Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Menantu untuk Ibu bagian 6


__ADS_3

Hampir satu bulan sudah Safira memulai kesibukan baru, setelah merapikan kamar dan membersihkan diri, ia bersiap berangkat ke toko kue dan cafe miliknya. Memakai rok panjang berwarna kuning dan atasan blouse putih ia sangat menawan. Tak ada pulasan make up di wajah bersihnya. Sedikit tergesa ia menuruni tangga.


Ibu Santi dan Pak Yuda yang tengah menyelesaikan sarapan menoleh bersamaan ke arahnya.


"Kamu sarapan dulu, Safira," titah Bu Santi. Safira tersenyum mengatakan dia masih belum lapar.


"Nanti saja saya sarapan di cafe, Bu."


Perempuan berkacamata itu menanyakan keberadaan Alva. Mendengar hal itu cepat Safira meminta diri untuk segera ke cafe.


"Oke, kamu minta antar Pak Joko aja," ucap Pak Yuda di sambut anggukan kepala oleh gadis berambut panjang itu.


Ada beberapa orang bagian produksi yang sengaja disiapkan oleh Bu Santi, mereka dipercaya untuk membantu Safira membuat menu baru setiap harinya, termasuk kue yang menjadi unggulan toko mereka. Bersama Pak Joko ia menuju ke tempat usahanya. Meski masih terbilang baru tetapi sudah mulai banyak pengunjung dan pelanggan yang datang. Ada beberapa dari mereka yang sudah sangat akrab dengan Safira, hal itu tentu membuat dirinya bahagia, mempunyai teman baru. Ia tak lagi peduli dengan sikap Alva padanya. Pria itu tetap seperti biasa, dingin bahkan seolah tak mengenal dirinya.


"Pagi, Safira ...." sapa salah satu pengunjung saat gadis itu tengah sibuk di balik meja kasir. Ia mengangkat wajah tersenyum membalas sapaan itu.


"Mas Bastian, apa kabar? Silakan duduk, Mas, oh iya mau pesen seperti biasa?" tanyanya ramah. Pria bernama Bastianitu tersenyum mengangguk. Lelaki itu adalah seorang fotografer. Beberapa waktu lalu ia tertarik saat melihat gadis berwajah kemerahan itu tengah melayani pengunjung, pria itu berpikir wajah cantik alami milik Safira layak dijadikan model majalah tempat ia bekerja.


Tak lama Safira dan Bastian terlihat saling bertukar cerita. Pembawaan friendly dari lelaki bercelana jeans itu membuat ia merasa nyaman.


"Gimana, kamu setuju dengan tawaran aku tempo hari?" Dia berkata seraya menyeruput kopi hitam di depannya. Safira tersenyum, ia menggeleng mengatakan masih belum bisa mengambil keputusan apa pun.


"Kenapa? Ada yang keberatan?" tanyanya serius.


Lagi-lagi ia menggeleng.


"Tidak, Mas. Tapi saya saja yang tidak percaya diri," ungkapnya lirih.


Bastian tertawa kecil, ia kembali meyakinkan gadis berdagu lancip itu untuk mau mengembangkan diri.


"Oke, mungkin kamu takut karena aku orang asing atau apa lah, tapi kamu bisa hubungi nomor di kartu nama ini, dia editor aku," lelaki berambut sebahu itu menyerahkan kartu nama ke tangan Safira.


"Kamu jangan khawatir, aku hanya ingin memastikan saja, tidak perlu terburu-buru," sambungnya lagi seraya mengeluarkan rokok dari kantong kemeja. Safira menatap Bastian dengan tatapan keberatan. Pria itu tersenyum kembali memasukkan ke dalam kantong.


"Oke, aku mau ke kantor dulu, sampai ketemu lagi," ujarnya itu berkemas. Gadis itu tersenyum melepas Bastian.


