Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak-anak) - Joint


__ADS_3

Aliya mulai bekerja seperti biasa di ruangan yang sama dengan Deril. Tumpukan kontrak yang harus di-reviewnya sudah menumpuk dari lantai sampai sejajar dengan mejanya. Belum lagi kontrak urgent diatas mejanya. Aliya benar-benar terkubur kontrak.


Deril yang datang terlambat segera mendekati Aliya,


Deril : Hai, Al. Apa kabarmu?"


Aliya : "Hai, kakak ipar. Aku baik. Kapan kau kembali dari bulan madu?"


Deril : "Hehe.. kami tidak jadi berangkat. Mila merasa saat di Indonesia sudah seperti bulan madu. Aku baru tahu kalau dia cukup perhitungan juga."


Aliya : "Kalian tinggal dimana sekarang?"


Deril : "Masih di apartmentku. Padahal aku sudah membeli rumah untuknya, tapi Mila memilih menyewakan rumah itu. Saat ia mendapatkan transferan sewanya, Mila tiba-tiba menyerangku..."


Aliya : "Maksudmu?"


Deril : "Iya, biasanya aku yang menyerangnya duluan, tapi Mila membuatku kewalahan dua hari berturut-turut. Astaga!"


Aliya menatap malas melihat reaksi Deril yang berbunga-bunga dengan wajah merona. Dasar bucin!


Deril : "Eh... ehhem... Bagaimana nanti, kita jadi ketemu papaku kan?"


Aliya : "Iya, sebenarnya apa yang ingin kalian bahas denganku?"


Deril : "Papa ingin kita joint, menjalankan perusahaan bersama sebagai partner. Detailnya nanti kita bahas sekalian dengan pengacara."


Aliya : "Aku tidak ikut setor modal, kenapa papamu mau kita joint?"


Deril : "Papa tidak bilang alasannya, aku hanya diminta mengatur pertemuan nanti. Tempatnya di hotel G, rekan bisnis papaku menginap disana dan dia hanya punya waktu nanti."


Aliya : "Ya, sudah. Kita bahas nanti saja. Aku harus menyelesaikan ini dulu. Mana asistenku?"


Deril : "Aku sudah memanggil beberapa orang yang kira-kira cocok untukmu, tapi mereka menolak begitu tahu usiamu."


Aliya : "Usiaku terlalu tua?"


Deril : "Terlalu muda, Al. Orang yang kupanggil diatas kepala 3, mereka tidak mau bekerja pada anak kecil."


Aliya : "Astaga, salahkan kejeniusanku. Sekarang bahkan tidak ada yang mau bekerja padaku."


Deril : "Aku yakin kita bisa menemukannya setelah kau joint denganku. Jabatanmu akan mendukung keputusan mereka nanti."


Aliya : "Kita lihat saja nanti."


Aliya kembali membaca kontrak yang tadi baru dikerjakannya setengah, sementara Deril duduk di meja kerjanya. Sesekali Cecil masuk ke ruangan itu untuk bicara dengan Deril atau mengambil kontrak yang sudah diselesaikan Aliya.


-------


Saat jam makan siang, Aliya sedang menikmati makan siang bersama Deril dan Cecil. Ia mengirimkan foto mereka ke Aldo yang langsung membalas dengan foto juga. Aldo sedang makan siang sendirian di sebuah restauran di hotel karena rekan bisnisnya harus segera pergi setelah mereka selesai meeting.


Kening Aliya mengkerut melihat foto itu, bukan karena wajah Aldo yang terlihat tampan, tapi ada seseorang yang Aliya kenal di belakang Aldo. Sedang makan bersama seorang wanita.


Aliya : "Cecil, maaf aku gak maksud ikut campur. Tapi ini Aril kan?"


Cecil melihat foto itu dan meremas geram ponsel Aliya. Tapi ia menaruh lagi ponsel itu ke tangan Aliya dan melanjutkan makannya. Deril mengambil ponsel Aliya dan melihat memang itu kembarannya, tapi siapa wanita itu."

__ADS_1


Deril : "Cecil... ini..."


Cecil : "Biarkan saja, kami sudah putus."


Deril saling menatap dengan Aliya, Deril tidak langsung mempercayai Cecil. Bagaimanapun dia sangat mengenal sifat Aril. Aril tidak pernah serius dengan satu wanita saja, tapi ia bisa bertahan lebih dari 6 bulan dengan wanita yang sama dan itu Cecil.


Aliya mengirim pesan pada Aldo untuk melihat bagaimana tingkah Aril yang duduk tak jauh darinya terhadap wanita itu. Dan Aldo mengatakan setelah selesai makan, mereka berjabat tangan dan langsung berpisah.


Aliya mengirimkan jawaban Aldo pada Deril,


Deril : "Aku akan mengurus ini nanti. Mereka berdua saling mencintai, mungkin terjadi salah paham diantara keduanya."


Deril menyelesaikan makannya dengan cepat, ia keluar kantornya untuk menelpon Aril dan menanyakan dimana keberadaannya. Aril menjawab cepat kalau ia sedang menuju kantor Deril sekarang. Papa mereka ingin bertemu keduanya.


Deril : "Ada masalah apa? Aku akan bertemu papa di hotel nanti. Apa ada perubahan rencana?"


Aril : "Ini masalah pernikahanku. Aku akan segera sampai."


Deril menutup telponnya dan menghubungi papanya, yang tidak diangkat karena masih sibuk meeting. Akhirnya Deril berbalik kembali ke ruang kerjanya.


Aliya duduk di sofa mendengarkan gombalan Aldo lewat telpon, sesekali ia tersenyum. Deril duduk di sampingnya, ia mengirimkan chat pada papanya untuk memastikan lokasi pertemuan dan waktunya.


