
Dokter Risman
datang dan memeriksa kondisi Joya. Joya membuka matanya saat dokter Risman
melakukan pemeriksaan.
dr. Risman : “Joya,
bagaimana rasanya? Masih pusing?”
Joya : “Nggak,
dokter. Saya sedikit lapar.”
dr. Risman : “Bagus
sekali. Suster, siapkan pindah kamar. Sekarang ya. Boy, saya mau bicara
sebentar.”
Boy : “Baik,
dokter. Joya, aku tinggal bentar ya.”
Joya melepaskan
genggaman tangan Boy dan Boy mengikuti dr. Risman duduk di meja suster.
Boy : “Ada apa,
dokter?”
dr. Risman : “Boy,
tolong jaga emosi Joya agar tetap stabil. Saya lihat Joya tidak pernah
mengalami trauma, Ibu selalu mengajak Joya untuk medical check up rutin dan
kondisinya selalu baik-baik saja. Dan dengan kejadian ini, jelas emosinya akan
sedikit terganggu.”
Boy : “Apa
parah, dokter? Ini jelas saya yang salah.”
dr. Risman : “Saya
gak bisa pastikan apa trauma yang dialami Joya masuk kategori parah atau tidak.
Boy sudah lihat sendiri bagaimana akibatnya.”
Boy : “Iya,
dokter. Atau saya bawa Joya ke psikiater saja ya?”
dr. Risman : “Untuk
saat ini saya rasa belum perlu. Kita lihat perkembangannya beberapa hari ini.”
Boy : “Baik,
dokter.”
Ketika dokter
Risman bicara dengan Boy, Joya sudah siap dipindahkan ke kamar yang sudah
disiapkan untuknya. Boy mengikuti bed rumah sakit yang membawa Joya menuju
kamar VVIP.
Ny. Lastri dan
Ny. Putri sudah berada disana menunggu kedatangan mereka. Setelah Joya di
pindahkan ke tempat tidur rumah sakit yang ada di dalam kamar itu, perawat yang
membawa Joya keluar, dan suster mengecek infus Joya.
Suster : “dr. Risman
tadi berpesan kalau infus yang ini sudah habis, infus Nyonya sudah bisa
dilepas. Sekarang pelan-pelan bisa coba dulu untuk bangun ya.”
Boy membantu Joya
untuk duduk, Joya sedikit meringis saat merasakan kepalanya yang pusing lagi.
Ia memejamkan sebelah matanya, dengan mulut berdesis.
Suster : “Tidak
apa-apa. Ini efek obatnya. Coba Nyonya bersandar dulu.”
Boy dan suster membantu
Joya duduk bersandar.
Suster : “Masih
terasa pusing?”
Joya : “Sudah
mendingan, suster.”
Suster : “Baik,
nanti kalau merasa tidak nyaman, bisa berbaring lagi ya. Nanti Nyonya mau
dibantu mandi?”
Boy : “Biar saya
yang bantu, suster.”
Joya : “Eh,
mas...”
Boy : “Aku aja
ya. Aku bisa kok.”
Suster : “Kalau
begitu, saya permisi dulu.”
Wajah Joya
merona karena suster sudah tersenyum penuh arti sambil keluar dari kamar itu.
Ny. Lastri dan Ny. Putri saling pandang dan ikutan senyum-senyum.
Ny. Lastri : “Kalau
__ADS_1
gitu, kami pulang dulu ya. Sambil jemput ibu, dari tadi gak sabaran mau kesini.
Ini tasnya Joya ya.”
Joya : “Tapi,
mbak...”
Ny. Putri : “Iya,
kami pulang jemput ibu dulu. Joya mau dibawain makanan apa?”
Joya : “Apa
aja, mbak.”
Sepeninggalan
kedua kakak perempuan Boy, Boy mulai menyiapkan air hangat untuk mandi Joya.
Boy : “Kamu mau
berendam?”
Joya : “Kayaknya
boleh, mas. Kan gak ada luka juga.”
Deg! Boy ingat
saat ia melihat lebam di kedua pergelangan tangan Joya. Tangannya mulai
gemetar, apa ada lebam lain di tubuh Joya?
Boy : “Airnya
sudah siap, aku bantu lepas baju ya.”
Joya : “Aku
mandi sendiri ya, mas. Gak enak...”
Boy : “Kenapa?”
Joya : “Aku
malu, mas.”
Boy : “Kita
sudah suami istri, aku sudah berhak melihat tubuhmu.”
Joya sebenarnya
tidak ingin Boy melihat tubuhnya yang lebam di beberapa bagian. Meskipun itu
perbuatan Boy, Joya tidak ingin Boy sedih lagi melihat keadaan tubuh Joya.
Boy : “Aku tahu
ada lebam lain kan?”
Joya hanya
mengangguk, Boy sudah membuka kancing baju rumah sakit yang dipakai Joya.
