Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Bukan kencan


__ADS_3

Deril membuka matanya, ia menggeliat mencoba mengenali dimana dia sekarang. Dia masih di apartment Mila, sepertinya tadi dia ketiduran. Deril duduk di pinggir ranjang, ia mencari ponselnya untuk melihat jam. Sudah jam 7 pagi waktu Indonesia, Deril sadar kalau dia sudah menginap di apartment Mila.


Suara air di kamar mandi, menarik perhatian Deril, ia mendekati pintu kamar mandi dan membuka pintunya. Deg! Deril bisa melihat dengan jelas tubuh Mila dibawah guyuran shower. Pelan-pelan Deril menutup pintu kamar mandi lagi. Bahkan sepagi ini setan sudah berkeliaran, menggoda iman.


Deril berjalan mendekati jendela kamar dan membukanya, ia tidak ingin mengintip Mila lagi dan berharap Mila lebih waspada karena dia sudah bangun.


Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Mila keluar kamar mandi hanya berbalut handuk. Deril menahan dirinya untuk tidak menoleh. Ia fokus menghitung jendela gedung yang ada di seberang apartment itu.


Mila : “…Ril, Deril! Kamu nglamun ya.”


Deril : “Aku lagi liat pemandangan, kenapa?”


Mila : “Kamu mau mandi? Ini ada baju yang bisa kamu pakai?”


Kening Deril mengkerut, di apartment wanita ada pakaian pria, tapi Deril sadar kalau dia tidak berhak menanyakan apa-apa pada Mila. Hubungan mereka hanya sebatas teman.


Mila : “Kakak pertamaku juga suka menginap disini kalau lagi galau sama istrinya. Makanya ada bajunya, tapi apa muat ya? Tubuh kakakku lebih kecil darimu.”


Tanpa sadar Mila menjelaskan hal yang belum perlu ia jelaskan pada Deril, membuat Deril tersenyum tipis.


Deril : “Semalam, kenapa kau tidak bangunkan aku?”


Mila : “Kau tidur nyenyak sekali, aku sudah berkali-kali mencoba membangunkanmu. Ayo cepat mandi, habis itu kita sarapan di luar.”


Deril : “Apa disini tidak ada bahan makanan?”


Mila : “Apartment ini jarang ditempati, jadinya tidak ada yang bisa dimasak. Aku juga tidak bisa masak. Hehe…”


Akhirnya Deril berbalik, menatap Mila yang sudah berpakaian, terlihat cantik dengan dress selutut. Mila berjongkok di samping koper besar, memasukkan beberapa baju ke dalamnya.


Deril : “Aku mandi dulu ya.”


Mila : “Bajunya aku taruh di ranjang ya. Aku mau berkemas dulu.”


-------


Deril keluar kamar mandi berbalut handuk, ia melirik Mila yang duduk membelakanginya, tampak sibuk dengan kopernya. Deril mendekati ranjang dan mulai memakai pakaian yang tergeletak disana. Ia berjalan ke sofa dan melihat kemeja formalnya sudah masuk ke dalam sebuah paper bag, Deril memasukkan celananya juga kesana.


Mila : “Coba kulihat… hmm ternyata pas sekali. Ayo cari sarapan.”


Deril dan Mila berjalan keluar apartment menuju parkir bawah. Setelah mencari di google, mereka menemukan tempat untuk sarapan yang cukup ramai pagi itu.


Diluar dugaan, mereka bertemu Aliya dan Aldo disana yang juga baru duduk. Deril menatap Aldo yang masih terlihat enggan padanya, tapi ia tidak bisa menghindar karena Mila sudah menariknya untuk duduk di depan mereka.


Mila : “Kalian makan disini juga.”


Aliya : “Iya, mb. Kalian kok bisa kesini pagi-pagi?”


Mila : “Ah, itu anu…” Mila jadi gugup karena Aliya dan Aldo sudah memandangnya.


