Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Saksi pernikahan


__ADS_3

Mereka berempat sudah siap pulang, Rian membuka pintu bagasi mobil Boy dan memasukkan semua tas mereka kedalam sana. Niken yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil memilih duduk di depan.


Joya kembali duduk di samping Boy, ia terus saja merapatkan kerah blus-nya menutupi bercak merah-merah di lehernya. Boy tersenyum tipis tampak bangga dengan hasil perbuatannya.


Rian melihat itu dari spion depan cuma bisa geleng-geleng kepala. Ia menoleh pada Niken,


Rian : "Kita langsung ke KUA ya. Orang tuaku juga dalam perjalanan."


Niken : "Dokumenku gimana?"


Joya : "KUA?" Ia menoleh pada Boy yang tampak cuek menatap ke depan.


Rian : "Aku belum bilang sama kamu ya. Kami akan menikah, Joya."


Joya : "Apaa??!!"


------


Rian berjalan memasuki KUA diikuti Niken, Boy dan Joya. Belum cukup penjelasan yang diterima Joya dan disinilah ia sekarang menjadi saksi pernikahan Rian dan Niken bersama Boy.


Orang tua Rian sudah tiba lebih dulu, ibu Rian memberikan selendang putih yang dihiasi sulaman benang emas di sisinya pada Niken. Joya membantu Niken bersiap-siap dulu.


Saat keduanya bertemu di meja penghulu, Rian melongo melihat Niken yang terlihat cantik. Niken duduk di samping Rian, menatap penghulu di depannya.


Penghulu memastikan sekali lagi tentang keluarga Niken dan dijawab dengan tegas kalau Niken tidak punya keluarga. Saat penghulu menanyakan kesediaan Niken menikah dengan Rian, ia terlihat ragu menjawabnya.


Penghulu bertanya sekali lagi dan akhirnya Niken menyampaikan kesediaannya. Ijabpun dimulai, dalam satu tarikan nafas, Rian berhasil menikahi Niken.


Kedua pengantin terlihat bernafas lega, begitu juga kedua orang tua Rian. Niken menunduk mencium tangan Rian yang mencium keningnya.


Joya tersenyum bahagia melihat pernikahan Rian dan Niken, meskipun sederhana pernikahan seperti ini termasuk impian Joya juga. Tentu saja bersama Boy.


Malu-malu Joya melirik Boy yang duduk disampingnya, matanya terbelalak menatap Boy yang ternyata sudah menatapnya. Mereka berdua tetap saling menatap sampai penghulu menyadarkan mereka untuk tanda tangan di buku KUA.


Penghulu : "Mas sama mb-nya gak sekalian aja nikah sekarang? Dari tadi pandangannya kayak pengen nikah juga."


Deg! Boy berusaha tenang, bibirnya gemetar ingin bilang iya pada penghulu dan menikahi Joya sekarang juga. Sementara wajah Joya sudah merah padam. Keduanya terlihat canggung dan malu-malu.


Rian : "Sepertinya memang begitu, pak penghulu. Tapi bukan sekarang, mungkin tiga tahun lagi..."


Boy menatap tajam pada Rian yang cengengesan. Jangan sampai rahasia mereka terbongkar di depan Joya. Joya yang mendengarnya hanya diam saja.

__ADS_1


Niken mencium tangan kedua orang tua Rian yang tampak sangat bahagia.


Papa Rian : "Kalian yang rukun ya. Trus kapan mau resepsi?"


Rian : "Tunggu libur, pah. Entah kapan itu." Rian menatap Boy sambil senyum-senyum penuh arti.


Boy : "Iya, baiklah kau boleh libur 3 hari."


Rian : "Beneran? Yes, bisa bulan madu."


Niken mencubit pinggang Rian, ia sangat malu karena disana banyak orang.


Papa Rian : "Bagus kalau gitu, kabarin papa ya. Kami akan siapkan acaranya."


Rian : "Tergantung Niken saja, mau diadakan kapan."


Niken tersenyum malu, ia belum ingin membuat resepsi sekarang, mungkin sebulan lagi. Rian dan Niken mencium tangan kedua orang tua Rian dan mereka pisah jalan. Kali ini Boy menyetir mobil, disampingnya duduk Joya.


-----


Selama dalam perjalanan pulang, Rian terus menggenggam tangan Niken dan menatapnya. Niken sampai tidak berani menatap Rian karena malu.


