Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Charlie yang misterius


__ADS_3

Eps. 20 – Charlie


yang misterius


Charlie tidak


bisa menghindar saat Dita menciumnya. Wanita cantik itu membuka paksa kemeja


dan melemparkannya entah kemana. Dita berbisik pada Charlie untuk menurutinya


malam ini atau Dita tidak akan membiarkan Nanda tenang sebentar saja. Malam


itu, Charlie mengikuti semua keinginan Dita.


*****


Charlie


terbangun keesokan harinya dan melihat pemandangan langka di depannya. Dita


sudah bangun lebih dulu, ia terlihat segar dengan rambut basah dan tubuh


berbalut bathrobe. Yang lebih mengejutkan Dita sedang menjahit kancing di


kemeja Charlie.


“Tuan sudah


bangun? Sarapan sudah siap. Kemeja tuan akan siap sebentar lagi.”kata Dita


dengan santai.


“Nona baik-baik


saja?”tanya Charlie.


“HP tuan


berbunyi terus sejak tadi. Coba dilihat dulu.”kata Dita sambil tetap menjahit


kancing kemeja berikutnya.


Charlie melihat


ponselnya ada beberapa pesan dari Nanda dan juga staf lainnya. Bahkan Nanda


menelponnya tadi,


“Kenapa nona


tidak angkat telpon dari tuan muda?”tanya Charlie.


“Apa tuan mau


menjelaskan pada tuan muda, apa yang saya lakukan bersama tuan sepagi ini,


kalau saya mengangkat telponnya?”tanya Dita sambil menggantung kemeja Charlie


di pintu lemarinya.


Dita


mengibaskan rambutnya yang masih basah. Ia mendekati Charlie dan duduk di


sampingnya.


“Tuan mau


sarapan di tempat tidur atau di meja makan? Apa tuan mau mandi sekarang?”tanya


Dita lagi.


Charlie bingung


dengan wanita cantik di sampingnya ini. Mereka baru bercinta semalam, tanpa


status, tanpa komitmen dan reaksi yang diperkirakan Charlie salah besar.


Charlie jadi berpikir yang aneh-aneh kalau memang Dita sudah biasa bermain.


“Semalam...


kita melakukan itu kan?”tanya Charlie dengan hati-hati.


“Iya. Memang


kenapa?”tanya Dita.


“Apa kau biasa


melakukannya?”tanya Charlie terus terang.


“Sembarangan!


Aku sudah lama tidak melakukannya. Semalam kau hebat juga ya.”puji Dita sambil


tersenyum.


“Kau sudah


pernah melakukannya? Dengan siapa?”tanya Charlie lagi.


“Apa kau akan


terus bertanya? Eh, sejak kapan jadi aku-kamu. Tapi aku lebih senang


mendengarnya. Sebentar aku ambilkan sarapan dulu.”kata Dita sambil berjalan ke


meja makan.


Ia kembali


membawa nampan berisi sarapan untuk Charlie.


“Aku tidak tahu


kesukaanmu. Jadi aku buatkan kopi dan teh.”


“Kau belum


jawab pertanyaanku. Kau lakukan dengan siapa?”kejar Charlie.

__ADS_1


“Dengan


pacarku. Puas. Apa kau tidak mau berangkat ke kantor? Cepat sarapan.”


Charlie meminum


kopi buatan Dita, ia melakukannya sambil menatap Dita yang sedang memakai


pakaiannya di depan lemari. Dita melakukannya tanpa malu kalau Charlie bisa


melihat seluruh tubuhnya.


“Apa kau mau


tetap disini? Lihat jam itu. Apa tuan muda tidak mencarimu?”tanya Dita tidak


sabaran.


“Kenapa kau


bersikap seolah tidak terjadi apa-apa?!”


“Kita bisa


membicarakannya nanti malam, ok. Aku harus segera ke kantor. Kau mau nebeng


mobilku atau kau pergi sendiri?”tanya Dita lagi.


“Aku pergi


dengan sopir. Pinjam handukmu.”kata Charlie.


“Bangun sana.


Ada di kamar mandi. Aku juga sudah lihat semuanya. Malu apalagi?”kata Dita.


Charlie bangun


dari tempat tidur Dita dan berlari cepat masuk ke kamar mandi. Dita hanya


geleng-geleng kepala melihat tingkah Charlie.


Selesai mandi,


Charlie keluar hanya berbalut handuk. Ia memakai kemeja dan celananya yang


sudah rapi tergantung di pintu lemari Dita. Dita sendiri sedang sarapan di meja


makan, ia sudah terlihat cantik seperti biasanya dengan pakaian kerjanya.


“Aku pergi


duluan ya. Kau yakin baik-baik saja?”tanya Charlie lagi membuat Dita jengkel.


“Aku bilang


kita bicara nanti malam. Pergi sana!”usir Dita kesal.


