Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps.10 - Gencar


__ADS_3

Mereka sudah memasuki halaman rumah Ny.Besar. Joya turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih pada asisten Boy.


Joya : "Kak, makasih banyak. Saya masuk dulu ya, kak."


Asisten Boy hanya mengangguk. Ia pura-pura menjawab telpon dari seseorang sambil berjalan pelan di belakang Joya.


Ny. Besar tampak menunggu seseorang di ruang tamu, ditangannya ada sebuah amplop coklat.


Joya : "Malam, Ny.Besar. Maaf saya terlambat pulang, tadi ada tugas tambahan di kantor."


Ny. Besar : "Kamu pulang sama siapa?"


Joya : "Itu asisten Tuan Boy, Ny. Besar. Katanya mau sekalian ambil dokumen dari Ny.Besar."


Ny. Besar : "Nah, ini dokumennya. Cepat kasi dia. Ibu mau ke toilet."


Joya balik lagi ke pintu depan dan melihat asisten Boy masih bicara di telpon. Joya menunggu sambil melihat bayangan dirinya di mobil Boy.


Ia melihat kancing kemejanya terlepas tepat dibagian dada, Joya kurang menjahit kancing itu hingga benangnya hampir lepas.


Joya dengan cepat menarik tank top-nya agar menutupi bagian dadanya. Ia melakukannya di depan kaca mobil penumpang.


Tanpa mengetahui kalau Boy bisa melihat bagian atas dadanya dengan sangat jelas. Wajah Boy memerah melihat pemandangan itu.


Matanya melotot melihat kearah Joya, ia hampir lepas kendali dan hampir membuka pintu mobil, ingin menarik Joya ke dalam mobilnya.


Asisten Boy sempat melirik apa yang dilakukan Joya dan sengaja berjalan agak menjauh. Boy pasti sangat senang di dalam mobil dan tidak ingin diganggu siapapun.


Boy bukan hanya senang, tapi hasratnya memuncak melihat kelakuan Joya di luar sana. Joya masih bingung bagaimana menutupi atas tubuhnya tanpa merasa malu dan canggung.


Ia masih harus menyerahkan dokumen ditangannya dan tidak mungkin membiarkan asisten Boy melihat penampilannya seperti itu.


Boy melihat Joya gelisah, ia mengirimkan chat pada asistennya yang kembali berpura-pura.


Asisten Boy : "Joya, apa yang kau pegang itu?"


Joya : "Ini dokumen dari Ny.Besar, kak."


Joya sedikit lega karena ada kesempatan untuk bicara meskipun jarak mereka cukup jauh.


Asisten Boy : "Taruh aja di dalam mobil ya. Aku masih jawab telpon. Makasi, Joya."


Joya membuka pintu depan, meletakkan amplop itu di kursi penumpang dan menutup pintu mobil dengan cepat. Ia berjalan masuk ke dalam agar tidak ada yang melihatnya dengan pakaian tidak rapi.


Asisten Boy melongok celingukan melihat sekeliling dan berjalan cepat masuk ke dalam mobil.


Ia hampir menjerit terkejut melihat banyak bunga di dalam mobil (okay author banyakan mengkhayal seperti gambar di komik) dan wajah Boy yang merona terlihat jelas dari kaca spion tengah.


Asisten Boy menepuk keningnya, ia sudah lama sekali ikut dengan Boy kemana pun. Dan baru kali ini ia melihat wajah Boy merona seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Asisten Boy : "Tuan, kita pulang sekarang?"


Boy : "..."


Asisten Boy : "Tuan...?"

__ADS_1


Asisten Boy geleng-geleng kepala dan mulai menjalankan mobil kembali ke apartment Boy.


-------


Tama semakin gencar mengejar Joya, secara terang-terangan ia menyampaikan pesan untuk Joya melalui teman-teman magang mereka.


Memang ia jarang ketemu Joya karena Niken selalu over protektif padanya, tapi pesan dan kiriman makanan selalu sampai pada Joya.


Joya sudah mencoba menolak segala perhatian dari Tama yang menurutnya agak berlebihan. Ia benar-benar tidak merasa nyaman dengan itu.


Sampai pada puncaknya saat pengawasan Niken lolos dari Joya. Niken menemukan ada kejanggalan dalam tim keuangan dan perlu waktu menyelidikinya sendiri.


Tama menghampiri Joya yang duduk di mejanya, sedang merapikan file yang diberikan Niken.


Tama : "Joya, ayo makan siang bareng."


Joya : "Kamu makan duluan aja. Aku sudah bawa bekal. Lagian kerjaanku belum selesai."


Tama : "Ayolah temani aku makan."


Teman-teman mahasiswa yang lain mulai menarik mereka berdua untuk makan bersama dan tidak ada pilihan dari Joya selain mengikuti mereka.


Ia tidak ingin membuat keributan di kantor Boy. Tapi pilihannya cukup membuat keributan di ruang kerja Boy.


Boy melampiaskan amarahnya pada stafnya yang kedapatan melakukan kecurangan. Sedikit berlebihan mengingat Boy selalu dalam keadaan tenang.