Joya : “Mas,
pintunya belum dikunci.”
Boy : “Oh, iya.”
cepat ke pintu kamar dan menguncinya, ketika berbalik, Boy melihat Joya sudah
melepas bajunya. Ia bisa melihat kedua lengan Joya yang kebiruan. Bahkan ada
bekas gigitan di pundak Joya. Kulitnya yang putih tidak bisa menyembunyikan
hasil perbuatan Boy itu.
Boy menyentuh
lebam dan bekas gigitan di tubuh Joya. Tubuh Joya sedikit bergidik saat Boy melakukan
itu.
Boy : “Sakit,
ya? Maaf...”
Joya menggeleng
dan Boy mencium bekas perbuatannya pada tubuh Joya. Nafas Joya mulai
ngos-ngosan saat Boy selesai melakukannya. Dengan cepat Boy melepas pengait di
punggung Joya dan melepas sisa penutup tubuh Joya.
Dengan cepat
Boy menggendong Joya masuk ke kamar mandi. Ia mendudukkan Joya di pinggir
bathup dan pelan-pelan membantu Joya memasukkan kakinya lebih dulu.
Boy : “Terlalu
panas?”
Joya : “Nggak,
mas. Aku bisa turun pelan-pelan.”
Boy mengangkat
tubuh Joya lagi dan mendudukkannya perlahan ke dalam bathup. Joya meremas
lengan Boy saat merasakan air hangat menyentuh bagian tubuhnya yang lebam.
Boy : “Sakit?
Mau naik lagi?”
Joya : “Nggak,
udah mendingan. Mas, duduk sana aja. Basah tuch bajunya.”
Boy bukannya
menjauh, malah membuka baju dan celananya, menyisakan boxer saja. Joya melotot
kaget melihat Boy duduk lagi di sampingnya dengan pakaian tidak lengkap.
Joya : “Mas,
kenapa malah buka baju.”
Boy : “Bajuku
__ADS_1
kan basah. Kamu kenapa sich? Mandi aja yang tenang.”
Boy mengambil
sabun yang tersedia disana. Ia mulai mengusap sabun itu perlahan ke tubuh Joya.
Joya menarik nafas panjang saat merasakan tangan Boy menyusuri tubuhnya.
Boy : “Kenapa?
Sakit ya?”
Joya : “Geli...”
Boy : “Aku
berhenti ya?”
Joya : “Lanjutkan
saja, mas.”
Pikiran Boy
saat itu hanya ingin membantu Joya membersihkan tubuhnya. Ia sama sekali tidak
kepikiran kalau sentuhannya pada Joya akan membuat istrinya itu mulai
bergairah. Setelah Boy selesai menyabuni Joya, wajah Joya sudah memerah dengan
nafas berengah-engah.
Boy : “Joya,
kamu kenapa? Dimana yang sakit?”
Joya : “Nggak...”
Joya
memalingkan wajahnya yang merona, ia malu kalau sampai ketahuan bergairah di
depan Boy.
Boy : “Kamu
yakin? Aku bantu bilas ya.”
Joya menahan
tangan Boy,
Boy : “Kenapa?
Masih mau berendam?
Joya : “...”
Boy : “Tapi
airnya sudah kena sabun. Kamu juga bisa masuk angin kalau berendam lama-lama.”
Joya : “Mas...”
Boy : “Ya,
sayang...”
Joya tidak bisa
mengendalikan dirinya, perlahan tangan Joya terulur meraih tengkuk Boy dan
mulai mencium bibir suaminya itu. Boy yang terkejut melihat tindakan Joya yang
tiba-tiba, hanya diam saja.
Joya melepas
pelukan dan ciumannya pada Boy, ia tidak merasakan suaminya itu membalas
tindakannya.
Joya : “Mas,
kenapa kamu diam aja? Kamu masih marah?”
Boy : “Aku...
nggak... kamu kan masih sakit...”
Joya melirik ke
bawah dan tersenyum melihat sesuatu yang sudah tegak berdiri. Wajah Boy merona,
ia menahan dirinya setengah mati.
Boy : “Kamu mau
itu...?”
Joya : “Iya...”
Deg! Boy
menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
Boy : “Bisa
nanti? Itu... ibu kan mau datang...”
Joya : “Ya,
udah.”
Boy : “Sayang...
bukannya aku gak mau, kamu uda liat sendiri, kan. Tapi kamu ntar demam lagi
kalo mandi lama-lama. Ibu juga mau datang kan?”
Joya : “Aku
tau, mas. Kita bilas aja ya. Dingin.”
Boy membantu
Joya bangun, ia menuntun Joya masuk ke bawah shower dan melepas boxernya dulu
sebelum ikut masuk juga.
*****
Gitu dah kalo
suami istri berduaan...
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.