
Eps. 20 – Hukuman Boy
Mereka berhenti di depan sebuah toko kue. Joya sering membeli kue di toko itu untuk Ny.Besar. Joya
masuk ke dalam toko dan keluar tak lama kemudian sambil membawa dua kotak kue.
Joya : “Ayo, jalan lagi, pak.”
Mereka kembali ke jalan utama dan langsung menuju jalan XX.
Boy : “Rumahnya yang mana, mbak?”
Joya : “Masih lurus lagi. Depan belok kanan ya. Rumah yang pagernya coklat.”
Boy sengaja menjalankan motornya terus lurus bahkan tidak berbelok ke kanan.
Joya : “Pak, itu jalannya belok kanan. Berhenti. Balik, pak.”
Tapi Boy tidak mendengarkan Joya. Motor hampir sampai di taman di belakang rumah Ny. Besar.
Joya : “Pak, saya mau dibawa kemana? Berhenti disini atau saya loncat!”
Boy : “Sayang, kamu bisa diem gak?”
Joya : “Maass!!”
Joya sangat terkejut melihat Boy yang membawa motor itu. Ia celingukan dan melihat ke belakang,
mobil Boy masih mengikuti mereka. Dan Joya baru sadar sekarang. Joya kembali
cemberut, ia masih kesal pada Boy dan memilih diam saja.
Motor berhenti di taman. Ojol yang tadi dipesan Joya, turun dari mobil dan menghampiri mereka.
Boy : “Makasih, pak.”
Boy mengembalikan semua atribut yang ia pinjam dan memberikan sejumlah uang yang
cukup besar pada ojol itu.
Joya : “Makasih, ya pak. Maaf suami saya merepotkan.”
Ojol : “Saya yang makasih, mbak, pak. Saya permisi.”
Mereka menunggu sampai ojol itu pergi, Boy mengambil barang bawaan Joya dan memberikannya pada
sopir. Ia menyuruh sopir itu pulang duluan.
Joya berjalan menyusuri jalan di pinggir taman, Boy mengikutinya sambil sesekali bersiul
menggoda Joya.
Boy : “Mbak, uangnya jatuh.”kata Boy pada Joya.
Joya celingukan mencari dibawah kakinya, dan ia baru ingat kalau dompetnya terbawa sopir tadi. Ia
hanya memegang ponselnya saja. Tanpa menoleh, Joya kembali berjalan sambil
melihat-lihat tanaman di taman itu. Boy tersenyum lebar, sambil terus mengikuti Joya.
Boy : “Mbak, sendirian aja, suaminya mana?”
Joya : “Gak tau!”jawab Joya galak.
Boy : “Kok gak tau? Ntar suaminya ilang gimana?”
Joya : “Gak tau!”jawab Joya lagi.
__ADS_1
Sepi. Joya merasa dirinya hanya melangkah sendirian. Ia berbalik dan tidak melihat Boy
dibelakangnya. Joya merasa sangat kecewa karena Boy meninggalkannya. Ia
berusaha mencari Boy dengan melangkah kembali ke tempat semula tapi Boy tetap
tidak terlihat. Joya mulai menangis lagi.
Joya : “Mas Boy, maaf.”
Boy kasihan melihat Joya terlihat seperti anak anjing yang ditinggalkan pemiliknya,
menangis sendirian di pinggir jalan. Ia melihat sekuntum bunga mawar di pinggir
jalan dan memetiknya. Kemudian berjalan cepat dan berdiri di belakang Joya.
Boy : “Mbak, suaminya udah ketemu nich.”
Joya berbalik dan melihat Boy menyodorkan bunga mawar kepadanya.
Boy : “Aku minta maaf ya, sayang. Aku memang kelewatan egois sama kamu.”
Joya masih diam menatap Boy. Boy mendekat, memasang mawar di telinga Joya dan mencium punggung
tangannya.
Boy : “Senyum dong, sayang. Liat kamu nangis gini, hatiku hancur. Jangan pergi kayak tadi ya.
Bilang kamu mau kemana.”
Joya : “Mas lagi sibuk.”
