
Aldo sedang mengurung diri di dalam kamarnya, ia sangat malu melihat tingkat lakunya saat pertemuan keluarga mereka kemarin. Apalagi Andra memperlihatkan video dari awal pertemuan sampai akhir.
Aldo : “Shit! Malu banget!”
Aldo menyusupkan wajahnya ke dalam bantal dan memukul-mukul ranjangnya dengan seluruh tubuh. Bagaimana bisa ia melakukan hal memalukan seperti itu hanya gara-gara Aliya? Jatuh cinta membuat perubahan yang besar pada Aldo.
Ia ingin sekali mencium Aliya kemarin, tapi tidak ada kesempatan. Aldo mencoba menghubungi Aliya melalui v-call.
Aldo : “Hai, sayang. Aku kangen kamu…”
Aliya : “Hmm…”
Aldo : “Kenapa cuma hmm? Kamu gak kangen aku?”
Aliya : “Hmm…”
Aldo : “Kamu lagi apa sih?”
Aldo memperhatikan kalau Aliya sedang luluran, beberapa orang wanita membalurkan lulur kuning ke tubuh Aliya sambil sesekali mengusapnya lembut.
Aldo : “Al, turunkan sedikit kameranya. Kamu gak pake baju kan?”
Aliya : “Dasar mesum! Kamu telpon cuma buat itu?”
Aldo : “Al, cium aku… Aku mau dicium.”
Aliya memutuskan sambungan, ia sudah cukup malu kemarin dan belum sanggup menerima rasa malu lagi akibat ulah Aldo sekarang.
-------
Aldo benar-benar tidak sabar, ia gelisah menunggu waktu keberangkatannya ke rumah Aliya untuk pertunangan mereka. Malam itu Aldo terlihat tampan dan gagah dengan balutan kemeja formal berwarna merah maroon.
Mereka tiba di rumah Aliya tepat waktu, hal mengagetkan ditemukan Aldo saat masuk ke rumah Aliya. Deril sudah ada disana, sedang duduk bersama pihak keluarga Aliya. Mereka menyambut kedatangan Aldo dan keluarga. Deril ikut berdiri, ia menjaga jarak aman agar tidak bersinggungan dengan Aldo.
Setelah basa-basi singkat, tibalah acara inti. Semua orang tertegun melihat ke arah Aliya yang keluar di dampingi Rara dan Joya. Malam itu Aliya memakai kebaya merah marron dengan hiasan payet lengkap dengan make up dan hair do.
Lagi-lagi Aldo melongo melihat kecantikan Aliya,
Pak Alex : “Nak, kalau kau terus begini, liurmu akan menetes. Jaga sikapmu.”
Aldo menarik nafas panjang dan berusaha tidak menatap Aliya dengan intens tapi ia tidak bisa.
Aldo : “Pah, cubit aja dech kalo Aldo nglamun lagi. Aliya beneran cantik banget. Aldo gak bisa berpikir jernih sekarang.”
Pak Alex : “Papa akan pukul kepalamu kalau buat malu lagi. Apa kau mau papa jewer di depan calon mertuamu?”
Aldo bergidik mendengar ancaman papanya, ia berusaha sangat keras untuk tidak melihat Aliya dan berharap acara cepat selesai. Namun saat bertukar cincin dimulai, Aldo kembali terpana. Aliya tersenyum manis setelah memasangkan cincin di jari Aldo. Tapi saat Aldo akan melakukan hal yang sama, ia malah menarik Aliya dan mencium pipinya di depan semua orang.
Semua : “Oooohhhhh….” Ucap semua orang serentak.
Aldo : “I love you, Al.” kata Aldo sambil memasangkan cincin di jari Aliya.
__ADS_1
Aliya : “Love you too.”
Aldo menarik tangan Aliya, mencium tangannya sedikit menunduk di depan Aliya. Fotografer mengambil banyak foto mereka yang tidak berhenti tersenyum bahagia. Mengabaikan kesedihan seseorang di sudut tempat pesta.
-------
Deril membawa minumannya ke halaman belakang rumah Aliya yang sudah disulap jadi tempat untuk makan dengan meja dan kursi. Ia duduk di salah satu kursi dan mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru tempat.
Seseorang ikut duduk di sampingnya membawa piring dan gelas minuman. Deril menatap gadis manis di sampingnya, dan pandangan mereka bertemu. Deril terpana menatap mata gadis itu, matanya ikut bersinar ketika ia tersenyum menatap Deril.
Mila : “Maaf, kalau saya mengganggu. Tempat lainnya sudah penuh.”
Deril : “Oh, tidak apa-apa. Saya boleh tanya, apa yang sedang anda makan?”
Mila : “Ini siomay. Anda tidak makan?”
