Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Menghukum Joya


__ADS_3

Eps. 20 – Menghukum Joya


Joya : “Ya. Dan sepertinya Pak Joni mulai masuk perangkap. Nilai proyeknya besar


sekali ya.”


Boy : “Dia ingin keuntungan 30-40% kalau gitu. Apa mungkin ini serangan terakhir untuk perusahaan?”


Joya : “Maksud mas, dia mau kabur?”


Boy : “Mungkin saja. Kalau dia kabur sekarang, proyek-proyek yang dulu sudah hampir mencapai


batas akhir kontrak. Kalau terjadi sesuatu saat itu, ia bisa lepas tanggung


jawab karena sudah pergi.”


Joya : “Jahat sekali. Apa perusahaan ayah akan bertahan kalau itu terjadi, mas?”


Boy : “Kenapa? Kau takut aku bangkrut?”


Joya : “Ya.”


Jawaban Joya membuat Boy menoleh padanya. Boy sempat berpikir apa Joya sudah takut miskin


sekarang sampai ia takut Boy akan bangkrut.


Boy : “Kenapa takut?”


Joya : “Ya tentu saja takut. Aku tidak punya apa-apa. Aku masih bisa hidup meski hanya


makan nasi dan garam saja. Tapi ibu dan semua orang dirumah ini bagaimana? Terutama


kamu, mas.”


Boy : “Aku kenapa?”


Joya : “Membayangkannya saja aku tidak berani. Kau mungkin akan meninggalkan aku dan


menikahi wanita kaya raya yang bisa membantu perusahaan ayah.”


Boy mencubit hidung dan pipi Joya hingga memerah. Ia mengangkat tubuh Joya dan membaliknya


hingga bokong Joya menghadap ke atas. Plak! Plak! Boy memukul pantat Joya.


Joya : “Sakit! Sakit, mas... Ampun!”


Boy : “Kau harus dihukum sekarang!”


Joya menjerit sambil meronta-ronta di pangkuan Boy. Apalagi saat ia merasakan kait branya


sudah lepas dan tangan Boy mulai gerayangan ke tubuhnya.


Joya : “Mas, ngapain? Jangan!”


Kesibukan mereka berdua di dalam ruang kerja itu, membuat mereka lupa dengan yang terjadi


di kantor Boy. Bahkan mereka mengabaikan telpon dari Azriel yang ingin


menanyakan tentang performanya tadi.


Butuh waktu 1 jam bagi mereka untuk selesai dan membenahi kekacauan yang mereka buat di dalam


ruang kerja itu. Boy menelpon balik Azriel yang protes padanya.


Azriel : “Kalian darimana saja? Bagaimana dengan penampilanku?”


Boy : “Maaf, ada iklan lewat tadi. Aku rasa kita sudah hampir bisa menangkapnya.”


Azriel : “Iklan apa? Oh, benarkah? Hehe... Aku tunggu langkah selanjutnya kalau gitu.”

__ADS_1


Boy : “Ya, makasih atas kerja kerasmu.”


Azriel : “Sama-sama. Sampai jumpa lagi.”


Boy menutup telponnya. Ia kembali serius memperhatikan CCTV sementara Joya masih sibuk di


kamar mandi. Nando memberi kode dengan tangannya kalau Boy harus mendengarkan


percakapan mereka ini setelah Azriel pergi.


Pak Joni dengan terang-terangan memberikan angka budget yang tidak masuk akal dengan besarnya


proyek yang akan mereka jalankan. Boy sudah tahu berapa standar projek yang


diminta Azriel dan keinginan Pak Joni benar-benar akan menghancurkan


perusahaan.


Boy : “Dia benar-benar gila.”


Boy tersenyum melihat Joya sudah kembali dari kamar mandi. Ia menarik Joya agar duduk lagi di


pangkuannya.


Joya : “Mas, pantatku merah nich. Kamu kenapa sich kasar banget.”


Boy : “Biar kamu gak mikir yang aneh-aneh. Memangnya kamu pikir aku tega ngbiarin ibu hidup


miskin. Uangku bukan cuma dari perusahaan tapi dari sumber lain.”


Joya : “Dari tante kaya?”


