
Keesokan harinya, mereka semua akan pergi ke taman rekreasi di pinggir kota. Sejak pagi terjadi kehebohan di rumah Ny. Besar. Joya bolak-balik membantu menyiapkan keperluan semua cucu Ny. Besar.
Setelah semuanya siap dan bisa segera berangkat, Joya kembali membantu Ny. Besar.
Ny. Besar : "Loh, Joya kok belum siap?"
Joya : "Saya ikut juga, Ny. Besar?"
Ny. Besar : "Iya dong. Nanti ibu siapa yang nemenin."
Joya : "Kalo gitu, saya ganti baju sebentar ya."
Ny. Besar : "Dandan yang cantik ya."
Joya hanya mengangguk, ia keluar dari kamar Ny. Besar dan masuk ke kamarnya sendiri. Ia keluar 10 menit kemudian sudah terlihat segar dan cantik dengan riasan natural.
Ia memakai celana jins, blus pink muda dan membawa tas selempang kecil yang berisi dompet, tisu dan ponselnya. Rambutnya ia ikat ekor kuda dan memakai sepatu kets warna putih.
Sebenarnya Joya tak mau ikut karena ingin membersihkan rumah, tapi Ny. Besar sudah meminta dia ikut itu artinya Joya harus ikut.
Joya melihat Ny. Besar berdiri di dekat mobilnya, ia berjalan cepat menghampiri Ny. Besar. Ny. Besar memperhatikan penampilan Joya dan mengangguk.
Satu persatu mobil mewah keluar dari halaman rumah Ny. Besar menuju taman bermain. Joya membantu Ny. Besar masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang depan.
Tak disangka Joya, kalau Boy juga ikut dengan mereka, bahkan ada di mobil yang sama. Ia menyetir sementara Joya duduk di belakang Boy karena dibelakang kursi Ny. Besar ada tumpukan kontainer yang berisi minuman dingin.
Beberapa kali pandangan mata mereka bertemu ketika Boy melihat ke kaca tengah, membuat Joya sedikit tidak nyaman. Joya tahu kalau memang kebiasaan sopir melihat ke kaca spion tengah tapi intensitasnya tidak sesering itu.
Untuk menghindari tatapan Boy, Joya melihat ke samping pemandangan kota dengan gedung-gedung tingginya. Mereka hampir sampai di taman bermain sekitar 10 menit lagi.
Sesampainya di taman bermain, satu persatu mobil anak-anak Ny. Besar parkir di tempat yang masih kosong.
Cucu-cucu Ny. Besar asyik bermain ke tempat permainan yang tersebar di taman bermain itu. Mereka saling menjaga satu sama lain dan sangat kompak.
Anak dan menantu Ny. Besar ada yang bergabung dengan anak-anak mereka dan ada juga yang jalan-jalan berdua saja.
Sementara Joya dan Ny. Besar berjalan-jalan melihat pemandangan hutan buatan yang penuh beraneka tanaman hias. Udara disekitar mereka jadi sangat sejuk.
Sinar matahari tampak mengintip dari sela-sela dedaunan yang menutupi sepanjang jalan yang mereka lalui.
Ny. Besar : “Joya, kau sudah dengar kabar tentang Boy kan? Bagaimana menurutmu?”
Ditanya begitu, Joya semakin galau. Ia diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ny. Besar.
Joya : “Maksud, Ny. Besar? Bukankah itu hal yang menggembirakan?”
Joya tidak bisa menyembunyikan getaran dalam suaranya, tenggorokannya terasa tercekik. Ny. Besar tersenyum,
Ny. Besar : “Katakan sesuatu, jujur pada ibu. Kamu masih mencintai Boy kan?” Joya sangat terkejut mendengar tebakan Ny. Besar sampai ia tanpa sadar berjalan mundur sambil menggeleng.
Joya : “Gak, Ny. Besar. Saya gak berani." Bruk! Joya menabrak seseorang yang langsung memegang pundaknya.
__ADS_1
Joya : “Maaf, saya... Tuan Boy....” Joya menengadah melihat siapa yang ia tabrak. Mereka bertatapan cukup lama. Joya bersandar pada tubuh Boy yang menatapnya lembut.
Ny. Besar : “Ehem!”Joya tersadar mendengar suara Ny. Besar, ia melepaskan dirinya dari Boy dan segera menjauh. Boy masih memandang Joya membuat wajahnya terasa panas.
Ny. Besar : “Ayo Joya, kita ke restauran dulu.”
Joya mengikuti Ny. Besar ke restauran. Boy tidak mengikuti mereka, ia menghilang entah kemana.
Setelah mencari tempat duduk yang cukup untuk mereka semua, satu persatu anak-anak dan cucu-cucu Ny. Besar datang. Mereka beristirahat sejenak sebelum melanjutkan bermain.
Joya membantu memesankan makanan untuk cucu-cucu Ny. Besar dan juga untuk Ny. Besar sendiri. Ia terlihat senang melakukannya, apalagi bisa berinteraksi dengan cucu Ny. Besar yang masih balita.
Cucu Ny. Besar sangat suka pada Joya yang ramah. Mereka selalu meminta Joya menemani mereka bermain. Setelah mereka semua selesai makan, cucu-cucu Ny. Besar mengajak Joya ke rumah hantu.
Joya nurut saja, meskipun ia merasa takut juga. Joya menatap bangunan hitam di hadapannya, terlihat gelap didalam sana. Setelah mendapat tempat duduk di kereta, seseorang ikut duduk di sampingnya.