Boy tertegun mendengar jawaban Joya. Ia hampir lupa kalau istrinya itu masih muda dan perlu
banyak perhatian. Boy menarik tangan Joya dan memeluk istri kecilnya itu.
Boy : “Kita pulang yuk.”
Joya : “Mas kuat jalan?”
Boy : “Ya, jalan dikit kan?”
Nyatanya mereka harus berjalan hampir satu kilometer untuk kembali ke rumah Ny.Besar. Padahal
kalau di belakang rumah Ny.Besar ada pintu, mereka bisa lewat sana. Boy
ngos-ngosan ketika mereka sampai di depan gerbang rumah Ny.Besar.
Joya : “Tuch, kan. Mas gak kuat jalan.”
Boy : “Aku kurang olahraga kayaknya.”
Joya : “Kurang darimananya? Tadi aja masih sempat olahraga.”
Joya tersenyum penuh arti setelah mengatakan hal itu. Boy ikutan senyum-senyum dibuatnya.
Mereka lanjut berjalan sampai ke dalam rumah.
Boy : “Haduh...”
Boy duduk di sofa ruang tengah. Pelayan datang membawakan minuman dingin untuk Joya dan Boy.
Joya duduk di dekat kaki Boy. Ia sudah membawa minyak untuk memijat kaki Boy
agar tidak sakit. Ny.Besar yang keluar dari kamarnya, melihat keduanya saling
pandang di ruang tengah.
__ADS_1
Ny. Besar : “Ehem. Boy, ketemu dimana sama Joya?”
Boy : “Di tempat laundry, bu.”
Ny. Besar : “Kalian mandi dulu sana. Bentar lagi makan malam.”
Joya : “Iya, bu.”
Joya membantu Boy bangun dan menuntun suaminya itu naik ke lantai 2. Boy meringis merasakan
sakit pada kakinya. Ny. Besar tersenyum, ia tidak perlu menghukum Boy karena
membuat Joya menangis.
*****
Sekembalinya Rian dan Niken dari luar kota, Boy bersiap-siap menangkap basah Pak Joni. Bukti
yang mereka miliki sudah cukup untuk melaporkan Pak Joni dan komplotannya ke
polisi. Disinilah Boy dan Rian menghadapi Pak Joni dan asistennya.
Mereka hanya meeting biasa sampai akhirnya Boy meminta penjelasan atas proyek milik Azriel.
Tampak foto-foto Pak Joni sedang bicara dengan salah satu pesaing mereka. Pak
Joni menjual proyek Azriel kepada pesaing perusahaan Boy.
Bahkan bukan hanya proyek Azriel tapi juga proyek lainnya yang bisa didapatkan Nando di saat
terakhir. Nando sedang menunggu di ruangan Boy bersama sekretaris Carol dan
mengawasi pertemuan di ruang meeting lewat CCTV.
Mendengar suaminya akan menangkap Pak Joni, Joya sengaja datang untuk membantu. Ia tidak
memberi tahu Boy tentang kedatangannya karena tadi Joya masih sibuk memasak
makan siang. Joya masuk ke lobby kantor Boy. Ia melihat beberapa orang
berkerumun di dekat lift.
Beberapa orang yang mengenal Joya, menyapanya dengan ramah. Joya sedikit curiga pada kerumunan
orang-orang itu, ia masuk ke dalam lift yang terbuka dan sebagian dari mereka
ikut masuk juga.
Diam-diam Joya mengirim pesan pada Niken yang langsung menghubungi Nando. Sekretaris Carol
yang melihat CCTV, langsung mencari CCTV lift tempat Joya berada. Ia melakukan
sesuatu pada lift itu hingga lift berhenti dan pintunya langsung terbuka di
lantai 3.
Joya membaca pesan dari sekretaris Carol agar keluar dari lift paling terakhir. Satu persatu
mereka keluar dari dalam lift karena tombol yang macet. Joya berpura-pura
menjatuhkan tas belanja yang dibawanya dan berjongkok untuk mengambilnya.
*****
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.
__ADS_1