Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 - Kata manis


__ADS_3

Joya : “Apa aku


keterlaluan? Kenapa mas Boy berteriak gitu?” batin Joya sambil memilin ujung


bajunya.


Joya bergeser


sedikit saat Boy duduk di sampingnya, ia meletakkan ponsel Boy di atas meja dan


kembali menunduk. Boy tercekat melihat reaksi Joya saat ia tidak sengaja


membentak Joya karena emosi.


Boy : “Joya...”


Boy mencoba


mendekati Joya yang semakin meringkuk menjauh darinya.


Boy : “Joya,


mas minta maaf sudah membentakmu. Kamu boleh ngambek, boleh pukul mas, tapi


tolong jangan menjauh dari mas, Joya. Aku sudah menunggu tiga tahun dan gak mau


jauh dari kamu lagi, sayang.”


Joya : “...


Maaf, mas.”


Joya bicara


tanpa menatap Boy, ia juga merasa bersalah sudah mengerjai Boy dengan


memintanya pulang ke apartment sendiri.


Boy : “Mas yang


salah, tolong lihat mas, Joya.”


Joya menoleh


perlahan melihat wajah Boy yang memelas menatapnya. Tangan Joya terulur


mengelus pipi Boy. Terdorong perasaan satu sama lain, kedua mendekat dan


langsung berciuman.


Boy menarik


tubuh Joya bangun dari duduknya dan membawa Joya masuk ke ruang istirahatnya. Bruk!


Joya terjatuh ke atas ranjang, ia melihat sekeliling dan mengambil bantal


menutupi dadanya.


Joya : “Mas,


mau ngapain?”


Boy : “Aku mau


sekarang, disini.”


Joya : “Nanti


ada yang masuk, mas. Seperti tadi.”


Boy menendang


pintu dengan keras hingga tertutup dan berbunyi klik. Pintu ruangan itu sudah


terkunci dengan aman.


Boy : “Sekarang


tidak akan ada yang mengganggu kita.”


Joya :


“Maas...”


Joya tidak bisa


menolak Boy lagi, ia meminta Joya melakukan apa yang tadi dibisikkannya pada


Boy. Dengan ekspresi kebingungan, Joya mengingat apa yang dikatakan mb Putri


dan mulai mempraktekkannya dengan sangat canggung.


*****


Joya terjatuh


di samping Boy yang ngos-ngosan, mereka baru saja melakukan kegiatan suami


istri yang paling intim dengan gaya baru dari diketahui Joya dari mb Putri.


Wajah Joya merona mengingat tindakannya yang sangat berani apalagi Boy


menatapnya dengan intens.


Boy : “Kau


cepat belajar ya.”


Joya : “Saya...


nggak...” Joya tidak sanggup berkata apa-apa lagi, ia menyembunyikan wajah malunya


di balik bantal.


Boy tersenyum


geli, ia harus memberi hadiah pada mb Putri yang sudah berhasil mengajari Joya untuk


menyenangkan suaminya. Boy beranjak bangun, ia menyentuh bahu Joya.


Boy : “Mas


kerja lagi ya. Kamu mau istirahat disini dulu?”


Joya : “Kalau


boleh, mas.”


Boy : “Istirahatlah

__ADS_1


dulu. Nanti mas bangunkan jam makan siang.”


Joya : “Iya,


mas.”


Boy bangkit


dari ranjang dan memakai pakaiannya lagi, ia tersenyum menatap Joya yang masih


malu-malu. Ia mengambil pakaian Joya yang berserakan dan meletakkannya di kaki


ranjang. Ketika Boy keluar dari ruang istirahatnya, sekretaris Lia dan Rian


kompak menatapnya.


Boy : “Ada apa?”


Rian : “Mungkin


tuan mau ke kamar mandi dulu, tuan terlihat berantakan.” Rian nyengir melihat


penampilan Boy yang acak-acakan. Sementara sekretaris Lia menatapnya tanpa


ekspresi, ia tidak ingin membayangkan apa yang barusan dilakukan Boy dan Joya


di dalam sana.


Boy : “Tunggu


sebentar.”


Boy masuk ke


dalam kamar mandi dan keluar dengan cepat sudah rapi kembali. Wajah tampannya


bersinar cerah, seperti habis menang banyak. Sekretaris Lia meletakkan dokumen


di depan Boy untuk ditanda tangani.


Boy : “Lia,


pesankan makan siang untuk kami. Pilih makanan lokal ya.”


Lia : “Baik, tuan.”


Boy : “Dan jus


juga. Tunggu, Joya suka jus apa ya? Jus alpukat saja.”