🌼🌼🌼


Pukul sepuluh malam ia dan para pegawai menutup toko. Pak Joko hari itu tidak dapat menjemput sebab sopir itu menjemput Prasetyo yang datang malam ini. Ia mendapat pesan dari Bu Santi akan dijemput Alva. Sebenarnya tanpa dijemput ia bisa pulang sendiri, tetapi Ibu angkatnya itu tidak mengizinkan.


Waktu sudah berlalu tiga puluh menit, meski suasana tidak terlalu sepi, tetap saja ia merasa takut. Safira duduk di bangku depan tokonya, seraya sesekali mengarahkan pandangan ke jalan. Tak lama tampak sepeda motor mendekat. Gadis itu memasang wajah khawatir.


"Hai, sudah malam kenapa masih di sini?" sapa seseorang dari atas motor seraya membuka helm teropongnya.


"Mas Bastian!" seru Safira lega.


"Aku antar pulang?" tawarnya. Terlihat gadis itu ragu. Saat ia sedang berpikir sebuah Fortuner putih mendekat. Tampak seorang pria berkemeja biru gelap dengan lengan yang dilipat hingga siku mendekati mereka.


"Masuk!" perintahnya dingin. Sementara Safira menatap Bastian ragu.


"Siapa dia?" tanya lelaki itu menatap Alva.


"Dia ...."


"Aku bilang kamu masuk!" Kembali ia mengulang perintah. Kali ini tanpa membantah gadis itu bergegas masuk ke mobil setelah mengucap terima kasih.


"Hai, aku Alva ...." Pria itu mengulurkan tangan kepada Bastian.

__ADS_1


"Bastian, aku pelanggan di cafe ini," sahutnya mengenalkan diri.


Mendengar itu Alva menarik bibirnya.


"Oke, terima kasih sudah menjadi pelanggan kami, selamat malam," tukasnya meninggalkan Bastian.


"Tunggu, Alva!"


Pria itu menahan langkah menoleh ke lelaki yang masih duduk di motor besarnya.


"Aku nggak tahu siapa kamu dan apa hubunganmu dengan Safira, tapi aku tertarik menjadikan dia model di majalahku!" Sambil tersenyum ia lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Alva terpaku mendengar penuturan Bastian. Sekilas ia melirik ke dalam mobil, tampak Safira tengah terpejam. Pria itu bergegas masuk mobil dan meluncur pulang.


Mobil sudah memasuki halaman, sedang Safira terlihat terlelap. Alva menyandarkan kepala menghela napas.


"Bangun, sudah sampai!" ucapnya tanpa menatap gadis di sampingnya. Tapi Safira terlihat tak menyadari hal itu.


"Ck! Safira, bangun!" Kali ini suaranya meninggi. Gadis berambut panjang itu mengerjap lalu menatap Alva.


"Maaf saya ketiduran! Terima kasih," ucapnya bergegas turun dari mobil.


"Tunggu!" cegah Alva.


"Ada apa, Mas?"


"Aku harap kamu selektif memilih teman!" tuturnya kemudian mendahului Safira turun dari mobil. Gadis itu hanya diam seraya menggelengkan kepala ia mengikuti langkah pria di depannya.


"Sayang ... sini kenalan sama Mas Tyo!" sambut Bu Santi yang terlihat masih segar meski malam kian merangkak naik. Lelaki berkulit putih dengan hidung mancung dengan tinggi yang serupa seperti Alva berdiri tersenyum menatapnya.


"Safira," ujarnya menyambut jabat tangan Tyo. Pria itu masih tersenyum tanpa melepas jabat tangan Safira.


🌼🌼🌼


Sejak kedatangan Tyo di rumah, Safira tak lagi pendiam, ia menjadi lebih sering tertawa bercanda dengan kakak Alva itu. Prasetyo adalah pria dewasa yang pandai mencairkan suasana. Anak pertama dari Ibu Santi dan Pak Yuda itu dipercaya memegang satu dari perusahaan milik sang Ayah. Sebenarnya lelaki itu akan menikah dengan kekasihnya, namun sang kekasih memilih meninggalkannya dan menjalin hubungan dengan pria lain. Meski begitu, Tyo bukan pria yang mudah patah hati, baginya jodoh kelak akan datang di saat yang tepat.


