
Eps. 20 – Menghukum Joya
Joya : “Ya. Dan sepertinya Pak Joni mulai masuk perangkap. Nilai proyeknya besar
sekali ya.”
Boy : “Dia ingin keuntungan 30-40% kalau gitu. Apa mungkin ini serangan terakhir untuk perusahaan?”
Joya : “Maksud mas, dia mau kabur?”
Boy : “Mungkin saja. Kalau dia kabur sekarang, proyek-proyek yang dulu sudah hampir mencapai
batas akhir kontrak. Kalau terjadi sesuatu saat itu, ia bisa lepas tanggung
jawab karena sudah pergi.”
Joya : “Jahat sekali. Apa perusahaan ayah akan bertahan kalau itu terjadi, mas?”
Boy : “Kenapa? Kau takut aku bangkrut?”
Joya : “Ya.”
Jawaban Joya membuat Boy menoleh padanya. Boy sempat berpikir apa Joya sudah takut miskin
sekarang sampai ia takut Boy akan bangkrut.
Boy : “Kenapa takut?”
Joya : “Ya tentu saja takut. Aku tidak punya apa-apa. Aku masih bisa hidup meski hanya
makan nasi dan garam saja. Tapi ibu dan semua orang dirumah ini bagaimana? Terutama
kamu, mas.”
Boy : “Aku kenapa?”
Joya : “Membayangkannya saja aku tidak berani. Kau mungkin akan meninggalkan aku dan
menikahi wanita kaya raya yang bisa membantu perusahaan ayah.”
Boy mencubit hidung dan pipi Joya hingga memerah. Ia mengangkat tubuh Joya dan membaliknya
hingga bokong Joya menghadap ke atas. Plak! Plak! Boy memukul pantat Joya.
Joya : “Sakit! Sakit, mas... Ampun!”
Boy : “Kau harus dihukum sekarang!”
Joya menjerit sambil meronta-ronta di pangkuan Boy. Apalagi saat ia merasakan kait branya
sudah lepas dan tangan Boy mulai gerayangan ke tubuhnya.
Joya : “Mas, ngapain? Jangan!”
Kesibukan mereka berdua di dalam ruang kerja itu, membuat mereka lupa dengan yang terjadi
di kantor Boy. Bahkan mereka mengabaikan telpon dari Azriel yang ingin
menanyakan tentang performanya tadi.
Butuh waktu 1 jam bagi mereka untuk selesai dan membenahi kekacauan yang mereka buat di dalam
ruang kerja itu. Boy menelpon balik Azriel yang protes padanya.
Azriel : “Kalian darimana saja? Bagaimana dengan penampilanku?”
Boy : “Maaf, ada iklan lewat tadi. Aku rasa kita sudah hampir bisa menangkapnya.”
Azriel : “Iklan apa? Oh, benarkah? Hehe... Aku tunggu langkah selanjutnya kalau gitu.”
__ADS_1
Boy : “Ya, makasih atas kerja kerasmu.”
Azriel : “Sama-sama. Sampai jumpa lagi.”
Boy menutup telponnya. Ia kembali serius memperhatikan CCTV sementara Joya masih sibuk di
kamar mandi. Nando memberi kode dengan tangannya kalau Boy harus mendengarkan
percakapan mereka ini setelah Azriel pergi.
Pak Joni dengan terang-terangan memberikan angka budget yang tidak masuk akal dengan besarnya
proyek yang akan mereka jalankan. Boy sudah tahu berapa standar projek yang
diminta Azriel dan keinginan Pak Joni benar-benar akan menghancurkan
perusahaan.
Boy : “Dia benar-benar gila.”
Boy tersenyum melihat Joya sudah kembali dari kamar mandi. Ia menarik Joya agar duduk lagi di
pangkuannya.
Joya : “Mas, pantatku merah nich. Kamu kenapa sich kasar banget.”
Boy : “Biar kamu gak mikir yang aneh-aneh. Memangnya kamu pikir aku tega ngbiarin ibu hidup
miskin. Uangku bukan cuma dari perusahaan tapi dari sumber lain.”
Joya : “Dari tante kaya?”
