
Keesokan harinya, Alvin sudah siap di meja makan sedang sarapan. Sesekali ia menatap ke tangga, menunggu mama dan papanya yang tidak juga turun.
Alvin menghabiskan sarapannya, karena sebentar lagi dia harus segera berangkat ke sekolah. Nyonya Besar memandangi Alvin yang terlihat gelisah, biasanya Joya sudah siap untuk mengantar Alvin ke sekolah.
Nyonya Besar : “Alvin, hari ini berangkat sama sopir dulu ya. Nanti mama menyusul Alvin ke sekolah.”
Alvin : “Nenek, mama mana sich? Apa mama sudah punya adik untuk Alvin, trus lupa sama Alvin ya.”
Nyonya Besar : “Mama gak lupa sama Alvin, tapi kalau Alvin mau cepat dapat adik, Alvin harus berani pergi ke sekolah sendiri.”
Alvin : “Alvin berani ke sekolah, nek. Tapi mama dan papa belum cium Alvin.”
Nyonya Besar masih membujuk Alvin untuk segera berangkat sekolah, ketika Joya dan Boy berjalan menuruni tangga sambil berpegangan tangan. Wajah keduanya terlihat berseri seperti pengantin baru.
Joya : “Alvin sayangnya mama, ayo kita berangkat nak. Maaf ya, tadi mama bangun kesiangan.”
Boy : “Anak papa, sini cium dulu.”
Boy berjongkok di depan Alvin, mencium pipi putranya. Alvin terlihat celingukan mencari sesuatu di belakang Boy.
Alvin : “Pa, adik Alvin mana? Papa bohong ya.”
Boy : “Papa gak bohong, sayang. Adik Alvin masih di perut mama kok.”
Alvin : “Adik Alvin kok ada di perut mama? Kenapa bisa masuk kesana?”
Joya dan Boy terlihat kebingungan menjawab pertanyaan putranya yang cerdas, Nyonya Besar terkikik sebentar, Nyonya Besar mengingatkan Alvin kalau dia akan terlambat sekolah.
Alvin : “Ayo, mah. Nanti Alvin telat, hari ini ada olahraga.”
Joya berpamitan pada Nyonya Besar dan Boy, segera berjalan masuk ke mobil yang mengantar mereka ke sekolah Alvin.
🌼🌼🌼🌼🌼
Tiga bulan kemudian, Joya sedang menikmati cemilan sore bersama Alvin di ruang keluarga. Sesekali Alvin bertanya pada mamanya tentang sesuatu yang ia tidak mengerti, sampai Joya merasa perutnya sakit.
__ADS_1
Ia berjalan ke kamar mandi di lantai bawah dan muntah-muntah disana. Alvin yang melihat mamanya muntah-muntah, berteriak memanggil bibi pembantu.
Alvin : “Bi Ijah! Bi Ijah cepetan kesini, mama sakit.”
Bibi pembantu : “Iya, Tuan Kecil. Kenapa Nyonya Muda?”
Joya : “Mual, bi. Bibi tolong buatkan teh ya.”
Joya keluar dari kamar mandi, ia menuntun Alvin ke ruang keluarga lagi.
Alvin : “Mama gak apa-apa? Mana yang sakit, ma?”
Joya : “Mama gak apa-apa kok sayang. Mungkin adik Alvin lagi gerak-gerak diperut mama.”
Alvin : “Mama, kok adik bisa ada di dalam sini… hii… mama makan adik ya…”
Alvin bergidik, ia menjauh sedikit dari Joya yang tertawa mendengar celotehan anaknya.
Joya : “Mama gak makan adik Alvin kok sayang, kan adik Alvin dikasi sama Tuhan dan ditaruh di perut mama dulu, biar cepet besar.”
Setiap hari Alvin berbicara dengan adiknya yang masih ada di dalam perut Joya. Ia selalu menceritakan kegiatannya di sekolah, dan jika sedang libur, Alvin akan membacakan cerita untuk adiknya. Diusia 5 tahun, Alvin sudah lancar membaca karena Joya mengajarinya dengan sangat baik, karena itu Alvin sangat menonjol di kelas TKnya.
🌼🌼🌼🌼🌼
Tak terasa waktu berlalu, bulan kelahiran bayi Joya yang kedua sudah tiba waktunya. Boy dan Joya pergi ke rumah sakit untuk mengikuti senam yoga, dan sampai malam hari, mereka belum juga kembali. Alvin yang kebingungan mencari mamanya, bertanya pada neneknya,
Alvin : “Nenek, mama mana sich? Tadi bilangnya cuma keluar sebentar.”
Nyonya Besar : “Alvin, mama lagi lahiran, sebentar lagi adik Alvin keluar dari perut mama. Sekarang Alvin tidur dulu ya. Besok kita ke rumah sakit, nengok adik Alvin.
Alvin : “Horee… Alvin punya adik, punya adik… Adik Alvin cowok apa cewek, nek?”
Nyonya Besar : “Nenek juga belum tahu. Kita doakan mama dan adik Alvin sehat ya.”
Alvin mengangguk, dia terlihat sangat senang. Setelah berdoa dengan neneknya, Alvin beranjak tidur, dia bermimpi indah tentang bermain bersama anak yang lebih kecil usianya dari dia.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼
Nyonya Besar menepati janjinya membawa Alvin ke rumah sakit tempat Joya melahirkan. Alvin memeluk mamanya, ia tidak pernah tidak melihat mamanya setiap hari.
Joya : “Alvin sayang, Alvin mau lihat adik?”
Alvin : “Kakak Alvin, ma. Alvin kan sudah punya adik.”
Joya tersenyum mendengarnya, Alvin terdengar sangat bersemangat dipanggil kakak. Bayi kedua Joya diantar ke dalam kamar rawat inap. Boy menuntun Alvin mendekati boks bayi.
Boy : “Kakak Alvin, perkenalkan ini adik Aliya.”
Alvin : “Adik Aliya? Dia cowok apa cewek, pa?”
Boy : “Aliya itu cewek, nak.”
Alvin menatap bayi mungil di dalam boks bayi yang juga sedang menatapnya, ia tersenyum menyentuh pipi Aliya yang putih, tapi ia bingung ketika Aliya menoleh menjilat ujung jarinya. Alvin menarik tangannya yang basah oleh air liur Aliya.
Boy : “Nah, adik Aliya-nya uda lapar tuch. Kita kasih ke mama dulu ya.”
Alvin memperhatikan adiknya yang sedang disusui mamanya, tangan mungil adiknya keluar dari dalam bedong. Alvin memegang tangan mungil itu dengan hati-hati, ia merasa lucu ketika Aliya menggenggam ujung jari Alvin.
Alvin : “Kakak Alvin sayang Aliya.”
Alvin mencium pipi Aliya yang menggembung karena penuh ASI, ia terlihat sangat bahagia mempunyai seorang adik perempuan.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.
Jangan lupa like, fav, kritik dan saran sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak
kalah seru.
__ADS_1
-------