Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Membahas hal penting


__ADS_3

Boy mendudukkan


Joya di dalam ruang istirahat. Seharusnya ia meletakkan Joya di sofa ruang


kerjanya, tapi Boy langsung masuk ke ruang istirahat setelah mereka kembali ke


ruang kerja Boy.


Boy : “Kakimu


masih kesemutan.”


Joya : “Iya,


mas. Jangan dipegang...” Joya meringis merasakan rasa kesetrum di kakinya.


Boy : “Aku


harus apa? Ada obat untuk kesemutan?”


Joya tertawa


geli, mana ada obat untuk kesemutan. Wajah Boy terlihat khawatir.


Joya :


“Sebentar juga hilang, mas. Saya harus meluruskan kaki dulu.”


Boy membantu


mengangkat kaki Joya, meskipun sudah pernah dilarang menyentuh kakinya, Boy


selalu ingin menyentuh tubuh Joya. Tidak peduli di bagian mana, ia ingin


menyentuh semuanya.


Boy : “Sudah,


lalu apa?”


Tangan Joya


terulur menyentuh kuku jempol kakinya dan mulai menggesek kuku jempol kakinya


dengan kuku jari tangannya.


Boy : “Apa ini


bisa efektif?”


Joya :


“Biasanya berhasil. Lihat. Kaki saya sudah bisa bergerak.”


Boy : “Sudah


tidak kesemutan lagi?”


Joya : “Iya,


sudah hilang. Makasih, mas.”


Boy : “Cuma


makasih?”


Joya : “Trus


mas mau apa?”


Boy : “Aku mau


dicium, dipeluk.”


Joya : “Ya,


ampun! Kenapa mas jadi gini?”


Boy : “Apa?


Kenapa?!”


Boy sampai melihat


ke cermin untuk melihat pantulan bayangannya. Ia mengira terjadi sesuatu pada


wajahnya. Boy menoleh lagi pada Joya,


Boy : “Aku


kenapa?”


Joya :


“Mesum...”


Joya nyengir


lebar dengan mata berkilau menahan tawanya. Dengan sigap, Joya berguling ke


sisi tempat tidur menghindar dari jarak tangkap Boy.


Boy : “Awas


kamu ya kalau ketangkep.”


Joya : “Coba


aja kalau mas bisa.”


Joya ternyata


lebih gesit dari yang Boy perkirakan. Berkali-kali Boy terjatuh ke atas ranjang


karena tidak berhasil menangkap Joya. Saat dirinya mulai merasa lelah, Boy


pura-pura terjatuh dan pingsan diatas ranjang.


Joya : “Mas?


Mas Boy?”


Joya berusaha


membalik tubuh Boy dan mengguncangnya, ia melihat gelas berisi air dan


memercikkan air pada wajah Boy.


Joya : “Mas,

__ADS_1


sadar mas. Aduch, gimana ini? Aku harus panggil kak Rian.”


Saat Joya


berbalik, ia merasakan tubuhnya ditarik dan jatuh diatas ranjang. Joya melihat


Boy tersenyum dan langsung mengukungnya.


Joya : “Mas


boong?!”


Boy : “Kalau


gak gitu, mana bisa aku nangkep kamu, sayang.”


Joya : “Jahat


banget. Aku takut, mas. Deg-degan nich.”


Boy : “Mana?”


Joya bahkan


tidak sempat bicara lagi, Boy benar-benar membuat Joya terdiam dengan ulahnya


berikutnya.


*****


Rian yang


kebingungan mencari Boy, masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengedarkan


pandangan. Ia melihat ruang istirahat Boy sedikit terbuka dan berjalan


mendekatinya. Saat ia mendengar suara yang aneh, Rian menajamkan indera


pendengarannya.


Wajah Rian


merona mendengar suara aneh dari dalam sana. Ia ingin pergi dari sana, tapi ada


sesuatu yang urgent yang harus ia sampaikan kepada Boy. Akhirnya Rian


memberanikan diri mengetuk pintu ruang istirahat Boy.


Tok, tok,


tok... Suara aneh di dalam malah tambah keras. Rian menelan salivanya,


sementara suara sekretaris Lia mulai terdengar dari luar ruang kerja Boy.


Lia : “Ny.


Besar, selamat datang. Silakan masuk.”


Rian berbalik


dengan canggung, ia memberi salam sedikit keras ketika melihat Nyonya Besar


masuk ke ruang kerja Boy.


Rian : “Selamat


datang, Ny. Besar!”


“Ach, Rian. Kau masih canggung saja. Dimana Joya?”


Rian membeku ketika


Ny. Besar menanyakan Joya, dijawab gak ya.


Rian : “Itu...


nyonya Joya di...”


