
Eps. 20 – Tidak bisa ditahan
Nanda : “Apa
kamu sudah hamil?”
Ana : “Gimana
mau hamil, kita belum sampai tahap itu. Lagian aku capek. Kamu gak capek?”
Wrong answer,
Ana. Nanda terus menekan Ana sekarang, menciumi lehernya sampai Ana melenguh
dan mendesah gak karuan. Nanda membuat Ana tidak bisa tidur dan kepanasan
sendiri.
Ana : “Apa yang
kau lakukan?!!”
Nanda : “Aku
mau anak sekarang!”
Ana : “Gak
semudah itu.”
Nanda : “Tunjukkan
saja caranya, biar aku yang lakukan sisanya.”
Ana menatap
ngeri pada sosok Nanda yang sudah mengukungnya. Biar bagaimanapun dirinya belum
pernah melakukan ML, bahkan setelah menikah dengan almarhum suaminya dulu,
mereka belum sempat melakukan malam pertama pernikahan. Kalau sekarang Nanda
memaksanya untuk melakukan itu, Ana takut dirinya tidak akan kuat berjalan
besok.
Ana : “Suamiku,
sabar dulu. Tolong tenang.”
Nanda : “Makanya
cepetan kasi tahu caranya!”
Ana : “Aku juga
gak tau caranya. Katanya disuruh masukin aja.”
Nanda : “Masukin
apa?”
Ana : “Masukin
itu.”
Ana menunjuk
lele Nanda yang masih gak tau malu tidak tertutup apapun. Nanda memperhatikan
tubuh Ana,
Nanda : “Masukin
kemana?”
Ana : “Manaku
tahu. Mungkin kesitu.”
Ana menunjuk serabut
kelapa dibawah sana. Nanda langsung mengangkat kaki Ana dan mencoba melakukan
apa yang tadi dikatakan Ana.
Nanda : “Gak
bisa. Terlalu kecil.”
Ana : “Ach,
sakit! Pelan-pelan!”
Nanda : “Bukannya
kamu udah pernah nikah, pasti tahu caranya.”
Ana : “Aku...
aku belum sempat masukin sama suamiku dulu.”
Nanda melengos,
ia berbaring di samping Ana, sibuk berpikir bagaimana caranya. Kalau dia tanya
ke Charlie, jelas dia tidak akan mendapat jawabannya. Kalau dia tanya Nando,
adik setannya itu akan menggodanya terus sampai dia mati.
Ana : “Suamiku,
__ADS_1
kita tidur saja ya. Besok pikirkan gimana caranya.”
Nanda : “Tidak
bisa! Aku belum ngantuk. Aku coba paksa ya.”
Ana : “Apa?!”
Nanda : “Berani
nolak?!”
Ana menegang
saat kedua tangannya ditangkap Nanda. Ia hanya bisa menjerit kesakitan saat
Nanda memaksakan dirinya. Tapi rasa sakit itu hanya sebentar ia rasakan, Nanda
yang baru saja belajar cara membahagiakan wanita, benar-benar belajar dengan
baik.
Semalaman itu,
Nanda benar-benar membuat Ana tidak bisa tidur. Sampai matahari akan terbangun
dari tidurnya, Nanda baru melepaskan Ana.
Hari mulai
siang, Nadia yang masih menunggu Ana untuk sarapan bersama, terpaksa sarapan
dengan Nando dan Carol. Charlie yang juga sudah datang, hanya tersenyum ketika
Nadia memintanya memanggil Ana.
Nadia : “Charlie,
cepetan panggil tante Ana.”
Charlie : “Kata
nona muda mau punya adik. Jadi biarkan tuan muda pertama dan nyonya tidur
sampai siang ya. Nona muda berangkat ke sekolah sama saya.”
Nadia : “Apa
adikku sudah ada waktu pulang sekolah nanti?”
Nando : “Belum,
Nadia. Tunggu 10 bulan lagi ya.”
Nadia : “Berapa
lama 10 bulan itu?”
dengan 10 kali ke toko buku.”
Nadia : “Oh.
Ayo kita berangkat, Charlie. Dadah, kak.”
Carol : “Nadia,
cium kakak dulu.”
