Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Tidak bisa ditahan


__ADS_3

Eps. 20 – Tidak bisa ditahan


Nanda : “Apa


kamu sudah hamil?”


Ana : “Gimana


mau hamil, kita belum sampai tahap itu. Lagian aku capek. Kamu gak capek?”


Wrong answer,


Ana. Nanda terus menekan Ana sekarang, menciumi lehernya sampai Ana melenguh


dan mendesah gak karuan. Nanda membuat Ana tidak bisa tidur dan kepanasan


sendiri.


Ana : “Apa yang


kau lakukan?!!”


Nanda : “Aku


mau anak sekarang!”


Ana : “Gak


semudah itu.”


Nanda : “Tunjukkan


saja caranya, biar aku yang lakukan sisanya.”


Ana menatap


ngeri pada sosok Nanda yang sudah mengukungnya. Biar bagaimanapun dirinya belum


pernah melakukan ML, bahkan setelah menikah dengan almarhum suaminya dulu,


mereka belum sempat melakukan malam pertama pernikahan. Kalau sekarang Nanda


memaksanya untuk melakukan itu, Ana takut dirinya tidak akan kuat berjalan


besok.


Ana : “Suamiku,


sabar dulu. Tolong tenang.”


Nanda : “Makanya


cepetan kasi tahu caranya!”


Ana : “Aku juga


gak tau caranya. Katanya disuruh masukin aja.”


Nanda : “Masukin


apa?”


Ana : “Masukin


itu.”


Ana menunjuk


lele Nanda yang masih gak tau malu tidak tertutup apapun. Nanda memperhatikan


tubuh Ana,


Nanda : “Masukin


kemana?”


Ana : “Manaku


tahu. Mungkin kesitu.”


Ana menunjuk serabut


kelapa dibawah sana. Nanda langsung mengangkat kaki Ana dan mencoba melakukan


apa yang tadi dikatakan Ana.


Nanda : “Gak


bisa. Terlalu kecil.”


Ana : “Ach,


sakit! Pelan-pelan!”


Nanda : “Bukannya


kamu udah pernah nikah, pasti tahu caranya.”


Ana : “Aku...


aku belum sempat masukin sama suamiku dulu.”


Nanda melengos,


ia berbaring di samping Ana, sibuk berpikir bagaimana caranya. Kalau dia tanya


ke Charlie, jelas dia tidak akan mendapat jawabannya. Kalau dia tanya Nando,


adik setannya itu akan menggodanya terus sampai dia mati.


Ana : “Suamiku,

__ADS_1


kita tidur saja ya. Besok pikirkan gimana caranya.”


Nanda : “Tidak


bisa! Aku belum ngantuk. Aku coba paksa ya.”


Ana : “Apa?!”


Nanda : “Berani


nolak?!”


Ana menegang


saat kedua tangannya ditangkap Nanda. Ia hanya bisa menjerit kesakitan saat


Nanda memaksakan dirinya. Tapi rasa sakit itu hanya sebentar ia rasakan, Nanda


yang baru saja belajar cara membahagiakan wanita, benar-benar belajar dengan


baik.


Semalaman itu,


Nanda benar-benar membuat Ana tidak bisa tidur. Sampai matahari akan terbangun


dari tidurnya, Nanda baru melepaskan Ana.


Hari mulai


siang, Nadia yang masih menunggu Ana untuk sarapan bersama, terpaksa sarapan


dengan Nando dan Carol. Charlie yang juga sudah datang, hanya tersenyum ketika


Nadia memintanya memanggil Ana.


Nadia : “Charlie,


cepetan panggil tante Ana.”


Charlie : “Kata


nona muda mau punya adik. Jadi biarkan tuan muda pertama dan nyonya tidur


sampai siang ya. Nona muda berangkat ke sekolah sama saya.”


Nadia : “Apa


adikku sudah ada waktu pulang sekolah nanti?”


Nando : “Belum,


Nadia. Tunggu 10 bulan lagi ya.”


Nadia : “Berapa


lama 10 bulan itu?”


dengan 10 kali ke toko buku.”


Nadia : “Oh.


Ayo kita berangkat, Charlie. Dadah, kak.”


