Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Pekerjaan untuk Joya


__ADS_3

Setelah wisuda dan menerima ijasahnya, Joya mulai menyiapkan CV dan berkas untuk mengirimkan surat lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan yang cukup dekat dengan rumah Ny. Besar.


Ada sedikit cerita saat wisuda Joya, ketika Boy merencanakan sesuatu dengan Rian.


-----


Flash back...


Saat tiba di tempat wisuda, Joya dan Boy terlihat sangat serasi. Teman-teman Joya sampai bisik-bisik membicarakan pria tampan yang datang bersama Joya.


Rian lebih aktif disini, ia minta Joya dan Boy berdiri di samping pintu masuk dan berfoto disana.


Rian : "Tuan Boy, lebih dekat lagi. Jangan seperti orang marahan gitu."


Boy berdiri merapat pada Joya sampai bahu mereka saling beradu. Joya tersenyum canggung menghadap kamera, tiba-tiba seseorang lewat di dekat mereka dan menyenggol Joya.


Joya yang memakai heels tidak siap menahan tubuhnya, dia jatuh ke samping dan Boy langsung memeluknya. Deg! Jantung keduanya berdebar kencang saling bersautan. Hanya kebisuan diantara mereka berdua tapi cukup untuk menunjukkan rasa cinta keduanya pada semua orang yang sedang menatap mereka.


Rian tidak berhenti menekan tombol foto pada ponselnya yang mengambil puluhan foto mesra itu. Wajah keduanya memerah setelah Joya bisa berdiri sendiri.


Flash back end...


-----


Joya duduk di gasebo setelah membantu membersihkan dapur. Ia mengetik dengan cepat kata pengantar untuk mengirimkan e-mail tentang surat lamarannya yang lengkap dengan berkas yang sudah di scan.


Ada sekitar 4 perusahaan yang akan ia kirimi lamaran pekerjaan sekarang dan 4 lainnya akan ia kirim sekitar dua hari lagi. Setelah mengatupkan kedua tangannya, Joya menekan tombol send. Ia berharap segera dapat pekerjaan yang ia idamkan.


------


Keesokan harinya, ada salah satu perusahaan yang membalas e-mail Joya dan minta ia datang untuk interview. Joya membaca lagi profil perusahaan itu dengan detail.


Lokasinya hanya setengah perjalanan ke kantor Boy dan belum berdiri lama. Sekitar 3 tahun, mereka memerlukan tenaga keuangan untuk menggantikan tenaga senior yang sudah pensiun.


Kening Joya mengkerut, setua apa pegawainya, baru 3 tahun bekerja tapi sudah ada yang pensiun. Mereka juga mengatakan akan ada lembur sewaktu-waktu dan juga date line laporan yang menurut Joya tidak masuk akal.


Date line laporan keuangan tapi pertengahan bulan, itu terlalu lama. Joya menimbang sejenak dan memutuskan tidak datang ke interview besok. Perusahaan itu agak mencurigakan.


Ny. Besar yang akhirnya mendapatkan Joya disisinya lagi, tampak sangat senang. Saat semua anak, menantu dan cucunya sibuk dengan kegiatan masing-masing, hanya Joya yang selalu ada disisinya.


Joya sedang membuatkan teh untuk Ny. Besar yang duduk santai di halaman belakang. Tukang kebun sedang membersihkan kolam renang disana dan ia bekerja sambil ngobrol dengan Ny. Besar.


Joya : "Ny. Besar, ini tehnya."

__ADS_1


Ny. Besar : "Joya, kau sudah lulus sekarang, apa rencanamu selanjutnya."


Joya : "Saya sedang mencari pekerjaan yang cocok untuk saya, Ny. Besar."


Ny. Besar : "Bagaimana dengan pernikahan? Usiamu sudah cukup matang untuk menikah."


Joya : "Ach, Ny. Besar bisa saja. Saya kan gak punya pacar, mau menikah sama siapa?"


Boy muncul dari ruang tengah, ia duduk di samping ibunya.


Ny. Besar : "Ini orangnya, Joya."


Wajah Joya merona, ia menggeleng sambil menunduk. Boy menatap ibunya, meminta penjelasan tapi ibunya hanya geleng-geleng kepala.


Mereka ngobrol bertiga, lebih tepatnya Ny. Besar yang mengobrol dengan mereka berdua. Sekilas mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang sedang bercengkrama dengan ibu dan mertua.


