
Eps. 20 – Joya ngambek
Boy : “Perlu bantuan istriku?”
Nando : “Saya tidak mau merepotkan. Terima kasih, tuan.”
Boy tidak mengejar Nando lagi. Ia menelpon Azriel untuk memberitahukan langkah selanjutnya.
Boy melihat laptopnya lagi, proyek kali ini seharusnya sudah masuk CC di
e-mailnya atas pertemuan pertama dengan client sekarang. Tapi Boy belum
melihatnya juga.
Boy kembali mengirimkan chat pada Nando untuk menanyakan hal itu. Dan Nando mengatakan
kalau asisten Pak Joni yang mengurus untuk pengiriman e-mailnya. Ia meminta
waktu untuk memeriksa e-mail asisten Pak Joni.
Nando : “Sepertinya mereka mau keluar, pak. Berkas pak Azriel juga dibawa.”
Boy : “Minta bantuan IT saja. Tunggu, aku minta sekretaris Carol untuk membantumu.”
Boy menelpon ke kantornya, sekretaris Carol mengangkat telpon itu,
Sekretaris Carol : “Ya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?”
Boy : “Sekretaris Carol tolong bantu Nando. Aku belum menerima CC e-mail client baru dari Pak
Joni. Apa sudah atau belum dikirim? Nando bilang asisten Pak Joni yang kirim.
Bisa minta IT cek c-mail dari mereka hari ini?”
Sekretaris Carol : “Baik, tuan. Mungkin saya bisa bantu?”
Boy : “Apa kamu hacker?”
Sekretaris Carol : “Bisa dibilang begitu, tuan. Beri saya waktu 5 menit.”
Boy melihat sekretaris Carol memberi tanda dengan tangannya 5 menit. Sekretaris Carol mengetik sesuatu
dengan cepat dan 5 menit kemudian, ia mengirim screen shot deretan e-mail yang
keluar dari e-mail asisten Pak Jodi.
Ada e-mail untuk seseorang mengenai proyek Pak Azriel tapi bukan orang di dalam
perusahaan. Tidak ada satupun e-mail yang di CC ke Boy.
Boy : “Kamu yakin sudah semua?”
Sekretaris Carol : “Sudah semua, tuan.”
Boy : “Nando akan kesana sebentar lagi. Bisa kau kasi dia lihat sendiri?”
Sekretaris Carol : “Baik, tuan.”
Boy tersenyum, ia sudah berusaha membantu Nando untuk lebih dekat dengan sekretaris Carol.
Sisanya biar Nando yang berusaha sendiri dulu.
Boy melihat CCTV lagi, keduanya sudah bersama lagi. Nando duduk di samping sekretaris Carol
dan mereka tampak serius membicarakan sesuatu. Sesekali sekretaris Carol
menunjukkan sesuatu dan Nando memegang tangan sekretaris Carol yang memegang
__ADS_1
mouse.
Nando memastikan kalau asisten Pak Jodi memang tidak mengirim e-mail ke department
terkait. Jadi data Pak Azriel tidak ada yang masuk dan tiba-tiba statusnya sudah
di tandai dengan batal. Boy membuka aplikasi untuk client di laptopnya, ia
mengepalkan tangannya karena memang statusnya sudah batal.
Kepala Boy mulai pusing. Itu artinya Pak Joni menggunakan pihak lain untuk mengerjakan
proyek Azriel. Boy mengirim chat pada Nando untuk menyelidiki siapa orang yang
kerja sama dengan Pak Joni.
Ia keluar dari ruang kerja dan naik ke lantai 2. Boy mengira kalau Joya ada di kamar mereka. Kamar
mereka kosong, bahkan di kamar mandi juga sepi. Boy keluar kamar lagi, kali ini
ke kamar ibunya. Ny. Besar ada di kamarnya, sedang membaca majalah.
Boy : “Bu, dimana Joya?”
Ny. Besar : “Bukannya dari tadi sama kamu? Kok bisa gak tau?”
Boy : “Tadi Joya keluar duluan, bu. Tapi gak ada di kamar.”
Ny. Besar : “Emang dia pamit mau kemana?”
Boy terdiam. Ia keluar dari kamar ibunya dengan cepat dan mencari Bi Ijah di dapur. Ketika Boy
menanyakan tentang Joya, Bi Ijah hanya geleng-geleng kepala tidak tahu dimana
majikannya itu. Boy berlari cepat ke lantai 2 lagi. Ia memeriksa lemari dan
Ponsel dan dompetnya juga tidak ada di tempat biasanya. Boy menelpon Joya, tapi Joya tidak
mengangkat telponnya. Ia keluar lagi dari kamar, kali ini ke pintu depan. Boy
memanggil sopir dan menanyakan apa Joya keluar dari dalam rumah.