Carol : “Nadia,


cium kakak dulu.”


Nadia mendekat


pada Carol dan mencium pipinya kanan dan kiri. Ketika Nando menyodorkan pipinya


untuk dicium Nadia, Nadia menolaknya.


Nadia : “Kakak


gak boleh cium Nadia, nanti kak Carol marah.”


Carol tersenyum


geli melihat kepolosan Nadia yang berjalan cepat dan menggandeng tangan Charlie


keluar dari villa Nanda. Ia terkejut saat merasakan kecupan di pipinya. Nando


baru saja mencium pipinya tanpa bertanya dulu. Keduanya tersenyum malu-malu.


Sementara itu


di kamar pengantin baru kita. Ana memaksakan dirinya untuk bangun. Ia merasakan


sakit diseluruh tubuhnya terutama di bagian pribadinya. Dinginnya AC yang masih


kencang mengeluarkan udara super dingin membuat tubuh Ana gemetar kedinginan.


Ana : “Haduh,


dingin banget. Hatssiiu!”


Ia mulai


bersin-bersin. Tubuhnya mulai menghangat, Ana demam tinggi. Ia menyelimuti


tubuhnya dengan selimut sampai menarik bagian selimut milik Nanda. Nanda yang


merasa selimutnya di tarik, sontak terbangun.


Nanda : “Hei,


kenapa kau tarik selimutku?”


Ana : “Aku

__ADS_1


kedinginan. Matikan AC-nya.”


Nanda melihat


Ana menggigil kedinginan seperti saat Nadia sakit demam. Ia memegang kening Ana


dan segera mengambil ponselnya. Nanda menelpon dokter pribadinya.


Ana : “Matikan...


AC-nya...”


Ana semakin


lemah, membuat Nanda khawatir padanya. Nanda mengambil celana dari dalam


lemarinya. Ia membukakan pintu ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Dokter : “Tuan


muda, ada apa?”


Nanda : “Periksa


dia. Badannya panas sekali.”


Dokter tertegun


di tempatnya, ia melihat ada wanita meringkuk kedinginan diatas tempat tidur


Nanda. Momen langka yang bahkan baru pertama kali terjadi dalam hidupnya selama


bekerja untuk Nanda.


Nanda : “Kenapa


diam saja?”


Dokter : “Maafkan


saya. Si...siapa wanita itu, tuan muda?”


Nanda : “Dia


istriku.”


Dokter : “Sejak


kapan tuan muda menikah... Maafkan saya. Apa boleh saya memeriksanya? Atau saya


panggilkan dokter wanita dulu?”


Nanda : “Panggilkan


dokter wanita.”


Nanda lupa


kalau dokter pribadinya seorang pria. Dan dokternya sudah paham kalau Nanda


tidak suka barang miliknya disentuh tanpa ijin. Apalagi sekarang ada istrinya,


dokter itu harus lebih berhati-hati dalam bertindak.


Dokter wanita


dan suster segera datang untuk memeriksa Ana. Sementara dokter pribadi Nanda


berdiri membelakangi tempat tidur Nanda. Dokter itu terkejut melihat banyaknya


bekas ciuman di tubuh Ana.


Dokter wanita :


“Tuan muda, nyonya kena demam tinggi. Boleh saya menyuntiknya?”


Nanda : “Hati-hati


dengan bayinya.”


Dokter wanita :


“Oh, nyonya sudah hamil. Berapa bulan, tuan muda?”


Nanda : “Aku


baru saja membuatnya. Coba kau periksa sendiri sudah berapa lama umur bayinya.”


Dokter wanita


dan dokter pribadi Nanda melongo mendengar penjelasan Nanda. Kalau baru saja


membuatnya, bagaimana bisa langsung jadi? Setidaknya mereka harus menunggu satu


bulan lagi untuk bisa mengetahui kehamilan itu.


Dokter wanita :


“Tuan muda, saya rasa nyonya belum hamil.”


Nanda : “Jangan


sok tau. Aku sudah membuatnya sejak semalam, baru selesai satu jam lalu. Pasti sudah


ada bayi disana. Cek lagi!”


*****


Klik


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa

__ADS_1


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2