Boy : "Oh ya, bu. Tolong kirim seseorang untuk membersihkan apartmentku. Selama tiga hari kedepan gak ada yang bersihin."


Ny. Besar : "Iya, nanti ibu kirim Joya kesana. Mau kan, Joya?"


Entah kenapa Joya seperti merasa sedang diumpankan ke mulut buaya. Ia hanya bisa mengangguk menuruti kata-kata majikannya itu.


Boy : "Kalo gitu sekalian buatin sarapan. Nanti aku kirim password apartmentku. Boy, pergi dulu ya bu."


Ny. Besar tersenyum geli melihat reaksi Joya saat Boy pergi begitu saja. Ia sebenarnya tidak mau ikutan permainan anaknya, tapi kalau hal itu bisa membuat Joya dan Boy dekat, ia tentu saja membantu dengan senang hati.


-------


Dan disinilah Joya sekarang, ia berangkat jam 5 pagi diantar sopir Ny. Besar ke apartment Boy. Setelah naik menggunakan lift, Joya sampai lagi di kamar apartment itu.


Ia menekan password yang diberikan Boy, dan pintu pun terbuka. Joya menatap sekeliling apartment, ia pergi ke dapur dan mencari alat-alat kebersihan disana. Setelah menemukannya, Joya mulai membersihkan apartment itu.


Ia mengatur waktunya agar apartment sudah bersih saat Boy terbangun nanti. Tak lupa Joya memasak sarapan untuk Boy dan dirinya.


Jam 6, pintu kamar terbuka dan Boy keluar dari sana. Ia masih memakai baju tidurnya.


Boy : "Joya, tolong bikin kopi."


Joya : "Baik, tuan."


Boy duduk di meja bar, menghadap Joya yang sedang membuat air panas untuk menyeduh kopinya.


Joya : "Tuan mau sekalian sarapan?"

__ADS_1


Boy : "Iya."


Boy menikmati paginya kali ini, ia tidak terbangun dan mendapati hanya Rian yang datang untuk menjemputnya ke kantor.


Ada Joya berdiri di depannya sedang menghangatkan nasi goreng buatannya sendiri. Tak lupa juga telur mata sapi menghiasi atas nasi goreng itu.


Boy ngiler melihat nasi goreng yang dihidangkan Joya di depannya. Ia mulai makan dengan lahap, lupa menawari Joya. Senyum tipis menghiasi bibir Joya melihat Boy menikmati sarapannya.


Air panas sudah mendidih, Joya menuangkan air panas itu ke dalam gelas kopi. Saat ia menaruh ketel kembali ke atas kompos, tangan Joya tidak sengaja menyentuh ujung ketel itu.


Joya : "Adduh... Panas..."


Joya mengibaskan tangannya yang kena ketel panas. Ia hampir membuka kran air di tempat cuci piring tapi Boy sudah melakukannya duluan. Boy menarik tangan Joya kebawah guyuran air.


Boy : "Kamu tuch bisa kerja gak? Hati-hati."


Entah kenapa Joya gembira sekali mendengar kata-kata Boy. Ia menatap Boy yang membolak-balik tangannya seperti sedang memanggang ikan.


Saat Boy sadar kalau Joya menatapnya, ia melepaskan tangan Joya dan kembali duduk di meja bar.


Boy : "Cepat bersihkan kamarku."


Joya : "Baik, tuan."


Jreng! Saat Joya masuk ke kamar Boy, ia hampir kena serangan jantung saking terkejutnya. Entah apa yang dilakukan Boy sampai ruangan itu seperti habis kena angin topan.


Joya menatap sekeliling kamar, ia mulai mengambil pakaian yang berserakan, menumpuk buku-buku dan majalah, mengumpulkan kertas-kertas. Pekerjaannya hampir selesai saat Boy masuk ke dalam kamar.


Boy berjalan melewati Joya dan masuk ke kamar mandi. Ia keluar 5 menit kemudian dengan rambut basah dan cuma pakai handuk.


Joya tidak memperhatikan hal itu, ia sedang merapikan ranjang Boy yang seprainya uda gak jelas bentuknya. Kening Joya mengkerut menarik seprai itu, menjatuhkan bantal dan selimut keatas karpet.


Ia membalik seprai itu dan memasangnya ke ranjang. Tubuh Joya sedikit membungkuk saat melakukan itu. Ketika akhirnya seprai terpasang dengan baik, Joya menegakkan tubuhnya. Ia merasakan seseorang berdiri di belakangnya.


-----


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Makasi banyak...

__ADS_1


-------


__ADS_2