Kemesraan keduanya membuat Boy gerah, ia juga ingin menggenggam tangan Joya yang duduk di sampingnya.


Boy : "Aku istirahat di rumah ibu saja. Besok pagi kau jemput ya... Ach, sudahlah terserahmu mau jemput atau tidak. Kabarin aku."


Rian : "Siap, bos. Terima kasih."


Mereka segera sampai di rumah Ny.Besar. Joya turun dari mobil, dan mengeluarkan tasnya dan tas Boy. Sekali lagi ia memastikan kalau Boy memang akan menginap di rumah Ny.Besar malam ini.


Niken : "Joya, kami pergi dulu. Sampai jumpa di kantor."


Joya : "Baik, kak. Sekali lagi selamat atas pernikahanmu."


Rian : "Bye, Joya."


Mobil Boy mulai bergerak keluar dari rumah Ny.Besar membawa Rian dan Niken  didalamnya. Joya berjalan masuk ke dalam rumah membawa kedua tas ditangan kanan dan kirinya.


Joya meletakkan tas miliknya di dekat tangga, ia berjalan ke lantai dua menuju kamar Boy. Seperti biasa, ia menghidupkan AC dan meletakkan tas Boy di atas sofa. Setelah memastikan semua perlengkapan di kamar itu sudah tertata rapi, Joya baru akan keluar dari kamar Boy.


Joya tidak tahu kalau Boy sudah ada di dalam kamar, tepatnya di kamar mandi. Setelah Joya masuk, Boy menyelinap masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Joya tidak melihat Boy karena sedang menutup tirai jendela.

__ADS_1


Baru Joya akan keluar dari kamar Boy, ia tidak bisa membuka pintunya dan mulai panik sendiri. Boy menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar Joya. Ia berjalan keluar dari kamar mandi dan mereka saling pandang.


Joya bukan menatapnya tapi melotot padamya. Boy mengabaikan Joya, ia membuka kemejanya, membuat Joya semakin panik. ia balik badan memunggungi Boy. Tangan Joya tetap berusaha membuka handle pintu.


Joya mendengar langkah kaki Boy di belakangnya. Ia menggeser tubuhnya berharap Boy akan membantunya membuka pintu tapi sepertinya bukan itu yang ingin dilakukan Boy.


Boy hanya melewatinya untuk mengambil pakaian ganti di lemarinya. Joya memejamkan matanya, ia mencoba fokus sambil melihat keseluruhan handle dan kunci pintu kamar Boy.


Tangannya terulur memutar kunci dan pintu kamar Boy terbuka. Joya tersenyum lega, ia segera keluar dari kamar itu dan menutup pintunya.


Boy mendengus kesal, padahal ia berharap Joya tidak akan menemukan cara keluar dari dalam kamarnya. Ia ingin tidur sambil memeluk Joya lagi. Sepertinya ia harus memikirkan strategi lain untuk bisa mewujudkan hasratnya itu.


------


Sementara itu, pasangan pengantin baru sudah sampai di tempat kost Niken. Niken belum sempat membereskan barang-barang, ia akan pindah ke rumah Rian di dekat kantor.


Rian masuk ke kamar Niken yang bersih dan wangi untuk pertama kalinya. Ia melihat sekeliling kamar yang tidak terlalu ramai dengan perabotan. Hanya ada kasur, lemari, meja, dispenser, dan televisi. Niken menyewa kamar full furniture.


Rian : "Ada yang bisa kubantu?"


Niken : "Kamu istirahat aja. Ini gak akan lama, pakaianku cuma sedikit."


Rian : "Niken..."


Niken menoleh saat namanya dipanggil, Rian sangat dekat dengannya, mata Niken terpejam ketakutan. Rian tersenyum, ia mencium kening Niken dan mengacak-acak rambutnya.


Rian : "Bawa saja pakaianmu dulu. Besok kita bereskan lagi sisanya. Kamu juga perlu istirahat kan."


Niken : "Besok kita uda kerja, kapan sempat lagi. Barang-barangku sedikit kok."


Rian : "Aku panggil orang untuk bantu ya. Tunggu sebentar."


Tak lama, orang-orang yang dipanggil Rian datang membawa mobil box. Mereka bekerja dengan cepat memindahkan barang-barang Niken dan membawanya ke rumah Rian.


-----


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak...


-------


__ADS_2