Boy kembali mencubit pipi Joya sampai bibirnya ikutan dower. Joya meringis menahan sakit,
ia kapok menebak yang salah dan mengatupkan kedua tangannya. Sudah cukup
hukumannya hari ini.
wanita kaya?”
Joya : “Ampun, mas. Aku akan berhenti nonton sinetron emak-emak.”
Boy : “Ya, berhenti nonton itu. Tonton saluran bisnis, biar tambah cerdas.”
Joya : “Huh! Gak ada gosipnya.”
Boy sudah hampir mencubit Joya lagi, tapi Joya menangkap kedua tangannya dan mengepitnya
di ketiak. Joya tertawa geli saat Boy menggerakkan jari-jarinya menggelitiki
ketiak Joya. Interaksi keduanya membuat Bi Ijah senyum-senyum sendiri di depan
pintu. Ia mengantarkan cemilan untuk mereka berdua.
Bi Ijah : “Ehem... permisi tuan muda.”
Joya segera bangun dari atas pangkuan Boy. Ia membantu Bi Ijah menghidangkan cemilan sore
untuk mereka berdua.
Joya : “Makasih, bi.”
Bi Ijah : “Ny. lain kali pintunya dikunci ya. Tadi hampir Ny.Besar mau masuk kesini.”
Joya : “Ibu denger, bi?”
Bi Ijah : “Iya. Ny. teriak kenceng gitu. Dikira tuan Boy mukulin Ny. taunya... lagi itu.”
Wajah Joya memerah mendengar kata-kata Bi Ijah. Ia duduk di depan meja kerja itu dan
__ADS_1
membuat Boy menatapnya intens.
Boy : “Kamu sich.”
Joya : “Mas tuch yang mukul kan.”
Boy : “Kalo kamu gak jerit-jerit, ibu juga gak akan denger.”
Joya : “Emang mas mau berhenti kalo aku gak jerit-jerit?”
Boy memberi kode dengan telunjuknya agar Joya mau mendekat, tapi Joya menggeleng.
Boy : “Cepatan kesini. Jangan sampai aku kesana.”
Joya : “Mas jahat! Hiks...”
Joya mulai mewek, ia kesal karena Boy terus saja bertindak egois padanya. Dan ujung-ujung
selalu Joya yang merasa kesakitan. Boy panik melihat Joya menangis karena
dirinya. Ia beranjak dari kursi kerjanya dan segera memeluk Joya yang tidak mau
dipeluk. Joya mendorong Boy sambil mengusap air matanya.
Joya : “Jangan pegang-pegang!”
Joya beranjak dari duduknya, ia berjalan keluar dari ruang kerja itu, meninggalkan Boy yang
garuk-garuk kepala sendiri. Boy tidak mengejar Joya dan memilih berkutat dengan
laptopnya. Ia meminta Nando mengumpulkan bukti lainnya untuk menyerang Pak
Joni.
Nando yang menerima perintah langsung bergerak mengerjakan tugasnya. Sampai bukti yang
mereka miliki hampir lengkap. Boy teringat sesuatu, ia membalas chat dari
Nando,
Boy : “Tadi aku lihat kamu ngasi sesuatu ke sekretaris Carol.”
Nando : “Maaf, tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi.”
Boy : “Apa yang kau berikan?”
Nando : “Itu hanya kotak makan siang. Sambil saya membawa dokumen suap. Saya pikir lebih
aman disimpan sekretaris Carol.”
Boy : “Kau suka sekretaris Carol?”
Nando menimbang jawabannya, akhirnya ia memilih jujur.
Nando : “Ya, tuan. Tapi saya tidak akan mengejarnya lagi. Maaf, tuan.”
Boy : “Kenapa? Apa kau sudah mengatakan perasaanmu?”
Nando : “Saya tidak berani, tuan. Takut di tolak.”
Boy : “Rian saja berani mengajak Niken menikah. Masa kamu kalah.”
Nando : “Saya terlalu banyak pertimbangan, tuan. Kalau ditolak, nanti jadi malu dan tidak
nyaman.”
Boy : “Perlu bantuan istriku?”
*****
__ADS_1
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.