Deril : “Aku bingung mau sarapan dimana, jadi jemput Mila. Kalian sudah pesan?”


Deril menyelamatkan Mila tepat waktu. Mereka segera memesan makanan yang datang dengan cepat, karena pelayan di rumah makan ini terbiasa melayani dengan kecepatan tinggi.


Aldo : “Yang, coba dong makananmu.”


Aldo yang masih cemburu pada Deril, ingin menunjukkan kemesraannya bersama Aliya.


Aliya : “Nich, buka mulut..”


Aldo melirik Deril yang tetap anteng menikmati sarapannya, bahkan tidak peduli dengan apa yang dilakukan Aliya dan Aldo di depannya.


Mila : “Kalian ini mesra banget ya. Lupa ya di depan kalian ada jones.”

__ADS_1


Deril : “Apa jones?”


Mila : “Jomblo ngenes… hahaha…”


Deril : “Emangnya kamu jomblo?”


Mila : “Emangnya kamu nggak?”


Deril cuma senyum-senyum gaje, ia meneruskan makan sambil berpikir habis ini dia mau kemana? Tentu saja mengajak Mila bersamanya, hanya saja Deril belum menemukan alasannya.


Mila : “Yee… ditanya malah senyum-senyum. Kesambet loh…”


Deril : “Apa lagi itu?”


Mila menepuk jidatnya, ini makhluk beneran asal Indonesia gak sich, kenapa dia gak tahu istilah di Indonesia.


Sementara Aliya dan Aldo saling pandang bingung, mereka berdua baru bertemu kemarin dan bisa akrab seolah sudah bertemu bertahun-tahun yang lalu.


-------


Usai membayar makanan mereka, sebenarnya Deril yang mau bayar, tapi Aldo gengsian jadi dia yang mentraktir, mereka berpisah di tempat parkir. Tapi sebelum pergi, Deril ingin bicara berdua dengan Aliya sebentar.


Aldo masuk ke mobil duluan, menggenggam setir mobilnya dengan kencang menahan emosi melihat Deril berbicara dengan Aliya dalam jarak dekat. Sementara Mila bersandar di mobil Deril, memainkan ponselnya.


Cukup lama, sampai Aldo ingin keluar lagi dari mobil. Aliya melambaikan tangan pada Deril yang berbalik mendekati mobilnya,


Aldo : “Apa yang kalian bicarakan?” Aliya menatap Aldo karena mendengar nada suara Aldo yang tidak ramah.


Aliya : “Cuma minta nasihat.”


Aldo : “Nasihat apa? Sampai harus berdua ngomongnya.”


Aliya : “Kamu cemburu, ya?”


Aldo : “Masih nanya lagi…” Aldo manyun, ia menyetir pelan membiarkan mobil Deril pergi duluan.


Aldo : “Apa kamu bilang?” Aldo senang mendengar Aliya memanggilnya sayang sampai ia lupa kalau lagi cemburu. Dasar bucin.


Aliya : “Masih penasaran?”


Aldo : “Kalau kamu gak cerita, gak pa-apa, tunggu sampai apartment, aku akan memakanmu.”


Aliya : “Ish, dasar mesum. Deril tanya kalau dia mau ajak mb Mila pergi sekarang, enaknya pakai alasan apa?”


Aldo : “Maksudmu kencan?”


Aliya : “Bukan kencan, cuma sekedar jalan-jalan menghabiskan waktu berdua. Mereka kan baru kenal.”


Aldo : “Trus kamu bilang apa?”


Aliya : “Aku bilang minta dianter beli oleh-oleh aja, kan Deril gak terlalu kenal dengan kota ini.”


Aldo : “Kenapa kau tidak menyuruhnya membawa Mila ke hotel dan bersenang-senang disana?”


Aliya mencubit pinggang Aldo sambil melotot,


Aldo : “Aaaddoowww…!! Sakit, Al…”


Aliya : “Kau pikir apa tentang mb Mila, dia gadis baik-baik sepertiku.”


