Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Tidak mau kehilangan


__ADS_3

Alvin membantu menyelesaikan tugas Rara sementara Rara belajar karena ujian akhir semester akan segera diadakan. Alvin bahkan membantu Rara belajar dengan memberi tahu perkiraan soal yang akan ditanyakan pada ujian.


Selama ujian berlangsung, Alvin tetap menemani Rara, memberinya semangat. Tanpa Alvin sadari, ia mulai menyukai Rara dan tidak ingin jauh darinya.


Setelah ujian berakhir, Rara keluar dari ruang ujian tampak kelelahan. Alvin yang sengaja menunggunya di depan ruang ujian, menahan tubuh Rara yang hampir jatuh. Rara memejamkan matanya, memijat kepalanya yang sakit, semalam ia baru tidur jam 3 pagi. Aroma parfum dari tubuh Alvin membuat Rara sadar kalau ia sedang ada dalam pelukan seseorang.


Rara : “Eh, maaf kak.”


Beberapa mahasiswa teman Rara yang juga baru keluar ruang ujian, menggoda mereka. Rara mencoba melepaskan tangan Alvin dari tubuhnya, tapi Alvin malah mempererat pelukannya.


Alvin : “Biarkan saja mereka, kau baik-baik saja? Wajahmu pucat gitu, bisa jalan?” Rara merasakan perhatian yang Alvin berikan padanya lain dari biasanya.


Rara : “Bisa kak, makasih.”


Mereka berjalan ke kantin kampus, sesekali Alvin memegang tangan Rara ketika Rara berjalan sedikit limbung. Rara memesan air gula hangat untuk memulihkan energinya, sementara Alvin mengambil soft drink dari showcase.


Alvin : “Ujianmu sudah selesai kan? Gimana kalau kita jalan-jalan?” Rara menyeruput air gula dari gelasnya.


Rara : “Aku ingin sekali, kak. Tapi aku akan pergi ke tempat papa selama sisa liburan ini. Besok aku akan berangkat.”


Alvin terlihat sangat kecewa, ia ingin menghabiskan liburan semester ini bersama Rara. Melihat Alvin murung, Rara menyentuh tangan Alvin.


Rara : “Aku disana cuma seminggu, kak. Aku akan kirim kabar setiap hari. Kita bisa v-call kan?”


Alvin : “Seminggu? Lama sekali, Ra.” Rara bingung dengan sikap Alvin, hubungan mereka hanya sebatas teman. Sikap Alvin yang sekarang akan membuat Rara salah paham.


Mereka beranjak ke parkiran tempat mobil Rara sudah menunggu.


Rara : “Ok kak, sampai jumpa minggu depan. Makasih banyak sudah bantu aku selama semester pendek ini ya.”


Rara melambaikan tangan pada Alvin, saat ia berbalik, Alvin menarik tangannya. Mereka saling bertatapan lagi, Rara menatap Alvin yang sedang memelas, akhirnya Rara meminta sopirnya pulang duluan. Alvin tersenyum cerah.


Alvin mengajak Rara jalan-jalan ke sebuah mal, mereka melihat pernak-pernik lucu, baju-baju terbaru dan mencoba kacamata. Sesekali Alvin merangkul bahu Rara saat mereka jalan bersama, bahkan tangan Rara tidak juga


dilepaskannya. Rara sangat menikmati kebersamaan mereka, tapi ia takut Alvin akan membentaknya lagi kalau ia menyebut-nyebut tentang perasaannya.


Tak terasa hari mulai beranjak malam, Alvin mengantar Rara pulang ke rumahnya setelah makan malam romantis. Alvin melihat rumah Rara yang kosong, tapi lampunya sudah menyala.


Rara : “Makasih, kak. Besok aku naik kereta jam 9 pagi. Sampai jumpa minggu depan.” Rara tersenyum manis, ia memberi kode dengan tangannya agar Alvin mendekat. Cup. Rara mencium pipi Alvin.