Rian bergerak


ingin menutup pintu riang istirahat yang semakin ramai. Ny. Besar yang sedang


duduk di sofa mulai menatap Rian yang bertingkah aneh, mirip kepiting karena


jalannya ke samping.


Ny. Besar : “Ada


apa, Rian? Dimana menantuku?”


Rian : “Sepertinya


nyonya Joya masih sibuk, Ny. Besar. Ny. Besar mau minum apa?”


Ny. Besar : “Rian,


dimana menantuku? Apa dia pergi dengan Boy?”


Rian : “Nyonya


Joya memang bersama tuan Boy, Ny. Besar... di dalam sini.”


Daripada


menanggung resiko Ny. Besar marah, Rian berterus terang dengan sangat malu. Ny.


Besar bangkit dan mendekati ruang istirahat Boy.


Rian : “Maaf,


tuan Boy. Saya kan tidak tahu kalau Nyonya Besar akan mencari nyonya Joya


kesini.” Batin Rian sambil minggir dari pintu masuk ruang istirahat.


Langkah Ny.


Besar terhenti saat ia mendengar suara aneh yang juga didengar Rian. Rian


sempat berpikir kalau Ny. Besar akan membuka pintu dan memergoki apa yang


sedang dilakukan putra dan menantunya di dalam sana. Tapi nyatanya, Ny. Besar


menutup pintu dengan cepat dan kembali duduk di sofa seolah tidak mendengar


apa-apa.


Ny. Besar : “Rian,


duduk sini. Hari ini cukup cerah. Kenapa kau tidak mengajak istrimu

__ADS_1


jalan-jalan?”


Rian : “Kami


masih ada pekerjaan Ny. Besar.”


Ny. Besar : “Bekerja


terus. Dan kapan kalian akan punya anak kalau sibuk terus. Mungkin kamu harus


mencontoh Boy.”


Rian : “Yang


benar saja, Ny. Besar. Masa saya harus melakukannya di kantor juga.” Batin Rian


dengan wajah merona.


Rian hanya


tersenyum canggung menanggapi kata-kata Ny. Besar yang menjurus.


Ny. Besar : “Rian,


tolong panggil supir saya kesini, suruh bawa tas yang tadi saya bawa. Dan


tolong buatkan teh juga ya. Sepertinya akan lama menunggu disini.”


Rian : ‘Baik,


Ny. Besar. Apa perlu saya telpon tuan Boy?”


Ny. Besar : “Jangan!


Maksud saya, mungkin mereka masih sibuk. Saya tunggu saja.”


Rian bahkan


kehilangan kata-katanya dan memilih menjalankan perintah Ny. Besar. Tak lama,


sopir sudah membawa tas Joya dan paper bag yang berisi pakaian ganti untuk


Joya. Ada juga bekal makanan dan cemilan untuk Boy dan Joya.


Rian masuk


membawakan teh dan cemilan kesukaan Ny. Besar. Ia duduk lagi bersama Ny. Besar


untuk menemani Ny. Besar mengobrol.


Ny. Besar : “Dari


pagi Joya disini?”


Rian : “Dari


jam 9 pagi, Ny, Besar.”


Ny. Besar : “Terus


mereka berdua ngapain saja?”


Rian : “Tolong


jangan tanyakan hal yang saya juga gak tahu dengan jelas, Ny. Besar!” batin


Rian menjerit frustasi.


Melihat Rian


terlihat enggan menjawab pertanyaannya, Ny. Besar mengganti pertanyaannya.


Ny. Besar : “Kalau


Boy ngapain dari pagi?”


Rian : “Tuan


Boy ada pertemuan client sebentar dan meninjau pekerjaan di bagian pemasaran


bersama nyonya Joya, Ny. Besar. Sebenarnya nyonya Joya juga membantu melakukan


koreksi terhadap desain yang sedang kami kerjakan.”


Ny. Besar : “Wah,


menantuku itu memang hebat ya. Bisa segala hal.”


Rian : “Iya,


Ny. Besar. Kalau tidak, mungkin desainnya belum selesai sampai saat ini.”


Ny. Besar : “Tadi


mereka makan apa? Jangan bilang makanan siap saji.”


Rian : “Tuan


Boy memesan masakan lokal untuk nyonya Joya dan juga jus alpukat, Ny. Besar.”


Ny. Besar : “Bagus,


harus terus makan makanan yang sehat. Kamu juga. Biar kalian tetap sehat dan kuat.


Kau tahu, kalau suami istri keduanya sehat, kemungkinan untuk segera hamil akan


semakin besar.”


Rian hampir


menangis mendengar kata-kata Ny. Besar. Kenapa yang dibahas ujung-ujungnya


kearah sana sih? Rian beneran ingin menyerang Niken sekarang.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih


sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa


like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel


author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis”


dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak..


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2