
Eps. 20 – Gak
tau arah
Nanda mengikuti
Ana ke sofa. Ia berjalan telanjang tanpa berusaha menutupi wilayah pribadinya.
Ana memalingkan wajahnya yang sudah merona.
“Bisa-bisanya
kamu gitu. Ambil bathrobe sana. Gak tau malu.”kata Ana malas.
“Berani bilang
aku gak tau malu!!”bentak Nanda
Ana langsung
menarik tangan Nanda agar duduk di sofa dan bersandar pada tubuh Nanda. Ia
sedikit demi sedikit mempelajari bagaimana sifat Nanda yang sebenarnya. Nanda
memeluk pinggang Ana dan tersenyum senang.
Ana bertanya
lagi tentang Charlie tapi Nanda tidak mau membahas pria lain saat mereka
bersama. Ana mengatakan kalau Charlie bukan pria lain. Bukankah Charlie adalah
orang kepercayaan Nanda. Ana terus membujuk Nanda dengan mengatakan suaminya
itu sangat tampan dan tubuhnya sangat bagus.
Tangan Ana
sudah menjelajahi tubuh Nanda, memancing hasrat Nanda kembali bangkit. Ketika
Nanda ingin menyentuh tubuh Ana, Ana menepis tangan Nanda. Ia melakukan itu
terus sampai Nanda kesal sendiri. Melihat Nanda kesal, Ana kembali bertingkah
imut dan menjelajahi tubuh Nanda lagi.
“Kau
ini!”bentak Nanda lagi.
“Aku kenapa,
suamiku? Ayo ceritakan tentang Charlie.”bujuk Ana sambil pura-pura polos.
“Puaskan aku
dulu.”pinta Nanda yang mulai bergairah lagi.
“Nanti ya.”kata
Ana cepat.
“Kalau gitu
nanti ceritanya.”kata Nanda gak mau kalah.
Ana mendengus
kesal. Ia melepaskan diri dari Nanda dan ingin keluar dari kamar. Nanda
menahannya,
“Aku akan
cerita. Kamu mau kemana? Jangan marah.”bujuk Nanda yang tidak ingin Ana marah.
“Aku mau cari
bajuku. Kita duduk di luar yuk. Aku ingin berkeliling rumahmu, suamiku.”pinta
Ana manja.
“Bajumu ada di
kamar di depan kamar Nadia. Tunggu, aku pakai baju dulu.”kata Nanda sambil
membuka lemarinya.
Ana membantu
Nanda memakai kemejanya. Ia merapikan rambut Nanda yang berantakan dan mencium
pipi suaminya itu. Mereka berjalan keluar dari kamar menuju kamar yang dimaksud
Nanda.
Ana ingin
mengambil pakaian di dalam tasnya, tapi Nanda menyuruhnya memilih pakaian baru
dari dalam lemari. Ana memilih dress yang tergantung di lemari itu. Toh,
dirinya sudah terlambat kalau bekerja hari ini. Ia akan mengirimkan pesan pada
staf-nya nanti.
Ana merapikan
penampilannya di depan meja rias. Nanda yang melihat Ana sudah rapi dan cantik,
membawanya keluar dari kamar. Mereka bergandengan tangan keluar dari lorong dan
berjalan ke arah pintu keluar.
Saat Nanda
membawa Ana keluar dari villa itu, beberapa bodyguard yang berjaga di depan langsung
membungkuk pada mereka.
“Dengar, mulai
sekarang nyonya Ana adalah istriku. Kalian harus menghormatinya dan juga
menjaganya dengan baik. Kalian mengerti?”kata Nanda.
__ADS_1
“Baik, tuan
muda. Halo, nyonya muda.”sapa para bodyguard itu serempak.
“Halo
semuanya.”balas Ana kikuk.
Mereka berbalik
masuk kembali ke dalam rumah. Kali ini para pelayan yang dikumpulkan Nanda.
“Kalian sudah
tahu kalau nyonya Ana sudah menjadi istriku sekarang. Dia akan mengurus rumah
tanggaku mulai sekarang. Kalian harus dengarkan dia. Mengerti.”perintah Nanda.
“Baik, tuan
muda. Selamat siang, nyonya muda.”sapa para pelayan itu.
“Selamat siang.
Terima kasih atas bantuannya.”balas Ana gugup.
Nanda
menunjukkan hampir semua bagian rumah itu pada Ana. Ana sampai pusing melihat
semuanya. Ia hanya ingin mengingat dimana dapur, kamar, dan juga pintu keluar
saja.
“Suamiku, rumah
ini terlalu besar. Bisa tunjukkan saja di mana tadi kamar dan dapurnya?”pinta
Ana.
“Apa kau tidak
bisa mengingatnya?”tanya Nanda sambil menggenggam tangan Ana.
“Aku punya
masalah mengingat arah. Kalau suatu tempat terlalu luas, aku tidak bisa
menghafalnya dengan cepat. Makanya aku menyewa rumah yang kecil.”kata Ana
sambil mengingat arah dari lorong kamar ke dapur dan ke pintu keluar.