Rara : “Jangan marah ya kak. Ini hanya ucapan terima kasih. Bye kak.”


Rara hampir keluar dari mobil Alvin ketika Alvin menarik tangannya lagi,


Alvin : “Boleh aku masuk? Aku temani kamu sampai jam 11 malam, baru aku pulang.” Rara berpikir sejenak, ia melihat ke rumahnya sebentar dan mengangguk. Rara juga sedikit takut masuk ke rumahnya karena biasanya dia sudah ada di rumah sebelum bibik pulang.


Rara menekan password untuk mematikan alarm gerbang agar dia bisa masuk bersama Alvin, sementara mobil Alvin terparkir di depan rumah Rara. Suasana rumah masih sama ketika Rara pergi pagi tadi, hanya tampak lebih bersih dan rapi. Alvin duduk di sofa ruang tamu, sementara Rara membuatkan Alvin minum.


Rara : “Kakak, ini tehnya. Aku tinggal mandi bentar ya, kak. Ini remote TVnya, kakak bisa nonton dulu.”


Alvin hanya mengangguk, ia melihat Rara naik ke lantai 2, ingin tahu keadaan di lantai bawah, Alvin beranjak ke arah dapur. Ia melihat ada pintu lain menuju ke belakang rumah Rara. Ia mencoba membukanya, pintu itu terkunci, ia juga memeriksa jendela yang berisi terali besi. Setelah memastikan seluruh pintu dan jendela di lantai bawah sudah terkunci, termasuk akses ke garasi, Alvin kembali duduk di sofa ruang tamu.


Rara baru turun dari lantai 2, sedang bicara dengan seseorang di telpon, ia duduk di samping Alvin yang langsung menatapnya. Rara terlihat fresh setelah mandi, rambutnya diikat sedikit ke belakang dan aroma tubuhnya membuat hormon pria Alvin bergejolak. Alvin mengalihkan perhatiannya ke TV yang menyala, ia mengecilkan sedikit suara TV-nya agar Rara bisa mendengarkan suara orang yang menelponnya.


Rara : “Iya mah, ada kak Alvin disini. Kenapa mah?”


Rara melihat Alvin, ia terus mendengarkan suara mamanya, lama-lama dia tersenyum.


Rara : “Oh, gitu ya. Mungkin kak Alvin cuma memastikan rumah Rara sudah aman.”


Alvin menoleh mendengar namanya disebut, ia memberi tanda untuk meloadspeaker suara telpon Rara.

__ADS_1


Alvin : “Malam, tante. Maaf Alvin masuk tanpa ijin tante. Tadi Alvin ajak Rara jalan-jalan dulu dan baru kembali jam 8, Alvin ikut masuk karena biasanya Rara sudah dirumah sore, tante. Alvin ijin disini dulu sampai jam 11


malam ya tante.”


Mama Rara : “Oh, iya Alvin, makasih uda mau jaga Rara ya, besok juga Rara mau kesini kok. Tante tutup dulu ya, bye.”


Alvin membesarkan kembali suara TV-nya, Rara meletakkan HP-nya di meja dan mulai bersandar di sofa.


Alvin : “Mamamu lihat aku dari CCTV ya? Maaf tadi aku berkeliling sebentar, cuma buat mastiin aja.”


Rara : “Iya, kak. Mama tahu kok tadi kita jalan-jalan dulu. Makasi ya kak.” Alvin menoleh pada Rara yang tersenyum manis.


Alvin : “Tidur dulu gih, aku masih nonton juga. Nanti aku bangunin kalau uda jam 11.”


Rara tidak menjawab, matanya sayu menatap TV yang menyala, lama-lama ia memejamkan mata dan tertidur. Sofa yang besar, membuat Rara sangat nyaman berbaring disana, Alvin melirik Rara yang sudah tidur. Ia tersenyum dan kembali asyik menonton.


Di lain tempat, mama dan papa Rara sedang mengamati CCTV di rumah Rara.


Papa Rara : “Jadi itu yang namanya Alvin? Mama yakin dia tidak akan berbuat macam-macam pada Rara?”


