
Eps. 20 – Kebaya Pernikahan
Charlie hampir
menghajar pria itu yang ia kira akan memeluk Dita. Tapi Joni melewati Dita dan
memeluk pria yang bersama Dita tadi. Charlie hampir muntah melihat apa yang
terjadi berikutnya.
”Jangan
dibayangkan, okey. Kita sama-sama tahu apa yang terjadi.”
Dita menutup
pintu di belakangnya dan mengunci pintu itu dari luar. Ia mengajak Charlie duduk
di sofa.
“Kita harus
tunggu wartawan itu pergi, baru bisa keluar dari sini.”kata Dita.
“Kenapa? Trus
tuch pintunya kenapa kamu kunci dari luar.”tanya Charlie.
“Kamu mau
mereka keluar gak pake apa-apa? Trus kamu dikeroyok? Hihi...”
“Hii... gak.
Kamu gila ya mau aja bantuin mereka.”kata Charlie.
“Demi
informasi. Lagian sama-sama untung kan. Masi lama nich, kita ngapain?”goda Dita
pada Charlie.
“Apa kita bisa
melakukannya disini?”kata Charlie sambil tersenyum dan menarik Dita dalam
pelukannya.
“Apa kamu gak
takut mereka keluar dari kamar trus mergokin kamu gak pake apa-apa? Aku gak
keberatan menonton kalian.”
“Ayo kita
pulang kalo gitu. Kayaknya wartawannya udah pergi.”ajak Charlie.
“Kamu nich
ngajak aku pulang cuma mau ngajak gituan?”tanya Dita.
“Nggak mau ya?
Kalau aku bilang aku suka sama kamu, gimana?”
“Kamu gak boleh
suka sama aku, Charlie. Kita cuma senang-senang aja. Ayo, pulang.”
Charlie
mengikuti Dita yang keluar lebih dulu. Mereka menuju mobil Charlie dan Charlie
membawa Dita ke apartmentnya.
“Ngapain kita
kesini?”tanya Dita ketika melihat Charlie melepas sabuk pengamannya.
“Kamu udah
janji, kan. Malam ini gaya baru.”
“Ok, tuan
mesum. Tapi kamu harus antar aku pulang besok pagi-pagi banget.”
“Gak masalah.”
Charlie
menuntun Dita masuk ke apartmentnya. Apartment Charlie yang tidak pernah
dimasuki wanita itu, kini Dita masuk ke dalam sana. Wanita itu melihat
sekeliling apartment mewah itu.
Charlie mendekati
Dita, memeluk pinggang wanita itu dan mencium lehernya.
“Tuan, kau
sangat tidak sabaran. Tapi malam ini yang terakhir ya. Kita tidak bisa
melakukannya lagi atau aku bisa hamil.”
“Kalau kau
hamil, kita menikah saja. Aku single, kamu juga single. Apalagi yang kau
inginkan?”tanya Charlie.
“Aku bukan
wanita baik-baik, tuan. Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.”
__ADS_1
Dita membalik
tubuhnya dan mencium Charlie. Keduanya terhanyut dalam ciuman manis yang memabukkan
sampai Charlie membawa Dita masuk ke kamarnya.
*****
Nanda melirik
Ana yang sedang membolak-balik katalog kebaya pengantin di tangannya. Ia
terlihat tertarik pada salah satu gambar kebaya itu tapi terlihat ragu-ragu. Ana
membuka satu persatu halaman katalog itu sampai halaman terakhir dan kembali
lagi ke gambar semula.
“Pilih yang itu
saja.”kata Nanda.
“Tapi, ini
terlalu ramai aksesorisnya. Aku malu kalau terlalu menor.”
“Minta saja
jangan terlalu banyak aksesorisnya.”
“Ach, benar
juga. Nadia, apa kebaya ini bagus untuk tante?”tanya Ana pada Nadia yang sedang
menggambar di depan mereka.
“Bagus, tante.
Tante pakai baju apa saja, tetep cantik kok.”puji Nadia membuat Ana tersipu.
“Ach, kamu
manis banget sich.”balas Ana.
“Jadi, apa
adikku sudah ada?”tanya Nadia.
“Belum, sayang.
Sabar ya.”kata Ana.
Nadia kembali
asyik dengan gambarnya, sesekali ia menguap.
“Kalau buat
yang baru, bukannya terlalu lama ya. Kita sewa saja kebaya yang sudah jadi. Aku
“Penjahitnya
bisa membuat kebaya itu dalam waktu semalam. Charlie?”panggil Nanda.
