Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Gak tau arah


__ADS_3

Eps. 20 – Gak


tau arah


Nanda mengikuti


Ana ke sofa. Ia berjalan telanjang tanpa berusaha menutupi wilayah pribadinya.


Ana memalingkan wajahnya yang sudah merona.


“Bisa-bisanya


kamu gitu. Ambil bathrobe sana. Gak tau malu.”kata Ana malas.


“Berani bilang


aku gak tau malu!!”bentak Nanda


Ana langsung


menarik tangan Nanda agar duduk di sofa dan bersandar pada tubuh Nanda. Ia


sedikit demi sedikit mempelajari bagaimana sifat Nanda yang sebenarnya. Nanda


memeluk pinggang Ana dan tersenyum senang.


Ana bertanya


lagi tentang Charlie tapi Nanda tidak mau membahas pria lain saat mereka


bersama. Ana mengatakan kalau Charlie bukan pria lain. Bukankah Charlie adalah


orang kepercayaan Nanda. Ana terus membujuk Nanda dengan mengatakan suaminya


itu sangat tampan dan tubuhnya sangat bagus.


Tangan Ana


sudah menjelajahi tubuh Nanda, memancing hasrat Nanda kembali bangkit. Ketika


Nanda ingin menyentuh tubuh Ana, Ana menepis tangan Nanda. Ia melakukan itu


terus sampai Nanda kesal sendiri. Melihat Nanda kesal, Ana kembali bertingkah


imut dan menjelajahi tubuh Nanda lagi.


“Kau


ini!”bentak Nanda lagi.


“Aku kenapa,


suamiku? Ayo ceritakan tentang Charlie.”bujuk Ana sambil pura-pura polos.


“Puaskan aku


dulu.”pinta Nanda yang mulai bergairah lagi.


“Nanti ya.”kata


Ana cepat.


“Kalau gitu


nanti ceritanya.”kata Nanda gak mau kalah.


Ana mendengus


kesal. Ia melepaskan diri dari Nanda dan ingin keluar dari kamar. Nanda


menahannya,


“Aku akan


cerita. Kamu mau kemana? Jangan marah.”bujuk Nanda yang tidak ingin Ana marah.


“Aku mau cari


bajuku. Kita duduk di luar yuk. Aku ingin berkeliling rumahmu, suamiku.”pinta


Ana manja.


“Bajumu ada di


kamar di depan kamar Nadia. Tunggu, aku pakai baju dulu.”kata Nanda sambil


membuka lemarinya.


Ana membantu


Nanda memakai kemejanya. Ia merapikan rambut Nanda yang berantakan dan mencium


pipi suaminya itu. Mereka berjalan keluar dari kamar menuju kamar yang dimaksud


Nanda.


Ana ingin


mengambil pakaian di dalam tasnya, tapi Nanda menyuruhnya memilih pakaian baru


dari dalam lemari. Ana memilih dress yang tergantung di lemari itu. Toh,


dirinya sudah terlambat kalau bekerja hari ini. Ia akan mengirimkan pesan pada


staf-nya nanti.


Ana merapikan


penampilannya di depan meja rias. Nanda yang melihat Ana sudah rapi dan cantik,


membawanya keluar dari kamar. Mereka bergandengan tangan keluar dari lorong dan


berjalan ke arah pintu keluar.


Saat Nanda


membawa Ana keluar dari villa itu, beberapa bodyguard yang berjaga di depan langsung


membungkuk pada mereka.


“Dengar, mulai


sekarang nyonya Ana adalah istriku. Kalian harus menghormatinya dan juga


menjaganya dengan baik. Kalian mengerti?”kata Nanda.

__ADS_1


“Baik, tuan


muda. Halo, nyonya muda.”sapa para bodyguard itu serempak.


“Halo


semuanya.”balas Ana kikuk.


Mereka berbalik


masuk kembali ke dalam rumah. Kali ini para pelayan yang dikumpulkan Nanda.


“Kalian sudah


tahu kalau nyonya Ana sudah menjadi istriku sekarang. Dia akan mengurus rumah


tanggaku mulai sekarang. Kalian harus dengarkan dia. Mengerti.”perintah Nanda.


“Baik, tuan


muda. Selamat siang, nyonya muda.”sapa para pelayan itu.


“Selamat siang.


Terima kasih atas bantuannya.”balas Ana gugup.


Nanda


menunjukkan hampir semua bagian rumah itu pada Ana. Ana sampai pusing melihat


semuanya. Ia hanya ingin mengingat dimana dapur, kamar, dan juga pintu keluar


saja.


“Suamiku, rumah


ini terlalu besar. Bisa tunjukkan saja di mana tadi kamar dan dapurnya?”pinta


Ana.


“Apa kau tidak


bisa mengingatnya?”tanya Nanda sambil menggenggam tangan Ana.


“Aku punya


masalah mengingat arah. Kalau suatu tempat terlalu luas, aku tidak bisa


menghafalnya dengan cepat. Makanya aku menyewa rumah yang kecil.”kata Ana


sambil mengingat arah dari lorong kamar ke dapur dan ke pintu keluar.


