
Boy mendudukkan
Joya di dalam ruang istirahat. Seharusnya ia meletakkan Joya di sofa ruang
kerjanya, tapi Boy langsung masuk ke ruang istirahat setelah mereka kembali ke
ruang kerja Boy.
Boy : “Kakimu
masih kesemutan.”
Joya : “Iya,
mas. Jangan dipegang...” Joya meringis merasakan rasa kesetrum di kakinya.
Boy : “Aku
harus apa? Ada obat untuk kesemutan?”
Joya tertawa
geli, mana ada obat untuk kesemutan. Wajah Boy terlihat khawatir.
Joya :
“Sebentar juga hilang, mas. Saya harus meluruskan kaki dulu.”
Boy membantu
mengangkat kaki Joya, meskipun sudah pernah dilarang menyentuh kakinya, Boy
selalu ingin menyentuh tubuh Joya. Tidak peduli di bagian mana, ia ingin
menyentuh semuanya.
Boy : “Sudah,
lalu apa?”
Tangan Joya
terulur menyentuh kuku jempol kakinya dan mulai menggesek kuku jempol kakinya
dengan kuku jari tangannya.
Boy : “Apa ini
bisa efektif?”
Joya :
“Biasanya berhasil. Lihat. Kaki saya sudah bisa bergerak.”
Boy : “Sudah
tidak kesemutan lagi?”
Joya : “Iya,
sudah hilang. Makasih, mas.”
Boy : “Cuma
makasih?”
Joya : “Trus
mas mau apa?”
Boy : “Aku mau
dicium, dipeluk.”
Joya : “Ya,
ampun! Kenapa mas jadi gini?”
Boy : “Apa?
Kenapa?!”
Boy sampai melihat
ke cermin untuk melihat pantulan bayangannya. Ia mengira terjadi sesuatu pada
wajahnya. Boy menoleh lagi pada Joya,
Boy : “Aku
kenapa?”
Joya :
“Mesum...”
Joya nyengir
lebar dengan mata berkilau menahan tawanya. Dengan sigap, Joya berguling ke
sisi tempat tidur menghindar dari jarak tangkap Boy.
Boy : “Awas
kamu ya kalau ketangkep.”
Joya : “Coba
aja kalau mas bisa.”
Joya ternyata
lebih gesit dari yang Boy perkirakan. Berkali-kali Boy terjatuh ke atas ranjang
karena tidak berhasil menangkap Joya. Saat dirinya mulai merasa lelah, Boy
pura-pura terjatuh dan pingsan diatas ranjang.
Joya : “Mas?
Mas Boy?”
Joya berusaha
membalik tubuh Boy dan mengguncangnya, ia melihat gelas berisi air dan
memercikkan air pada wajah Boy.
Joya : “Mas,
__ADS_1
sadar mas. Aduch, gimana ini? Aku harus panggil kak Rian.”
Saat Joya
berbalik, ia merasakan tubuhnya ditarik dan jatuh diatas ranjang. Joya melihat
Boy tersenyum dan langsung mengukungnya.
Joya : “Mas
boong?!”
Boy : “Kalau
gak gitu, mana bisa aku nangkep kamu, sayang.”
Joya : “Jahat
banget. Aku takut, mas. Deg-degan nich.”
Boy : “Mana?”
Joya bahkan
tidak sempat bicara lagi, Boy benar-benar membuat Joya terdiam dengan ulahnya
berikutnya.
*****
Rian yang
kebingungan mencari Boy, masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengedarkan
pandangan. Ia melihat ruang istirahat Boy sedikit terbuka dan berjalan
mendekatinya. Saat ia mendengar suara yang aneh, Rian menajamkan indera
pendengarannya.
Wajah Rian
merona mendengar suara aneh dari dalam sana. Ia ingin pergi dari sana, tapi ada
sesuatu yang urgent yang harus ia sampaikan kepada Boy. Akhirnya Rian
memberanikan diri mengetuk pintu ruang istirahat Boy.
Tok, tok,
tok... Suara aneh di dalam malah tambah keras. Rian menelan salivanya,
sementara suara sekretaris Lia mulai terdengar dari luar ruang kerja Boy.
Lia : “Ny.
Besar, selamat datang. Silakan masuk.”
Rian berbalik
dengan canggung, ia memberi salam sedikit keras ketika melihat Nyonya Besar
masuk ke ruang kerja Boy.
Rian : “Selamat
datang, Ny. Besar!”
“Ach, Rian. Kau masih canggung saja. Dimana Joya?”
Rian membeku ketika
Ny. Besar menanyakan Joya, dijawab gak ya.
Rian : “Itu...
nyonya Joya di...”
