
Setelah diyakinkan Ny. Besar kalau Joya akan menikah dengan Boy, Joya dan Boy mulai melakukan persiapan pernikahan. Sebenarnya bukan mereka yang mempersiapkan tapi anak-anak Ny. Besar. Joya dan Boy hanya ikut arahan saja.
Seperti hari ini, hari Sabtu, Joya tidak masuk kerja. Ia sedang membantu Bi Ijah membuat makan siang, seharusnya Joya tidak perlu melakukan itu lagi. Tapi ia memang tidak bisa diam.
Sedang asyik memotong bahan makanan untuk membuat soto, Joya merasakan dapur tiba-tiba sepi. Ia melihat sekeliling dan menyadari Bi Ijah menghilang.
Tiba-tiba tengkuknya terasa dingin. Joya mencuci tangannya, mengeringkannya dengan apron. Ia ingin mencari Bi Ijah ketika seseorang memeluk pinggangnya.
Joya : "Aaarrggg!!! Tuan Boy??!!" Ia sangat terkejut mendapati Boy memeluk pinggangnya.
Boy : "Panggil aku sayang, cepat..."
Joya : "Tuan, lepasin saya. Nanti ada yang lihat."
Joya berusaha melepaskan pelukan Boy tapi ia kalah tenaga. Wajah Joya merona saat tangan Boy dengan nakal merayap di punggungnya.
Boy : "Ayo bilang sayang..."
Joya : "Gak mau..."
Boy : "Kamu mau dicium ya. Aku bisa mengabulkannya."
Joya : "Tuan, jangan!"
Joya terus menghindari wajah Boy dengan menggelengkan kepalanya. Saat Boy hampir menciumnya, suara Ny. Besar mengagetkan mereka.
Ny. Besar : "Joya! Kemana anak itu? Joya!"
Joya : "Tuan, Ny. Besar mencari saya. Lepasin."
Boy : "Cium bentar. Diam."
Boy menyeret Joya ke samping kulkas dan menciumnya disana. Joya tidak berani bergerak sama sekali.
Boy tersenyum puas, ia mengusap sudut bibirnya yang terasa manis. Wajah Joya merah padam, ia menunduk dan hampir mengusap bibirnya.
Boy : "Jangan berani-berani mengusapnya. Mau aku cium lagi?"
Joya : "Lipstik saya meleber kemana-mana, Tuan."
Boy : "Uda hilang. Pake lagi, sana. Ntar aku cium lagi."
Joya : "Saya bilang Ny. Besar ya."
Boy : "Berani ngadu sama ibu, liat aja nanti malam."
Joya melihat senyum mesum Boy yang semakin mendekatinya. Ia mendorong Boy dan lari menjauh.
Joya hampir menabrak Bi Ijah saat ia berlari keluar dapur. Joya langsung sembunyi di belakang Bi Ijah yang menunduk ketika Boy lewat di depan mereka.
Boy pergi begitu saja, tidak merasa bersalah telah membuat jantung Joya jumpalitan.
Joya : "Bi Ijah kemana tadi?"
Bi Ijah : "Bibi ke kamar mandi bentar. Kenapa, Ny. Muda?"
Joya : "Iih, jangan panggil gitu. Aneh dengernya. Joya disergap..."
Bi Ijah : "Tuan Boy? Dicium?"
Bi Ijah senyum-senyum melihat bibir Joya yang belepotan. Bluss. Wajah Joya merah padam sampai ke telinganya.
__ADS_1
Ia berbalik ke kamarnya untuk memperbaiki penampilannya. Saat ingin kembali ke dapur, Boy sudah menghadangnya di depan pintu kamar.
Boy : "Ganti baju. Ikut aku."
Joya : "Kita mau kemana, Tuan?"
Boy : "Fitting baju pengantin. Cepetan! Atau mau kubantu ganti baju?"
Joya : "Eh, Ny. Besar..."
Boy menoleh ke samping dan tidak mendapati siapapun disana. Joya langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Boy memukul perlahan pintu kamar Joya sambil tersenyum. Calon istrinya sudah berani mempermainkannya.
Joya terkikik geli sambil mengganti bajunya dengan dress simple berwarna biru muda. Ia merapikan penampilannya dan membuka pintu kamarnya.
Boy terpana melihat kecantikan Joya. Penampilannya yang sederhana cukup menonjolkan kecantikannya.
Joya : "Sudah siap, Tuan. Jadi pergi?"
Boy ingin mencium Joya lagi, tapi ia ingat ibunya sedang menunggu mereka di ruang tamu.
Boy menggenggam tangan Joya, mereka berjalan menuju ruang tamu. Ny. Besar menatap ke arah mereka dan Joya mencoba melepaskan genggaman tangan Boy.
Boy : "Berani lepasin tanganku, awas nanti malam."
Joya : "Gitu aja ancamannya. Coba kalo berani di depan Ny. Besar."
Joya kesal dengan kelakuan Boy yang selalu mengambil kesempatan terhadap dirinya.
