihat
pilihan Joya, Ny. Lastri juga ikut bangun dan memilih, demikian seterusnya
sesuai dengan urutan dari tua ke muda.
Ny. Besar :
“Sudah semua? Ada yang belum puas dengan pilihannya? Mau ditukar?”
Ny. Lastri :
“Joya, kamu gak mau tukar? Perhiasan itu terlalu sederhana.”
Joya : “Nggak
usah, mb. Ini sudah cukup. Atau mb mau tukar?”
Ny. Lastri :
“Gak, Joya.”
Ny. Besar :
“Kalau sudah gak ada yang tukar-tukaran, kalian boleh istirahat. Joya, ambilin
ibu air minum ya.”
Joya : “Baik,
bu.”
Satu persatu
anak dan menantu Ny. Besar memeluk dan mencium tangan Ny. Besar sambil
mengucapkan terima kasih dan berjalan keluar kamar. Joya meletakkan kotak
perhiasan yang tadi dipegangnya diatas nakas tempat tidur Ny. Besar dan pergi
ke dapur untuk mengambil teko air minum.
Joya meletakkan
teko air di atas nakas dan memberikan segelas air untuk Ny. Besar.
Joya : “Bu,
perhiasan ini biar disini saja ya.”
Ny. Besar : “Anak
nakal. Ibu sudah kasi, kamu bawa ke kamarmu. Simpan disana, kan ada brankas.”
Joya : “Iya,
dech bu.”
Joya berlutut
di samping Ny. Besar dan menaruh kepalanya di pangkuan Ny. Besar.
Ny. Besar : “Kenapa
masih disini? Kamu gak nemenin Boy?”
Joya : “Mau
disini dulu, bu. Kalau ke kamar sekarang, mas Boy gak bisa diem.”
Ny. Besar : “Memangnya
kamu diapain?”
Joya : “Itu...Mas
Boy...”
Baru saja Joya
ingin mengatakan apa yang dilakukan Boy, suaminya itu sudah muncul dari balik
pintu kamar Ny. Besar dan menyuruhnya tidur.
Boy : “Joya,
ayo tidur.”
Joya : “Tuch
kan, bu.”
Boy : “Apa
sich?”
Ny. Besar : “Boy,
pelan-pelan ya... Kasian Joya kecapean. Sehari sekali gitu loh.”
Joya bengong
menatap Ny. Besar yang ngomong nyeplos tanpa ekspresi. Kenapa ibu mertuanya
bisa tahu apa yang dikeluhkan Joya? Dan kenapa juga ibu ngomong begitu?
Boy : “Tuch,
ibu aja nyuruh sehari sekali. Ayo, kita ke kamar.”
Joya pasrah
ditarik Boy menuju kamar mereka, meninggalkan Ny. Besar dan kotak perhiasan
miliknya tergeletak diatas nakas.
Ny. Besar : “Gini
dah susahnya punya menantu gak suka pakai perhiasan.”
Ny. Besar
memasukkan kotak itu ke rak di bawah nakas dan beranjak tidur.
*****
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.
__ADS_1