
Joya : “Apa aku
keterlaluan? Kenapa mas Boy berteriak gitu?” batin Joya sambil memilin ujung
bajunya.
Joya bergeser
sedikit saat Boy duduk di sampingnya, ia meletakkan ponsel Boy di atas meja dan
kembali menunduk. Boy tercekat melihat reaksi Joya saat ia tidak sengaja
membentak Joya karena emosi.
Boy : “Joya...”
Boy mencoba
mendekati Joya yang semakin meringkuk menjauh darinya.
Boy : “Joya,
mas minta maaf sudah membentakmu. Kamu boleh ngambek, boleh pukul mas, tapi
tolong jangan menjauh dari mas, Joya. Aku sudah menunggu tiga tahun dan gak mau
jauh dari kamu lagi, sayang.”
Joya : “...
Maaf, mas.”
Joya bicara
tanpa menatap Boy, ia juga merasa bersalah sudah mengerjai Boy dengan
memintanya pulang ke apartment sendiri.
Boy : “Mas yang
salah, tolong lihat mas, Joya.”
Joya menoleh
perlahan melihat wajah Boy yang memelas menatapnya. Tangan Joya terulur
mengelus pipi Boy. Terdorong perasaan satu sama lain, kedua mendekat dan
langsung berciuman.
Boy menarik
tubuh Joya bangun dari duduknya dan membawa Joya masuk ke ruang istirahatnya. Bruk!
Joya terjatuh ke atas ranjang, ia melihat sekeliling dan mengambil bantal
menutupi dadanya.
Joya : “Mas,
mau ngapain?”
Boy : “Aku mau
sekarang, disini.”
Joya : “Nanti
ada yang masuk, mas. Seperti tadi.”
Boy menendang
pintu dengan keras hingga tertutup dan berbunyi klik. Pintu ruangan itu sudah
terkunci dengan aman.
Boy : “Sekarang
tidak akan ada yang mengganggu kita.”
Joya :
“Maas...”
Joya tidak bisa
menolak Boy lagi, ia meminta Joya melakukan apa yang tadi dibisikkannya pada
Boy. Dengan ekspresi kebingungan, Joya mengingat apa yang dikatakan mb Putri
dan mulai mempraktekkannya dengan sangat canggung.
*****
Joya terjatuh
di samping Boy yang ngos-ngosan, mereka baru saja melakukan kegiatan suami
istri yang paling intim dengan gaya baru dari diketahui Joya dari mb Putri.
Wajah Joya merona mengingat tindakannya yang sangat berani apalagi Boy
menatapnya dengan intens.
Boy : “Kau
cepat belajar ya.”
Joya : “Saya...
nggak...” Joya tidak sanggup berkata apa-apa lagi, ia menyembunyikan wajah malunya
di balik bantal.
Boy tersenyum
geli, ia harus memberi hadiah pada mb Putri yang sudah berhasil mengajari Joya untuk
menyenangkan suaminya. Boy beranjak bangun, ia menyentuh bahu Joya.
Boy : “Mas
kerja lagi ya. Kamu mau istirahat disini dulu?”
Joya : “Kalau
boleh, mas.”
Boy : “Istirahatlah
__ADS_1
dulu. Nanti mas bangunkan jam makan siang.”
Joya : “Iya,
mas.”
Boy bangkit
dari ranjang dan memakai pakaiannya lagi, ia tersenyum menatap Joya yang masih
malu-malu. Ia mengambil pakaian Joya yang berserakan dan meletakkannya di kaki
ranjang. Ketika Boy keluar dari ruang istirahatnya, sekretaris Lia dan Rian
kompak menatapnya.
Boy : “Ada apa?”
Rian : “Mungkin
tuan mau ke kamar mandi dulu, tuan terlihat berantakan.” Rian nyengir melihat
penampilan Boy yang acak-acakan. Sementara sekretaris Lia menatapnya tanpa
ekspresi, ia tidak ingin membayangkan apa yang barusan dilakukan Boy dan Joya
di dalam sana.
Boy : “Tunggu
sebentar.”
Boy masuk ke
dalam kamar mandi dan keluar dengan cepat sudah rapi kembali. Wajah tampannya
bersinar cerah, seperti habis menang banyak. Sekretaris Lia meletakkan dokumen
di depan Boy untuk ditanda tangani.
Boy : “Lia,
pesankan makan siang untuk kami. Pilih makanan lokal ya.”
Lia : “Baik, tuan.”
Boy : “Dan jus
juga. Tunggu, Joya suka jus apa ya? Jus alpukat saja.”