Tanpa diduga Joya, Boy menghentikan langkahnya dan langsung mencium pipi Joya di depan Ny. Besar. Joya melotot kaget, wajahnya langsung merah padam.
Ny. Besar : "Astaga! Anak nakal!"
Ny. Besar : "Boy! Gak satu mobil aja?"
Boy : "Boy masih ada meeting abis ini, bu."
Ny. Besar : "Oh, gitu. Ayo, Joya."
Ny. Besar mengajak Joya masuk ke mobilnya. Mereka pergi bersama sopir dan Boy mengikuti mereka dari belakang.
Setelah berkendaraΒ sekitar 20 menit karena macet, mereka berhenti di sebuah butik baju pengantin.
Ny. Besar mengajak Joya masuk tanpa menunggu Boy. Joya mengedarkan pandangannya melihat sekeliling deretan gaun pengantin di butik itu.
Joya diajak ke sebuah ruangan ganti. Ia dibantu dua pelayan wanita mengganti pakaiannya dengan kebaya putih dan rok batik.
Setelah mengatur rambut dan memberi sedikit riasan di wajah Joya, ia dibawa keluar dari ruangan itu.
Ny. Besar menatap Joya dari atas sampai bawah. Joya terlihat bersinar dengan baju pengantin yang dipakainya.
Ny. Besar : "Gimana Boy?"
Ny. Besar meminta pendapat Boy yang duduk di sampingnya. Bukannya menjawab Boy malah bengong terpesona melihat penampilan Joya.
Joya : "Ny. Besar, ini terlalu terbuka."
Joya risih terus dipandangi Boy yang menatapnya dengan intens. Bagaimana tidak, potongan baju kebaya itu cukup rendah dengan punggung yang terbuka lebar.
Joya merasa Boy sedang memikirkan sesuatu yang nakal dilihat dari senyumannya. Ia menyilangkan tangannya menutupi tubuh bagian depannya.
__ADS_1
Ny. Besar : "Ganti. Carikan yang lebih tertutup dan elegan."
Ny. Besar berjalan ke depan Boy, menutupi pandangan Boy pada Joya.
Boy : "Yah, ibu."
Ny. Besar : "Ibu apa? Pikiranmu pasti mesum. Tutup matamu."
Boy : "Gak bisa lihat Joya, dong bu."
Ny. Besar : "Gak nurut, keluar sana."
Boy cemberut, ia memilih menutup matanya daripada diusir dari sana. Ia menyukai apa yang barusan dilihatnya.
Joya dipakaikan kebaya kedua, kali ini rok batiknya punya belahan tinggi hingga paha Joya terekspos bebas.
Lagi-lagi Boy hanya melongo melihat penampilan Joya ketika Ny. Besar meminta pendapatnya.
Boy : "Bisa gak kebaya yang tadi digabung sama rok batik ini?"
Joya melotot mendengar permintaan Boy. Ia terlihat sibuk menarik rok batiknya yang selalu terbuka memperlihatkan paha jenjangnya.
Ny. Besar : "Gak bisa. Kebaya ini digabung sama rok batik yang tadi. Gitu aja."
Joya mengganti rok batik itu sesuai permintaan Ny. Besar. Dan senyuman manis Joya menandakan ia setuju dengan pilihan Ny. Besar.
Sekarang tinggal gaun untuk resepsi. Boy sudah memilih satu gaun untuk Joya pakai.
Joya hampir tidak berani keluar dari ruangan itu setelah memakai gaun yang diinginkan Boy. Tapi Ny. Besar penasaran juga dan meminta Joya keluar.
Ny. Besar langsung memukul lengan dan punggung Boy ketika melihat penampilan Joya. Gaun itu menempel dengan ketat di tubuh Joya dan memperlihatkan hampir semua bagian tubuhnya.
Boy : "Ampun, bu! Bagus kan?"
Ny. Besar : "Bagus buat kamu. Dasar mesum!"
Boy : "Ibu nich, kok bilang anaknya mesum. Gaun itu bagus kan? Agak berlebihan sih."
Boy cengengesan sambil menghindari pukulan Ny. Besar. Joya langsung ngibrit masuk ke ruangan ganti dan mengganti gaun itu. Wajahnya merona merah.
Saat Joya hampir selesai memakai dress-nya lagi, seseorang hadir di belakangnya. Joya melihat melalui cermin, Boy tampak berdiri di belakangnya.
Boy menempel di punggung Joya, tangannya menyusuri punggung mulus Joya yang belum sempat menarik retsleting dressnya. Joya yang takut Ny. Besar akan memergoki mereka, perlahan melangkah maju.
Tapi Boy menahan tangan Joya, menempelkan hidungnya ke pipi Joya. Joya tersenyum malu mendapat perlakuan manis dari Boy.
Tangan Boy pelan-pelan menarik retsleting dress Joya hingga menutup kembali.
Joya : "Tuan..."
Boy : "Sayang, kamu cantik sekali."
Boy hampir mencium pipi Joya saat Ny. Besar masuk dan memergoki mereka. Wajah Joya merah padam menahan malu.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dan βDuren Manisβ dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
Makasi banyak..
π΄π΄π΄π΄π΄