“Ya, tuan
muda. Penjahitnya sedang dalam perjalanan. Ny. muda mau sekalian perawatan?
Sepertinya nona muda perlu dipijat juga.”tawar Charlie dengan semangat.
Ana menoleh
pada Nanda, apa yang terjadi dengan Charlie yang terlihat berlebihan seperti
itu. Nanda membisikkan kalau Charlie sedang jatuh cinta dengan seorang wanita
dan hubungan mereka sudah sampai hubungan diatas ranjang.
“Oh, astaga.
Apa mereka akan menikah?”bisik Ana.
“Sepertinya
wanita itu hanya ingin bersenang-senang dengan Charlie.”bisik Nanda juga.
Charlie yang
melihat kedua majikannya sibuk berbisik-bisik, mendekati Nadia yang ternyata
sudah tertidur pulas sambil tengkurap.
“Apa Nadia
sudah tidur? Dia pasti capek sekali. Charlie tolong gendong Nadia ke kamarnya
ya. Sayang, aku ganti bajunya Nadia dulu ya. Cup.”kata Ana sambil mencium pipi
Nanda.
Setelah Ana
beranjak ke kamar Nadia, Nanda memberi tanda dengan tangannya. Beberapa orang
masuk ke kamar Ana sambil membawa beberapa kebaya yang tergantung rapi. Orang-orang
itu juga menggelar banyak perhiasan aneka model dan warna. Terakhir ada deretan
heels seukuran dengan Ana juga.
Terdengar suara
Carol di lorong, ia baru kembali dari nonton bersama Nando. Mereka melewati
kamar Ana dan Carol berhenti melihat pintu terbuka.
“Wow!”seru
__ADS_1
Carol mengagumi apa yang memenuhi kamar Ana sekarang.
Carol sedikit
ragu ketika ingin masuk ke kamar itu. Apalagi ada Nanda didalamnya. Ia hanya
ingin melihat lebih dekat kebaya pernikahan untuk Ana.
“Malam, kakak
ipar. Nando, aku ke kamar dulu ya.”ucap Carol hampir beranjak dari sana.
“Adik ipar,
masuk sini. Aku perlu pendapatmu.”panggil Nanda.
“Aku, kak? Apa,
kak?”tanya Carol sambil masuk ke kamar Ana.
Nanda meminta
Carol memilih beberapa perhiasan yang akan cocok dengan kebaya yang diinginkan
Ana. Carol memperhatikan detail kebaya Ana yang terpasang di patung, ia juga
memperhatikan perhiasan yang terhampar di tempat tidur Ana.
Ia mengambil
satu dan meletakkannya lagi. Carol mengambil perhiasan lain dan membawanya ke
depan Nanda.
“Ini cocok,
kak.”
“Kalau
sepatunya?”tanya Nanda.
“Heels, maksud
kakak?”
“Ya, itu.
Kenapa istilahnya beda. Sama-sama dipakai di kaki kan?”
Carol cuma
tersenyum menanggapi pertanyaan Nanda. Mana ngerti pria seperti Nanda dengan
dunia wanita yang memiliki lebih dari 10 jenis alas kaki untuk beraktifitas. Carol
memilih satu heels dan membawanya ke hadapan Nanda.
“Ada apa ini?”tanya
Ana yang baru kembali dari kamar Nadia.
“Sayang,
kebayamu sudah jadi. Coba dulu.”
“Hah?! Kok
bisa?”
Ana melihat
kebaya yang ia inginkan sama persis dengan yang ia lihat di katalog sudah
tersedia di hadapannya. Ia juga melihat banyak perhiasan dan heels di dekat
tempat tidurnya. Nanda memberi tanda pada semua orang untuk keluar kecuali
Carol.
“Aku keluar
juga nich, kak?”tanya Nando.
“Iya. Kamu mau
lihat Ana ganti baju? Enak aja. Keluar.”kata Nanda.
“Trus, kakak
kenapa masih disitu?”
“Aku kan
suaminya, boleh lihat dong.”
“Mending kamu
juga keluar, suamiku. Panggil pelayan wanita untuk membantu kami. Cepetan.”pinta
Ana sambil mengerdip genit pada Nanda.
Melihat
Nanda keras kepala, Ana mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Nanda
langsung bangun dari sofa dan keluar dari sana. Pelayan wanita masuk dan pintu
ditutup.
*****
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.
__ADS_1