"Berangkat, Fira?" Demikian Tyo memanggil nama gadis itu.


"Iya, Mas!"


"Bareng yuk!" ajak Tyo memberi isyarat.


Gadis itu mengangguk tersenyum manis. Saat Tyo masuk ke mobil sekilas dia melihat Alva baru saja keluar rumah. Melihat hal itu Tyo tersenyum pada sang adik. Sementara Alva menatap tanpa ekspresi.


🌼🌼🌼


"Kak!"


"Hmm," sahut Tyo saat sang adik menghampiri di kantornya.


Alva menjatuhkan badannya di sofa. Tyo melihat keresahan meliputi wajah sang adik. Ia datang menghampiri.


"Ada apa?"


Alva bercerita tentang hubungan dirinya dengan Luna, dan rencana Ibu mereka yang bersemangat untuk menikahkan ia dengan Safira.


"Lalu?" Tyo menatap adiknya.

__ADS_1


"Aku mencintai Luna tapi ...."


"Tapi apa?"


"Safira ...."


Tyo terkekeh seraya santai mengatakan agar Alva membiarkan Safira untuknya saja. Wajah sang adik berubah seketika mendengar hal itu.


"Kenapa kamu terlihat tidak rela?"


Alva terdiam menyugar rambut. Pria berkacamata itu tertawa mengusap bahu adiknya.


"Jangan bilang kalau kamu mulai mencintainya juga."


"Nggak, Kak! Aku nggak mencintainya tapi Ibu ...."


Tyo mengerutkan kening lalu menggeleng.


"Oke, kalau masalah itu aku nggak bisa bantu, tahu 'kan seperti apa Ibu?"


Alva mendengkus kesal.


"Aku mau coba bilang ke Ibu, Kak!"


"Well, coba aja, good luck!"


🌼🌼🌼🌼


Sore itu Safira kedatangan editor Bastian, seorang wanita cantik dengan tampilan santai. Ia datang bersama Bastian, karena tertarik dengan kisah pria itu.


"Jadi ini yang namanya Safira?" tanyanya seraya menjabat tangan Safira. Gadis itu tersenyum mengangguk.


"Kamu lebih cantik dari yang diceritakan Bastian!" ungkapnya seraya menepuk bahu gadis itu. Tak lama mereka terlibat perbincangan hangat. Dian, nama wanita berbaju casual dengan rambut pendek sebahu itu. Ia kembali menawarkan agar Safira setuju untuk menjadi model majalah mereka.


"Maaf, Mbak Dian. Saya masih belum tertarik untuk itu," ujarnya memberi alasan.


"Safira!" Terdengar suara Alva tiba-tiba di tengah-tengah mereka.


Gadis itu menengadah lalu tersenyum.


"Mas Alva," sapanya kemudian mengenalkan pada keduanya.


"Kamu lagi," ucap Alva menatap Bastian.


Mereka berempat duduk, Dian kembali mengutarakan niatnya.


"Maaf, Safira ini ... adik Mas Alva?"


Alva diam, ia menatap Safira yang tengah melipat wajah.


"Bukan, dia keponakan saya! Dan saya keberatan jika dia kalian jadikan model!" tukasnya menatap lekat ke arah Safira.


Bastian dan Dian tersenyum mengerti. Mereka mengharap Alva merubah keputusannya suatu saat nanti. Lalu tak lama kedua tamu itu mohon diri.


"Aku pernah bilang, 'kan? Jangan asal berteman, ayo pulang!"


"Mas, tapi ini masih sore ...."

__ADS_1


"Sejak kapan owner harus pulang bersama karyawan?" Alva melangkah keluar cafe dengan memberi isyarat agar Safira menyusul


__ADS_2