Joya masih belum menoleh karena kereta langsung berjalan memasuki rumah hantu. Gelap sekali, tiba-tiba suara menakutkan terdengar dan sosok kuntilanak keluar dari sisi kirinya.
Joya : “Aacchh!”
Joya kaget dengan teriakannya sendiri. Berikutnya hantu pocong muncul dari sisi kanannya, saking takutnya Joya memeluk lengan orang yang duduk di sebelahnya. Saat itu ia menyadari wangi parfum orang itu sepertinya tahu, tapi siapa?
Joya : “Huaa...!!”
Hantu berikutnya sudah muncul persis di depan mereka, Joya semakin mempererat pelukannya, menyadari kalau parfum itu milik Boy. Benar saja, ia sedang memeluk lengan Boy. Boy menatapnya dalam kegelapan rumah hantu.
Mereka terus bertatapan sampai kereta keluar dari rumah hantu, tidak perduli lagi dengan hantu-hantu yang muncul setelah itu. Beberapa hantu yang menyamar hanya bengong melihat mereka dicuekin.
Cucu Ny. Besar : “Om Boy sama Joya, pacaran ya?" Mereka semua mulai menggoda kami.
Cucu Ny. Besar : "Pacaran! Pacaran! Om Boy dan Joya pacaran."
Joya langsung melepaskan lengan Boy dan turun dari kereta rumah hantu. Ia berdiri di antara cucu Ny. Besar yang lagi-lagi menariknya ke wahana berikutnya.
Kali ini mereka menarik Joya ke kincir angin. Joya ikut mengantri dan masuk ke salah satu kotak kincir, ternyata Boy juga ikut masuk dan hanya ada mereka berdua di dalamnya.
Kincir angin mulai bergerak, Boy tetap memandang Joya. Ia membuat Joya salah tingkah saat Joya memergokinya.
Boy : “Jadi, kau sudah lulus dan kerja sekarang?” Joya mengangguk.
Joya : “Iya, Tuan.”
Boy : “Apa rencanamu selanjutnya?” Joya tersenyum sekilas.
Joya : “Saya hanya ingin melakukan satu hal saja, membuat Ny. Besar selalu bahagia.”
Boy tersenyum tipis,
Boy : “Lalu apa yang menurutmu akan membuat ibu bahagia?”
Joya memandang keluar. Mereka sudah sampai di bagian tertinggi dari kincir angin itu. Mata Joya fokus menatap pemandangan kota di luar sana.
__ADS_1
Dirinya tersadar kalau Boy masih menunggu jawabannya. Saat Joya menatap Boy lagi, pria itu masih setia menatapnya.
Joya : “Saya juga tidak tahu, Tuan. Saya sudah berusaha lulus dengan baik, mencari pekerjaan yang baik, tapi tetap saja ada sesuatu yang kurang.”
Boy : “Kau tahu apa yang ibu inginkan? Melihatmu menikah dengan pria yang kau cintai dan mencintaimu.”
Joya : "Mungkin begitu, Tuan. Tapi saya belum punya pria yang tepat."
Boy : "Kau yakin?"
Joya bingung mendengar kata-kata Boy. Tentu saja ia yakin, bukankah Boy akan menikah dengan wanita lain. Sementara Joya belum menemukan pria yang akan membuatnya jatuh cinta lagi. Joya masih perlu waktu menata hatinya. Waktu yang sangat lama.
Mereka bertatapan lagi, sampai petugas kincir angin menegur mereka agar segera turun. Joya keluar dari kincir angin dan berjalan cepat meninggalkan Boy.
Ia mencari Ny. Besar di restauran, tapi disana tidak ada orang yang dikenalnya. Saat Joya ingin mengambil ponselnya di dalam tas, seseorang menariknya ke sudut taman yang sepi. Boy! Ia menyudutkan Joya ke dinding.
Joya : “Tuan... Saya harus mencari Ny. Besar. Sebentar, tuan..." Boy menahan tangan Joya tetap dalam genggamannya.
Boy : “Ibu sudah pulang, tinggal kita berdua disini...”
Joya : “Tapi, Tuan...” Joya mencoba melepaskan tangannya dari Boy. Ia takut situasi mereka sekarang dilihat orang yang mereka kenal dan jadi salah paham.
Joya mencoba mendorong tubuh Boy agar tidak semakin dekat, entah siapa yang memulai, tahu-tahu mereka hampir berciuman. Joya mengelak tepat waktu dengan menunduk,
Joya : “Tuan, kita tidak boleh...” Joya menggeleng,
Boy memaksa mencium Joya, membuat Joya terkejut setengah mati. Joya mendorong Boy untuk melepaskan ciuman mereka, nafasnya bersautan dengan debaran jantungnya.
Boy : “Aku sudah bersabar menunggumu selama ini. Tiga tahun, Joya. Tolong beri aku kesempatan.”
Joya tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
Joya : “Tapi Tuan akan segera menikah, pesta pernikahan sedang dipersiapkan. Jangan bicara sembarangan, Tuan.” Joya bergeser dari hadapan Boy.
Boy menarik tangan Joya, memeluk pinggang Joya, Joya mencoba meronta sampai capek sendiri. Boy tersenyum, menatap Joya yang ngos-ngosan, membiarkan dirinya memeluk tubuh gadis itu.
Beberapa orang lewat di dekat mereka sambil kasak kusuk. Mereka mengira Boy dan Joya sedang pacaran disana. Boy menggenggam tangan Joya mengajaknya kembali ke tempat parkir.
Boy : “Kita pulang dulu ya. Kau akan tahu nanti.”
🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak...
🌴🌴🌴🌴🌴
__ADS_1