Wajah Boy pucat setelah mendengar sopir melihat Joya keluar dengan membawa tas besar. Ia sudah mencoba menghentikannya tapi Joya tidak mau dengar dan pergi naik taksi.
Boy langsung memerintahkan sopir bersiap-siap, ia ingin menyusul Joya. Tapi kemana? Boy menelpon sekretaris Carol, minta dilacak keberadaan ponsel Joya. Sekretaris Carol melakukannya
dengan cepat dan menemukan Joya sedang dalam perjalanan menuju ke arah
apartment Boy.
Boy : “Bener-bener nakal. Pergi gak bilang-bilang.”
Boy memerintahkan sopir membawanya ke apartmentnya dengan cepat. Tapi sampai
disana, Joya tidak ada. Boy hampir gila, ia menelpon sekretaris Carol lagi
untuk memintanya memonitor ponsel Joya.
Sekretaris Carol : “Signal ada di kantor ini. Saya cek CCTV dulu, tuan.”
Boy menunggu jawaban dari sekretaris Carol sambil membuka lemarinya. Sepertinya ada tambahan
bajunya dan baju Joya di lemari itu.
Sekretaris Carol : “Ny. Joya ada di kantor, tuan. Ny. masuk ke ruang pribadi anda sambil
membawa tas besar.”
__ADS_1
Boy segera keluar dari apartmentnya dan meminta sopir mengantarnya ke kantor. Ia memberi
pesan pada sekretaris Carol untuk memastikan Pak Joni kembali ke kantor atau
tidak. Boy kembali menelpon ponsel Joya, tapi tidak diangkat juga. Ia
mengirimkan chat pada Joya, menanyakan keberadaannya, tapi tidak dijawab juga.
Belum sampai di kantor Boy, sekretaris Carol memberitahu kalau Joya sudah keluar dari kantor
dan memesan ojol. Boy meminta sekretaris Carol untuk tetap mengikuti signal
ponsel Joya. Sekretaris Carol memberitahu kalau ojol yang membawa Joya, tidak
jauh dari posisi Boy.
Boy memerintahkan sopir untuk lebih cepat lagi mengemudikan mobilnya. Ketika mereka
berhenti di lampu merah, Boy melihat sosok Joya di depannya. Ia beneran
menumpang ojol dengan membawa tas besar. Boy menjawab chat sekretaris Carol
yang menanyakan apa Boy sudah menemukan Joya dan apa keadaannya baik-baik saja?
Boy ingin keluar dari mobilnya, tapi lampu merah keburu berubah hijau. Boy meminta sopir
mengikuti ojol yang membawa Joya. Mereka sampai di sebuah tempat laundry. Joya
turun disana, menyerahkan helm dan tampak bicara dengan ojolnya. Joya berjalan
masuk ke dalam tempat laundry.
Boy menghampiri mengemudi ojol itu dan mengajaknya bicara. Tak lama, Joya keluar dari tempat
laundry. Ia mengajak ojol itu untuk lanjut lagi. Joya tidak tahu kalau ojol
yang tadi sudah berganti jadi Boy yang menyamar dengan jaket dan helm ojol. Sementara
ojol yang sebenarnya sudah duduk manis di mobil Boy bersama sopir.
Boy : “Mau kemana, mbak?” suara Boy sengaja ia buat semirip mungkin dengan ojol agar Joya tidak
curiga.
Joya : “Tolong ke jalan XX. Nanti saya tunjukin rumahnya.”
Joya naik lagi ke boncengan ojol. Ia merasa sedikit aneh karena ojol itu lebih tinggi
sekarang.
Boy : “Mbak tapi itu tempat apa ya?”
Joya : “Tempat laundry, pak.”
Boy : “Oh, gak sempat nyuci di rumah ya.”
Joya : “Gak, pak. Saya laundry baju suami saya, soalnya kalo dicuci sendiri, nanti bahannya
rusak. Disini belok kiri, pak.”
Boy : “Mau kemana lagi, mbak? Jalan XX kan masih lurus.”
Joya : “Mertua saya nitip kue, di toko situ. Nanti saya kasi ongkos lebih. Bonus buat bapak.”
*****
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan jejakmu). Tq.
__ADS_1