Wajah tampannya terlihat menghitam dengan ekspresi mengerikan. Staf yang melakukan kesalahan itu sampai mengakui semua perbuatannya tanpa interogasi lebih lanjut.


Niken membawa orang itu keluar ruang kerja Boy dan menempatkannya di ruang isolasi yang full terbuat dari kaca.


Sementara Boy mengusir semua orang keluar dan kembali sibuk memata-matai Joya.


Sementara untuk mahasiswa magang mendapat diskon sampai 25%. Joya sendiri memilih membawa bekal dari rumah.


Padahal ia punya cukup uang untuk membeli makanan di kantin itu. Tapi ia lebih suka berhemat karena masih harus naik ojol ke kantor Boy yang cukup jauh dari rumah Ny.Besar.


Joya mulai membuka kotak bekalnya, Tama yang duduk di depannya menatap Joya penuh arti. Joya tidak memperhatikan itu, ia fokus menghabiskan bekal makan siangnya dan beranjak ke wastafel.


Joya melihat Tama berjalan ke arahnya, ia dengan cepat masuk ke toilet wanita dan diam disana sekitar 10 menit. Setelah itu ia keluar dengan cepat dan kembali ke meja kerjanya. Tama yang masih penasaran mulai mencari alasan agar selalu berhubungan dengan Joya.


Untung saja Niken cepat kembali ke posisinya dan Joya bisa bekerja lagi dengan tenang tanpa gangguan dari Tama.


------


Pulang kerja, lagi-lagi Joya pulang terakhir karena tugas tambahan dari Niken. Ia berjalan cepat keluar dari lobby dan mendapati Tama berdiri di samping motornya.


Tama : "Joya, ayo kuantar pulang."


Joya : "Tama, aku bisa pulang sendiri. Silakan kamu pulang duluan."


Joya memesan ojol dengan cepat sambil berjalan ke arah gerbang keluar. Tama bergerak cepat mengambil ponsel Joya dan menekan batal pada aplikasi yang sedang berjalan itu.


Tama : "Aku bosan mendengar penolakanmu, Joya. Sekali saja aku antar pulang, apa salahnya."


Joya : "Aku gak mau, tolong jangan memaksa..."

__ADS_1


Tama : "Makanya aku antar pulang sekali, aku mau tahu rumahmu."


Joya : "Kenapa kamu mau tahu rumahku?"


Tama : "Ya, siapa tahu aku lewat dekat sana kan bisa mampir."


Joya : "Aku tidak terbiasa menerima tamu, tolong kembalikan ponselku."


Tama : "Aku sita sampai kamu mau naik ke motorku."


Joya menarik nafas panjang, ia mulai kesal pada Tama. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka. Asisten Boy keluar dari mobil dan menghampiri Joya.


Asisten Boy : "Joya, kamu masih disini. Ini temanmu?"


Joya : "Kak, kakak mau pulang, kan. Aku ikut ya kak."


Asisten Boy : "Iya, ayo."


Joya menadahkan tangannya pada Tama yang mau gak mau menyerahkan ponselnya kembali ke tangan Joya. Ia tahu kalau orang yang baru keluar dari mobil itu adalah asisten Boy, direktur utama perusahaan tempatnya magang. Tapi apa hubungan orang ini dengan Joya?


Joya masuk ke dalam mobil, ia menarik nafas lega. Setidaknya ia bisa selamat dari Tama untuk saat ini. Entah apa yang terjadi besok, biar ia pikirkan besok saja.


Asisten Boy mulai menjalankan mobilnya, Joya merasa merinding saat ia merasakan ada seseorang di dalam mobil itu selain mereka berdua.


Joya : "Kak, makasih uda bantuin saya. Sampai depan berhenti ya, kak. Saya bisa pulang sendiri."


Asisten Boy : "Gak pa-pa, Joya. Aku antar sampai ke rumah ya. Sekalian pulang."


Joya : "Loh, rumah kakak memang ke arah sini ya?"


Asisten Boy : "Iya."


Padahal kenyataannya rumah asisten Boy itu dekat apartment Boy dan apartment Boy dekat dengan kantor mereka.


Boy yang selalu mengintai Joya, sangat kesal melihat Tama memaksa bahkan sampai mengambil ponsel Joya. Ia segera memerintahkan asistennya untuk mengambil mobil dan mengantar Joya pulang. Sementara ia bersembunyi di bangku belakang, menatap intens pada Joya.


Joya meringkuk di kursi penumpang dengan tidak tenang. Ia merasa ada seseorang yang sedang menatapnya dari belakang.


Joya : "Kak, Tuan Boy masih lama perginya?"


Asisten Boy : "Kenapa kau bertanya? Kangen ya..."


Wajah Joya memerah mendengar kata-kata asisten Boy, ia bukannya kangen tapi emang kangen sich.


Joya : "Bukan gitu... maksud saya..."


Joya jadi salah tingkah sendiri, sedangkan Boy kegirangan di kursi belakang.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak...


-------


__ADS_2