
Eps. 21 – Mencarimu
“Ny. Joya
berbohong?”
“Apa bedanya?!
Mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, sama saja berbohong!!”
Rian terdiam,
ia masih belum bisa menerima karakter Joya seperti itu. Selama ia mengenal
Joya, wanita itu sangat baik dan tulus. Joya pasti mengatakan apa yang ia lihat
dan itu bukan sebuah kebohongan.
Saat ini
keduanya sama-sama sedang emosi, jadi mungkin saja semua ini hanya salah paham.
Dengan pemikiran seperti itu Rian mendorong Steven untuk bekerja lebih cepat
mencari bukti yang tidak ada.
Rian tidak bisa
membayangkan kata-kata seperti apa yang sudah dikatakan Boy pada Joya tadi.
Kalau gara-gara emosi, Boy mengatakan sesuatu yang kasar pada Joya, mungkin
memang benar kalau Ny. Besar marah padanya dan berakhir sakit seperti sekarang.
Boy keluar dari
ruang meeting, masuk ke ruang kerjanya dan membuka kemejanya yang berisi bekas
lipstik Kristal. Dengan kesal ia membuang kemeja itu ke tong sampah di sudut
kantornya. Boy masuk ke kamar mandi, ia berdiri di depan shower membiarkan
kepalanya yang panas terkena air dingin yang mengalir deras.
Bayangan ibunya
yang tidak sadarkan diri, kembali melintas di kepalanya. Begitu juga bayangan
Joya yang tampak shock melihatnya tadi. Tiba-tiba mata Boy terbuka, ia sempat
melihat kain merah yang dipegang Ny. Putri di kepala Joya.
“Kenapa mbak
Putri memegang kepala Joya seperti itu? Untuk apa kain merah itu?” Boy
mematikan shower, ia mengambil handuk dan meraih ponselnya yang tadi ia taruh
di atas wastafel. Boy kembali menelpon Joya, lagi-lagi ponselnya tidak aktif.
Boy kembali
menelpon ke rumah besar, pelayan mengangkat telpon itu,
“Dimana Joya?”
“Ny. tidak ada
di rumah. Maaf, dengan siapa saya bicara?”
“Aku Boy!
Katakan dimana dia?”
“Tuan muda, Ny.
Joya pergi keluar, tidak tahu kemana.”
“Dia keluar
sama siapa?!”
“Keluar
sendiri, tuan muda.”
Boy memutuskan
sambungan telpon, ia lupa menanyakan keadaan ibunya. Fokusnya beralih pada
Joya, kain merah di kepala Joya, dan juga kepergian Joya. Boy mengacak-acak
rambutnya yang basah, ia memikirkan kemana Joya pergi?
Apa ke rumah
sakit? Tapi kenapa sendirian? Segala macam pikiran itu membuat Boy sakit kepala
lagi. Ia memakai pakaiannya dengan cepat dan keluar dari kamar mandi. Kenapa
__ADS_1
Joya bisa datang dan kebetulan melihat kejadian itu? Boy melihat kotak bekal
diatas meja kerjanya.
Ia membuka
kotak itu dan aroma masakan menguar keluar memenuhi ruang kerjanya. Itu wangi
masakan Joya, sepertinya Joya datang untuk membawakannya makan siang. Boy
memakan sepotong daging yang langsung lumer di mulutnya. Ia memakan sepotong
lagi, entah kenapa air matanya mulai mengalir.
Setiap Boy
memasukkan potongan daging buatan Joya, air matanya malah keluar. Boy membuka
aplikasi chat-nya. Ia melihat chat terakhirnya dengan Joya hanya dibaca saja.
Boy membaca chat itu dan kembali menangis. Ia mengetik chat lagi memanggil
Joya, tapi kali ini chatnya tidak terkirim.
“Bos, kita
dapat buktinya.”kata Rian yang tiba-tiba masuk.
Boy menghapus
air matanya saat Steven masuk ke ruang kerjanya juga. Ia berhasil meng-hack
CCTV dari gedung sebelah yang mengarah langsung ke kantor Boy. Meskipun
kualitas kamera CCTV-nya jelek, tapi kejadian yang sebenarnya terekam disana.
“Kerja bagus.
Aku bisa pulang sekarang.”