Deril : “Sangat tidak nyaman seperti ini. Boleh kenalan? Saya Deril.”
Mila : “Saya Mila. Jadi Deril mau makan ini? Mau dicoba dulu?”
Deril : “Apa boleh? Saya tidak mau mengganggu waktu makanmu.”
Mila : “Gak masalah, apa sebelumnya Deril belum pernah kesini?” Mila memotong bagian siomay dan memberikan garpunya pada Deril.
Deril : “Aku temannya Aliya, kami bertemu di LN. Dan aku baru tahu kalau papaku rekan bisnis om Boy.”
Mila : “Cobalah sedikit. Kalau aku sepupunya Aliya, keponakan om Boy. Aku juga tinggal di LN.”
Mila : “Ada beberapa masakan lain, mau kutemani mencicipi semuanya?”
Deril mengikuti Mila berkeliling, ia senang bisa menemukan teman disana. Teman yang akan membuat hari-harinya lebih istimewa lagi.
------
Malam pertunangan Aliya dan Aldo menyebarkan perasaan cinta pada semua orang yang datang. Keceriaan pesta, membuat mereka tidak menyadari kalau Aliya dan Aldo sudah menghilang dari tengah-tengah mereka. Mereka berjalan ke halaman samping di dekat kamar Aliya.
Aldo menyudutkan Aliya ke dinding dan menahannya disana. Tangannya mengangkat dagu Aliya,
Aldo : “Kau cantik sekali, Al. Sangat sempurna.”
Aliya : “Kau juga tampan dengan baju ini. Apa kau lelah?”
Aldo : “Aku lelah menunggumu menciumku.”
Aliya : “Nanti ada yang lihat. Aku malu, tau.”
Aldo : “Tidak akan ada yang melihatnya. Sebentar saja, Al…”
Cup! Aldo mengecup bibir Aliya, memegang tengkuknya agar ciuman mereka semakin dalam. Aliya mengalungkan tangannya di leher Aldo, ia mulai menikmati ciuman Aldo.
Tanpa mereka sadari, adegan panas mereka di foto dan di videokan oleh fotografer dan Andra. Andra mengikuti kemana kakaknya pergi setelah tukar cincin dan acara bebas.
__ADS_1
Setelah ciuman yang panas, berganti jadi pelukan hangat, Aliya mendorong Aldo agar melepaskannya.
Aliya : “Kita harus balik ke pesta, atau orang-orang akan mulai mencari kita.”
Aldo : “Aku mau balik ke pesta, tapi beri aku ciuman lagi. Kamu yang cium…”
Aliya : “Kau ini!”
Aliya menyosor pipi Aldo dan kembali menatapnya. Aldo menggeleng, ia menunjuk bibirnya,
Aldo : “Aku mau disini.”
Tiba-tiba,
Andra : “Eehheemmm… Kak, ayo kita pulang.”
Aldo : “Kau pulang saja duluan, mengganggu saja.”
Andra : “Tapi, kak. Papa sedang menuju kesini, ayo kita pulang sebelum papa menjewermu.”
Andra menggaruk kepalanya frustasi, ia tidak suka harus pulang sekarang. Ia ingin tidur malam ini sambil memeluk Aliya. Aldo memeluk Aliya sekali lagi, kemudian menuntun Aliya kembali ke tengah pesta.
Papa Alex dan papa Boy sedang berbincang akrab, belum ada tanda-tanda kalau akan pulang sementara Deril dan Mila lewat di dekat mereka dan berhenti.
Deril : “Selamat ya, Al. Aldo.”
Aliya : “Makasih, Deril. Loh, kok mb Mila bisa sama Deril?” Aldo hanya menggangguk malas.
Mila : “Aku nemenin Deril keliling nyicipin makanan. Kalian gak makan? Apa sudah makan?”
Mila memperhatikan di bibir Aldo ada bekas lipstick yang sama warnanya dengan lipstick Aliya. Mila mendekat pada Aliya,
Mila : “Kalian habis ciuman ya? Bekasnya kelihatan sekali.”
Aliya refleks menoleh pada bibir Aldo yang terlihat sedikit pink. Aldo yang ditatap jadi bingung,
Aldo : “Kenapa?”
Mila : “Nich.” Mila memberikan tissue ke tangan Aldo dan menunjuk bibirnya.
Aldo mengusap bibirnya dan mendapati lisptik Aliya menempel di bibirnya. Wajah keduanya sudah merah padam, malu-malu dipergoki ciuman. Deril hanya tersenyum melihat semua kejadian itu. Sesekali ia melirik Mila yang masih menggoda Aldo dan Aliya. Entah kenapa ia merasa senang mendengar suara tawa Mila.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------
__ADS_1