Mama Rara : “Alvin itu kakak tingkat Rara di kampus, biasa kerja sama Mona kok. Tante-nya Alvin nikah sama Anton. Jadi masih terhitung ponakan aku kan. (penjelasan author : Mona itu tantenya Rara, adik kandung mama Rara yang punya butik online, sedangkan Anton juga adik kandung mama Rara yang nikah sama mb Putri, tantenya Alvin)


Papa Rara : “Tetap saja mereka berduaan dalam rumah, ntar setan lewat gimana? Rara itu masih kuliah, Alvin juga sama kan.”


Mama Rara : “Ih, papa nich masa gak percaya sama anaknya sendiri. Alvin itu sudah punya bisnis sendiri tahu, dia uda bisa memenuhi kebutuhannya bahkan kuliah bayar sendiri. Alvin cuma pakai fasilitas mobil dan motor dari papanya.”


Papa Rara : “Darimana mama tahu?”


Mama Rara : “Masa calon mantu, mama gak tahu detail sich.”


Papa Rara menaikkan alisnya, calon mantu? Ia bahkan belum bertemu secara langsung dengan Alvin, apa Rara memang menyukai laki-laki ini. Mereka kembali melihat CCTV, kali ini Alvin terlihat berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi, tapi dia balik lagi menarik pintu depan memastikan sudah terkunci karena Rara masih tidur di sofa.


Papa Rara : “Sepertinya dia bisa dipercaya, tapi ini sudah hampir jam 11, kenapa dia belum pulang?”


Papa Rara : “Eh, kenapa dia dekati Rara? Mau apa?”


Mama Rara menghentikan papa Rara yang ingin mengambil HP, mereka melihat Alvin mengguncang tubuh Rara yang mulai bangun sambil mengucek matanya. Alvin membuka pintu depan, ia keluar diikuti Rara yang masih mengucek matanya. CCTV di zoom ke arah garasi. Alvin menutup gerbang rumah setelah keluar, ia masih menunggu sampai Rara masuk lagi ke dalam rumah dan melambaikan tangannya lewat jendela. Setelah itu Alvin pergi dengan mobilnya.


Mama Rara : “Nah, kan anak itu bisa dipercaya, tadi juga dia sudah ijin sama mama mau temanin Rara dulu sampai jam 11.


Papa Rara : “Papa jadi penasaran sama anak itu, mungkin gak dia mau kesini ketemu kita?”


Mama Rara : “Jadi papa setuju nich?”


Papa Rara : “Papa mau ketemu dulu, papa kan belum kenal dia ya meski ada hubungan ponakan.”


Mama Rara sangat bersemangat, ia melihat CCTV lagi dan melihat Rara sudah masuk ke dalam kamarnya.


------


Hari sangat cerah saat Rara tiba di stasiun kereta, ia menunggu sebentar sebelum naik ke kereta, semalam Alvin mengatakan kalau dia tidak bisa mengantar Rara ke stasiun karena sibuk. Ketika Rara menunjukkan tiketnya pada petugas kereta, ia diantar ke gerbong khusus di bagian depan kereta.


Petugas kereta : “Silakan, nona. Ini tempat duduk anda.”


Rara : “Terima kasih, pak.”


Rara masuk ke gerbong penumpang VVIP yang sangat nyaman, lengkap dengan tempat tidur. Tapi Rara memesan tiket kelas ekonomi, apa petugasnya salah mengantarkan dia. Ketika Rara ingin bertanya, seseorang muncul dari dalam kamar tidur.


Rara : “Kak Alvin? Tapi…”


Alvin : “Terima kasih, pak.” Alvin menutup pintu gerbong VVIP dan menatap Rara.

__ADS_1


Alvin : “Duduk, Ra. Keretanya mau berangkat.”


Rara : “Kenapa kakak bisa disini? Sepertinya aku salah gerbong dech, kak.”