Nanda tersenyum


melihat istrinya sibuk memperhatikan arah sambil komat-kamit sendiri. Ia jadi


ingin mengajak Ana kembali ke kamar mereka. Tapi Ana mengatakan kalau mereka


harus menjemput Nadia sekarang.


*****


Joya datang ke


kantor Boy saat jam makan siang. Ia menyapa Carol dan mereka masuk bersama ke


“Hai,


sayang.”sapa Boy pada Joya.


“Hai, mas.


Dimana kak Rian?”


“Oh, pak Rian


sudah keluar makan siang dengan ibu Niken, Ny.”kata Carol sambil membantu


membuka bekal makanan dan meletakkannya diatas meja.


“Yah, padahal


aku masak banyak loh. Ntar gak habis gimana?”tanya Joya dengan wajah cemas.


“Tenang aja,


Ny. Nando sudah bawa bala bantuan.”kata Carol lagi.


Nando masuk ke


ruang kerja Boy setelah mengetuk pintu. Dibelakang ada seorang laki-laki muda


yang asyik memegang ponselnya.


“Siang, Ny.


Joya.”sapa Nando.


“Siang, Nando. Dan


siapa ini?”tanya Joya kepo pada laki-laki di belakang Nando.


“Siang, Ny.


Joya. Saya Steven.”kata Steven sambil membungkuk.


“Sayang, Steven


ini IT yang hebat.”kata Boy sambil duduk di sofa.


“Tuan Boy


terlalu memuji. Saya tidak sehebat itu.”kata Steven santai.


Mereka duduk


bersama dan bersiap makan siang bersama. Nando tersenyum senang saat Carol


mengambilkan makanan untuknya. Steven makan sambil sesekali memperhatikan


ponselnya.


“Ayo, yang mau


tambah lagi silakan. Jangan malu-malu.”tawar Joya.

__ADS_1


“Sayang, tolong


ambilkan minum.”pinta Boy.


Joya


mengambilkan minuman untuk Boy.


“Jadi bagaimana


hubungan antara mbak Ana dan Nando?”tanya Joya pada Carol dan Nando.


“Sebenarnya,


mereka sudah menikah kemarin sore.”jawab Nando.


“Apa??!! Wow,


gercep sekali ya.”kata Joya senang.


“Ya, Ny.


Pernikahan seperti kami baru secara negara. Untuk ijab akan diadakan hari Sabtu


ini. Saya harap tuan Boy dan Ny. Joya bisa datang. Kami tidak membagikan


undangan resmi, hanya keluarga dan teman dekat saja.”kata Nando lagi.


“Kami akan


datang, Nando. Berarti ini acara kalian berempat ya.”kata Boy.


“Iya, tuan.”kata


Nando.


“Apa mbak Ana


ada? Aku harus mengucapkan selamat secara langsung.”tanya Joya.


“Sepertinya


tadi mereka belum bangun saat kita berangkat ya, sayang. Sampai Nadia diantar


Charlie ke sekolah, kan?”tanya Nando pada Carol.


“Ow, langsung


malam pertama kali ya.”kata Joya sambil tersenyum penuh arti.


“Kita saja


belum ya. Sepertinya kakak ingin secepatnya memberikan Nadia adik.”kata Nandi


terus terang.


“Harusnya


kalian coba malam pertama itu. Ya, kan sayang.”kata Boy sambil menatap Joya.


“Jangan


menggoda mereka, mas.”kata Joya sambil meletakkan piringnya di meja.


Boy


memperhatikan Joya makan lebih sedikit dari biasanya. Sejak kapan Joya jadi


malas makan.


“Sayang, kenapa


makan cuma sedikit? Biasanya kamu makan lebih banyak dari ini.”kata Boy.


“Aku lagi males


makan nasi, mas. Pengen nyemil aja.”kata Joya sambil mengeluarkan beberapa


cemilan dari dalam tas yang dibawanya.


Ada buah-buahan


segar yang sudah di kupas dan dipotong-potong. Ada juga tahu goreng dengan


bumbu petis, dan juga asinan mangga.


Joya menawari


Carol, Nando, dan Steven. Tapi ketiganya sudah kekenyangan memakan masakan


Joya. Bahkan Steven menghabiskan semua makanan yang tersisa di kotak bekal


Joya. Badannya kecil tapi nafsu makannya tinggi sekali.


Joya menikmati


cemilannya sampai rujak dan tahu gorengnya habis. Sesekali ia mengobrol dengan


Carol dan mengatakan ingin merasakan bekerja di kantor lagi. Boy yang


mendengarnya, meminta Joya bekerja di kantornya kalau dia bosan di rumah.


Joya bertanya


pekerjaan semacam apa yang bisa ia bantu di kantor Boy. Dan Boy mengatakan


dengan terus terang kalau Joya hanya perlu melayaninya saja. Carol tersenyum


malu mendengarnya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kalau Joya beneran


bekerja disini.


Tapi Carol


mengangguk dengan semangat saat Joya menanyakan pendapatnya. Ia akan punya


teman mengobrol kalau Joya bekerja di kantor Boy. Joya terlihat senang sekali


dan langsung menelpon Ny.Besar untuk meminta ijin dari ibu mertuanya itu.


*****


Klik


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa

__ADS_1


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2