
Terkadang cinta memang susah ditebak, kemarin benci sekarang rindu.
❤️❤️❤️
Sejak keputusan untuk membatalkan pertunangan sekaligus pernikahan antara dirinya dan Safira, sejak itu pula Alva memilih jarang di rumah. Ia lebih sering menghabiskan malam di luar dan pulang selalu larut malam.
Meski sebelumnya ia juga sering melakukan hal itu, tapi kali ini hampir setiap hari. Sehingga banyak pekerjaan yang terbengkalai. Keadaan itu membuat Pak Yuda sering uring-uringan melihat ulah putranya.
Safira sendiri sudah bisa bernapas lega, sebab baginya biarlah waktu yang mempertemukan ia dengan jodohnya.
Jika sebelumnya Alva hanya menegur sesekali pada Safira, sejak pembatalan itu ia tak pernah lagi menegur gadis itu. Bahkan pria itu terkesan menghindar.
Perubahan itu disadari oleh Safira. Tak seperti Tyo yang bisa memberinya nyaman, Alva malah sebaliknya. Awalnya ia berpikir pria itu akan bersikap lebih manis, setelah ia memutuskan mengikuti keinginannya untuk menggagalkan rencana tersebut. Namun, nyatanya Alva semakin acuh.
"Mas Tyo, kalau saya kembali ke desa kira-kira sama ibu boleh nggak ya?" tanya Safira saat Tyo mampir ke cafe siang itu. Lelaki di depannya itu mempertanyakan kenapa tiba-tiba ia ingin kembali ke desa.
"Tidak mengapa, Mas. Saya hanya ingin tinggal di sana saja. Saya ...."
"Rindu aroma sawah, rindu berlarian di pematang? Begitu, 'kan?" potong Tyo tersenyum. Gadis itu mengangguk membalas senyuman pria di depannya.
"Sebaiknya kamu langsung bicara aja ke ibu, aku rasa beliau mengizinkan. Asal ...."
"Asal apa, Mas?"
"Asal kamu di sana ada kegiatan," jelasnya. Kembali ia mengangguk. Saat mereka saling bercengkrama, dari arah pintu kafe masuk Alva sendiri. Saat ia melihat sang kakak tengah bersama Safira. Seketika ia kembali keluar. Hal itu tak luput dari penglihatan keduanya.
"Mas Alva kenapa?" tanya Safira pada Tyo. Pria itu mengangkat bahu kemudian beranjak mengikuti sang adik.
Alva baru saja hendak masuk mobil saat bahunya ditepuk sang kakak.
"Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa, Kak!" jawabnya acuh.
"Kalau nggak kenapa-kenapa, kenapa langsung ke luar tadi?" cecar Tyo.
Alva menyugar rambut kemudian menggeleng.
"Kenapa semalam nggak pulang?"
Sang adik enggan menjawab, ia hanya menatap Tyo sebentar kemudian masuk mobil lalu meluncur pergi.
🍂🍂
Dua hari sudah Alva berbaring di kamar. Demam membuat ia tak bisa melakukan kegiatan seperti biasa. Hari itu Mbok Mirah izin tidak kerja. Praktis segala hal mengenai masak memasak diambil alih Safira. Meski begitu ia tak diperbolehkan terlalu sibuk di dapur oleh Bu Santi.
Seperti pagi ini, sandwich isi daging asap dan keju siap di meja makan untuk dinikmati.
"Aku suka sandwich buatan kamu, Safira!" tutur Tyo mengakhiri sarapannya. Hal itu di aminkan kedua orang tuanya. Gadis cantik itu hanya tersenyum menanggapi.
__ADS_1
"Ibu, bolehkah saya kembali ke desa saja?" tanyanya dengan wajah memohon, saat Bu Santi hendak beranjak dari meja makan. Dengan menghela napas perempuan itu bertanya, "kamu yakin tinggal di sana?"
Cepat ia mengangguk meyakinkan.
"Saya bisa kembali mengajari anak-anak melukis, membuka toko kue kecil-kecilan di sana juga ...."
"Bisa bermain-main di pematang sawah," potong Tyo mengulum senyum menatap gadis itu. Melihat keinginan Safira yang tak bisa dicegah, akhirnya Bu Santi mengangguk setuju.
"Kapan kamu mau berangkat? Lalu bagaimana kafe yang di sini? Itu adalah sepenuhnya milikmu." Pak Yuda ikut bertanya. Bu Santi menoleh pada Safira. Gadis itu telah merencanakan semua dengan baik. Ia akan berkunjung ke kafe sebulan sekali untuk mengontrol semuanya. Sedang untuk sehari-hari, ia telah mempercayakan pada salah satu dari karyawannya.
"Oke, jadi berangkat kapan?" Pertanyaan yang sama diutarakan Bu Santi.
"Besok, apa bisa, Bu?"
"Bisa. Sekarang kamu bisa siapkan apa yang hendak kamu bawa, biar nanti diantar sopir ...."
"Aku aja yang antar, Bu!" cetus Tyo kemudian disambut anggukan sang ibu. Tak lama mereka semua berangkat ke kantor masing-masing.
Gadis itu membereskan meja makan dan dapur sebelum berangkat ke kafe. Di tengah-tengah aktivitasnya ia teringat Alva yang sedang sakit di kamarnya.
Bergegas Safira membuatkan sandwich tak lupa lemon tea hangat untuk pria itu. Meski belakangan ini sikap Alva tak melunak padanya, hal itu tak membuat Safira melakukan hal yang sama pada Alva.
Baginya Alva tetap pria baik meski memang terlihat ia angkuh bahkan menjengkelkan. Tapi ia yakin pria itu hanya kesulitan mengungkapkan perasaannya. Paling tidak itu yang dirasakan Safira.
