Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Kebaya Pernikahan


__ADS_3

Eps. 20 – Kebaya Pernikahan


Charlie hampir


menghajar pria itu yang ia kira akan memeluk Dita. Tapi Joni melewati Dita dan


memeluk pria yang bersama Dita tadi. Charlie hampir muntah melihat apa yang


terjadi berikutnya.


”Jangan


dibayangkan, okey. Kita sama-sama tahu apa yang terjadi.”


Dita menutup


pintu di belakangnya dan mengunci pintu itu dari luar. Ia mengajak Charlie duduk


di sofa.


“Kita harus


tunggu wartawan itu pergi, baru bisa keluar dari sini.”kata Dita.


“Kenapa? Trus


tuch pintunya kenapa kamu kunci dari luar.”tanya Charlie.


“Kamu mau


mereka keluar gak pake apa-apa? Trus kamu dikeroyok? Hihi...”


“Hii... gak.


Kamu gila ya mau aja bantuin mereka.”kata Charlie.


“Demi


informasi. Lagian sama-sama untung kan. Masi lama nich, kita ngapain?”goda Dita


pada Charlie.


“Apa kita bisa


melakukannya disini?”kata Charlie sambil tersenyum dan menarik Dita dalam


pelukannya.


“Apa kamu gak


takut mereka keluar dari kamar trus mergokin kamu gak pake apa-apa? Aku gak


keberatan menonton kalian.”


“Ayo kita


pulang kalo gitu. Kayaknya wartawannya udah pergi.”ajak Charlie.


“Kamu nich


ngajak aku pulang cuma mau ngajak gituan?”tanya Dita.


“Nggak mau ya?


Kalau aku bilang aku suka sama kamu, gimana?”


“Kamu gak boleh


suka sama aku, Charlie. Kita cuma senang-senang aja. Ayo, pulang.”


Charlie


mengikuti Dita yang keluar lebih dulu. Mereka menuju mobil Charlie dan Charlie


membawa Dita ke apartmentnya.


“Ngapain kita


kesini?”tanya Dita ketika melihat Charlie melepas sabuk pengamannya.


“Kamu udah


janji, kan. Malam ini gaya baru.”


“Ok, tuan


mesum. Tapi kamu harus antar aku pulang besok pagi-pagi banget.”


“Gak masalah.”


Charlie


menuntun Dita masuk ke apartmentnya. Apartment Charlie yang tidak pernah


dimasuki wanita itu, kini Dita masuk ke dalam sana. Wanita itu melihat


sekeliling apartment mewah itu.


Charlie mendekati


Dita, memeluk pinggang wanita itu dan mencium lehernya.


“Tuan, kau


sangat tidak sabaran. Tapi malam ini yang terakhir ya. Kita tidak bisa


melakukannya lagi atau aku bisa hamil.”


“Kalau kau


hamil, kita menikah saja. Aku single, kamu juga single. Apalagi yang kau


inginkan?”tanya Charlie.


“Aku bukan


wanita baik-baik, tuan. Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.”

__ADS_1


Dita membalik


tubuhnya dan mencium Charlie. Keduanya terhanyut dalam ciuman manis yang memabukkan


sampai Charlie membawa Dita masuk ke kamarnya.


*****


Nanda melirik


Ana yang sedang membolak-balik katalog kebaya pengantin di tangannya. Ia


terlihat tertarik pada salah satu gambar kebaya itu tapi terlihat ragu-ragu. Ana


membuka satu persatu halaman katalog itu sampai halaman terakhir dan kembali


lagi ke gambar semula.


“Pilih yang itu


saja.”kata Nanda.


“Tapi, ini


terlalu ramai aksesorisnya. Aku malu kalau terlalu menor.”


“Minta saja


jangan terlalu banyak aksesorisnya.”


“Ach, benar


juga. Nadia, apa kebaya ini bagus untuk tante?”tanya Ana pada Nadia yang sedang


menggambar di depan mereka.


“Bagus, tante.


Tante pakai baju apa saja, tetep cantik kok.”puji Nadia  membuat Ana tersipu.


“Ach, kamu


manis banget sich.”balas Ana.


“Jadi, apa


adikku sudah ada?”tanya Nadia.


“Belum, sayang.


Sabar ya.”kata Ana.


Nadia kembali


asyik dengan gambarnya, sesekali ia menguap.


“Kalau buat


yang baru, bukannya terlalu lama ya. Kita sewa saja kebaya yang sudah jadi. Aku


“Penjahitnya


bisa membuat kebaya itu dalam waktu semalam. Charlie?”panggil Nanda.


