Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Penasaran Aliya


__ADS_3

Aliya sungguh-sungguh dengan ucapannya, setiap hari setelah kuliah dia akan pergi ke kantor Deril dan mengerjakan tugas akhirnya disana. Sampai ada gosip dikantor Deril kalau Aliya pacar barunya, tapi Aliya tidak peduli. Dia hanya fokus untuk tugas akhirnya sesuai dengan target yang sudah ia tentukan.


Bagaimana dengan Deril? Setelah seminggu terus dikunjungi Aliya, membuat Deril mulai menaruh perhatian padanya. Setidaknya ia berusaha memberi perhatian namun reaksi Aliya tetap dingin seperti biasanya. Sepertinya Deril penasaran dengan Aliya yang terlihat berbeda dari gadis lainnya. Biasanya para gadis yang berada di sekitar Deril akan mencoba menarik perhatiannya dengan kecantikan mereka, tapi Aliya tidak berbuat itu.


Deril akui kalau Aliya sangat cantik, meskipun tanpa make up, wajah naturalnya terlihat bersinar. Ia melihat Aliya sangat jarang tersenyum apalagi tertawa, tapi ia cukup terkejut saat Aliya tiba-tiba tersenyum menahan tawa ketika melihat HP-nya, saat itu mereka sedang berdua saja di kantor Deril.


Aliya : “Hmmfftt…”


Deril : “Ada yang lucu?”


Aliya : “Ah, maaf aku sedang chat dengan Alvin.”


Deril semakin penasaran, laki-laki seperti apa yang bisa membuat Aliya tersenyum sampai menahan tawa seperti itu, yang jelas Deril merasa beruntung karena bisa melihat senyuman Aliya.


Deril : “Siapa Alvin?” Belum juga Aliya menjawab, sekretaris Deril masuk ke ruangan yang tidak tertutup.


Sekretaris Deril : “Permisi, pak. Mr.Neil sudah datang, kita bisa mulai meetingnya?”


Deril : “Ok. Aliya, aku tinggal meeting dulu. Kalau kau sudah selesai, pulanglah dulu ya. Besok kita bahas yang sudah kau kerjakan.”


Aliya : “Ok.”


Deril pergi meeting, meninggalkan Aliya yang masih sibuk mengetik di laptopnya. Beberapa menit kemudian, Aliya merenggangkan tubuhnya, ia mengemasi tas dan laptopnya. Aliya ingin pulang karena sudah lelah setelah pemotretan pagi tadi dan dilanjutkan diskusi dengan Deril. Ia keluar dari ruang kerja Deril, menutup pintunya dan berjalan ke lift. Baru sampai di lobby kantor Deril, Aliya menyadari HP-nya tertinggal di atas sofa ruang kerja Deril.


Aliya meremas tasnya dan berjalan kembali ke lift yang datang cukup lama, setelah 10 menit lift kembali terbuka dan Aliya masuk ke dalamnya. Sempat terhenti karena beberapa karyawan juga masuk ke lift, akhirnya Aliya sampai kembali di depan pintu ruang kerja Deril. Saat akan membuka pintu, ia mendengar suara desahan seseorang, pelan-pelan Aliya membuka pintu ruang kerja Deril dan melihat pemandangan yang cukup mengejutkan.


Sekretaris Deril tampak berantakan bersama Deril. Aliya memperhatikan rambut dan pakaian Deril agak sedikit berbeda dari sebelumnya. Pelan-pelan Aliya menutup pintu ruang kerja Deril lagi, ia menarik nafas yang terasa berat. Baru kali ini Aliya melihat adegan dewasa secara langsung, dan lebih mengejutkan lagi orang itu adalah Deril.


Aliya memutuskan duduk menunggu di ruang tunggu sampai Deril selesai dengan ‘urusannya’. Setelah lewat 15 menit, sekretaris Deril keluar dari ruang kerja Deril, terlihat lebih fresh dengan wajah memerah.


Sekretaris Deril : “Loh, Aliya? Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan.”


Aliya : “Iya, HP saya tertinggal di dalam. Apa Deril masih sibuk?”


Sekretaris Deril : “Dia masih meeting, sebentar aku ambilkan HP-mu ya.”


Sekretaris Deril masuk lagi ke dalam ruang kerja Deril dan tidak juga keluar sampai Aliya bosan menunggu. Tiba-tiba seseorang menghampirinya,


Deril : “Aliya? Kenapa kau duduk disini?”


Aliya : “Aku sudah mau pulang, tapi HP-ku tertinggal di dalam. Tadi sekretarismu masuk kesana, tapi belum keluar juga.”


Deril : “Aku akan mengambilnya.”


Deril masuk ke ruang kerjanya, tak lama dia keluar sambil marah-marah,


Deril : “Dasar gila! Ini HP-mu, apa tadi kau melihat sesuatu?”


Aliya : “Apa yang harus kulihat?” Wajah Aliya memerah mengingat pemandangan memalukan tadi.

__ADS_1


Deril : “Tolong lupakan apa yang kau lihat tadi. Wajahmu merah tuch.”


Aliya : “Sebaiknya aku pulang. Maaf mengganggumu. Sampai jumpa.”


Deril masih ingin mengatakan sesuatu tapi Aliya sudah berlari pergi mengejar lift yang sudah terbuka.


🌻🌻🌻🌻🌻


Beberapa hari berikutnya, Aliya merasa sedikit canggung saat berdua dengan Deril di dalam ruang kerjanya, perasaannya sedikit kacau setelah kejadian memalukan sebelumnya. Disisi lain, itu adalah urusan pribadi Deril, dan Aliya tidak berhak ikut campur.