Aldo : “Maksudku kalau mereka sudah berbuat lebih dan jatuh cinta, Deril kan bisa menikah dengan Mila. Jadi aku lebih tenang menjagamu.”


Aliya : “Tapi alasan mesummu itu keterlaluan.”

__ADS_1


Aldo : “Iya, maaf sayang… Jangan marah lagi atau aku akan menggigitmu. Haaum..”


Aliya tersenyum melihat Aldo bertingkah seperti kucing besar yang manis. Dalam hatinya berharap kalau memang Deril dan Mila berjodoh, Mila bisa menerima masa lalu Deril.


🌼🌼🌼🌼🌼


Deril meminta Mila untuk mengantarnya membeli oleh-oleh seperti saran Aliya. Mereka menuju ke tempat yang khusus menjual oleh-oleh di kota itu.


Deretan toko di sepanjang jalan membuat Deril kagum, ia sempat bingung mencari tempat parkir dan akhirnya diarahkan tukang parkir ke depan sebuah toko oleh-oleh.


Mila : “Kamu mau beli berapa?”


Deril : “Apa disini dijual paket? Jadi aku lebih mudah memberikannya pada orang-orang.”


Mila : “Ayo kita tanyakan.” Mila menarik tangan Deril masuk ke toko di depan mereka.


Pelayan toko menyambut mereka dengan baik dan menjelaskan mengenai paket oleh-oleh. Setelah memilih, Deril memutuskan membeli 10 paket oleh-oleh. Pelayan toko mengerjakan pesanan Deril dengan cepat dan membantu membawanya ke dalam mobil.


Mila : “Sekarang kita kemana lagi?”


Deril : “Kamu mau kemana?”


Mila : “Ayo kita jalan dulu, seingatku di dekat sini ada tempat nongkrong yang asyik.”


Deril melajukan mobilnya sampai mereka tiba di tempat yang dimaksud Mila,


Mila : “Sepertinya disini tempatnya, ayo masuk.”


Deril : “Kita parkir dimana?”


Mila : “Dibelakang juga ada tempat, ayo kesana.”


Deril masuk ke areal café dan parkir mundur di salah satu tempat kosong, baru saja Mila akan turun dari mobil, seseorang menghampiri mobil Deril.


Brak! Brak! Brak! Jendela mobil dipukul dengan keras, tubuh Mila menegang seketika melihat Mike memukuli jendela mobil dengan lengannya. Deril yang tidak ingin Mila terluka, segera keluar dari mobil.


Deril : “Stop! Kamu sudah gila ya.”


Mike : “Jangan ikut campur, ini urusanku sama Mila!”


Deril : “Aku harus ikut campur!”


Mike : “Siapa kamu?! Pergi sana, ini urusan aku sama pacarku!!”


Deril : “Yang kau sebut pacar itu, ISTRIKU!!”


Mila terpana mendengar Deril menyebutnya istri, mereka saja baru kenal kemarin, tapi Mila tidak mau keluar dari mobil, ia takut disakiti lagi.


Mike : “Kau bohong!! Mila sayang, keluar dong. Katakan sama dia kalau kamu cuma sayang sama aku!”


Mila : “Pergi!! Aku benci kamu!!” teriak Mila dari dalam mobil.


Security dan tukang parkir yang mendengar keributan itu, segera menghampiri mereka. Rupanya Mike salah satu owner tempat itu, parahnya Mila melupakan satu fakta itu dan membawa mereka ke situasi yang tidak menyenangkan.


Security : “Sebaiknya bapak segera pergi.” Kata security pada Deril sambil menahan Mike yang masih ingin memukuli jendela mobil Deril, meminta Mila keluar.


Deril : “Ingat kau! Jangan ganggu istriku lagi!”


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.

__ADS_1


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


-------


__ADS_2