“Ya, tuan


muda. Penjahitnya sedang dalam perjalanan. Ny. muda mau sekalian perawatan?


Sepertinya nona muda perlu dipijat juga.”tawar Charlie dengan semangat.


Ana menoleh


pada Nanda, apa yang terjadi dengan Charlie yang terlihat berlebihan seperti


itu. Nanda membisikkan kalau Charlie sedang jatuh cinta dengan seorang wanita


dan hubungan mereka sudah sampai hubungan diatas ranjang.


“Oh, astaga.


Apa mereka akan menikah?”bisik Ana.


“Sepertinya


wanita itu hanya ingin bersenang-senang dengan Charlie.”bisik Nanda juga.


Charlie yang


melihat kedua majikannya sibuk berbisik-bisik, mendekati Nadia yang ternyata


sudah tertidur pulas sambil tengkurap.


“Apa Nadia


sudah tidur? Dia pasti capek sekali. Charlie tolong gendong Nadia ke kamarnya


ya. Sayang, aku ganti bajunya Nadia dulu ya. Cup.”kata Ana sambil mencium pipi


Nanda.


Setelah Ana


beranjak ke kamar Nadia, Nanda memberi tanda dengan tangannya. Beberapa orang


masuk ke kamar Ana sambil membawa beberapa kebaya yang tergantung rapi. Orang-orang


itu juga menggelar banyak perhiasan aneka model dan warna. Terakhir ada deretan


heels seukuran dengan Ana juga.


Terdengar suara


Carol di lorong, ia baru kembali dari nonton bersama Nando. Mereka melewati


kamar Ana dan Carol berhenti melihat pintu terbuka.


“Wow!”seru

__ADS_1


Carol mengagumi apa yang memenuhi kamar Ana sekarang.


Carol sedikit


ragu ketika ingin masuk ke kamar itu. Apalagi ada Nanda didalamnya. Ia hanya


ingin melihat lebih dekat kebaya pernikahan untuk Ana.


“Malam, kakak


ipar. Nando, aku ke kamar dulu ya.”ucap Carol hampir beranjak dari sana.


“Adik ipar,


masuk sini. Aku perlu pendapatmu.”panggil Nanda.


“Aku, kak? Apa,


kak?”tanya Carol sambil masuk ke kamar Ana.


Nanda meminta


Carol memilih beberapa perhiasan yang akan cocok dengan kebaya yang diinginkan


Ana. Carol memperhatikan detail kebaya Ana yang terpasang di patung, ia juga


memperhatikan perhiasan yang terhampar di tempat tidur Ana.


Ia mengambil


satu dan meletakkannya lagi. Carol mengambil perhiasan lain dan membawanya ke


depan Nanda.


“Ini cocok,


kak.”


“Kalau


sepatunya?”tanya Nanda.


“Heels, maksud


kakak?”


“Ya, itu.


Kenapa istilahnya beda. Sama-sama dipakai di kaki kan?”


Carol cuma


tersenyum menanggapi pertanyaan Nanda. Mana ngerti pria seperti Nanda dengan


dunia wanita yang memiliki lebih dari 10 jenis alas kaki untuk beraktifitas. Carol


memilih satu heels dan membawanya ke hadapan Nanda.


“Ada apa ini?”tanya


Ana yang baru kembali dari kamar Nadia.


“Sayang,


kebayamu sudah jadi. Coba dulu.”


“Hah?! Kok


bisa?”


Ana melihat


kebaya yang ia inginkan sama persis dengan yang ia lihat di katalog sudah


tersedia di hadapannya. Ia juga melihat banyak perhiasan dan heels di dekat


tempat tidurnya. Nanda memberi tanda pada semua orang untuk keluar kecuali


Carol.


“Aku keluar


juga nich, kak?”tanya Nando.


“Iya. Kamu mau


lihat Ana ganti baju? Enak aja. Keluar.”kata Nanda.


“Trus, kakak


kenapa masih disitu?”


“Aku kan


suaminya, boleh lihat dong.”


“Mending kamu


juga keluar, suamiku. Panggil pelayan wanita untuk membantu kami. Cepetan.”pinta


Ana sambil mengerdip genit pada Nanda.


Melihat


Nanda keras kepala, Ana mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Nanda


langsung bangun dari sofa dan keluar dari sana. Pelayan wanita masuk dan pintu


ditutup.


*****


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2