
Joya masuk ke dalam mobil Boy. Ia menahan nafasnya saat Boy membantunya memasang sabuk pengaman.
Boy : "Kenapa kamu gemetar? Takut apa?"
Joya : "Saya gak... Tuan terlalu dekat."
Joya memalingkan wajahnya takut Boy akan menciumnya lagi. Ia gak mau ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.
Boy : "Apa kau mau dicium lagi?"
Joya : "Tuan... Kita pulang saja ya. Saya tidak enak dengan Ny. Besar."
Boy : "Biasakan panggil ibu. Sebentar lagi ibu akan jadi ibu mertuamu." Saat Boy mengatakan itu sebuah mobil lewat didepan mereka menimbulkan suara keras dan Joya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Boy.
Joya menunduk menghindari tatapan mata Boy. Boy melihat keengganan Joya sebagai kelelahan, ia menghidupkan mobilnya dan mulai menjalankan mobil menuju rumah.
Selama perjalanan, Joya lebih banyak diam. Ia duduk menjauh dari Boy yang terus saja menggodanya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Akhirnya mereka sampai di rumah Ny. Besar. Boy memarkir mobilnya di garasi rumah. Joya segera melepas sabuk pengaman dan akan membuka pintu, tapi tangan Boy menahannya.
Boy memeluk pinggang Joya dan mencium pundaknya. Jantung Joya berdebar gak karuan.
Joya : "Tuan, lepaskan saya. Nanti ada orang yang lihat."
Boy : βTolong buat ibuku bahagia... dan jangan memintaku menunggumu lagi.β
Joya : "Maksud, Tuan?"
Boy tidak mengatakan apa-apa lagi, aroma tubuh Joya memikatnya untuk melakukan hal lain. Boy mencium tengkuk Joya, menghembuskan nafas panasnya membuat Joya merinding.
Joya melirik keluar mobil, sepi tidak ada siapapun. Tapi siapa saja bisa memergoki mereka. Joya mulai meronta, memaksa melepaskan diri dari Boy.
Joya keluar dari mobil dengan perasaan yang sudah kacau dan masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga tampak Ny. Besar sedang duduk bersama anak dan menantunya.
Joya : βNy. Besar, Tuan, Nyonya...β Joya membungkuk sebentar,
Ny. Besar : βJoya kau sudah datang, mana Boy?β
Boy : βBoy disini, bu.β Boy melewati Joya dan duduk di sofa.
Joya : βSaya permisi, Ny. Besar.β
Ny. Besar : βJoya, tunggu bisa duduk sebentar?
Joya menurut, ia duduk di sofa yang masih kosong jauh dari Boy.
__ADS_1
Ny. Besar : βNah, kita lanjutkan ya, tadi sampai dimana? Oh ya, persiapan pertunangan. Ibu rasa langsung saja menikah, ngapain pakai tunangan segala. Toh mereka sudah cukup usia kan.β
Anak dan menantu Ny. Besar mengangguk setuju. Joya mulai mengerti arah pembicaraan mereka tentang pernikahan Boy. Tubuhnya mulai gemetar seiring hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.
Joya menahan air matanya agar tidak jatuh di depan semua orang. Ia tidak ingin siapapun melihatnya menangis.
Akhirnya Joya tidak tahan juga untuk pergi dari tempat itu. Joya bangkit, membungkuk sejenak dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Joya masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan cepat dan menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Joya menangis di atas tempat tidurnya sampai ketiduran.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Saat Joya terbangun, hari sudah gelap, jam di ponselnya menunjukkan jam 8 malam. Kamarnya masih gelap karena lampu yang belum sempat ia nyalakan.
Perlahan Joya bangkit, mengusap wajahnya, dan beranjak ke kamar mandi. Di dalam sana Joya kembali menangis tanpa suara, takut suaranya akan terdengar sampai keluar.
Jam segini seharusnya keluarga Ny. Besar sedang makan malam. Setelah mandi dan sedikit tenang, Joya keluar kamar mandi hanya berbalut handuk, segera masuk ke kamarnya.
Memang kamar mandi untuk pembantu ada di dekat kamar Joya, berdampingan dengan ruangan untuk mencuci dan setrika.
Joya tidak menyadari seseorang sudah ada di dalam kamarnya, bahkan sejak ia terbangun. Orang itu menatap setiap langkah Joya yang masih berbalut handuk.
