Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Mencarimu


__ADS_3

Eps. 21 – Mencarimu


“Ny. Joya


berbohong?”


“Apa bedanya?!


Mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, sama saja berbohong!!”


Rian terdiam,


ia masih belum bisa menerima karakter Joya seperti itu. Selama ia mengenal


Joya, wanita itu sangat baik dan tulus. Joya pasti mengatakan apa yang ia lihat


dan itu bukan sebuah kebohongan.


Saat ini


keduanya sama-sama sedang emosi, jadi mungkin saja semua ini hanya salah paham.


Dengan pemikiran seperti itu Rian mendorong Steven untuk bekerja lebih cepat


mencari bukti yang tidak ada.


Rian tidak bisa


membayangkan kata-kata seperti apa yang sudah dikatakan Boy pada Joya tadi.


Kalau gara-gara emosi, Boy mengatakan sesuatu yang kasar pada Joya, mungkin


memang benar kalau Ny. Besar marah padanya dan berakhir sakit seperti sekarang.


Boy keluar dari


ruang meeting, masuk ke ruang kerjanya dan membuka kemejanya yang berisi bekas


lipstik Kristal. Dengan kesal ia membuang kemeja itu ke tong sampah di sudut


kantornya. Boy masuk ke kamar mandi, ia berdiri di depan shower membiarkan


kepalanya yang panas terkena air dingin yang mengalir deras.


Bayangan ibunya


yang tidak sadarkan diri, kembali melintas di kepalanya. Begitu juga bayangan


Joya yang tampak shock melihatnya tadi. Tiba-tiba mata Boy terbuka, ia sempat


melihat kain merah yang dipegang Ny. Putri di kepala Joya.


“Kenapa mbak


Putri memegang kepala Joya seperti itu? Untuk apa kain merah itu?” Boy


mematikan shower, ia mengambil handuk dan meraih ponselnya yang tadi ia taruh


di atas wastafel. Boy kembali menelpon Joya, lagi-lagi ponselnya tidak aktif.


Boy kembali


menelpon ke rumah besar, pelayan mengangkat telpon itu,


“Dimana Joya?”


“Ny. tidak ada


di rumah. Maaf, dengan siapa saya bicara?”


“Aku Boy!


Katakan dimana dia?”


“Tuan muda, Ny.


Joya pergi keluar, tidak tahu kemana.”


“Dia keluar


sama siapa?!”


“Keluar


sendiri, tuan muda.”


Boy memutuskan


sambungan telpon, ia lupa menanyakan keadaan ibunya. Fokusnya beralih pada


Joya, kain merah di kepala Joya, dan juga kepergian Joya. Boy mengacak-acak


rambutnya yang basah, ia memikirkan kemana Joya pergi?


Apa ke rumah


sakit? Tapi kenapa sendirian? Segala macam pikiran itu membuat Boy sakit kepala


lagi. Ia memakai pakaiannya dengan cepat dan keluar dari kamar mandi. Kenapa

__ADS_1


Joya bisa datang dan kebetulan melihat kejadian itu? Boy melihat kotak bekal


diatas meja kerjanya.


Ia membuka


kotak itu dan aroma masakan menguar keluar memenuhi ruang kerjanya. Itu wangi


masakan Joya, sepertinya Joya datang untuk membawakannya makan siang. Boy


memakan sepotong daging yang langsung lumer di mulutnya. Ia memakan sepotong


lagi, entah kenapa air matanya mulai mengalir.


Setiap Boy


memasukkan potongan daging buatan Joya, air matanya malah keluar. Boy membuka


aplikasi chat-nya. Ia melihat chat terakhirnya dengan Joya hanya dibaca saja.


Boy membaca chat itu dan kembali menangis. Ia mengetik chat lagi memanggil


Joya, tapi kali ini chatnya tidak terkirim.


“Bos, kita


dapat buktinya.”kata Rian yang tiba-tiba masuk.


Boy menghapus


air matanya saat Steven masuk ke ruang kerjanya juga. Ia berhasil meng-hack


CCTV dari gedung sebelah yang mengarah langsung ke kantor Boy. Meskipun


kualitas kamera CCTV-nya jelek, tapi kejadian yang sebenarnya terekam disana.


“Kerja bagus.


Aku bisa pulang sekarang.”