Bukan ia tak tahu, pria itu tak suka saat ia dekat dengan Deva demikian juga saat ia berada di dekat Tyo sang kakak.
Entahlah, Safira sendiri tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Alva. Yang ia tahu, Alva adalah putra kedua Ibu Santi dan hampir saja menikah dengannya.
"Masuk!"
Ia mengumpulkan keberanian untuk membuka kenop pintu. Mata beningnya menangkap pria itu tengah bergelung selimut dengan tangan memegang gadget. Di sudut ruangan terdapat meja ia melihat ada beberapa botol minuman beralkohol. Safira bergidik mencoba menguasai keadaan.
"Mas, ini sarapannya." Safira masih berdiri memegang nampan. Alva bangkit menyandarkan tubuhnya di tempat tidur. Wajah itu terlihat kuyu walau tak mengurangi ketampanannya. Sekilas ia melirik gadis itu. Melihat Alva bertelanjang dada ia tak berani menatap.
"Saya letakkan di mana?" Kembali ia berkata.
"Mbok Mirah mana?"
"Mbok Mirah izin tidak datang hari ini," jelasnya.
"Kamu bisa letakkan di sini!" Ia melirik nakas memberi isyarat pada gadis itu. Ragu ia melangkah mendekat, lalu perlahan meletakkan nampan di nakas.
Setelah mempersilakan Alva untuk sarapan bergegas ia membalikkan badan untuk pergi, tapi lengannya ditahan kuat oleh tangan kokoh milik Alva. Tak bisa menguasai diri ia terjatuh tepat di pangkuan pria itu.
Wajah mereka tak berjarak dengan mata saling menatap menyelami satu sama lain. Tanpa menunggu lama Alva menempelkan bibirnya kemudian melumat lembut bibir ranum milik gadis itu.
Tak menyangka akan terjadi, Safira mencoba melepaskan diri. Namun, tenaganya tidak cukup kuat untuk beranjak. Ia memukul dada Alva agar mengakhiri ciumannya.
Pria itu perlahan melepas mengikuti keinginan Safira. Secepat kilat gadis itu berlari keluar kamar . Sedang Alva tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Masih dengan debar tak biasa, Safira masuk ke kamar dan menguncinya. Peristiwa barusan membuat hatinya tak menentu. Alva telah menciumnya begitu saja tanpa ada kalimat apa pun.
Gadis itu duduk menatap cermin. Bibir dan wajahnya masih merona. Sungguh! Hal yang tak pernah ia kira sebelumnya. Ada hal beda yang dirasakan saat pria itu melakukan hal tadi. Safira merasa Alva sangat berbeda. Ia begitu lembut tidak seperti biasa.
Pelan Safira menyentuh bibirnya, gadis itu memejamkan mata seolah mencoba menyimpan kejadian tadi dalam-dalam.
🍂🍂
"Safira, sudah siap?" Suara Tyo membuatnya tersentak.
"Kamu melamun? Hei! Jangan bilang kamu mengurungkan niat untuk kembali ke desa," selorohnya mencubit pipi gadis itu. Safira tersenyum lalu mengikuti langkah Tyo menuju mobil. Dengan lambaian tangan Bu Santi dan Pak Yuda, Safira pergi meninggalkan rumah besar itu.
Meski telah berpamitan dengan kedua orang tua angkatnya, dan seluruh pekerja di sana ia belum bertemu Alva sejak kemarin pagi. Kejadian itu membuatnya enggan dan malu untuk bertemu. Demikian juga pria itu, sama sekali tak menampakkan batang hidungnya.
Kegalauan Safira diketahui Tyo, tapi pria itu tak tahu apa yang menggayut pikiran gadis di sampingnya itu.
"Safira, kamu kenapa sih?"
"Kenapa gimana, Mas?" Ia mencoba menghilangkan perasaan kaget setelah tahu Tyo memperhatikan dirinya sejak tadi. Pria di balik kemudi itu tersenyum simpul.
"Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu? Katakan! Ada apa?"
Safira menggeleng menautkan jemarinya menyembunyikan resah. Mendadak bayangan kejadian kemarin pagi menari di pelupuknya. Sesekali ia menahan senyum menggigit bibir kemudian melempar pandangan ke luar jendela.
"Kamu belum bertemu adikku tadi. Apa dia sudah tahu kalau kamu pergi?" tanya Tyo fokus mengemudi.
Wajah Safira terlihat gugup, cepat ia menggeleng berkata, "tidak. Mas Alva tidak tahu."
Tyo mengangguk tersenyum.
"Dia memang keras. Maafkan, jika dia pernah membuatmu kesal," tuturnya.
"Nggak apa-apa, Mas. Saya paham."
Mobil terus meluncur mengantar keduanya menuju desa tempat lahir Safira.
🍂🍂
Sore itu Alva baru tiba dari tempat fitness. Wajahnya terlihat segar tak seperti kemarin. Sambil mengusap peluh ia ke dapur mengambil apel dari lemari es. Dilihatnya Mbok Mirah baru saja selesai menyetrika. Perempuan itu melintas menuju lantai atas.
"Mbok!" panggilnya.
"Ya, Mas?" Perempuan itu menghentikan langkahnya.
"Sudah sore, kenapa Safira belum pulang?"
Alis perempuan paruh baya itu bertaut, dengan menatap Alva heran.
"Kenapa, Mbok?" Pria itu tak kalah heran melihat ekspresi Mbok Mirah.
__ADS_1
"Nak Safira kan sudah pergi, emang Mas Alva nggak tahu?"
"Pergi? Pergi ke mana? Kok saya nggak tahu? Kapan perginya? Kenapa nggak bilang ke saya?" cecarnya tanpa memberi jeda asisten rumah tangganya itu untuk menjawab.