Aliya : "Jadi gimana?"


Deril : "Aril mau kesini ketemu papa. Papaku kan sedang meeting. Hadeh, kenapa aku yang jadi pusing. Aku mau telpon Mila dulu."


Deril duduk di kursi kerjanya, ia menelpon Mila dan curhat panjang lebar. Tak lama, wajahnya yang cemberut berganti jadi senyum cerah penuh bunga. Aliya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah partnernya.


-------


Aril melangkah cepat keluar dari lift kantor Deril, dan langsung berhenti di depan ruangan Cecil. Cecil ada disana, sedang merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Brak! Aril menutup dan mengunci pintu ruangan Cecil, tanpa basa-basi ia menarik Cecil hingga keduanya terjatuh ke lantai.


Aril : "Kamu gak bisa ninggalin aku. Kita harus menikah!"


Cecil : "Aku gak mau! Kamu playboy brengsek!"


Cecil meronta dibawah himpitan Aril. Sebenarnya pertengkaran mereka terjadi karena Aril tidak sabaran ingin menikah dengan Cecil, tapi Cecil belum mau menikah. Ia takut setelah menikah, Aril akan meninggalkannya karena sifat playboy-nya.


Cecil sudah capek menghadapi beberapa wanita yang masih mengejar Aril, membuat hidupnya tidak bisa tenang. Sampai pada puncak kekesalannya saat ia memergoki Aril bercumbu dengan 2 wanita sekaligus. Lebih tepatnya Aril yang dipaksa saat itu, Cecil tahu, tapi lebih memilih meninggalkan Aril.


Aril mendekap Cecil dan mulai menciumnya, Cecil yang awalnya melawan, pelan-pelan mulai terbawa suasana. Mereka asyik melakukan adegan panas di ruangan Cecil, lupa dengan keadaan sekitar mereka.


Deril yang capek menunggu Aril, menelpon ke ponselnya. Ia mendengar nada dering Aril ada di luar ruangannya, Deril keluar dari ruangannya dan tak lama masuk kembali,


Deril : "Dasar gila! ^!$&@(@&($!&%!#!@!"


Aliya : "Ada apa? Kenapa kamu berkata kasar?" Aliya shock mendengar kata-kata makian Deril.


Deril : "Aku khawatir dengan mereka berdua dan ternyata mereka sedang asyik buat anak di ruangan Cecil! Apa mereka pikir kantorku ini hotel!"


Aliya yang penasaran keluar dari ruang kerjanya, ia mendengar suara-suara khusus 18++ dari ruangan Cecil. Baru saja dia mau berbalik, papa Deril muncul dari dalam lift.


Aliya : "Om, apa kabar?"


Papa Deril : "Aliya, senang bertemu denganmu, mana Deril?"

__ADS_1


Langkah papa Deril terhenti ketika mendengar sesuatu dari ruangan Cecil, Aliya buru-buru menarik papa Deril masuk ke ruang kerja Deril dan menawarinya kopi.


Deril : "Papa kenapa jadi kesini?"


Papa Deril : "Aril membuat papa pusing dengan rengekannya untuk menikah dengan Cecil. Dimana bocah nakal itu? Tadi dia bilang, dia sudah sampai disini."


Deril : "..."


Belum sempat Deril bicara apa-apa, Aril masuk ke ruang kerja Deril bersama Cecil. Wajah keduanya merah merona dengan pakaian kusut dan rambut sedikit berantakan. Deril menatap Aliya yang sedang membuat kopi,


Deril : "Aku harus mengirim tagihan untuk pemakaian ruang kantorku, Al. Bisa kau sebutkan harganya?"


Aliya : "Untuk ruangan sebesar itu aku rasa $500."


Papa Deril : "Kalian ini bicara apa? Tagihan apa?"


Aril : "Hotel bahkan tidak semahal itu... Addooww!!"


Aril menjerit saat Cecil mencubit lengannya dengan gemas. Dia sudah cukup malu karena kepergok Deril dan Aliya. Bagaimana kalau papa Deril juga mengetahuinya?


Papa Deril : "Ok, Aril, Cecil duduk. Deril dan Aliya, nanti kita bicarakan masalah joint itu. Sekarang, kalian sudah menentukan tanggal pernikahannya?"


Aril : "Minggu depan, pah."


Cecil : "Apa? Itu terlalu cepat."


Aril : "Itu lama, aku sudah memesan semuanya untuk minggu depan. Tidak ada penolakan."


Papa Deril : "Ok, minggu depan. Kau sudah memesan WO, kan?"


Aril : "Sudah semuanya, pah. Termasuk gaun pengantin."


Cecil : "Kau bahkan tidak minta pendapatku."


Aril : "Aku sudah melakukannya, saat kau mendesah dibawahku minggu lalu. Apa kau lupa?"


Cecil menutup wajahnya dengan bantal sofa, Aril membuatnya mabuk minggu lalu dan membuat Cecil memilih konsep pernikahan mereka bahkan menggoda Aril duluan.


Papa Deril menepuk kepala anaknya, ia sudah cukup mendengar tingkat kemesuman anaknya itu.


Papa Deril : "Ok, masalah kalian selesai. Sekarang pergilah, lakukan apa yang bisa kalian lakukan untuk pernikahan kalian."


Aril dan Cecil keluar dari ruang kerja Deril, papa Deril memanggil Aliya dan Deril mendekat,


Papa Deril : "Deril, siapkan v-call dengan pengacara kita. Aliya, kau bisa baca dulu perjanjian joint ini."


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Please vote poin buat karya author ya...

__ADS_1


Makasi banyak...


-------


__ADS_2