Pikiran Joya terasa buntu. Ia membuka lemari baju dan mengambil baju tidur yang melekat dengan ketat di tubuhnya. Handuk yang melilit tubuh Joya sudah terlepas dan jatuh ke lantai.
Anak perempuan Ny. Besar sering kali memberi Joya beberapa stel pakaian untuk kuliah atau kerja, hanya beberapa bulan belakangan ini berganti jadi beberapa baju tidur yang ehem. Joya suka memakainya karena sangat nyaman untuk dipakai tidur.
Ia tidak tahu kalau semua hadiah itu dikirim Boy lewat kakaknya. Dan mengenai ukuran Joya, ia mengingatnya dengan baik. Boy hafal bentuk dan ukuran tubuh Joya.
Joya : βTuan...??!!!β Joya hampir jatuh karena kaget.
Joya : βSedang apa Tuan disini?β
Boy menatap Joya dalam keremangan kamarnya, membuat Joya menyadari kalau pakaiannya terbuka dan tidak pantas dilihat Boy.
Joya : βTuan, mohon keluar dulu. Saya akan menemui Tuan setelah berganti baju.β
Boy gak mau keluar, malahan berjalan mendekati Joya yang mulai panik. Joya berjongkok mengambil handuknya lagi.
Boy : βKenapa kau pergi begitu saja dari pertemuan tadi sore? Setiap kali pembicaraan tentang pernikahan kita, kau selalu menghindar. Apa kau tidak ingin membuat ibuku bahagia?β
Boy memojokkan Joya ke lemari pakaiannya.
Joya : βPernikahan kita? Tuan, sepertinya Tuan salah. Ini adalah pernikahan Tuan yang entah dengan siapa. Jadi buat apa saya ada disana. Tolong keluar dari kamar saya, Tuan.β
Joya menyampirkan handuk menutupi tubuh bagian atasnya yang terbuka. Ia sangat panik mendapati Boy disana, ia tidak mau siapapun memergoki Boy masuk ke kamarnya.
Joya : "Tuan! Tolong keluar.β
__ADS_1
Boy : βAku sudah bilang ini untuk membuat ibu bahagia, pernikahan kita.β
Tangan Boy memegang dagu Joya, ia memperhatikan bibir Joya yang sedikit terbuka, menggodanya untuk mencicipi bibir itu lagi.
Boy mencium Joya lagi, ******* bibir Joya sampai gadis itu hampir kehabisan nafas. Joya yang polos tidak tahu cara bertukar nafas saat berciuman.
Joya : βMmm! Tuan...β
Joya menghindari ciuman Boy, tapi tetap saja Boy berhasil menyudutkan Joya. Boy ******* bibir Joya lebih dari sebelumnya, nafas Joya mulai tersengal, sementara handuk di bahunya sudah terlepas, jatuh ke lantai lagi.
Boy : βJoya, menikahlah denganku...β
Joya menahan tubuh Boy yang ingin menciumnya lagi.
Joya : βKalau saya terima, Tuan mau keluar dari sini?β
Boy menatap Joya sendu, matanya mulai fokus melihat sesuatu dibawah dagu Joya.
Joya : βTuan...!β Joya menyilangkan tangannya di depan dada. Wajahnya merona malu ditatap Boy.
Boy memeluk Joya membuat dada mereka menempel erat
Boy : βKenapa kau sexy sekali? Aku sangat merindukanmu selama ini.β
Joya membiarkan Boy memeluknya karena Joya juga sangat merindukannya, pikiran Joya mulai jernih kembali.
Joya : βKalau memang pernikahan ini adalah keinginan Ny. Besar, saya akan terima dengan senang hati, Tuan. Tapi tolong keluar dulu dari kamar saya, kalau sampai ada yang melihat Tuan disini...β Boy tersenyum melihat Joya menggeleng ketakutan. Tubuhnya gemetar.
Boy : βBahkan aku tidak boleh dekat dengan calon istriku sendiri?β
Joya menatap Boy,
Joya : βBukan tidak boleh Tuan, tapi belum waktunya.β
Boy : βKau juga makanlah dulu, baru tidur lagi. Apa kamu gak lapar?β
Joya : βIya, Tuan sebentar saya keluar.β
Akhirnya Boy mau juga keluar dari kamar Joya setelah menatapnya lama. Joya menutup pintu kamar dan menguncinya, jantungnya masih berdebar dengan cepat.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dan βDuren Manisβ dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
Makasi banyak..
π΄π΄π΄π΄π΄