Lia : “Baik, tuan.”
Boy : “Jangan
lupa buah segar juga.”
Lia : “Baik, tuan.
Ada lagi, tuan?”
Lia sudah
meremas dokumen yang dipegangnya dengan sangat kesal. Ia iri melihat perhatian
Boy pada Joya.
Lia : “Apa
dalam hati. Ia kesal sekali sampai rasanya setiap orang yang akan buat masalah
dengannya setelah ini harus mati.
Boy : “Itu
saja. Jangan ada kesalahan. Belikan bunga mawar merah juga, ach tidak. Joya
tidak terlalu menyukai bunga. Itu saja, kau boleh pergi.”
Lia : “Permisi,
tuan.”
Lia keluar dari
ruang kerja Boy dan menendang kursi kerjanya hingga menabrak lemari file
disana. Dengan cepat Lia memesan makanan yang diinginkan Boy, meskipun kesal ia
tidak ingin kena masalah dengan Boy.
*****
Sepeninggalan
Lia, Rian terkikik geli melihat reaksi Lia. Boy menatapnya heran,
Boy : “Kamu
kenapa?”
Rian : “Maaf,
tuan. Tuan gak liat ekspresi Lia tadi?”
Boy : “Emang
kenapa dia?”
Rian : “Tuan,
gak tahu ya? Lia itu suka sama tuan.”
Boy : “Ngaco
kamu.”
Rian : “Memang
kenyataannya seperti itu, tuan. Sebaiknya tuan sedikit berhati-hati.”
Boy : “Sudah
gak usah dibahas. Kembali kerja sana.”
Rian membungkuk
sebentar dan keluar dari ruang kerja Boy. Ia hampir menabrak pelayan yang membawa
makanan pesanan Boy. Rian membuka pintu lebih lebar agar pelayan itu bisa masuk
__ADS_1
dan meletakkan makanan di atas meja sofa.
Rian : Tuan,
makanannya sudah siap. Ada lagi yang tuan perlukan?”
Boy : “Tutup
pintunya dan jangan biarkan orang lain masuk. Aku mau bangunkan Joya dan
mungkin dia perlu ke toilet.”
Rian tahu apa
maksud Boy, Niken selalu melakukan itu setelah mereka bercinta. Rian segera
keluar dari ruang kerja Boy dan Boy mengunci pintu dari dalam. Ia beranjak ke
ruang istirahatnya dan melihat Joya masih tertidur.
Boy : “Sayang,
bangun...”
Joya : “Hmm...”
Joya menggeliat bangun, ia merentangkan tangannya untuk merenggangkan tubuh dan
kesempatan itu dipakai Boy untuk menarik selimut Joya.
Joya : “Hiyaa...!
Jangan ditarik, mas.”
Boy : “Kenapa
kamu belum pakai baju? Mau godain mas ya?”
Joya : “Tadi
masih keringetan, mas. Tapi kayaknya saya ketiduran dech.”
Boy : “Ayo
makan dulu. Cepat pakai bajumu.”
Joya : “Mas
keluar dulu ya.”
Boy : “Gak mau!
Aku mau lihat. Cepat bangun atau kita lakukan lagi.”
Joya merutuki
kebodohannya karena tidak segera memakai baju lagi setelah Boy keluar tadi.
Dengan menahan malu, Joya memakai pakaiannya di depan suaminya itu. Sesekali
tangan Joya harus menepis tangan Boy yang terulur ingin menyentuh tubuhnya
lagi.
Mereka berdua
keluar setelah Joya merapikan tempat tidur dengan cepat.
Joya : “Mas,
saya ke toilet dulu ya.”
Boy : “Iya,
jangan lama-lama. Aku uda laper.”
Joya masuk ke
kamar mandi dan keluar 5 menit kemudian sudah tampak segar dan cantik. Joya
duduk di samping Boy dan mengambilkan makanan untuk suaminya itu.
Joya : “Wah,
ada jus alpukat.”
Boy : “Kamu
suka jus alpukat?”
Joya : “Iya,
mas.”
Boy : “Apalagi
yang kau suka?”
Joya : “Saya
suka makanan lokal, gak spesifik sich. Kalau minumannya jus alpukat sama es teh
manis. Kalau mas suka apa?”
Boy : “Aku suka
kamu.”
Wajah Joya
tersipu mendengar kata manis Boy. Sejak kapan pria berwajah dingin ini bisa
mengeluarkan kata-kata manis dari mulutnya.
🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih
sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa
like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel
author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren
Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
Makasi banyak..
🌴🌴🌴🌴🌴