Alvin diam saja, perlahan kereta mulai berjalan lambat, dan semakin cepat. Rara melihat pemandangan di luar yang mulai berubah dari pemandangan kota ke pemandangan pinggir kota. Alvin menatap Rara yang terlihat menikmati


pemandangan di luar.


Rara : “Kak Alvin kok bisa disini? Apa kakak juga mau liburan?”


Rara menatap Alvin yang masih diam, terlintas dalam pikiran Rara kenangan saat ia menyatakan cinta pada Alvin, saat Alvin membentaknya, saat Alvin minta Rara jadi pacar bohongan, ciuman-ciuman mereka, semua perkataan manis Alvin padanya. Rara merasakan semakin hari ia semakin menyukai Alvin. Tapi apa Alvin mulai menyukainya? Kalau tidak, kenapa Alvin mencium Rara? Tiba-tiba Rara merasa muak dengan semua yang terjadi, ia bangkit, mengambil tasnya dan hampir keluar dari gerbong VVIP ketika Alvin menarik tangannya.


Alvin : “Mau kemana? Tetaplah disini.”


Rara : “Kak, aku ingin tanya satu hal, tolong jawab jujur. Apa arti aku buat kakak? Kalau hanya sekedar teman, biarkan aku pergi.”


Rara merasakan tangan Alvin melepas tangannya. Air mata Rara menetes, ia merasakan patah hati untuk kedua kalinya dengan orang yang sama pula. Rara mencoba membuka pintu gerbong VVIP, tapi tangan Alvin menghalanginya. Rara merasakan tubuhnya dipeluk Alvin dari belakang.


Alvin : “Jangan pergi, aku gak akan bisa jauh dari kamu, Ra. Meski aku sangat menyayangi Lia, aku harus melepas dia pergi. Tapi aku gak akan melepaskanmu sampai kapanpun.”


Rara menangis semakin keras, ia memeluk lengan Alvin sambil terisak,


Alvin : “Maaf kalau aku diam tadi, jujur aku masih ragu-ragu dengan perasaanku sama kamu. Aku takut membuatmu sakit hati lagi, karena aku gak bisa suka sama kamu. Tapi waktu kamu bilang mau pindah, dan barusan mau pergi, hatiku gak kuat, Ra. Aku sayang sama kamu, Ra.”


Rara hanya diam, mendengar pernyataan cinta Alvin, ia terlalu senang sampai tidak bisa berkata apa-apa. Alvin mencium rambut Rara yang harum, hormon prianya kembali bergejolak, ia menyibak rambut Rara, mencium belakang lehernya. Bulu kuduk Rara meremang, tubuhnya merinding merasakan ciuman Alvin di belakang lehernya.


Rara : “Kak Al… ugh…”


Alvin : “Jangan panggil kakak, panggil namaku…”


Rara : “Alvin… ach…”


Suara keras dari depan kereta, menyadarkan Alvin yang langsung menghentikan aktifitasnya di sekitar leher Rara, hampir saja ia kebablasan. Turunan Boy emang begini ya gak bisa dikasi perawan, bawaan pengen disikat aja.


Rara memegang dadanya yang berdegup kencang, Alvin membalik tubuhnya, guncangan di kereta membuat Alvin hilang keseimbangan, ia hampir jatuh kalau Rara tidak memegangi tangannya. Mereka saling pandang,


Alvin : “Ra, kau belum menjawabku…”


Rara : “Aku sayang kamu, kak.”


Alvin : “Masih memanggilku kakak? Kamu harus dihukum.” Alvin mencium bibir Rara,


Alvin : “Katakan lagi yang benar.”


Rara : “Aku sayang kamu, Alvin.” Alvin kembali mencium Rara, kali ini melumat bibirnya sampai Rara gelagapan.


Rara : “Al… hah… lepas… kenapa aku dicium lagi?”


Alvin : “Aku mau saja.” Alvin memeluk Rara yang tersenyum malu, mereka melihat keluar jendela lagi.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu


kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak


kalah seru.

__ADS_1


-------


__ADS_2