Hubungan mereka murni sebatas mahasiswi dan mentor saja. Tapi Deril bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, bahkan bersikap terlalu biasa. Aliya sampai berpikir, apa Deril sudah terbiasa melakukan hal seperti itu?


Deril : “Bagus, tugasmu semakin baik saja. Hmm… Seharusnya hari ini kau sudah selesaikan bagian akhir kan? Bisa aku lihat?”


Aliya : “Oh, iya. Ini…”


Deril mendekat pada Aliya, membaca pada laptop gadis itu. Wangi parfum Deril membuat Aliya sedikit tertegun, ini salah satu aroma parfum favoritnya, tapi biasanya Aliya memakainya saat pergi ke pesta. Ternyata wanginya bisa sedikit lebih menantang kalau dipakai laki-laki, kenapa Aliya tidak pernah menyadari ini sebelumnya.


Deril : “Ok, aku rasa sudah cukup. Tugas akhirmu sudah siap untuk sidang. Eh, kenapa kau melihatku seperti itu.”


Aliya : “Aku tidak… Maksudku, aku memang melihat sesuatu kemarin… Tapi aku tidak sengaja, aku hanya ingin mengambil HP-ku. Apa kau sudah lama berhubungan dengan sekretarismu?”


Deril terdiam mendengar pengakuan Aliya yang bicara sedikit gugup. Dia merasa Aliya terlihat imut ketika gugup.


Deril : “Kenapa kau ingin tahu?”


Deril : “Apa kau pernah pacaran sebelumnya?”


Aliya : “Belum pernah, dan aku belum mau melakukannya sekarang. Aku masih ingin mengejar cita-citaku.


Deril : “Menurutmu salah gak yang kau lihat kemarin?”


Aliya : “Aku hanya bertanya hubunganmu dengan sekretarismu, kenapa kau balik bertanya padaku?” Aliya mulai kesal karena Deril memutar-mutar pembicaraan. Deril tersenyum.


Deril : “Kami tidak ada hubungan lebih dari sekedar hubungan kerja.”


Aliya : “Terus yang kulihat kemarin apa? Hanya sekedar senang-senang?”


Deril : “Kau yakin melihatku melakukan ‘itu’ kemarin?” Deril bangun dari sofa dan berjalan ke meja kerjanya, ia mengambil photo yang memang selalu ada diatas mejanya.


Deril : “Ini Aril, saudara kembarku. Yang kau lihat kemarin adalah dia, Aril dan sekretarisku sudah lama berhubungan.”


Aliya : “Oh, kau kembar.” Aliya terlihat lega, membuat Deril ingin mengusilinya.


Deril : “Kenapa kau terlihat lega? Apa kau cemburu?”


Aliya : “Apa maksudmu cemburu? Aku cuma penasaran.”


Deril : “Lalu kenapa kau peduli urusanku kalau tidak ada apa-apa.”

__ADS_1


Aliya : “Sudah kukatakan, aku hanya penasaran. Sudahlah anggap saja aku tidak bertanya.”


Aliya merapikan kertas-kertas tugas akhirnya yang berantakan di atas meja sofa, ia ingin bangun dari duduknya di karpet tapi kepalanya tiba-tiba pusing.


Deril : “Eh, kamu kenapa?” Deril melihat Aliya hampir jatuh dan menarik tangannya, mereka jatuh ke atas sofa saling tumpang tindih.


Aliya : “Aduh!!” Aliya memejamkan matanya merasakan kepalanya sangat pusing.


Deril : “Aliya? Aliya? Kamu kenapa?”


Deril terus mengguncang tubuh Aliya yang masih memejamkan matanya. Tak lama Aliya beranjak dari atas tubuh Deril, ia masih memejamkan matanya. Deril bangun dari sofa, mengambilkan minum untuk Aliya.


Deril : “Kamu kenapa? Ini minum dulu.”


Aliya : “Kepalaku pusing, sepertinya anemiaku kambuh. Tolong ambilkan obatku di tas ada kantong obat warna merah.” Deril membuka tas Aliya dan menemukan obat yang ia minta.


Deril : “Ini, minumlah pelan-pelan. Kau bisa istirahat dulu disini, nanti aku antar pulang ya.”


Aliya : “Tidak usah, sebentar lagi juga membaik, aku hanya makan tidak teratur, jadinya kambuh lagi.”


Deril : “Kau masih saja keras kepala, kau juga butuh bantuan orang lain tahu. Terserah kau saja.”


Aliya : “Kau kira tinggal sendirian di negeri asing itu mudah? Kalau aku tergantung pada orang lain, aku tidak akan bisa bertahan selama 5 tahun ini.”


Deril terdiam, ia mendengar nada suara Aliya yang mulai tinggi. Semakin lama mereka bersama, Deril mulai merasakan tumbuh perasaan lain pada Aliya, tapi ia tidak bisa menjelaskannya.


Deril melihat Aliya memijat keningnya, ia sudah bisa membuka matanya meski sedikit memicingkan mata.


Deril : “Apa kau sering sakit seperti ini?”


Aliya : “Tidak juga, hanya saat bulan-bulan pertama saja.”


Deril : “Apa yang kau lakukan saat sakit dan sendirian?”


Aliya : “Aku makan, minum obat, dan tidur sampai sehat. Mudahkan?”


Deril menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir dengan gadis seperti Aliya. Sangat cerdas dan mandiri, pikirannya juga sangat simple. Deril melihat sesuatu yang unik dari diri Aliya.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak


kalah seru.


-------

__ADS_1


__ADS_2