Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Jadi apa nggak


__ADS_3

Baru lewat sebulan setelah pernikahan Alvin dan Rara, resepsi kedua juga sudah dilaksanakan dengan lancar, kini mereka tinggal di rumah Rara.


Alvin membeli rumah itu dari papa Rara dan menggantinya atas nama Rara. Setidaknya mereka tinggal tidak jauh dari Boy dan Joya.


Malam itu, Alvin baru tiba di rumah setelah bekerja seperti biasa di perusahaan Boy. Ia melihat rumah dalam keadaan sepi, bibik pasti sudah pulang, begitu juga sopir Rara.


Alvin merasa Rara ada di rumah karena mobil Rara ada di garasi mobil, tapi tidak terlihat dimana pun. Biasanya Rara akan menyambut kedatangan Alvin di depan pintu.


Alvin : “Rara? Sayang...?? Kamu dimana sich?”


Alvin masuk ke kamarnya yang selalu bersih dan wangi, tapi kali ini ada pemandangan yang sedikit mengejutkannya. Rara tampak berdiri di samping jendela yang sudah tertutup tirai.


Glek! Alvin menelan liurnya, tiba-tiba tubuhnya terasa panas ketika Rara berjalan mendekatinya. Rara menarik dasi yang masih dipakai Alvin, ia mengajak Alvin masuk ke kamar mandi.


Rara mengajak Alvin masuk ke bathup yang penuh berisi air hangat dan kuntum mawar. Setelah Alvin duduk, Rara mulai memijat bahu dan tubuh Alvin.


🌺🌺🌺🌺🌺


Rara menarik laci nakas dan mengambil sebutir pil, belum juga Rara meminumnya,


Alvin : “Apa itu, Ra?”


Rara : “Ini pil kontrasepsi, aku belum siap punya bayi sekarang. Jadi aku meminumnya setiap kita berhubungan.”


Alvin : “Apa ini tidak berbahaya untuk kesehatanmu?”


Rara : “Sepupuku dokter kandungan, dia bilang ini tidak berbahaya dan kalau aku mau punya bayi, aku cukup berhenti meminumnya, itu saja.”


Alvin : “Apa sebelumnya kau sudah general check-up? Aku lihat akhir-akhir ini kau tampak pucat.”


Rara  : “Itu karena setiap malam, kau selalu memancing gairahku, tapi tidak kau tuntaskan. Aku jadi sulit tidur.”


Alvin : “Astaga, aku tidak menyangka kau benar-benar mesum. Aku tidak bisa melakukannya setiap hari, kau selalu meringis kesakitan setiap kita habis melakukannya.”


Rara : “Itu salahmu, kenapa minta jatah sampai berjam-jam.”


Alvin : “Aku hanya merapelnya saja.”


Rara : “Memangnya kenaikan gaji?”


Alvin mencubit pipi Rara yang cemberut, ia terlihat sangat manis, tapi ketika ia ingin minta jatah lagi, Rara sudah keburu tertidur.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Akhir pekan, Rara menyiapkan sarapan untuk Alvin yang sedang berolahraga, tiba-tiba Rara memegangi perutnya, ia merasa sangat mual dan pusing. Hoeekk...! Hoeekk...! Rara tidak sempat berlari ke toilet, ia muntah-muntah di tempat cuci piring dapur. Alvin menghentikan gerakannya, ia mendengar Rara muntah-muntah dan bergegas mendekatinya.


Alvin : “Kenapa sayang?”


Rara masih muntah-muntah, ia sedang menggoreng bawang merah saat itu dan baunya membuat dia mual.


Rara : “Vin, buang bawang itu, cepat... Hoeekk...!”


Alvin cepat-cepat membuang bawang goreng itu ke tempat sampah di luar rumah, ia kembali masuk ke dalam rumah dan melihat Rara sudah merosot di lantai. Tanpa bertanya lagi, Alvin menggendong Rara masuk ke kamar mereka.


Ting, tong... Suara bel pintu rumah tiba-tiba berbunyi. Alvin membukakan pintu dengan wajah pucat dan keringat membasahi tubuhnya. Alvin merasa lega melihat siapa yang datang,


Alvin : “Mah, lihat Rara dong. Dari tadi muntah-muntah terus.”


Joya : “Baru tadi muntahnya?”


Alvin : “Iya, mah.” Boy dan Joya masuk ke dalam kamar Rara dan Alvin.


Tampak Rara sedang berbaring sambil memegangi perutnya, aroma bawang mulai tercium dari badan Alvin.


Rara : “Vin, mandi dulu sana. Bau... Hoeekk...”


Rara muntah lagi di samping tempat tidur, bibik yang baru datang setelah belanja, langsung mengambil lap dan membersihkan bekas muntahan Rara.


Rara : “Rara gak tahu, mah.”


Joya : “Mungkin kita bisa mengeceknya dulu, hanya untuk memastikan, tapi seharusnya belum ya.”


Rara benar-benar tidak mengerti maksud mertuanya, Joya memesan alat test kehamilan lewat ojek online yang segera datang. Alvin yang baru selesai mandi, penasaran dengan bungkusan yang dibawa mamanya.


Alvin : “Apaan itu mah?”


Joya : “Tunggu bentar ya. Rara ayo mama bantu.”


Joya dan Rara masuk ke dalam kamar mandi, tak lama Joya keluar menuntun Rara dan mendudukkannya di


tempat tidur. Joya masuk lagi ke dalam kamar mandi dan keluar membawa sebuah alat test yang menunjukkan satu garis biru yang jelas.


Joya : “Sepertinya belum, tapi kenapa bisa muntah-muntah ya? Apa Rara masuk angin ya? Coba mama


kerokin dulu.”


Boy dan Alvin keluar dari kamar membiarkan Joya merawat menantunya,

__ADS_1


Alvin : “Pah, Rara itu sakit apa ya?”


Boy : “Mungkin masuk angin, tadi kan mama sudah cek pakai test pack dan belum ada tanda-tanda kalau Rara hamil kan?”


Alvin : “Ya, Rara belum mau hamil, kami masih nunda punya bayi, pah.”


Boy : “Memangnya kalian pakai alat kontrasepsi apa?”


Alvin : “Rara minum pil habis kita begituan, pah.”


Boy dan Alvin memang bapak dan anak yang sangat akrab, lebih mirip teman baik. Boy selalu membiarkan Alvin curhat mengenai apapun tentang hidupnya tanpa rasa malu. Jadi hubungan mereka sangat dekat, bahkan untuk pembicaraan mengenai hal-hal pribadi.


Boy : “Sejak kapan Rara minum pil itu? Waktu malam pertama kalian, Rara minum juga?”


Alvin : “Kayaknya sich enggak pah. Kenapa?”


Boy bangun dari sofa dan bergegas ke depan kamar Rara dan Alvin lagi, hampir saja ia menabrak Joya yang juga keluar dari sana dengan tergesa-gesa.


Boy : “Mah...”


Joya : “Pah...” Mereka memanggil bersamaan.


Boy : “Apa...??”


Joya : “Li... lihat pah...”


Mereka melihat test pack di tangan Joya dan sama-sama memandang Alvin yang hanya bengong saja.


Alvin : “Kenapa...?”


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu


kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak


kalah seru.


-------

__ADS_1


__ADS_2