Saat Boy sampai
di rumah Ny. Besar lagi bersama Steven dan Rian, mereka tidak diijinkan masuk
sama sekali. Boy menyuruh Rian dan Steven masuk untuk menjelaskan apa yang
mereka temukan sementara Boy menunggu diluar.
Sepuluh menit,
setengah jam, satu jam, sampai dua jam lebih Boy menunggu di pinggir jalan tapi
Boy menatap
trotoar di depan rumah besar, kenangannya berputar kembali ke masa saat Boy
baru mengenal Joya. Joya saat itu masih jadi mahasiswa dan Boy sempat mengantarnya
ke kampus. Boy menundukkan kepalanya diantara kedua lututnya. Kepalanya sungguh
pusing memikirkan semua kejadian yang berjalan sangat cepat.
Rian dan Steven
keluar dari gerbang, berjalan mendekati Boy yang masih menunduk. “Bos kenapa?”
“Kepalaku
pusing. Gimana ibu?”
“Ny. Besar
tidak ada. Pergi entah kemana. Dirumah hanya ada Ny. Lastri dan dan Ny. Putri.
Mereka tidak membiarkan kami pergi dan menuduh kami sekongkol dengan bos.”jelas
Rian.
“Ibu pergi,
Joya juga pergi. Aaarrggg!!!”Boy berteriak kesal.
Mereka kembali
ke kantor dan Boy mengirim beberapa orang untuk mencari Joya dan Ny. Besar.
Lima bulan
kemudian, seorang wanita cantik sedang menyiram bunga di taman depan rumah
mungil di sebuah perkebunan. Joya merapikan rambut panjangnya yang ditiup
angin. Rambutnya sudah lebih panjang dari sebelumnya, bersamaan dengan perutnya
yang semakin membesar.
Bayi di
__ADS_1
kandungan Joya tumbuh sangat sehat dan kuat. Meskipun sempat mengalami masa
ngidam yang parah yang membuat kondisi Joya lemah, tapi bayi itu tidak mau
meninggalkan ibunya. Joya merasakan gerakan bayinya di dalam sana.
“Nak, kamu lagi
ngapain sich?”Joya mengusap-usap perutnya, membuat bayi itu semakin aktif
bergerak. “Aduch!” Joya menarik nafas dalam, ia meletakkan selang air begitu
saja dan berjalan pelan menuju teras rumah.
“Bi Ijah?
Bi...!”
“Iya, Joya?” Bi
Ijah tampak berlari keluar dari dalam rumah.
Ia menghampiri
Joya yang sudah duduk di teras rumah itu. “Kenapa? Sakit lagi ya?” Bi Ijah
membantu menaikkan kaki Joya.
“Bi, tolong
matikan airnya.”
BI Ijah mematikan
kran air dan kembali mendekati Joya. “Mau ke dokter?”
Joya
menggeleng, semilir angin bertiup di sore yang sejuk itu. “Dia menendang
kencang sekali, bi. Sakit.”
“Sepertinya
tuan muda kecil tidak sabar ingin keluar ya.”
“Bibi yakin
tuan muda, bukannya nona muda?”
Bi Ijah
tersenyum, ia kembali ke dalam rumah untuk membuatkan susu hangat. Joya
memejamkan matanya sambil mengelus perutnya. Dalam kesunyian dan kegelapan yang
hanya berlangsung 5 menit itu, Joya seperti bermimpi bertemu dengan Boy.
Joya tersenyum
dalam tidurnya, ketika melihat Boy mendekatinya. Wajah itu, senyuman itu, masih
sama seperti 5 bulan yang lalu. Tapi senyuman itu tiba-tiba berubah jadi
kemarahan yang sangat menyakitkan. Air bening mengalir dari sudut mata Joya.
Joya tersentak
bangun. Ia melihat sekeliling dan bernafas lega. Ada susu hangat tersedia di
atas meja. Joya mengambilnya dan meminum sedikit.
“Joya.”
Joya berhenti
bergerak, suara itu masih terdengar sama. Memanggilnya dengan mesra.
“Joya, sayang.”
Prang! Kepingan
gelas kaca berhamburan ada yang mengenai kaki Joya. Susu membasahi lantai di
sekitar kaki Joya. Tetesan darah membuat susu berubah warna menjadi pink. Ia
sangat terkejut melihat siapa yang berdiri di depan rumah saat ini.
“Joya, apa yang
terjadi? Tuan muda...”
*****
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.
__ADS_1