Nadia mendekat
pada Carol dan mencium pipinya kanan dan kiri. Ketika Nando menyodorkan pipinya
untuk dicium Nadia, Nadia menolaknya.
Nadia : “Kakak
gak boleh cium Nadia, nanti kak Carol marah.”
Carol tersenyum
geli melihat kepolosan Nadia yang berjalan cepat dan menggandeng tangan Charlie
keluar dari villa Nanda. Ia terkejut saat merasakan kecupan di pipinya. Nando
baru saja mencium pipinya tanpa bertanya dulu. Keduanya tersenyum malu-malu.
Sementara itu
di kamar pengantin baru kita. Ana memaksakan dirinya untuk bangun. Ia merasakan
sakit diseluruh tubuhnya terutama di bagian pribadinya. Dinginnya AC yang masih
kencang mengeluarkan udara super dingin membuat tubuh Ana gemetar kedinginan.
Ana : “Haduh,
dingin banget. Hatssiiu!”
Ia mulai
bersin-bersin. Tubuhnya mulai menghangat, Ana demam tinggi. Ia menyelimuti
tubuhnya dengan selimut sampai menarik bagian selimut milik Nanda. Nanda yang
merasa selimutnya di tarik, sontak terbangun.
Nanda : “Hei,
kenapa kau tarik selimutku?”
Ana : “Aku
__ADS_1
kedinginan. Matikan AC-nya.”
Nanda melihat
Ana menggigil kedinginan seperti saat Nadia sakit demam. Ia memegang kening Ana
dan segera mengambil ponselnya. Nanda menelpon dokter pribadinya.
Ana : “Matikan...
AC-nya...”
Ana semakin
lemah, membuat Nanda khawatir padanya. Nanda mengambil celana dari dalam
lemarinya. Ia membukakan pintu ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Dokter : “Tuan
muda, ada apa?”
Nanda : “Periksa
dia. Badannya panas sekali.”
Dokter tertegun
di tempatnya, ia melihat ada wanita meringkuk kedinginan diatas tempat tidur
Nanda. Momen langka yang bahkan baru pertama kali terjadi dalam hidupnya selama
bekerja untuk Nanda.
Nanda : “Kenapa
diam saja?”
Dokter : “Maafkan
saya. Si...siapa wanita itu, tuan muda?”
Nanda : “Dia
istriku.”
Dokter : “Sejak
kapan tuan muda menikah... Maafkan saya. Apa boleh saya memeriksanya? Atau saya
panggilkan dokter wanita dulu?”
Nanda : “Panggilkan
dokter wanita.”
Nanda lupa
kalau dokter pribadinya seorang pria. Dan dokternya sudah paham kalau Nanda
tidak suka barang miliknya disentuh tanpa ijin. Apalagi sekarang ada istrinya,
dokter itu harus lebih berhati-hati dalam bertindak.
Dokter wanita
dan suster segera datang untuk memeriksa Ana. Sementara dokter pribadi Nanda
berdiri membelakangi tempat tidur Nanda. Dokter itu terkejut melihat banyaknya
bekas ciuman di tubuh Ana.
Dokter wanita :
“Tuan muda, nyonya kena demam tinggi. Boleh saya menyuntiknya?”
Nanda : “Hati-hati
dengan bayinya.”
Dokter wanita :
“Oh, nyonya sudah hamil. Berapa bulan, tuan muda?”
Nanda : “Aku
baru saja membuatnya. Coba kau periksa sendiri sudah berapa lama umur bayinya.”
Dokter wanita
dan dokter pribadi Nanda melongo mendengar penjelasan Nanda. Kalau baru saja
membuatnya, bagaimana bisa langsung jadi? Setidaknya mereka harus menunggu satu
bulan lagi untuk bisa mengetahui kehamilan itu.
Dokter wanita :
“Tuan muda, saya rasa nyonya belum hamil.”
Nanda : “Jangan
sok tau. Aku sudah membuatnya sejak semalam, baru selesai satu jam lalu. Pasti sudah
ada bayi disana. Cek lagi!”
*****
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
__ADS_1
tinggalkan jejakmu). Tq.