Nanda tersenyum
melihat istrinya sibuk memperhatikan arah sambil komat-kamit sendiri. Ia jadi
ingin mengajak Ana kembali ke kamar mereka. Tapi Ana mengatakan kalau mereka
harus menjemput Nadia sekarang.
*****
Joya datang ke
kantor Boy saat jam makan siang. Ia menyapa Carol dan mereka masuk bersama ke
“Hai,
sayang.”sapa Boy pada Joya.
“Hai, mas.
Dimana kak Rian?”
“Oh, pak Rian
sudah keluar makan siang dengan ibu Niken, Ny.”kata Carol sambil membantu
membuka bekal makanan dan meletakkannya diatas meja.
“Yah, padahal
aku masak banyak loh. Ntar gak habis gimana?”tanya Joya dengan wajah cemas.
“Tenang aja,
Ny. Nando sudah bawa bala bantuan.”kata Carol lagi.
Nando masuk ke
ruang kerja Boy setelah mengetuk pintu. Dibelakang ada seorang laki-laki muda
yang asyik memegang ponselnya.
“Siang, Ny.
Joya.”sapa Nando.
“Siang, Nando. Dan
siapa ini?”tanya Joya kepo pada laki-laki di belakang Nando.
“Siang, Ny.
Joya. Saya Steven.”kata Steven sambil membungkuk.
“Sayang, Steven
ini IT yang hebat.”kata Boy sambil duduk di sofa.
“Tuan Boy
terlalu memuji. Saya tidak sehebat itu.”kata Steven santai.
Mereka duduk
bersama dan bersiap makan siang bersama. Nando tersenyum senang saat Carol
mengambilkan makanan untuknya. Steven makan sambil sesekali memperhatikan
ponselnya.
“Ayo, yang mau
tambah lagi silakan. Jangan malu-malu.”tawar Joya.
__ADS_1
“Sayang, tolong
ambilkan minum.”pinta Boy.
Joya
mengambilkan minuman untuk Boy.
“Jadi bagaimana
hubungan antara mbak Ana dan Nando?”tanya Joya pada Carol dan Nando.
“Sebenarnya,
mereka sudah menikah kemarin sore.”jawab Nando.
“Apa??!! Wow,
gercep sekali ya.”kata Joya senang.
“Ya, Ny.
Pernikahan seperti kami baru secara negara. Untuk ijab akan diadakan hari Sabtu
ini. Saya harap tuan Boy dan Ny. Joya bisa datang. Kami tidak membagikan
undangan resmi, hanya keluarga dan teman dekat saja.”kata Nando lagi.
“Kami akan
datang, Nando. Berarti ini acara kalian berempat ya.”kata Boy.
“Iya, tuan.”kata
Nando.
“Apa mbak Ana
ada? Aku harus mengucapkan selamat secara langsung.”tanya Joya.
“Sepertinya
tadi mereka belum bangun saat kita berangkat ya, sayang. Sampai Nadia diantar
Charlie ke sekolah, kan?”tanya Nando pada Carol.
“Ow, langsung
malam pertama kali ya.”kata Joya sambil tersenyum penuh arti.
“Kita saja
belum ya. Sepertinya kakak ingin secepatnya memberikan Nadia adik.”kata Nandi
terus terang.
“Harusnya
kalian coba malam pertama itu. Ya, kan sayang.”kata Boy sambil menatap Joya.
“Jangan
menggoda mereka, mas.”kata Joya sambil meletakkan piringnya di meja.
Boy
memperhatikan Joya makan lebih sedikit dari biasanya. Sejak kapan Joya jadi
malas makan.
“Sayang, kenapa
makan cuma sedikit? Biasanya kamu makan lebih banyak dari ini.”kata Boy.
“Aku lagi males
makan nasi, mas. Pengen nyemil aja.”kata Joya sambil mengeluarkan beberapa
cemilan dari dalam tas yang dibawanya.
Ada buah-buahan
segar yang sudah di kupas dan dipotong-potong. Ada juga tahu goreng dengan
bumbu petis, dan juga asinan mangga.
Joya menawari
Carol, Nando, dan Steven. Tapi ketiganya sudah kekenyangan memakan masakan
Joya. Bahkan Steven menghabiskan semua makanan yang tersisa di kotak bekal
Joya. Badannya kecil tapi nafsu makannya tinggi sekali.
Joya menikmati
cemilannya sampai rujak dan tahu gorengnya habis. Sesekali ia mengobrol dengan
Carol dan mengatakan ingin merasakan bekerja di kantor lagi. Boy yang
mendengarnya, meminta Joya bekerja di kantornya kalau dia bosan di rumah.
Joya bertanya
pekerjaan semacam apa yang bisa ia bantu di kantor Boy. Dan Boy mengatakan
dengan terus terang kalau Joya hanya perlu melayaninya saja. Carol tersenyum
malu mendengarnya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kalau Joya beneran
bekerja disini.
Tapi Carol
mengangguk dengan semangat saat Joya menanyakan pendapatnya. Ia akan punya
teman mengobrol kalau Joya bekerja di kantor Boy. Joya terlihat senang sekali
dan langsung menelpon Ny.Besar untuk meminta ijin dari ibu mertuanya itu.
*****
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
__ADS_1
tinggalkan jejakmu). Tq.