Lia : “Baik, tuan.”


Boy : “Jangan


lupa buah segar juga.”


Lia : “Baik, tuan.


Ada lagi, tuan?”


Lia sudah


meremas dokumen yang dipegangnya dengan sangat kesal. Ia iri melihat perhatian


Boy pada Joya.


Lia : “Apa


dalam hati. Ia kesal sekali sampai rasanya setiap orang yang akan buat masalah


dengannya setelah ini harus mati.


Boy : “Itu


saja. Jangan ada kesalahan. Belikan bunga mawar merah juga, ach tidak. Joya


tidak terlalu menyukai bunga. Itu saja, kau boleh pergi.”


Lia : “Permisi,


tuan.”


Lia keluar dari


ruang kerja Boy dan menendang kursi kerjanya hingga menabrak lemari file


disana. Dengan cepat Lia memesan makanan yang diinginkan Boy, meskipun kesal ia


tidak ingin kena masalah dengan Boy.


*****


Sepeninggalan


Lia, Rian terkikik geli melihat reaksi Lia. Boy menatapnya heran,


Boy : “Kamu


kenapa?”


Rian : “Maaf,


tuan. Tuan gak liat ekspresi Lia tadi?”


Boy : “Emang


kenapa dia?”


Rian : “Tuan,


gak tahu ya? Lia itu suka sama tuan.”


Boy : “Ngaco


kamu.”


Rian : “Memang


kenyataannya seperti itu, tuan. Sebaiknya tuan sedikit berhati-hati.”


Boy : “Sudah


gak usah dibahas. Kembali kerja sana.”


Rian membungkuk


sebentar dan keluar dari ruang kerja Boy. Ia hampir menabrak pelayan yang membawa


makanan pesanan Boy. Rian membuka pintu lebih lebar agar pelayan itu bisa masuk

__ADS_1


dan meletakkan makanan di atas meja sofa.


Rian : Tuan,


makanannya sudah siap. Ada lagi yang tuan perlukan?”


Boy : “Tutup


pintunya dan jangan biarkan orang lain masuk. Aku mau bangunkan Joya dan


mungkin dia perlu ke toilet.”


Rian tahu apa


maksud Boy, Niken selalu melakukan itu setelah mereka bercinta. Rian segera


keluar dari ruang kerja Boy dan Boy mengunci pintu dari dalam. Ia beranjak ke


ruang istirahatnya dan melihat Joya masih tertidur.


Boy : “Sayang,


bangun...”


Joya : “Hmm...”


Joya menggeliat bangun, ia merentangkan tangannya untuk merenggangkan tubuh dan


kesempatan itu dipakai Boy untuk menarik selimut Joya.


Joya : “Hiyaa...!


Jangan ditarik, mas.”


Boy : “Kenapa


kamu belum pakai baju? Mau godain mas ya?”


Joya : “Tadi


masih keringetan, mas. Tapi kayaknya saya ketiduran dech.”


Boy : “Ayo


makan dulu. Cepat pakai bajumu.”


Joya : “Mas


keluar dulu ya.”


Boy : “Gak mau!


Aku mau lihat. Cepat bangun atau kita lakukan lagi.”


Joya merutuki


kebodohannya karena tidak segera memakai baju lagi setelah Boy keluar tadi.


Dengan menahan malu, Joya memakai pakaiannya di depan suaminya itu. Sesekali


tangan Joya harus menepis tangan Boy yang terulur ingin menyentuh tubuhnya


lagi.


Mereka berdua


keluar setelah Joya merapikan tempat tidur dengan cepat.


Joya : “Mas,


saya ke toilet dulu ya.”


Boy : “Iya,


jangan lama-lama. Aku uda laper.”


Joya masuk ke


kamar mandi dan keluar 5 menit kemudian sudah tampak segar dan cantik. Joya


duduk di samping Boy dan mengambilkan makanan untuk suaminya itu.


Joya : “Wah,


ada jus alpukat.”


Boy : “Kamu


suka jus alpukat?”


Joya : “Iya,


mas.”


Boy : “Apalagi


yang kau suka?”


Joya : “Saya


suka makanan lokal, gak spesifik sich. Kalau minumannya jus alpukat sama es teh


manis. Kalau mas suka apa?”


Boy : “Aku suka


kamu.”


Wajah Joya


tersipu mendengar kata manis Boy. Sejak kapan pria berwajah dingin ini bisa


mengeluarkan kata-kata manis dari mulutnya.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih


sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa


like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel


author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren


Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak..


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2