Rian bergerak
ingin menutup pintu riang istirahat yang semakin ramai. Ny. Besar yang sedang
duduk di sofa mulai menatap Rian yang bertingkah aneh, mirip kepiting karena
jalannya ke samping.
Ny. Besar : “Ada
apa, Rian? Dimana menantuku?”
Rian : “Sepertinya
nyonya Joya masih sibuk, Ny. Besar. Ny. Besar mau minum apa?”
Ny. Besar : “Rian,
dimana menantuku? Apa dia pergi dengan Boy?”
Rian : “Nyonya
Joya memang bersama tuan Boy, Ny. Besar... di dalam sini.”
Daripada
menanggung resiko Ny. Besar marah, Rian berterus terang dengan sangat malu. Ny.
Besar bangkit dan mendekati ruang istirahat Boy.
Rian : “Maaf,
tuan Boy. Saya kan tidak tahu kalau Nyonya Besar akan mencari nyonya Joya
kesini.” Batin Rian sambil minggir dari pintu masuk ruang istirahat.
Langkah Ny.
Besar terhenti saat ia mendengar suara aneh yang juga didengar Rian. Rian
sempat berpikir kalau Ny. Besar akan membuka pintu dan memergoki apa yang
sedang dilakukan putra dan menantunya di dalam sana. Tapi nyatanya, Ny. Besar
menutup pintu dengan cepat dan kembali duduk di sofa seolah tidak mendengar
apa-apa.
Ny. Besar : “Rian,
duduk sini. Hari ini cukup cerah. Kenapa kau tidak mengajak istrimu
__ADS_1
jalan-jalan?”
Rian : “Kami
masih ada pekerjaan Ny. Besar.”
Ny. Besar : “Bekerja
terus. Dan kapan kalian akan punya anak kalau sibuk terus. Mungkin kamu harus
mencontoh Boy.”
Rian : “Yang
benar saja, Ny. Besar. Masa saya harus melakukannya di kantor juga.” Batin Rian
dengan wajah merona.
Rian hanya
tersenyum canggung menanggapi kata-kata Ny. Besar yang menjurus.
Ny. Besar : “Rian,
tolong panggil supir saya kesini, suruh bawa tas yang tadi saya bawa. Dan
tolong buatkan teh juga ya. Sepertinya akan lama menunggu disini.”
Rian : ‘Baik,
Ny. Besar. Apa perlu saya telpon tuan Boy?”
Ny. Besar : “Jangan!
Maksud saya, mungkin mereka masih sibuk. Saya tunggu saja.”
Rian bahkan
kehilangan kata-katanya dan memilih menjalankan perintah Ny. Besar. Tak lama,
sopir sudah membawa tas Joya dan paper bag yang berisi pakaian ganti untuk
Joya. Ada juga bekal makanan dan cemilan untuk Boy dan Joya.
Rian masuk
membawakan teh dan cemilan kesukaan Ny. Besar. Ia duduk lagi bersama Ny. Besar
untuk menemani Ny. Besar mengobrol.
Ny. Besar : “Dari
pagi Joya disini?”
Rian : “Dari
jam 9 pagi, Ny, Besar.”
Ny. Besar : “Terus
mereka berdua ngapain saja?”
Rian : “Tolong
jangan tanyakan hal yang saya juga gak tahu dengan jelas, Ny. Besar!” batin
Rian menjerit frustasi.
Melihat Rian
terlihat enggan menjawab pertanyaannya, Ny. Besar mengganti pertanyaannya.
Ny. Besar : “Kalau
Boy ngapain dari pagi?”
Rian : “Tuan
Boy ada pertemuan client sebentar dan meninjau pekerjaan di bagian pemasaran
bersama nyonya Joya, Ny. Besar. Sebenarnya nyonya Joya juga membantu melakukan
koreksi terhadap desain yang sedang kami kerjakan.”
Ny. Besar : “Wah,
menantuku itu memang hebat ya. Bisa segala hal.”
Rian : “Iya,
Ny. Besar. Kalau tidak, mungkin desainnya belum selesai sampai saat ini.”
Ny. Besar : “Tadi
mereka makan apa? Jangan bilang makanan siap saji.”
Rian : “Tuan
Boy memesan masakan lokal untuk nyonya Joya dan juga jus alpukat, Ny. Besar.”
Ny. Besar : “Bagus,
harus terus makan makanan yang sehat. Kamu juga. Biar kalian tetap sehat dan kuat.
Kau tahu, kalau suami istri keduanya sehat, kemungkinan untuk segera hamil akan
semakin besar.”
Rian hampir
menangis mendengar kata-kata Ny. Besar. Kenapa yang dibahas ujung-ujungnya
kearah sana sih? Rian beneran ingin menyerang Niken sekarang.
🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih
sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa
like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel
author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis”
dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
Makasi banyak..
🌴🌴🌴🌴🌴