Dita mendorong


Charlie keluar dari apartmentnya dan membanting pintu menutup. Charlie langsung


turun menuju mobilnya yang sudah standby di tempat parkir. Sedikit ngebut ia


Charlie tiba


tepat waktu. Pagi itu Nanda memintanya mengantar Nadia ke sekolah karena Ana


masih sibuk dengannya. Nanda juga menanyakan apa ada meeting penting hari ini


karena sepertinya ia dan Ana akan menghabiskan waktu lebih banyak di kamar


mereka.


Charlie


membalas semua chat dari Nanda dengan cepat. Ia masuk ke villa Nanda dan


mengucapkan salam pada Nando, Carol, dan Nadia. Nadia yang sudah siap,


menggandeng tangan Charlie yang sudah siap untuk mengantarnya ke sekolah.


*****


Dita sedang


mempersiapkan proposal untuk memenangkan tender proyek berikutnya saat Nanda datang


ke kantor bersama Charlie.


“Tuan muda, apa


yang membuat tuan muda datang kesini?”tanya Dita setelah Nanda duduk di


kursinya.


“Maaf, Dita.


Semalam aku tidak bisa datang makan malam denganmu. Istriku sedang tidak enak


badan dan aku harus menemaninya.”alasan Nanda.


“Terima kasih,


tuan muda. Tuan Charlie sudah menemani saya semalam. Oh, saya tahu. Tuan mau


melihat proposal ini?”tanya Dita sambil memutar laptopnya menghadap ke arah


Nanda.


Dita


menjelaskan secara singkat tentang proposal untuk tender yang akan diadakan


minggu depan. Charlie menatap Dita yang tampak sangat profesional kalau


menyangkut pekerjaan. Sekilas ia terbayang kejadian semalam di apartment Dita.


“Charlie? Kamu


nglamun?”tanya Nanda.

__ADS_1


“Maaf, tuan


muda. Saya sedikit tidak enak badan. Ada apa, tuan muda?”tanya Charlie sambil


menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.


“Kamu sakit?


Sudah ke dokter? Kenapa mukamu merah? Kamu demam?”tanya Nanda bertubi-tubi.


”Tuan muda,


berhentilah bicara. Wanita di sampingmu mulai menggodaku karena pertanyaanmu


yang tidak berhenti.”


Charlie bisa


melihat dengan jelas tatapan Dita yang menggoda sambil menggigit bibir bawahnya


yang berhias lipstik merah. Wanita ini bisa merubah ekspresi wajahnya dalam


hitungan detik.


“Ehem. Saya


hanya belum sarapan, tuan muda. Terima kasih atas perhatian tuan muda.”jelas


Charlie asal.


Dita langsung


merubah ekspresinya ketika Nanda menatapnya lagi, meminta penjelasan sekali


lagi agar Charlie bisa mendengarnya juga. Nanda menyetujui proposal itu dan


meminta Dita mempresentasikannya besok pada meeting dengan semua department.


“Charlie, minta


softcopy proposal itu. Aku akan kembali ke ruang kerjaku dulu.”kata Nanda sambil


berjalan keluar ruangan Dita.


“Baik, tuan


muda.”


Charlie


merasakan hawa dingin melewati tengkuknya. Ia hanya berdua dengan Dita di


ruangan itu. Dita menunjukkan dimana file yang perlu di copy Charlie. Ketika


sedang proses meng-copy semuanya, Dita dengan cepat menarik tengkuk Charlie dan


menciumnya dengan panas.


Charlie yang


tidak menyangka Dita berani menyerangnya di kantor, mencoba mendorong Dita.


“Kita hanya


punya waktu 10 detik lagi, sekali lagi ya.”pinta Dita.


Charlie


benar-benar kewalahan dengan sikap Dita padanya. Baru kali ini ia diperlakukan


seagresif itu oleh seorang wanita. Dita melepas ciumannya dengan cepat dan


bersikap seolah hal gila barusan terjadi. Asistennya masuk ke ruang kerja Dita


membawa beberapa dokumen.


“Tuan Charlie,


ini flash disk anda. Ada lagi yang bisa saya bantu?”tanya Dita.


“Tidak. Terima


kasih.”kata Charlie dengan cepat keluar dari kantor Dita.


“Sama-sama,


tuan.”


”Bisa-bisanya


dia malu. Ternyata lebih manis asistennya daripada Nanda. Fix, target berubah.


Ach, aku harus habiskan tenaga ini hari ini juga.”


Dita mengambil


semua dokumen yang harus ia periksa. Sampai jam pulang kerjanya lewat jauh.


Dita mendongak saat asistennya meminta ijin pulang lebih dulu. Dita selalu


mengijinkan staf-nya pulang lebih dulu apalagi yang sudah berkeluarga.


Dita merenggangkan


pundaknya yang kaku. Ia melirik jam di laptopnya sudah jam 8 malam. Sebuah


pesan masuk ke ponselnya dari nomor tidak dikenal. ‘Aku tunggu di dekat


mobilmu. Turun sekarang.’


“Siapa sich?


Perasaan gak janji sama siapa-siapa dech. Kalo gini kan jadi takut.”kata Dita


pada dirinya sendiri.


*****


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2