Saat Boy sampai


di rumah Ny. Besar lagi bersama Steven dan Rian, mereka tidak diijinkan masuk


sama sekali. Boy menyuruh Rian dan Steven masuk untuk menjelaskan apa yang


mereka temukan sementara Boy menunggu diluar.


Sepuluh menit,


setengah jam, satu jam, sampai dua jam lebih Boy menunggu di pinggir jalan tapi


Boy menatap


trotoar di depan rumah besar, kenangannya berputar kembali ke masa saat Boy


baru mengenal Joya. Joya saat itu masih jadi mahasiswa dan Boy sempat mengantarnya


ke kampus. Boy menundukkan kepalanya diantara kedua lututnya. Kepalanya sungguh


pusing memikirkan semua kejadian yang berjalan sangat cepat.


Rian dan Steven


keluar dari gerbang, berjalan mendekati Boy yang masih menunduk. “Bos kenapa?”


“Kepalaku


pusing. Gimana ibu?”


“Ny. Besar


tidak ada. Pergi entah kemana. Dirumah hanya ada Ny. Lastri dan dan Ny. Putri.


Mereka tidak membiarkan kami pergi dan menuduh kami sekongkol dengan bos.”jelas


Rian.


“Ibu pergi,


Joya juga pergi. Aaarrggg!!!”Boy berteriak kesal.


Mereka kembali


ke kantor dan Boy mengirim beberapa orang untuk mencari Joya dan Ny. Besar.



Lima bulan


kemudian, seorang wanita cantik sedang menyiram bunga di taman depan rumah


mungil di sebuah perkebunan. Joya merapikan rambut panjangnya yang ditiup


angin. Rambutnya sudah lebih panjang dari sebelumnya, bersamaan dengan perutnya


yang semakin membesar.


Bayi di

__ADS_1


kandungan Joya tumbuh sangat sehat dan kuat. Meskipun sempat mengalami masa


ngidam yang parah yang membuat kondisi Joya lemah, tapi bayi itu tidak mau


meninggalkan ibunya. Joya merasakan gerakan bayinya di dalam sana.


“Nak, kamu lagi


ngapain sich?”Joya mengusap-usap perutnya, membuat bayi itu semakin aktif


bergerak. “Aduch!” Joya menarik nafas dalam, ia meletakkan selang air begitu


saja dan berjalan pelan menuju teras rumah.


“Bi Ijah?


Bi...!”


“Iya, Joya?” Bi


Ijah tampak berlari keluar dari dalam rumah.


Ia menghampiri


Joya yang sudah duduk di teras rumah itu. “Kenapa? Sakit lagi ya?” Bi Ijah


membantu menaikkan kaki Joya.


“Bi, tolong


matikan airnya.”


BI Ijah mematikan


kran air dan kembali mendekati Joya. “Mau ke dokter?”


Joya


menggeleng, semilir angin bertiup di sore yang sejuk itu. “Dia menendang


kencang sekali, bi. Sakit.”


“Sepertinya


tuan muda kecil tidak sabar ingin keluar ya.”


“Bibi yakin


tuan muda, bukannya nona muda?”


Bi Ijah


tersenyum, ia kembali ke dalam rumah untuk membuatkan susu hangat. Joya


memejamkan matanya sambil mengelus perutnya. Dalam kesunyian dan kegelapan yang


hanya berlangsung 5 menit itu, Joya seperti bermimpi bertemu dengan Boy.


Joya tersenyum


dalam tidurnya, ketika melihat Boy mendekatinya. Wajah itu, senyuman itu, masih


sama seperti 5 bulan yang lalu. Tapi senyuman itu tiba-tiba berubah jadi


kemarahan yang sangat menyakitkan. Air bening mengalir dari sudut mata Joya.


Joya tersentak


bangun. Ia melihat sekeliling dan bernafas lega. Ada susu hangat tersedia di


atas meja. Joya mengambilnya dan meminum sedikit.


“Joya.”


Joya berhenti


bergerak, suara itu masih terdengar sama. Memanggilnya dengan mesra.


“Joya, sayang.”


Prang! Kepingan


gelas kaca berhamburan ada yang mengenai kaki Joya. Susu membasahi lantai di


sekitar kaki Joya. Tetesan darah membuat susu berubah warna menjadi pink. Ia


sangat terkejut melihat siapa yang berdiri di depan rumah saat ini.


“Joya, apa yang


terjadi? Tuan muda...”


*****


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2