Boy kembali mencubit pipi Joya sampai bibirnya ikutan dower. Joya meringis menahan sakit,


ia kapok menebak yang salah dan mengatupkan kedua tangannya. Sudah cukup


hukumannya hari ini.


wanita kaya?”


Joya : “Ampun, mas. Aku akan berhenti nonton sinetron emak-emak.”


Boy : “Ya, berhenti nonton itu. Tonton saluran bisnis, biar tambah cerdas.”


Joya : “Huh! Gak ada gosipnya.”


Boy sudah hampir mencubit Joya lagi, tapi Joya menangkap kedua tangannya dan mengepitnya


di ketiak. Joya tertawa geli saat Boy menggerakkan jari-jarinya menggelitiki


ketiak Joya. Interaksi keduanya membuat Bi Ijah senyum-senyum sendiri di depan


pintu. Ia mengantarkan cemilan untuk mereka berdua.


Bi Ijah : “Ehem... permisi tuan muda.”


Joya segera bangun dari atas pangkuan Boy. Ia membantu Bi Ijah menghidangkan cemilan sore


untuk mereka berdua.


Joya : “Makasih, bi.”


Bi Ijah : “Ny. lain kali pintunya dikunci ya. Tadi hampir Ny.Besar mau masuk kesini.”


Joya : “Ibu denger, bi?”


Bi Ijah : “Iya. Ny. teriak kenceng gitu. Dikira tuan Boy mukulin Ny. taunya... lagi itu.”


Wajah Joya memerah mendengar kata-kata Bi Ijah. Ia duduk di depan meja kerja itu dan

__ADS_1


membuat Boy menatapnya intens.


Boy : “Kamu sich.”


Joya : “Mas tuch yang mukul kan.”


Boy : “Kalo kamu gak jerit-jerit, ibu juga gak akan denger.”


Joya : “Emang mas mau berhenti kalo aku gak jerit-jerit?”


Boy memberi kode dengan telunjuknya agar Joya mau mendekat, tapi Joya menggeleng.


Boy : “Cepatan kesini. Jangan sampai aku kesana.”


Joya : “Mas jahat! Hiks...”


Joya mulai mewek, ia kesal karena Boy terus saja bertindak egois padanya. Dan ujung-ujung


selalu Joya yang merasa kesakitan. Boy panik melihat Joya menangis karena


dirinya. Ia beranjak dari kursi kerjanya dan segera memeluk Joya yang tidak mau


dipeluk. Joya mendorong Boy sambil mengusap air matanya.


Joya : “Jangan pegang-pegang!”


Joya beranjak dari duduknya, ia berjalan keluar dari ruang kerja itu, meninggalkan Boy yang


garuk-garuk kepala sendiri. Boy tidak mengejar Joya dan memilih berkutat dengan


laptopnya. Ia meminta Nando mengumpulkan bukti lainnya untuk menyerang Pak


Joni.


Nando yang menerima perintah langsung bergerak mengerjakan tugasnya. Sampai bukti yang


mereka miliki hampir lengkap. Boy teringat sesuatu, ia membalas chat dari


Nando,


Boy : “Tadi aku lihat kamu ngasi sesuatu ke sekretaris Carol.”


Nando : “Maaf, tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi.”


Boy : “Apa yang kau berikan?”


Nando : “Itu hanya kotak makan siang. Sambil saya membawa dokumen suap. Saya pikir lebih


aman disimpan sekretaris Carol.”


Boy : “Kau suka sekretaris Carol?”


Nando menimbang jawabannya, akhirnya ia memilih jujur.


Nando : “Ya, tuan. Tapi saya tidak akan mengejarnya lagi. Maaf, tuan.”


Boy : “Kenapa? Apa kau sudah mengatakan perasaanmu?”


Nando : “Saya tidak berani, tuan. Takut di tolak.”


Boy : “Rian saja berani mengajak Niken menikah. Masa kamu kalah.”


Nando : “Saya terlalu banyak pertimbangan, tuan. Kalau ditolak, nanti jadi malu dan tidak


nyaman.”


Boy : “Perlu bantuan istriku?”


*****

__ADS_1


Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2